SALAH PAHAM MENUJU PERNIKAHAN

SALAH PAHAM MENUJU PERNIKAHAN
Eps 6 (Menyesal)


__ADS_3

Selamat Membaca, Mohon dukungannya ya😊😊


Malam itu dokter Hanif tiba dirumahnya dengan segala penyesalan dan tak henti-hentinya ia menyalahkan dirinya sendiri. Ketika tiba dirumah Ibunda dokter Hanif langsung menghampiri anak bungsunya yang terlihat pilu itu dan tidak tampak Sasya dan Ibunda dokter Hanif pun mengira jika Sasya sudah diantar pulang.


"Nak ada apa denganmu? Kenapa kamu terlihat sangat lelah dan apa kamu habis menangis?mana Sasya sudah kamu antar pulang kan?" Pertanyaan Bu Darmawan kepada anaknya yang bertubi-tubi hanya dibalas dengan air mata.


"Nak kamu kenapa ayo cerita sama Ibu, apa kamu tidak suka dengan perjodohan ini?. Ibu tidak akan memaksamu nak tapi Ibu mohon kamu segera menikah ya nak Ibu sudah tidak punya waktu lama lagi". Ucap Bu Darmawan begitu saja tanpa menunggu Hanif mengeluarkan kata-kata.


"I..Iya bu, Hanif minta maaf bu bukannya Hanif tidak suka dengan pertunangan ini bu, Ibu tau kan sikap dan sifatnya Sasya itu seperti apa bu, Hanif rasa dia bukan menantu yang baik untuk Ibu. Dan satu lagi bu, karna perjodohan ini Hanif telah salah mengorbankan nyawa orang yang Hanif cinta orang yang selama ini Hanif harapkan sedang bertaruh nyawa". Penjelasan Hanif dengan tangis yang tersedu-sedu menyesali pertemuannya dengan Nanda dan Sasya.


"Maksudmu apa nak? Ada apa dengan Sasya?" Bu Darmawan bingung dengan perkataan anaknya dan siapa yang dimaksud anaknya itu.


"Tante........hiks, hiks". Suara Sasya mengagetkan Bu Darmawan namun lain dengan Hanif, ia semakin erat memeluk ibundanya tercinta. Memang baru kali ini Hanif seterpuruk itu bahkan tetesan air mata itu baru dilihat Ibundanya malam itu setelah beberapa puluh tahun Bu Darmawan tidak pernah melihat air mata itu jatuh di pipi anak sulungnya.


"Nak Sasya, Kenapa nak? Apa yang terjadi dengan kalian?" Tanya Bu Darmawan dengan penuh tanda tanya dan sangat bingung.


"Anak Tante sudah meninggalkanku begitu saja di Cafe itu dan aku takut buu aku trauma baru kali ini aku lihat orang tembak-tembakan didepan mataku, dan sakitnya lagi anak Tante ini malah menyelamatkan wanita lain bukan aku yang jelas-jelas calon tunangannya". Ucap Sasya sambil menangis dan marah kepada Hanif.


"Apaa??? Tembak-menembak.? saya harus telfon ayah Hanif untuk menanyakan kasus apa ini sebenarnya pasti Ayah Hanif tau kronologisnya dan kenapa Hanif sampai seperti ini" Bu Darmawan melepaskan pelukan anak sulungnya dan beranjak pergi menuju telepon rumahnya namun dicegah oleh Hanif


"Bu, Hanif membutuhkan Ibu. Hanif ingin meluapkan semuanya kepada Ibu sekarang, tolong ibu usir wanita itu dari hadapan Hanif atau aku yang akan pergi dari sini". Ucap Hanif dengan nada lembut kepada Ibunya.


"Tapi Han kenapa kamu seperti ini padaku? aku sangat mencintaimu dan Ibumu yang menjodohkan kita" Ucap Sasya melas


"Nak, ini kita bicarakan besok kalau suasana hati Hanif sudah stabil ya, sekarang nak Sasya pulang dulu biar diantar Mang Didi". Tutur lembut Bu Darmawan


"Oke, Permisi". Jawaban ketus Sasya kepada Bu Darmawan


Astagfirullah, kenapa nak Sasya tidak punya sopan santun sama sekali. Batin Bu Darmawan menatap kepergian Sasya.

__ADS_1


"Bu, Hanif mengundang Nanda, dia orang yang Hanif sayang dengan tujuan Hanif ingin menunjukkan kepada Sasya kalau Hanif terlanjur mencintai seseorang dan tidak bisa melanjutkan perjodohan ini, kan Ibu bilang kalau tahun ini Hanif tidak bisa meminang seseorang maka Sasya lah yang Ibu jadikan menantu, dan Hanif tidak menginginkan perjodohan bu". Cerita Hanif dengan nada pilu.


"Lalu siapa yang bertaruh nyawa?". Tatapan lekat Bu Darmawan kepada anak sulungnya itu


"Nanda ma, Nanda". Dokter Hanif menceritakan semua yang dialami orang terkasihnya yaitu Nanda.


"Innalillahi, Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu mencintai seseorang? Ibu tidak akan memaksamu tunangan dengan Sasya kalau kamu telah berhasil mencintai, sekarang bukan waktunya kamu menyalahkan dirimu sendiri nak, kejarlah cintamu doakan dia semoga dia adalah jodohmu dan menantu terbaik Ibu". Ucap Bu Darmawan dan menenangkan anaknya.


---


*Di Rumah Sakit


"Ibu Bapak? Ada apa malam-malam disini? Apakah ada yang sakit?" Sapaan Anza mengagetkan lamunan Wandi dan Aminah orangtua Nanda.


"Ini nak Anza yang putra pak Edi itu? yang waktu ketemu di lapangan?" Tanya pak Wandi


"Iya pak saya Anza kebetulan saya ditugaskan untuk penjagaan di kota ini atas insiden yang terjadi petang tadi pak, oh iya pak bu kalau boleh tau siapa yang sakit?" Kata Anza dan bertanya penuh teka-teki.


"Permisi, dengan Keluarga Eylisa?" Salah satu anggota polisi menghampiri orangtua Nanda


"iya pak kami orangtuanya". Sahut pak Wandi


"Kami membutuhkan data-data yang harus dilengkapi dan ketika Nona Eylisa sudah sembuh kita akan mengangkat putri bapak untuk menjadi anggota RSPAD/RS TNI-Polri dan menetap didalamnya hingga pensiun". Ucap pihak kepolisian.


Anza tersentak kaget, jangan-jangan Nanda adalah korban dari baku tembak itu batin Anza yang sangat bingung dengan perkataan teman pembela negara nya itu.


"Yang sabar ya pak bu, semoga Nanda segera diberi kesembuhan dan bisa sehat seperti sediakala". Anza berusaha menguatkan orangtua Nanda.


Baru saja aku memikirkan mu dan berharap selama aku tugas di kota ini aku bakal bisa ngabisin waktu sama kamu Nan, sejak pertemuan itu aku tertarik dengan sikapmu dan keluguan mu tapi takdir berkata lain, Allah mempertemukan kita keduakalinya dalam keadaan yang berbeda. Batin Anza merasa iba dengan keadaan Nanda saat itu

__ADS_1


"Bu Pak saya permisi kembali bekerja dulu, besok saat saya turun jaga saya akan menyempatkan kesini sekaligus menjenguk teman saya korban sore tadi juga. Maaf saat ini Nanda juga belum boleh dijenguk jadi maaf ya Pak Bu jika saya tidak bisa bertemu Nanda langsung". Anza pamit seraya menengok dari luar kaca dan terlihat Nanda terkulai lemas, sebenarnya temannya juga mengalami luka tembak di bagian dada kanan depan namun temannya dalam kondisi baik karena sudah makanan sehari-hari peluru bersarang di tubuh, beda dengan wanita yang ditatapnya dari luar kaca jendela yang tidak pernah menganyam pendidikan militer tentu saja sangat sakit dan membuat syok baik syok hemoragik atau syok yang lain.


"Iya nak hati-hati ya nak, do'akan saja Nak semoga Nanda segera pulih" Ucap Pak Wandi (bapaknya Nanda)


"iya Pak, Assalamu'alaikum". sembari berjabat tangan dengan kedua orang tua Nanda, Anza pergi dengan perasaan khawatir dengan luka tembak Nanda kenapa bisa sampai membuat koma.


"waalaikumsalam warahmatullah" Ucap orang tua Nanda secara bersamaan.


*di ruang ICU


nut nut nut nut nut nut nut nut nut nut nut


Suara monitor tubuh pasien saling bersahutan kala itu perawat menginformasikan kepada salah satu dokter penanggung jawab bahwa pasien yang tertembak harus dilakukan transfusi ulang karena Hb masih dibawah normal.


"keluarga Nona Eylisa?" Perawat memanggil keluarga Nanda


"Iya saya mbak" sahut pak Wandi spontan mendengar nama anaknya disebutkan.


"Silahkan masuk sebentar pak dokter ingin bicara" .titah sang perawat


"baik mbak". titah pak Wandi bergegas masuk


"pak setelah dilakukan chek ulang, ternyata darah nona Nanda belum juga dalam batas normal, boleh kami sarankan untuk pihak keluarga mencarikan darah untuk Nona Nanda sendiri malam ini juga karena disini peralatan juga tak memadai.


"YaAllah, ya dok saya akan berusaha malan ini juga


tiittttt. tiiiiit. tiiit. tiiiiiiit


suara monitor Nanda terdengar sangat kencang dan itu pertanda bahwa pasien down lagi. Perawat berlari dan memasang alat perekam jantung dan akhirnyaa....

__ADS_1


*Bersambung...


jangan lupa dukung saya ya dengan like, coment,rate dan vote yaa terimakasih sudah mampir ke karya pertamaku.🤗🤗


__ADS_2