
...Bab 2: Mengukuhkan Pedudukan...
...Bagian 2
...
...~ ◊ ~
...
Pratama sang Tetua Shajara. Ia adalah salah satu Shajara yang paling dituakan setelah Pramana sang Makhluk Pertama. Ia beserta empat tetua Shajara lainnya diberi tugas oleh Pramana yang Paling Bijaksana untuk memimpin dan mengelola segala «Ihwal Alam» yang ada di daerah-daerah Kawasan [Semenanjung Tanah Pertama]. Untuk tugas itu, ia diamanahi [Daerah Gunung Pusat] untuk ia pimpin dan kelola,.
Dengan mengemban tugas itu, ia juga sekaligus menjadi pendamping Pramana yang menjadi pengatur dan pengelola utama seluruh Kawasan [Semenanjung Tanah Pertama] dengan menjadi pengawas para pengelola daerah-daerah lainnya.
Tepat setelah kedatangan Sang Pemimpin yang Dijanjikan, ia dan para Shajara lainnya merasa sangat bahagia.
Lantaran setelah seribu tahun penantian mereka, kini Sang Juru Selamat yang dinati-nantikan kedatangannya, telah memenuhi panggilan dari {Tiga Hyang Utama} untuk mengembalikan kemakmuran dan kebahagiaan di atas dunia.
Dan kini ia tengah menjalankan perintah dan tugas pertama dari Pemimpin yang Dinanti, yaitu untuk memimpin pasukan Regu Penyelidikk dan Regu Evakuasi menuju [Daerah Hutan Barat].
Regu yang Pratama pimpin terdiri dari beberapa Shajara, Hayawan, dan Manusia yang menjadi prajurit di [Daerah Gunung Pusat] yang ia kelola.
Regu Penyelidik yang terdiri dari beberapa Hayawan berangkat terlebih dahulu untuk menyelidiki kondisi dan keadaan apa yang tengah terjadi di [Daerah Hutan Barat].
Sedangkan untuk Pratama bersama beberapa Shajara dan Manusia yang menjadi Regu Evakuasi akan berangkat menuju [Balai Hutan Barat], untuk meninjau keadaan dan keamanan tempat itu sebelum digunakan sebagai lokasi pusat evakuasi penduduk.
Namun sebelum itu, ia harus meninjau apa yang sebenarnya tengah terjadi di daerah itu hingga para Shajara yang ada di sana tidak merespon pesan yang disampaikan sebelumnya, dan juga memastikan apakah benar-benar ada pembelotan atau masalah lainnya seperti yang dikhawatirkan.
Pratama pun berharap itu semua tidak terjadi, dan semoga saja hanya ada kesalahpahaman dalam proses penyampaian dan penerimaan pesan diantara mereka.
Namun ia tetap harus memperhitungkan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Karena itulah ia berangkat dengan membawa banyak pasukan terbaiknya yang siap bertempur, seperti yang diperintahkan oleh Akbar.
Selepas beberapa hari setelah keberangkatan mereka, kini Pratama dan pasukannya telah sampai di lokasi tujuan mereka. Itu adalah sebuah bangunan yang nampak dari luar berupa benteng dengan dinding kayu yang besar dan pintu gerbang yang tinggi menjulang.
Namun tidak seperti biasanya, pintu gerbang itu kini nampak tertutup rapat. Pitu gerbang itu biasanya tidak pernah tertutup, karena di balik dinding dan gerbang ini terdapat [Balai Hutan] yang menjadi pusat pengelolaan segala «Ihwal Alam» yang ada di daerah ini.
Semua kebutuhan dan urusan di tiap daerah hutan terpusat di [Balai Hutan] ini. Mulai dari urusan kependudukan tiap pedesaan dan kesukuan, pengelolaan tanah dan hasil bumi, pusat komando pertahanan dan keamanan, juga urusan yang berkaitan dengan daerah-daerah hutan yang lainnya.
Karna itulah, akan aneh jika tempat yang biasa memiliki banyak kesibukan, tempat orang-orang berlalu lalang, kini sepi dengan tertutup rapatnya pintu gerbang.
__ADS_1
Ini semua benar-benar pemandangan dan kondisi yang tidak biasa, kecuali tengah terjadi keadaan darurat. Kemungkinan itu membuat Pratama dan para pasukannya menjadi semakin cemas dan gelisah. Kemungkinan terburuk bisa saja benar-benar terjadi melihat pemandangan tidak biasa ini.
Menepikan kecemasan dan kegelisahannya yang menghadang, Pratama berjalan mendekat dihadapan pintu gerbang yang tinggi menjulang, lantas ia pun berseru dengan lantang:
“Aku Pratama sang pengawas para pengelola hutan, datang untuk meninjau keadaan [Daerah Hutan Barat] yang tidak merespon pesan yang telah dikirimkan dari pusat. Untuk itu bukakanlah pintu gerbangnya dan perkenankanlah kami untuk masuk ke [Balai Hutan] kalian.”
Tak lama setelah Pratama menyerukan kalimat panggilannya, pintu gerbang pun terbuka dengan perlahan bersama suara deratan besar yang seakan menggetarkan kesunyian hutan.
“Salam, Tetua Pratama! Kami para pengelola [Balai Hutan Barat] ini menyambut kedatangan Anda.”
Sapa seorang Manusia berdiri di balik gerbang yang telah terbuka, menyambut Pratama dengan nada penuh hormatnya.
Sepi dan sunyi. Itulah yang nampak dibalik punggung Manusia itu. Hanya ada beberapa Manusia lain dan beberapa Hayawan di samping orang itu yang nampaknya juga merupakan pengelola [Balai Hutan] ini.
Benar-benar berbeda dengan keadaan gerbang [Balai Hutan] yang biasanya dijaga oleh para penjaga dari prajurit keamanan hutan. Adalah sebuah keanehan jika para pengelola [Balai Hutan] sendiri yang ada di balik gerbang, karena biasanya pekerjaan mereka berada di dalam.
“Kenapa di sini sangat sepi? Kemana perginya para prajurit?”
Pramana membuka pembicaraan sembari melangkah maju memasuki bagian sisi lain dari pintu gerbang setelah dipersilakan oleh orang-orang yang ada di hadapannya.
“Para prajurit dan semua pasukan keamanan hutan yang dipimpin oleh Tetua Pradana telah berangkat ke perbatasan barat untuk menghadang para penyerang semenjak hampir sepekan yang lalu.”
Para pengelola [Balai Hutan] itu melaporkan kondisi [Daerah Hutan Barat] ini yang tengah menjadi tidak pasti setelah kepergian pasukan prajurit yang dipimpin oleh Pradana menuju perbatasan untuk menghadang serangan dari para penyerang yang membentuk kemah-kemah pasukan bersekala besar di sisi luar [Padang Fertil] bagian barat.
Dari laporan itu dapat dipastikan bahwa kemungkinan terburuk memang benar-benar tengah terjadi.
Dari gambaran banyaknya jumlah kemah-kemah pasukan musuh yang berbaris di sisi luar [Padang Fertil], dapat diasumsikan bahwa serangan kali ini akan berbeda dengan serangan-serangan mereka sebelumnya yang hanya dilakukan dalam sekala kecil.
Mungkin serangan kali ini bukan hanya dilakukan oleh salah satu kota dari {Federasi Keadipatian Bupala} saja seperti sebelumnya.
Dengan melihat jumlah pasukan musuh yang dikerahkan untuk penyerangan ini, mungkin hampir semua kota dari {Federasi Keadipatian Bupala} akan ikut serta dalam peperangan di perbatasan.
Dengan melihat masalah besar ini, tak aneh jika Pradana yang menjadi pengelola utama sekaligus komandan pasukan pertahanan di [Daerah Hutan Barat] harus turun tangan sendiri untuk memimpin seluruh pasukannya.
“Jadi memang terjadi kondisi darurat, ya...” gumam Pratama dengan menampakkan aura kecemasan dan kegelisahan. “Jika Pradana dan para Shajara lainnya yang ada di daerah ini telah berangkat ke perbatasan sejak sepekan yang lalu, tidak aneh jika mereka tidak sempat menerima pesan yang kami sampaikan dari pusat. Karena radius pengiriman pesan tidak akan sampai sejauh itu hingga ke perbatasan.”
“Mohon maaf sebelumnya, Tetua Pratama. Karena tidak adanya Shajara yang ada di sini, sehingga kami tidak dapat menerima pesan dari pusat.” Para pengelola meminta maaf sembari menundukkan kepala mereka.
“Tak apa. Mungkin saat itu disini tengah terjadi kondisi darurat hingga Pradana tidak sempat mengirim pesan laporan ke pusat tentang penyerangan kali ini.”
__ADS_1
“Ah... Ka-kami juga meminta maaf akan hal itu,” kata seorang pengelola nampak ragu dibarengi tundukan kepala yang makin dalam. “Tetua Pradana tidak melaporkan masalah penyerangan kali ini karena beranggapan pertempuran ini tidak akan berlangsung lama, seperti serangan-serangan sebelumnya. Karena itulah beliau merasa tidak perlu melaporkan hal ini ke pusat.”
“Hah... Dasar pohon tua itu...! Aku sudah berulang kali mengingatkannya untuk selalu mengirim laporan, apapun yang terjadi!” gerutu Pratama dengan kekesalan tatkala mengingat perbuatan salah satu rekannya itu. “Ia pasti terlalu gegabah karena bisa turun tangan langsung ke pertempuran setelah sekian lama dan mengabaikan laporan tentang hal ini. Kurasa ia terlalu meremehkan kekuatan musuh.”
“Kami benar-benar memohon maaf akan kelalaian kami yang tidak mengingatkan Tetua Pradana akan hal itu.”
Orang-orang yang menjadi andahan Pradana dalam mengelola daerah ini kembali menundukkan kepala mereka dalam-dalam.
“Ah, tidak perlu meminta maaf. Aku tidak menyalahkan kalian,” balas Pratama dengan nada kekesalan yang ditujukan kepada seseorang yang tidak ada disana. “Ini adalah murni kesalahan Pradana sebagai pengelola utama dan pemimpin prajurit di daerah ini. Sebaliknya dialah yang harusnya meminta maaf karena membuat kalian kerepotan selama ini.”
Semua orang yang mengindahkan kata-kata itu dari Pratama menampakkan senyum pahit selepas mendengarnya. Tak dapat dipungkiri jika ‘pohon’ yang ada di dalam pikiran mereka adalah seseorang yang sangat merepotkan, walaupun ia adalah salah seorang yang dituakan.
“Me-Meskipun Tetua Pradana sedang tidak ada, apakah Anda berkenan untuk menyampaikan pesan yang Anda maksudkan sebelumnya kepada kami?” kata seorang pengelola mengakhiri kepahitan diantara mereka. “Setidaknya dengan mendengar pesan itu, kami bisa segera melakukan apa yang perlu dilakukan.”
“Ah, itu tidak masalah. Dalam kondisi darurat ini, kita memang harus bertindak dengan cepat.” Pratama menegakkan tubuh berkambiumnya dengan menampakkan aura keagungannya, bersiap menyampaikan pesan penting yang ingin disampaikannya dengan menyerukan suara lantang yang membahana agar dapat didengar oleh seluruh makhluk yang ada disekitarnya.
“Wahai para makhluk yang ada di seantero hutan! Bersyukur dan berbahagialah! Akbar Sang Pemimpin yang Dijanjikan telah memenuhi panggilan dari {Tiga Hyang Utama} untuk memenuhi tugasnya, sebagaimana yang telah diwasiatkan!”
Semua orang (kecuali para prajurit yang datang bersama Pratama) nampak terkejut. Namun ketegangan yang tergambar di wajah-wajah mereka akibat keterkejutan dengan seketika tergantikan oleh ekspresi penuh rasa syukur dan kegembiraan, bahkan dihiasi oleh harunya air mata yang berlinangan.
Sang Pemimpin yang Dijanjikan dalam wasiat terakhir dari {Tiga Hyang Utama} yang akan menjadi pemimpin dan penopang segenap «Ihwal Dunia» serta mengembalikan kemakmuran dan kebahagiaan di atas keabadian semesta.
Bagi {Bangsa Hayawan} dan {Bangsa Manusia} yang tak memiliki terlalu panjang usia, kisah-kisah dalam wasiat yang dijanjikan oleh {Tiga Hyang Utama} bagaikan dongeng dan legenda yang diwariskan dari para leluhur-leluhur mereka.
Namun kini, saat ini, dan di tanah inilah, Sang Juru Selamat dalam dongeng legenda yang menjadi pujaan dan kerinduan mereka, kini telah benar-benar datang untuk menjawab penantian panjang dari segenap makhluk di dunia.
“Be-Benar-Benarkah itu, Te-Tetua?”
Pertanyaan itu muncul dari mulut seorang manusia yang bergetar sembari membentangkan senyuman nan begitu lapang menggambarkan betapa besar kebahagiaan dalam linangan rona syukurnya yang tak dapat tergambarkan.
Pertanyaan itu bukan untuk memastikan kebenaran ataupun menunjukkan rasa ketidakpercayaan.
Namun itu semua murni keinginannya dan semua makhluk yang berpikiran sama dengannya untuk kembali mendengar kabar yang membawa gelora penuh kegembiraan.
Mereka, para makhluk yang tidak memiliki umur yang begitu panjang, pastilah akan sangat bersyukur dan bahagia lantaran di generasi mereka saat inilah dongeng harapan yang para leluhur mereka ceritakan akhirnya benar-benar menjadi kenyataan.
“Berdurhakalah aku jika mempermainkan kabar atas nama Sang Pemimpin yang Dijanjikan!”
Jawaban dari Pratama itu cukup untuk meningkatkan rasa syukur dan kebahagiaan mereka hingga sampai ke batas tertingginya.
__ADS_1