
...Bab 1: Dunia yang Lain...
...Bagian 2:...
...~ ◊ ~...
Kilat sinar mentari pagi yang menyilaukan dikala terpantul oleh butiran embun diatas rerumputan dan batu-batu, langit biru dengan cemerlangnya membentang di sepanjang awan-awan yang berlalu, bersama hembusan angin sejuk dengan lembut menerpa wajahku.
Benar-benar dunia yang begitu indah permai nan jalak lawa. Sama sekali tak dapat dibandingkan dengan tempat hidupku sebelumnya di dunia yang lama. 18 tahun masa hidupku di sana, namun semuanya hanyalah bagai penuh derita. Begitu besar keinginanku untuk mengubah segalanya, namun aku sama sekali tak punya kuasa untuk melakukannya.
Namun setelah aku mangkat dari sana dan datang ke dunia ini yang nampak begitu mulia, akan aku korbankan apa pun untuk menjaga indahnya dunia yang kini kupijak dengan bangganya. Tak peduli tugas dan takdir apa yang menantiku di depan sana. Setidaknya kali ini, di dunia ini, aku akan memiliki kuasa untuk mengubah dunia menjadi seperti yang aku damba.
“Dunia ini tampak begitu indah dan baik-baik saja. Memangnya ada ancaman apa hingga yang kalian sebut {Tiga Hyang Utama} harus mengorbankan diri mereka untuk memanggilku dan menggantikan posisi mereka?”
Pertanyaan itu aku tujukan kepada ‘pohon’ besar yang ada di sampingku, yang kini tengah memandang indahnya hamparan rerumputan dan pepohonan hijau di bawah kami.
Saat ini aku dan ‘pohon’ besar itu (Pramana) tengah berada di puncak gunung tak jauh dari hutan tempatku pertama kali tiba di dunia ini. Di hadapan kami adalah sebuah lembah lapang yang penuh dengan hamparan hutan dan padang rumput yang luas dengan pantai berpasir putih yang menjadi ujungnya.
Laut biru yang berkilau tatkala cahaya terang sang surya menyinarinya. Langit dan Samudra yang luas dengan rona warna yang serupa, seakan menyatu bersama di ujung cakrawala.
Kilap kekagumanku akan panorama terhenti ketika Pramana yang selama ini terdiam di sampingku berkata, “Permisi...” sembari mengangkat tubuhku dengan satu tangannya dan mendudukkanku diatas kepalanya yang besar. Aku yang terkejut berusaha berpegangan pada cabang-cabang kayu yang nampak seperti mahkota di atas kepalanya agar tidak terjatuh dari ketinggian ini.
Cukup keras dan kasar, itu yang kurasakan saat aku terduduk di atas kepala Pramana dan dengan perlahan memposisikan tubuhku agar merasa senyaman mungkin di sini. Benar-benar terasa seperti duduk di atas bongkahan kayu.
“Lihatlah, di sana adalah arah timur ... Tempat kita berada saat ini disebut [Semenanjung Tanah Pertama], ujung paling timur benua,” ujar Pramana sembari merentangkan jari telunjuknya ke arah lautan luas di hadapan kami.
Arah timur. Matahari di dunia ini ternyata juga terbit dari arah yang sama dengan dunia asalku. Warna langit dan lautnya juga serupa, setidaknya seperti langit dan laut yang aku tahu di dunia asalku pada masa lalu yang kini telah menjadi kotor dan keruh.
“Tanah ini masih indah seperti sekarang berkat {Tiga Hyang Utama} yang mengakhiri ˁZaman Malapetakaˀ,” Pramana melanjutkan.
“Apakah ˁZaman Malapetakaˀ memang semengerikan itu?”
“Setidaknya begitulah adanya. Butuh pengorbanan besar untuk mengembalikan tanah ini seperti sedia kala. Bahkan pengorbanan «Atma» dari {Tiga Hyang Utama} tidak mencukupi untuk melakukannya. Sebagai gantinya, kami para {Bangsa Shajara} harus mengembalikan «Derma» dan «Hara» yang kami terima dari Sang Bentala untuk mengembalikan kesuburan benua ini. Itulah sebabnya tubuh pohon kami menjadi kering hingga kehilangan daun-daun indah yang selalu menghiasi tubuh kami sebelumnya.
Bahkan setelah semua pengorbanan itu, selain tanah ini, masih ada beberapa wilayah yang tak mampu kembali seperti semula; seperti tanah yang membeku di [Pegunungan Salju Utara], tanah kering tandus di [Gurun Pasir Selatan], dan juga tanah bermagma yang membara di [Pegunungan Api Barat Daya].”
Suara lembut Pramana terdengar suram. Entah raut apa yang nampak diwajahnya saat ini, karena aku tak akan bisa melihatnya jika duduk di atas kepalanya. Lagi pula aku tak yakin bisa mengerti ekspresi wajah dari mahkluk yang berkulit wajah seperti batang pohon.
“Lalu bagaimana dengan Sang Bentala? Mengesampingkan {Tiga Hyang Utama}, apakah Sang Bentala, Bumantara, dan Samudra tidak melakukan apa-apa saat terjadinya malapetaka?”
Yang aku mengerti dari kisah yang disampaikan Pramana sebelumnya adalah di dunia ini terdapat Entitas Agung yang disebut para Hyang dan juga para makhluk fana yang menguni dunia ini. Namun ada juga yang disebut {Tiga Alam Dunia}, tapi aku tak mengerti mereka digolongkan sebegai apa. Mungkin mereka ada dalam klasifikasi yang berbeda?
“Sang Bentala adalah lembaran Daratan yang terhampar dari berbagai ujung semesta. Sang Bumantara adalah Langit yang menjadi untaian cemerlang yang membentang di sepanjang cakrawala. Dan Sang Samudra adalah rangkaian luas Lautan yang menyelimuti kegelapan dari dalamnya dunia.
Dengan kata lain, Daratan luas yang kita pijak, itulah Sang Bentala. Langit yang memayungi diatas kepala kita, itulah Sang Bumantara. Dan Lautan membentang yang menyelimuti dunia, itulah Sang Samudra. Ketiganyalah yang disebut sebagai {Tiga Alam Dunia}.”
“Ooh...” gumamku yang baru memahaminya.
Ternyata begitu. Bentala, Bumantara, dan Samudra. Mereka bukanlah sebuah makhluk secara harfiah, melainkan kenampakan alam secara nyata yang ada di dunia ini.
“Anggap saja semua daratan yang ada di dunia ini (termasuk yang kita tinggali saat ini) adalah [Alam Bentala], awan-awan dan langit di atas sana adalah [Alam Bumantara], lalu lautan dan segala yang ada di dalamnya adalah [Alam Samudra],” tambah Pramana melanjutkan penjelasannya.
“Lalu bagaimana keadaan [Alam Bumantara] dan [Alam Samudra] selama ˁZaman Malapetakaˀ terjadi hingga saat ini?”
Jika [Alam Bentala] ini mampu bertahan dari ˁZaman Malapetakaˀ dengan bantuan «Atma» dari {Tiga Hyang Utama} dan juga para {Bangsa Shajara} yang mengorbankan «Derma» dan «Hara»nya untuk mengembalikan kesuburan daratan, lalu begaimana dengan alam lainnya? Bukankah selama ˁZaman Kemakmuranˀ hanya [Alam Bentala] yang dihuni oleh makhluk fana?
Ketiga alam nampak terhubung secara fisik. Namun dari kisah yang disampaikan Pramana sebelumnya, nampaknya ketiga alam di dunia ini dapat diartikan juga terpisah secara dimensional.
Itu berarti langit dan lautan yang nampak dari alam ini tidak sepenuhnya menggambarkan keadaan kedua alam lainnya. Karena seperti yang terlihat saat ini, langit masih membentang dengan cemerlang dan lautanpun masih terhampar dengan jernihnya.
__ADS_1
“Entahlah...” jawab Pramana dengan lirih. “Meskipun kehancuran dunia dapat dicegah berkat pengorbanan {Tiga Hyang Utama}, namun pemulihan setiap alam tidak dapat dilakukan sepenuhnya.
Diriku yang diberkati akan kebijaksanaan dan pengetahuan pun tak benar-benar mengetahui apa yang terjadi di alam lainnya. Karena setelah berakhirnya malapetaka, para {Hyang Yuwana} yang menjadi penghubung antara ketiga alam dunia tak lagi berani bepergian antar alam untuk mengindari Si Biang Malapetaka yang masih menjadi tanda tanya besar bagi seluruh dunia.”
Benar juga. Itu adalah salah satu tugas yang harus kuemban di dunia ini, yaitu mengungkap dan memusnahkan para {Hyang Gila} yang tersisa beserta dalang dibalik ˁPeristiwa Malapetakaˀ.
“Namun dari sedikit yang aku tahu adalah bahwa Hyang Indra, salah satu dari {Hyang Gila} yang bertahan dari pemusnahan, berhasil menguasai [Alam Bumantara] setelah lenyapnya {Tiga Hyang Utama},” tambah Pramana sembari mendongakkan kepalanya menghadap ke atas menuju hamparan langit yang luas.
Meskipun aku baru saja datang ke dunia ini dan hanya sedikit waktu yang aku habiskan bersama Pramana, rasanya aku sudah sangat mengenal dirinya. Bahkan aku bisa merasakan kekesalan dan ketidakberdayaan dalam dirinya.
Apakah ini juga ada kaitannya dengan ingatan dari «Atma» {Tiga Hyang Utama} yang ada di dalam diriku? Bagaimanapun juga merekalah yang merawat dan membesarkan Pramana sedari ia masih berupa tunas kecil.
“Mengesampingkan itu, sebenarnya siapakah para Hyang ini? Ada yang disebut Dewa atau Tuhan di dunia asalku yang merupakan tempat memanjatkan do’a dan disembah. Mungkinkah para Hyang juga bisa dianggap seperti itu?”
“Hm... Kurasa tidak.” jawab Pramana yang nampak kembali sedikit tenang. “Semua yang ada di dunia ini berjalan sebagaimana mestinya sesuai dengan siklus kehidupan. Semua memiliki peran dan tugasnya masing-masing. Begitupula dengan para Hyang; baik {Tiga Hyang Utama} yang menjadi representasi dasar dan utama dalam perputaran roda dalam siklus kehidupan, maupun para {Hyang Yuwana} yang menjadi turunan mereka dalam membantu tugas ketiganya.
Karena itulah, tidak selayaknya untuk memanjatkan do’a ataupun menyembah kepada mereka. Walau meskipun kami sebagai makhluk fana sangat menghormati dan berterimakasih atas «Derma» yang mereka berikan untuk siklus daur hidup di atas dunia ini.
Namun keseimbangan siklus kehidupan ini mulai terguncang dan runtuh akibat memberontaknya para {Hyang Gila} yang membawa malapetaka. Dan tak menutup kemungkinan jika ada beberapa makhluk fana di luar sana yang terperdaya oleh tipu daya mereka agar mau menyembah dan mendewakan mereka.”
Kekesalan dan kebencian mulai kembali terasa dari Pramana. Entah apa yang sebenarnya telah terjadi sejak tragedi malapetaka itu. Namun dengan melihat dari sikap Pramana ketika mengungkit peristiwa itu, nampaknya tragedi itu benar-benar saat-saat yang paling suram dan mengerikan sepanjang sejarah dunia ini.
“Sebelumnya aku akan meminta maaf jika pertanyaan ini akan membuatmu merasa tidak nyaman. Namun apa yang terjadi setelah ˁZaman Malapetakaˀ itu berakhir? Dan bagaimana cara makhluk fana bisa bertahan dari tragedi kehancuran itu?”
Ya, aku tahu ini mungkin akan membuat Pramana kesal dan muram jika harus mengingat masa-masa kelam itu. Namun, bagaimanapun juga aku harus mempertanyakan hal ini. Karena pengetahuan dan informasi adalah suatu hal yang sangat berharga.
Terutama untuk diriku yang secara tiba-tiba terpanggil ke dunia ini dan dijanjikan mengemban tugas untuk menjadi pemimpin disini. Setidaknya aku harus memiliki pengetahuan yang mumpuni dalam menjalankan tugasku untuk menggantikan {Tiga Hyang Utama} yang mengorbankan diri mereka demi memanggilku ke dunia ini.
“Tak perlu meminta maaf. Membantu dan membimbing Anda adalah salah satu tugasku. Menjawab segala pertanyaan dan memberikan pengetahuan yang Anda butuhkan untuk menjadi pemimpin ideal bagi dunia ini juga merupakan wasiat dari {Tiga Hyang Utama} yang mereka titipkan kepada diriku. Seharusnya dirikulah yang malu. Tak sepantasnya makhluk yang diberkahi kebijaksanaan ini menunjukkan emosional yang menyedihkan seperti ini di hadapan Anda.”
Entah mengapa kata-kata Pramana kali ini terdengar lebih hormat kepada diriku. Yah, kurasa begitulah sikap yang sepantasnya ditunjukkan kepada Sang Pemimpin yang Dijanjikan sepertiku. Kurasa aku juga harus meningkatkan karismaku. Setidaknya dengan memiliki wibawa yang sepantasnya sebagai seorang pemimpin, akan dapat meyakinkan orang-orang yang telah menunggu kedatanganku ke dunia ini.
Dan tentunya itu juga akan mempermudah diriku untuk memberikan pengaruh dan perintah kepada mereka sesuai kehendakku sebagai pemimpin.
“Akhir dari ˁZaman Malapetakaˀ terjadi setelah lenyapnya {Tiga Hyang Utama} yang mengorbankan «Atma» mereka demi mencegah kehancuran dunia. Dengan begitu dimulailah ˁZaman Kehampaanˀ dunia tanpa adanya para penopang utama dari «Ihwal Dunia».
Para makhluk fana dapat bertahan selama tragedi itu berkat Hyang Gegana yang melindungi segenap jiwa fana dalam naungannya. Namun setelah ia lenyap, maka hilanglah pula perlindungan darinya. Begitu pula dengan para {Hyang Yuwana} yang tak lagi memberikan «Derma»nya pada kami (para makhluk fana) untuk mengatur «Ihwal Alam» di atas semesta.
{Tiga Alam Dunia} yang belum sepenuhnya pulih dari ambang kehancuran, tak lagi bisa memberikan berkah alam seperti sedia kala. Karena itulah demi menjaga berkah dalam tanah [Alam Buana], kami para {Bangsa Shajara} memutuskan untuk mengembalikan «Derma» dan «Hara» yang kami terima dari alam yang biasa menjadi makanan kami untuk kembali berusaha menyuburkan tanah yang rusak ini.
Karena para {Hyang Yuwana} yang tak lagi memberikan «Derma»nya, para makhluk fana merasa telah ditelantarkan dan ditinggalkan, hingga beberapa makhluk fana perlahan mulai kehilangan kepercayaannya kepada mereka dan memutuskan hidup tak lagi bergantung kepada «Derma» para Hyang. Terutama {Bangsa Jania} yang memutuskan untuk menutup diri dalam daratan yang mereka bangun sendiri.”
“Lantas bagaimana dengan bangsa-bangsa yang lainnya?”
“{Bangsa Hayawan} dengan sifat kesetiaan mereka, tentu masih memegang teguh tatanan awal dunia dan berusaha tetap mempercayai para Hyang. Namun sempat terjadi bencana kelaparan panjang pascamalapetaka yang memaksa mereka harus saling berperang dan membunuh demi memperebutkan makanan. Karena itulah sejak saat itu mereka mulai hidup menyebar dalam kelompok suku-suku yang saling bersitegang di benua ini.”
Pramana nampak kembali terdiam sebelum melanjutkan. Terasa hawa kesedihan dari dirinya. Hal itu wajar saja. Karena {Bangsa Hayawan} yang disebutkan sebagai bangsa yang penuh dengan kesetiaan harus terpaksa hidup menghianati dan saling berperang dengan bangsa mereka sendiri demi bertahan hidup dalam belenggu kelaparan.
“Sedangkan {Bangsa Manusia}, mereka adalah bangsa yang memiliki ‘kesempurnaan’ dengan segudang keinginan. Mereka terlahir di [Alam Bumantara], namun akhirnya harus terusir dari sana dan rebah menuju [Alam Bentala].”
“Apa yang menyebabkan mereka terusir dari [Alam Bumantara]?”
“Entahlah. Pengetahuan yang diriku miliki hanyalah sebatas apa yang ada di [Alam Bentala] ini. Karena itulah diriku sama sekali tak menahu alasan mengapa Sang Bumantara mengusir mereka.
Namun setelah rebahnya {Bangsa Manusia} dari [Alam Bumantara], Sang Bentala dengan kemurahannya menerima (atau bisa disebut ‘memungut’) {Bangsa Manusia} agar bisa hidup damai di [Alam Bentala] ini.
Di samping itu, Sang Bumantara tak mengusir mereka dengan semena-mena. Karena Bagaimanapun juga {Bangsa Manusia} adalah makhluk yang tercipta darinya. Oleh karena itu, Sang Bumantara memberikan perlindungan kepada {Bangsa Manusia} sebelum merebahkan mereka dari alam asalnya; yaitu dengan memberikan mereka perlindungan dengan «Atma» dari {Hyang Tujuh Warna} kepada tujuh manusia terbaik untuk ditugaskan menjadi pemandu dan pemimpin bangsanya.
Dari tujuh manusia pilihan itulah {Bangsa Manusia} mendirikan kerajaan-kerajaan megah di atas [Alam Buana] (tempat tinggal baru mereka) dengan ketujuh manusia pilihan sebagai Raja dan penguasanya. Mereka hidup dengan mengabdikan diri dalam siklus kehidupan serta kepada para Hyang yang memberikan mereka «Atma» dan perlindungan demi kemakmuran.
__ADS_1
«Derma Perlindungan» dari {Hyang Tujuh warna} itu diwariskan melalui wangsa para Raja-Raja. Namun setelah banyak zaman berlalu, terutama setelah ˁZaman Malapetakaˀ, ketujuh Raja mulai kehilangan kebajikan mereka dan perlahan menjadi nista dengan menyalahgunakan kekuatan yang diberikan kepada mereka demi memuaskan keinginan manusia yang tiada habisnya.
Mereka saling berebut demi Keserakahan, Rakus akan segala keinginan, kemenangan hanya untuk Kesombongan, timbul Dengki dan penghianatan, terikat rantai Amarah dan balas dendam, Malas memperbaiki kesalahan, serta Nafsu akan kenikmatan. Dengan semua kenistaan itulah, ketujuh Raja manusia kini disebut sebagai {Tujuh Raja Angkara}.”
“Mungkinkah sifat ‘keinginan’ tiada habisnya itulah yang membuat {Bangsa Manusia} terusir dari [Alam Bumantara]?”
“Itu adalah alasan yang paling masuk akal.”
Memang tidak dapat dipungkiri jika memang itulah sifat dasar manusia; Serakah, Rakus, Sombong, Dengki, Amarah, Malas, dan Nafsu. Manusia di dunia asalku juga dipenuhi sifat-sifat menjijikkan seperti itu.
Namun mau bagaimanapun juga, itulah apa yang ada dalam diri manusia yang dibawa sejak penciptaan dan kelahiran mereka. Aku pun tak dapat menyangkal jika aku juga memilikinya. Karena, aku juga salah satu makhluk yang terlahir sebagai manusia.
Dari apa yang dikatakan Pramana sebelumnya, sepertinya {Bangsa Manusia} di dunia ini juga sama dengan manusia yang aku tahu di dunia asalku. Ataukah berbeda?
“Semenjak kedatanganku ke dunia ini, yang sudah aku lihat hanyalah {Bangsa Shajara} sepertimu dan rekan-rekanmu di hutan. Aku belum melihat adanya bangsa lainnya; baik {Bangsa Hayawan}, {Bangsa Jania}, bahkan {Bangsa Manusia}. Jika aku bisa bertanya, nampak seperti apakah mereka? Apakah manusia nampak sepertiku? Karena di dunia asalku, makhluk seperti diriku juga disebut manusia.”
Aku bertanya kepada Pramana. Mungkin dengan penjelasan gambaran fisik mereka aku akan bisa memutuskan bagaimana akan menanggapi jika aku akan bertemu mereka di kemudian hari, dan juga agar mengurangi keterkejutanku saat pertama kali melihat mereka. Karena aku yakin mereka adalah makhluk yang akan nampak aneh, seperti ‘pohon’ bisa bicara yang aku tumpangi saat ini contohnya. Setidaknya untuk makhluk selain Manusia.
“Ya. {Bangsa Manusia} sama seperti Anda. Berkulit lunak, sebagian sedikit berbulu atau biasa mereka sebut ‘rambut’, dan berbagai bentuk fisik yang nampak lemah lainnya. Yah, bisa dibilang {Bangsa Manusia} adalah bangsa dengan tubuh fisik yang paling lemah, namun juga yang paling indah. Hingga para {Hyang Yuwana} iri pada tubuh kalian dan menirunya.”
Aku tak mengerti bagaimana para {Hyang Yuwana} bisa meniru bentuk tubuh makhluk lain. Karena aku sama sekali tak bisa membayangkan seperti apa para Hyang itu.
“Apakah ada alasan mengapa {Tiga Hyang Utama} memilihku, yang merupakan {Bangsa Manusia} untuk menjadi pemimpin di dunia ini? Bukankah itu akan menimbulkan ketidakadilan untuk bangsa-bangsa yang lain?”
“Entahlah. Tapi yang pasti {Tiga Hyang Utama} memiliki alasan penting dibalik pemilihan Anda yang seorang manusia untuk menjadi pemimpin.”
Mungkinkah karena manusia dianggap makhluk yang tercipta paling ‘sempurna’? Tapi bukankah sebaliknya manusia juga makhluk yang paling lemah?
“Sedangkan {Bangsa Hayawan}, mereka adalah binatang yang berjalan dengan dua kaki dan menggunakan dua tangan. Anggap saja seperti manusia setengah binatang. Banyak jenis dari mereka, tergantung dari mana suku dan keluarga mereka berasal. Ada yang berkuku dan bertanduk, ataupun bercakar dan bertaring. Setiap suku memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing.”
“Ah, aku bisa membayangkannya. Lalu bagaimana dengan {Bangsa Jania}? Jika tidak salah, kata ‘Jania’ memiliki arti ‘Jin’ atau ‘Peri’, namun aku tak bisa membayangkan seperti apa makhluk ini.”
“Mereka adalah makhluk yang lahir dari «Ketaksaan» dalam gelapnya [Alam Samudra]. Namun dari «Ketaksaan» itulah mereka mendapatkan kekuatan untuk memanipulasi sebagian kecil «Ihwal Alam» dengan menyerap kegelapan Sang Samudra.
Namun setelah bangsa mereka memilih untuk maherat menuju permukaan demi mencari hangatnya cahaya, Sang Samudra pun murka dan mengambil kembali tubuh fisik mereka. Karena itulah {Bangsa Jania} kini menjadi makhluk gaib dan hanya mampu merasuki tubuh makhluk fana lainnya.
Dan setelah berakhirnya ˁZaman Malapetakaˀ, mereka kini menutup diri di daratan mereka sendiri, tepatnya di [Pulau Angker], sebelah selatan [Semenanjung Tanah Pertama] ini”
“Kau benar-benar mengetahui dan memiliki pengetahuan tentang banyak hal ya. Memang sepantasnya dirimu disebut sebagai makhluk dengan kebijaksanaan sejati. Untuk itu, aku akan memohon agar engkau bersedia menyusahkan dirimu untuk membantu dan membimbing dalam semua tugas-tugas yang diembankan kepadaku mulai saat ini.”
“Ah, tidak perlu merendahkan diri untuk memohon. Anda hanya perlu memberi perintah. Anda adalah pemimpin yang telah dijanjikan sebagai juru selamat dunia ini. Sudah sepantasnya makhluk seperti diriku mempersembahkan kepatuhan kepada Anda.”
Pramana nampak sangat senang dan bahagia saat mengatakan itu. Mungkin itulah yang ia rasakan setelah seribu tahun penantiannya telah terbayarkan dengan datangnya diriku.
Mendengar ucapan Pramana yang cerah itu, aku pun dengan lembut tersenyum. Mungkin Pramana juga menunjukkan ekspresi ini di wajah berkambiumnya.
Kepatuhan, ketaatan, kesetiaan, dan loyalitas. Aku tak berharap besar untuk itu semua. Karena dari kisah, kronik, dan konflik yang telah terjadi di dunia ini, tak akan mengherankan jika akan ada banyak makhluk di dunia ini yang akan meragukan posisiku sebagai pemimpin yang menjadi penopang dari segenap «Ihwal Dunia».
Lagi pula itu adalah sebuah kedudukan yang terlalu besar jika harus ditempati oleh seorang anak manusia yang datang dari dunia yang entah dari mana seperti diriku.
Ada berbagai makhluk dan entitas aneh di dunia ini, juga cara kerja siklus dunia yang mungkin sama sekali berbeda dan tak ada di dunia asalku. Tidak akan heran jika aku sama sekali merasa asing dengan semua imaji dalam dunia yang bagai fiksi fantasi ini.
Namun entah mengapa aku merasa begitu akrab dengan dunia ini setelah terpanggil kemari. Seakan perasaan dan ingatan dalam diriku dengan mudahnya menerima semua ‘keanehan’ ini.
Mungkin apa yang disebut «Atma» dari {Tiga Hyang Utama} itulah yang tanpa sadar telah membantuku beradaptasi setelah ‘terlahir kembali’ di dunia ini. Apakah «Atma» {Tiga Hyang Utama} ini benar-benar membawa ingatan dan kekuatan mereka di dalam diriku?
Entahlah... Apapun itu aku tak peduli. Yang terpenting adalah aku bisa menikmati hidup di dunia nan indah ini. Serta dengan kekuatan dan posisiku sebagai pemimpin, aku tak akan segan untuk mengubah semua hal yang busuk di dunia ini menjadi seperti yang aku kehendaki.
Setidaknya itulah yang aku impi dan idam-idamkan selama ini. Memiliki kekuatan untuk mengubah dunia dan membentuknya sesuai dengan apa yang aku dambakan.
__ADS_1
Namun, dengan rumitnya kisah, sejarah, dan berbagai kronik yang menghiasi dunia ini, aku mulai merasa ragu apakah aku benar-benar bisa memimpin dunia ini seperti yang telah diwasiatkan. Dan lagi, semua akan menjadi buruk jika aku tidak dapat memenuhi ekspektasi dan harapan para penghuni dunia ini dengan menjadi pemimpin yang ideal bagi mereka dan memenuhi tugasku untuk mengembalikan kemakmuran seluruh alam.
Yah... Kurasa ini akan menjadi sebuah kisah yang panjang