
...Bab 2: Mengukuhkan Kedudukan...
...Bagian 6
...
...~ ◊ ~
...
Wanadri si Hyang Jenggala sang Hutan. Ia adalah salah satu dari para {Hyang Yuwana} yang masih bertahan dari gejolaknya ˁPerang Besar Malapetakaˀ. Ia tinggal di dalam sebuah \[Pohon Sequoia Raksasa\] yang ada di kedalaman rimba \[Daerah Hutan Barat\].
Ialah yang seharusnya bertanggung jawab atas segenap «Ihwal Alam» di seluruh [Hutan Prima]. Namun seperti sikap yang diambil para {Hyang Yuwana} lainnya, Wanadri pun juga enggan untuk kembali memberikan «Derma»nya kepada tanah serta makhluk di hutan yang ditinggalinya.
Hal itu dikarenakan para {Hyang Yuwana} merasa kalut akan tanda tanya Si Biang Malapetaka yang mungkin saja kembali keluar dan membuat mereka menjadi gila hingga bahkan memaksa mereka untuk menebarkan kemelut malapetaka.
Itu dapat dianggap sebagai tindakan pencegahan bagi mereka. Namun jika mereka hanya berdiam diri saja, «Ihwal Alam» dalam perputaran siklus kehidupan tidak akan bisa lagi berjalan sebagai mana mestinya.
Itulah yang sebelumnya aku (Akbar) pikirkan.
Sebelumnya, tepat setelah diskusi persiapan perang dengan Pramana dan para adik-adiknya, aku menanyakan keberadaan entitas kuat yang tinggal di dalam hutan ini yang mungkin dapat kami mintai pertolongan untuk membantu kami dalam peperangan besar yang akan datang.
Dan Pramana pun memberitahukan bahwa memang ada beberapa entitas kuat yang menghuni hutan yang luas ini. Mereka adalah para {Hyang Yuwana} dan para Makhluk Malapetaka.
Namun seperti yang telah diketahui bahwa para {Hyang Yuwana} telah enggan untuk ikut campur dalam urusan para Makhluk Fana. Dengan demikian, akan sulit untuk membujuk mereka agar mau mendukung kami di medan peperangan nanti.
__ADS_1
Sedangkan entitas kuat lainnya adalah para Makhluk Malapetaka yang sudah pasti tidak dapat kami harapkan pertolongannya. Bahkan jika kami menyertakan mereka ke dalam pertempuran, yang ada malah medan perang akan menjadi neraka yang akan mengembalikan mimpi buruk ˁPeristiwa Malapetakaˀ.
Namun dari pada mengambil risiko kekalahan dalam peperangan karena tidak mengetahui kekuatan pasti dari musuh ditambah minimnya penguasaan akan basis landasan pertempuran, alangkah lebih baiknya kita meminta bantuan dari entitas kuat yang terdekat dan memiliki potensi paling besar untuk bersedia bergabung dalam pertempuran untuk mempertahankan hutan.
Jika para Makhluk Malapetaka ini dikesampingkan dan tak perlu lagi diperhitungkan, maka pilihan terakhir adalah meminta bantuan dari para {Hyang Yuwana} yang ada di hutan ini.
Dan Pramana pun mengajukan satu nama yang mungkin bersedia membantu, yaitu Wanadri si Hyang Jenggala sang Hutan. Ia bertempat tinggal paling dekat dengan posisi kami saat ini: [Balai Hutan Barat] dan juga ia memiliki kewajiban untuk melindungi hutan yang harusnya ia beri «Derma» ini.
Maka seharusnya tidak ada alasan lagi bagi Hyang Jenggala untuk menolak permintaan kami ketika mengharap ia bersedia membantu para Makhluk Fana dalam mempertahankan dan melindungi hutan yang seharusnya menjadi kewajiban dan tanggung jawab atas dirinya.
Dan begitulah akhirnya aku datang bersama Pramana untuk bertatap muka dan berbicara kepada Wanadri sang Hyang Jenggala di \[Pohon Sequoia Raksasa\] tempat tinggalnya.
Namun aku harus waspada kepada Hyang Jenggala ini. Karena bagaimanapun juga aku sama sekali belum pernah bertemu atau bahkan mengerti seperti apa para entitas yang disebut Hyang ini.
Tidak seperti para Makhluk Fana yang akan menyambut kedatangan atas diriku dengan penuh suka cita, mungkin para Hyang akan memberikan tanggapan yang berbeda atau bahkan menentang kedatangan diriku.
Ia hanyalah nampak seperti seorang gadis kecil yang menampakkan cemberut kekesalan ketika ia dibangunkan dari tidur lelapnya. Keluar dari ‘pintu’ kamarnya sembari menggosok sebelah sisi matanya dengan sedikit menguap saat mencoba mengatakan gerutu kesalnya kepada Pramana yang telah membuatnya terjaga.
Imut sekali!
Itu yang aku pikirkan pertama kali bertatap mata dengan dirinya. Matanya yang terlihat kantuk dan sayu seketika terbelalak lebar seperti anak kucing yang baru saja terbangun dari mimpi indahnya.
Aku hanya mampu diam terkagum menatap mata indah itu tatkala memantulkan cahaya dari obor yang tengah aku genggam.
Sepertinya gadis kecil ini nampak terkejut. Memangnya apa yang membuatnya seterkejut itu? Apakah Pramana si pohon raksasa itu mengagetkan malam gelapmu? Yah, aku bisa mengerti itu. Terkadang ‘pohon tua’ itu memang nampak menyeramkan, apalagi dimata gadis kecil imut sepertimu.
__ADS_1
Gadis kecil itu menyapaku dengan sangat hormat dan sopan. Itu bahkan membuatku malu lantas kutundukkan kepalaku ketika membalas salamnya kepadaku.
Ia benar-benar gadis yang baik. Aku tidak pernah melihat gadis kecil ‘seindah’ ini sebelumnya. Bahkan di dunia lamaku, aku sama sekali tak pernah melihat adanya anak kecil yang nampak sehat seperti ini.
Melanjutkan percakapan kami, aku pun mencoba mencari tahu alasan mengapa ia tidak lagi memberikan derma kepada tanah dan hutan ini yang seharusnya menjadi tugas dan tanggung jawabnya.
Alasannya tepat seperti yang dikatakan Pramana sebelumnya. Tentang kekalutanya atas Si Biang Malapetaka itu. Gadis kecil itu pun nampak ketakutan dan menundukkan kepalanya ketika menjelaskannya.
Dasar Si Biang Malapetaka! Berani-beraninya kau membuat takut dan kalut kepada gadis sekecil dan seimut ini!
Namun disamping mulut dan pikiranku yang terus bekerja selama dialog kami, mataku hanya bisa tetap mengamati tingkah menggemaskannya dalam pandangan terpesona seakan aku tak mau melewatkan momen langka ini sedikitpun.
Gadis itu pun menjelaskan bahwa ia telah menahan gejolak dari para Makhluk Malapetaka yang ada di hutan ini. Apakah itu para makhluk yang sama seperti yang dibicarakan Pramana dalam diskusi persiapan perang sebelumnya?
Namun bagaimana gadis sekecil ini bisa memiliki kekuatan untuk menahan kemelut dari para makhluk mengerikan itu? Pramana sebelumnya pun tidak menjelaskan hubungan gadis kecil ini dengan para Makhluk Malapetaka itu dan perjanjiannya dengan Pramana dan para adik-adiknya.
Merasa bingung akan hal ini, aku pun memandang Pramana yang tengah ada di sebelahku, dan entah kenapa ia hanya menanggapiku dengan sebuah anggukan. Apa artinya itu? Setidaknya jelaskanlah situasi apa yang sebenarnya terjadi di sini!
Yah, bagaimanapun juga gadis kecil di hadapanku ini adalah salah satu dari {Hyang Yuwana} yang memiliki kuasa untuk memutar siklus dunia. Maka tidak mengherankan jika ia pun bisa memiliki kekuatan untuk mengekang kuasa para Makhluk Malapetaka itu.
Lalu, entah bagaimana aku pun mengutarakan seruan ‘keren’ku untuk menenangkan kegundahan si gadis kecil itu, lantas ia pun menjabat tanganku dan setuju untuk membantu kami dalam perang yang akan terjadi di kemudian hari.
Apakah aku adalah seorang pria jahat yang memaksa seorang gadis kecil untuk ikut serta maju ke medan peperangan?
Tentu saja tidak. Dia bukanlah gadis kecil biasa. Ia adalah Hyang Jenggala sang pelindung hutan yang telah hidup selama ribuan tahun untuk memenuhi tugasnya itu. Dan sudah sepantasnya kali ini ia kembali memenuhi tugas itu dikala tanah yang dilindunginya terancam akan kehancuran dari kemelutnya peperangan yang segera menerjang.
__ADS_1
Dan setelah peperangan ini berakhir, aku pun berjanji kepada si gadis kecil untuk menuntaskan masalah yang selama ini diembannya atas penahanan para Makhluk Malapetaka.
Dengan begini, kami bertiga (aku, Wanadri, dan Pramana) pun mulai bergerak menuju perbatasan barat tempat medan perang dahsyat akan menanti dan segera terjadi.