SALAH PAHAM MENUJU PERNIKAHAN

SALAH PAHAM MENUJU PERNIKAHAN
Eps 7 (Kekhawatiran)


__ADS_3

Happy reading๐Ÿ˜๐Ÿ˜


"Apa yang terjadi dengan pasien itu sus?". Tiba-tiba dokter Hanif datang dan melihat ada suatu tindakan di balik tirai brangkart yang ditempati Nanda dan dokter Hanif langsung masuk tanpa izin.


"Maaf anda dilarang masuk dulu pak biarkan kami bekerja sesuai SOP" Ucap salah satu perawat yang juga sibuk mengambilkan keperluan medis untuk dokter.


"Dia teman saya sus, biarkan dia ikut kita dia juga seorang dokter saya percaya dia bisa dipercaya dalam kerahasiaan tindakan ini". Ucap salah satu dokter yang sedang memasang EKG di tubuh Nanda.


"Pasien mengalami henti nafas dok". Salah satu perawat berteriak dan sekaligus membawa alat bantu nafas manual.


Perasaan hancur dialami oleh dokter Hanif melihat orang yang dia harapkan belum juga dapat ia miliki malah mendapatkan teguran seperti ini


"Han, tenang saja lihat itu sepertinya dia sangat mengenalimu ada didekatnya. Baru 1 kali siklus sudah normal kembali". Ucap dokter ICU yang juga termasuk teman karibnya sambil tersenyum lega karna pasiennya selamat dari maut


"Alhamdulillah Ya Allah". Kali ini Hanif bisa sedikit tersenyum.


"Han saya tinggal dulu yaa bro". Ucap dokter Tirta melangkah pergi sembari menepuk bahu dokter Hanif dan diikuti oleh para perawatnya keluar bilik


"Nanda kalau bisa saya yang akan menggantikan mu di brangkart ini". perkataan dokter Hanif. Perlahan air mata Hanif menetes di punggung tangan Nanda dan Nanda pun bisa meneteskan air mata.


"Na., Nanda?, kamu bisa mendengar saya? Nanda kamu harus kuat ya kamu harus berjuang melawan semua ini saya yakin kamu bisa Na, saya akan selalu ada buat kamu Na, semangat ya Na" Ucap dokter Hanif sembari mengelus punggung tangan Nanda.


"Nak Hanif sudah lama disini? Ibu kira tidak ada nak Hanif makanya ibu masuk". Ibu Aminah tiba-tiba datang mengagetkan Hanif.


"Maaf bu tadi diluar ibu dan bapak tidak ada, maaf jika saya lancang masuk tanpa izin Ibu dan Bapak". Ucap dokter Hanif dengan tutur kata sopan dan lembutnya.


"Nak jangan seperti itu, tidak apa-apa Nak Hanif kan sudah seperti keluarga kami sendiri". Ucap Ibu Aminah sembari mengelus bahu Hanif


"Iya Bu Terimakasih, sekarang Ibu silahkan duduk dan saya sekalian pamit pulang ya bu, Assalamu'alaikum". Ucap dokter Hanif sekaligus mencium punggung tangan bu Aminah.


"Wa'alaikumsalam Nak hati-hati". balas bu Aminah.


--------------


Hari Ini hari ke-4 Nanda belum sadarkan diri. Siang itu Hanif pulang dari dinasnya dan hendak menuju RSUD Batik dimana Nanda dirawat. Namun diparkiran ada orang yang terlihat sedang menunggunya.


"Haniff.," Teriak seorang wanita yang berada di samping mobil dokter Hanif.


"Sasya ngapain kamu disini?" Tanya Hanif


"Ya mau ketemu kamu lah, bukannya 5 hari lagi kita akan melangsungkan pertunangan, papi nyuruh kamu beliin hantaran buat aku nanti" Ucap Sasya dan langsung menggandeng lengan Hanif.


"Maaf aku nggak bisa". Hanif melepaskan tangan Sasya dan langsung masuk ke mobilnya diikuti dengan Sasya.


"Apa maksud kamu". Tolong jelaskan

__ADS_1


"Sudah berapa kali saya bilang saya tidak mencintai anda bahkan saya tidak memiliki rasa pada anda sedikitpun". Ucap Hanif dengan nada tinggi.


"Bagaimanapun juga papi akan menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan mu Han, ingat itu!!". Bentak Sasya dan keluar dari mobil Hanif secara gusar.


Ya Allah bagaimana cara aku menebus kesalahanku pada Nanda jika aku harus bertunangan bahkan menikah dengan wanita tuna susila seperti dia. Semoga saja ada jalan keluar dari masalah ini.


Setibanya di rumah sakit tempat Nanda dirawat Hanif langsung mendapatkan informasi dari sahabatnya bahwa Nanda sudah siuman sejak 2 jam terakhir, alangkah bahagianya Hanif kala itu dan dia berlari menuju lift hingga ke ruang ICU.


"Nanda.," Teriak Hanif yang masih di ambang pintu.


"Nak Hanif". Ucap Pak Wandi yang tidak lain adalah Bapaknya Nanda


"Alhamdulillah putri kami sudah sadar dan insyaallah nanti sore akan dipindahkan ke ruang rawat". Ucap Bu Aminah dengan linangan air mata bahagianya.


"Anda Siapa?" Tanya dokter Hanif yang sedari tadi tanpa sadar sudah diperhatikan oleh sosok tinggi tegap yang berdiri sangat dekat dengan wajah wanita kesayangannya.


"Perkenalkan saya Anza pak". Sembari mengulurkan tangannya.


"Saya Hanif". Membalas uluran tangan lelaki yang asing baginya dan tidak pernah Nanda menceritakan tentang lelaki itu.


"Yasudah Pak Bu saya izin mau kembali bekerja, semoga Nanda segera sembuh total dan bisa kembali kerumah lagi" Ucap Anza seraya berpamitan kepada Nanda dan keluarganya.


"Iya terimakasih ya Nak Anza sudah menyempatkan datang kesini lagi". Ucap Bu Aminah.


-------


"Nak jangan dipaksakan kalau masih sakit". Ucap Bu Aminah kepada anaknya


"Bu kalau tidak dilatih sedikit demi sedikit nanti malah susah dan lama proses penyembuhannya bu" Ucap Nanda dan berusaha untuk menggerakkan tangan kanannya di mana di bahu itu juga peluru pernah bersarang.


"Iya nak tapi kalau lelah istirahat lah nak jangan sampai kamu kelelahan". Ucap Pak Wandi yang duduk di sofa sudut ruangan


Panggilan Vidio Masuk


Adek


"Halo Assalamu'alaikum pak" Suara Ryan yang ada di jauh sana.


"waalaikumsalam nak, oh iya ini hari minggu ya bapak sampai lupa" ucap pak Wandi


"pak bagaimana keadaan mbak Nanda? Ryan sudah dengar ceritanya dari keluarga Wahyu pak" Pinta Ryan penasaran dengan kondisi kakaknya yang dikabarkan masuk ICU karna luka tembak.


"lihat mbakmu sedang duduk. Baik-baik saja kan hanya sedikit lecet, hehe". Pak wandi berusaha tidak membuat anak bungsunya khawatir dengan keadaan kakaknya


"Berikan hp nya pada mbak Nanda pak" Ucap Ryan

__ADS_1


"Haloo adek ku sayang" Sapa Nanda dengan penuh ceria tanpa ingat rasa sakitnya ketika ia berhadapan dengan adiknya itu


"aduhh mbak, kenapa mbak mendahuluiku merasakan peluru itu, seharusnya aku mbak yang di posisi mbk paling tidak aku tidak sampai masuk ICU segala". Kepiluan Ryan di jauh sana melihat kondisi kakaknya.


"Dek, mbak ngga papa kok tenang aja, gini-gini jiwa militer mbak juga punya, hihihi" Sahut Nanda dengan cengingisan agar adiknya tidak khawatir.


"mana ada jiwa militer masuk ICU cuma karna 1 peluru mbak, mbak gausah ngadi-ngadi deh udah mbak istirahat minggu depan ceritakan kepadaku bagaimana mbak bisa main tembak-tembakan itu, maaf aku hanya bisa ngehubungi mbak saat hari minggu saja" Celetuk Ryan dengan niat mengajak kakaknya bergurauan.


"Heh ni anak lancang juga yaa, belum tau mbakmu ini belajar dari siapa, dari thanos tapi gagal, buahahaa. Yaudah nii ngomong sama Ibu. Celetuk Nanda sambil memberikan hp kepada Ibunya.


-----


Dikediaman dokter Hanif ada suatu kesalah pahaman yang sangat serius.


"Kenapa kamu melakukan hal memalukan itu Sya kamu tau kan aku tidak pernah mencintaimu" Bentak Hanif


"Sudahlah nak nasi sudah menjadi bubur, terimalah yang sudah menjadi hak mu dan jangan sampai aib ini tersebar kemana-mana hanya karna mulut wanita itu. Menikahlah dengannya dan itu akan menyelamatkan nama baikmu dan juga nama baik Ayahmu". Tutur wanita paruh baya yang sangat menyayangi putra bungsunya itu.


"Hei kalian dengar ya, kalian tidak bisa mengalahkan ku. Papi ku akan melakukan segala cara untuk melihatku bahagia, dan kamu Hanif nama baik mu dan keluargamu ada di tanganku. Saya permisi ya calon ibu mertua dan calon suamiku sayang" Sahut Sasya dengan angkuhnya


"Nak maafkan ibu, gara-gara ibu semua menjadi seperti ini. Ibu salah menilai wanita licik itu, bagaimanapun papinya akan melakukan berbagai cara nak maafkan ibu". Ucap bu Darmawan dengan isak tangisnya.


"Lho kalian kenapa menangis?" Pak Darmawan tiba-tiba pulang dari dinasnya dan mendekati anak istinya itu


"eh Ayah sudah pulang, tidak yah kami sedang sedih saja kan sebentar lagi Hanif akan susah memeluk ibu seperti ini". Uvap Hanif bohong


"Iya yah sebentar lagi kan Hanif akan menikah dengan anak teman Ayah itu" Timpal Bu Darmawan juga menutupi semua yang terjadi karna takut akan terjadi pertempuran karna Ayah Hanif adalah seorang Polisi dan tidak akan diam jika tau anak dan istrinya sedang di intimidasi.


"hahaha, kamu ini Han seperti anak kecil saja, kamu akan memeluk istrimu dan kamu juga tetap bisa memeluk ibumu kok" Timpal Pak Darmawan


"Iya yah tapi kan bakalan ngga satu rumah lagi sama Ibu pasti kangen banget lah" Ucap Hanif dengan pura-pura tegar


"Sudahlah kewajiban seorang lelaki memang seperti itu Han, kamu harus bisa membagi kasih sayangmu antara 2 wanita yang kamu sayang yaitu Ibu dan Istrimu" Timpal Pak Darmawan


Iya masalahnya anak kita tidak menikah dengan orang yang dicintainya yah. Batin Bu Darmawan saat itu.


Yah seandainya ayah tau semua ini pasti ayah akan membantuku tapi aku takut ayah akan masuk dalam masalah besar jika berurusan dengan keluarga Sasya. Batin Hanif saat itu.


"Bu buatkan saya kopi ya nanti antar ke kamar, ada yang mau ayah ceritakan pada Ibu". Pinta Pak Darmawan kepada sang istri.


"Baik". Bu Darmawan beranjak dan membuatkan kopi untuk suaminya.


Mungkin aku harus menceritakan semuanya agar hidup Hanif tidak sendirian aku akan menerima segala konsekuensinya, semoga suamiku dijauhkan dari orang jahat. Batin bu Darmawan saat mengingat Hanif sangat terpukul.


"Aku terpaksa akan menikahi Sasya demi keselamatan reputasi keluargaku, semoga dengan cara ini setidaknya orangtuaku dalam keadaan baik-baik saja, Tapi bagaimana dengan Nanda aku sudah berhasil mengambil hatinya sebegitu mudahnya aku meninggalkannya begitu saja. Pria macam apa aku Ya Allah, kenapa harus terjadi kesalah pahaman ini" Gumam Hanif

__ADS_1


*Bersambung...


Mohon dukungannya ya, jangan lupa like komen, rate dan vote yaa๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


__ADS_2