
...----------{ BAB 3 }----------
...
...Peperangan di Perbatasan Barat...
...Bagian 1
...
...~ ◊ ~
...
Fajar menyingsing dari ambang muka barisan kemah-kemah puluhan ribu pasukan. Butir-butir embun berkerlipan tatkala binar dari cahaya mentari menyambut dengan pendar keceriaan. Tenda-tenda yang terpancang nampak sedikit berayun-ayun pelan ketika sang bayu berdesir di sepanjang padang rerumputan hijau nan lapang.
Dengusan dan ringkikan terdengar dari nafas kuda-kuda perang yang bertali kekang. Ricuh merabak di antara barisan para pasukan yang tengah mengantri untuk mendapat sesuap roti untuk sarapan. Semantara yang lainnya menyuarakan dentingan-dentingan logam yang berbenturan dikala pedang dan tombak-tombak mereka saling beradu untuk latihan.
Namun di dalam hati semua insan yang tengah ada di bekas medan perang ini menyiratkan akan kegundahan hati tatkala menanti pertempuran yang akan terjadi selepas pagi nan damai ini. Darah dan debu pun masih menghiasi sekujur tubuh-tubuh para pejuang pemberani, menggambarkan betapa sukarnya pertempuran yang telah mereka jalani.
“Atas pengorbanan dan dedikasi para pasukan kita yang pemberani, [Padang Fertil] ini telah berhasil kita kuasai. Selanjutnya apa yang akan kita lakukan untuk memenangkan pertempuran yang menanti kita siang nanti?”
Seorang Manusia pria berbalut armor besi di sekujur tubuhnya yang nampak tengah dalam usia akhir paruh bayanya membuka konferensi strategi perang yang dihadiri para Jendral dari semua Devisi pasukan peperangan kali ini.
Pria paruh baya itu merupakan salah seorang Adipati dari {Federasi Keadipatian Bupala} yang ditunjuk langsung oleh Sang Patih untuk menjadi pemimpin dari keempat Jendral yang tengah berkumpul di tenda besar pertemuan ini.
Ia adalah Adipati Begih B’Gawon, sang Adipati dari [Kota B’Gawon] yang kini menjadi Panglima perang dalam misi ekspansi militer dari [Kerajaan Bupala] untuk menduduki dan menguasai wilayah tanah subur di daerah [Padang Fertil] bagian barat dari kawasan [Semenanjung Tanah Pertama].
“Mohon maaf jika tutur saya mengusik keputusan dari Panglima B’Gawon,” ujar seorang pria yang tampak sudah dalam usia kedaluwarsa. “Namun alangkah lebih bijaksananya jika kita biarkan para pasukan kita beristirahat sejenak setelah bersusah-susah payah dalam memenangkan pertempuran pelik sebelumnya.”
Pria tua itu, salah seorang Jendral sekaligus Adipati dari [Kota B’Ajag] mengutarakan nasihatnya dengan kalem kepada Panglima dan Jendral perang lainnya.
“Dengan tanpa menggugurkan kepatuhan saya kepada Panglima B’Gawon, saya pula berpendapat setuju pada nasihat dari Jendral B’Ajag,” tutur Adipati Wirasana B’Kala, salah satu Jendral yang masih nampak begitu muda di antara para Jendral yang lainnya.
__ADS_1
“Kita pun telah banyak kehilangan korban jiwa dari para pasukan demi memenangkan pertempuran merebut [Padang Fertil] ini lampau hari. Tujuan kita pula telah berhasil tercapai atas kemenangan ini. Maka saya rasa tidak akan masalah jika kita memperkukuh kekuatan pasukan kita yang kelelahan sebelum memutuskan untuk berperang kembali,” tambah Jendral Wirasana B’Kala yang nampak lelah sekaligus putus asa.
“Apa yang kau katakan, Jendral B’Kala?!” bentak salah seorang Jendral yang lainnya: sang Adipati B’Sona, setelah mendengar usulan dari Wirasana. “Jika kita tidak melanjutkan pertempuran dan menghabisi semua ancaman makhluk-makhluk dari dalam hutan itu, mereka mungkin saja akan kembali menyerang kita disaat pasukan kita lengah sedikit saja!”
“Benar seperti apa yang dikatakan Jendral B’Sona!” sahut Jendral terakhir yang ada di dalam konferensi ini: sang Adipati B’Camra, menyetujui apa yang diutarakan Jendral B’Sona sebelumnya.
“Tidakkah kau ingat bahwa peperangan ini di perintahkan langsung oleh Sang Patih demi mendapat tanah dan tempat tinggal baru untuk para rakyatmu yang telah terusir dari kampung halaman mereka?! Setidaknya bersyukurlah dirimu atas kebaikan Sang Patih dan para Adipati lainnya yang telah bersedia membantumu dan para pengungsi yang kau sebut rakyatmu itu!”
“Te-Tentu saja saya sangat menghaturkan berjuta-juta syukur dan suwun atas semua bantuan yang telah Sang Patih serta para Adipati berikan kepada saya dan seluruh rakyat saya,” balas Wirasana sembari menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Namun melihat jumlah korban dan kondisi pasukan kita sekarang, akan sangat menghawatirkan jika kita terus melanjutkan pertepuran.”
“Itu benar,” sahut Adipati B’Ajag mendukung usulan dari Wirasana. “Apalagi mereka kini telah bertahan di benteng itu. Akan sangat menyusahkan jika kita harus bertempur dalam formasi pengepungan jika kondisi pasukan kita saja tidak memungkinkan untuk bertahan dalam sekala pertempuran yang mungkin akan terjadi dalam kurun waktu yang relatif panjang."
“Para Prajurit Keadipatian saya banyak yang telah gugur akibat ˁInsiden Hiranyaksaˀ. Dan kini pasukan saya hanyalah terdiri dari para petani yang diwajibkan menjadi milisi dalam perang kali ini.” tutur Wirasana berekspresi kecut ketika mengingat insiden mengerikan yang telah menghancurkan seisi kotanya itu.
“Telah banyak pula yang meregang nyawa dari pasukan saya selama pertempuran sebelumnya. Dengan kondisi Devisi pasukan saya yang seperti ini, saya merasa bahwa kami tidak akan bisa melewati pertempuran selanjutnya.”
ˁInsiden Hiranyaksaˀ, insiden kemelut anarki dari serangan Danawa Hiranyaksa si Raksasa Bermata Emas yang terjadi di [Kota B’Gong] dan menyebar hingga [Kota B’Kala]: kota dimana keluarga Wirasana berkuasa. Insiden yang begitu mengerikan bagai kembalinya kengerian ˁZaman Malapetakaˀ.
«Lautan Pedhut» itu pun menyebar ke wilayah tetangga terdekat [Kota B’Gong], yaitu [Kota B’Kala] hingga menggemparkan seisi kota dan keadipatian.
Namun tidak seperti kota yang diserang sebelumnya, [Kota B’Kala] memiliki sedikit waktu untuk mengevakuasi penduduknya sebelum «Lautan Pedhut» itu menenggelamkan kota. Akan tetapi sang Adipati B’Kala yang berkuasa saat itu beserta banyak dari para Prajurit Keadipatiannya harus rela berkalang tanah dan binasa demi menyelamatkan para rakyatnya.
Dan kini para penduduk dari [Kota B’Kala] harus terpaksa pergi ke [Ibu Kota Kerajaan Bentala] sebagai para pengungsi demi mengharapkan kelangsungan hidup dan keamanan disana.
Wirasana B’Kala, putra dari Adipati B’Kala yang berkuasa sebelumnya pun diangkat menggantikan ayahnya untuk memimpin para pengungsi dari kampung halamannya yang kini ada di [Ibu Kota Kerajaan Bekala].
Namun akibat datangnya puluhan ribu pengungsi ke ibu kota secara tiba-tiba, lahan tempat tinggal, persediaan makanan, hingga lapangan pekerjaan pun tidak akan dapat cukup untuk menghidupi semua pengungsi yang ada di sana.
Untuk mengatasi masalah ini yang berkemungkinan terjadinya diskriminasi atas para pengungsi, maka Sang Patih pun memutuskan untuk melaksanakan misi ekspansi militer kerajaan untuk menduduki dan menguasai wilayah tanah subur di daerah [Padang Fertil] bagian barat dari kawasan [Semenanjung Tanah Pertama], wilayah semenanjung luas yang berada tepat di sebelah timur [Kerajaan Bupala].
Namun seperti yang telah diketahui bahwa kawasan [Semenanjung Tanah Pertama] merupakan tanah yang ada di bawah perlindungan Sang Maha Sepuh Pramana si makhluk pertama yang dimana tanah itu telah ia pelihara selama ribuan tahun semenjak berakhirnya ˁZaman Malapetakaˀ.
Dan pasti akan menjadi perkara yang pelik jika Kerajaan Manusia hendak menguasai sebagian tanah subur yang dilindungi oleh Sang Penguasa Hutan ini.
__ADS_1
Untuk mengatasi semua hal itu Sang Patih memutuskan untuk memerintahkan para pengungsi dari [Kota B’Kala] yang selama ini telah menjadi tunakarya sekaligus tunawisma untuk menjadi milisi dan mengirim mereka bersama Adipati barunya menuju [Padang Fertil] bagian barat sebagai dalih untuk menduduki tanah yang akan mereka jadikan tempat tinggal yang baru.
Disisi lain, dengan dalih pemberian tanah dan wilayah pemukiman yang baru untuk mereka, para milisi ini sebenarnya juga dikirim untuk alasan agar para petinggi feserasi dapat mengetahui sebesar apa kekuatan yang mempertahankan wilayah subur dari [Padang Fertil] ini sebelum mengirim pasukan ekspansi militer mereka yang sebenarnya.
Dan setelah mengetahui sebesar apa kekuatan yang akan mereka lawan, Sang Patih pun menggelorakan perang atas tanah subur itu dengan mengumpulkan 50.000 pasukan dari {Federasi Keadipatian Bupala} untuk menduduki dan menguasai tanah subur di [Padang Fertil] bagian barat itu dengan dalin menyusul dan membantu pasukan milisi para pengungsi dari [Kota B’Kala] yang mereka kirim sebelumnya.
Lantas Sang Patih pun menunjuk kelima Adipati (karena yang keenam: Adipati B’Gong telah wafat dan tidak ada penggantinya) sebagai Jendral-jendral Devisi dengan Adipati Begih B’Gawon sebagai Panglima dan pemimpin tertinggi atas ke-50.000 pasukan.
Dan begitulah peperangan di [Padang Fertil] bagian barat itu pun terjadi. Hingga akhirnya pasukan dari {Federasi Keadipatian Bupala} berhasil menguasai wilayah ini.
Namun makhluk-makhluk dari kedalaman hutan itu belumlah kalah. Bisa dan mungkin saja sewaktu-waktu mereka menyerang untuk merebut kembali tanah yang telah mereka lindungi selama ribuan tahun ini.
Untuk memutuskan masalah ini, Sang Panglima dan para Jendralnya pun mengadakan konferensi untuk memutuskan strategi apa yang akan mereka lakukan untuk mengatasi para makhluk dari kedalaman hutan ini.
Dan Sang Panglima pun memutuskan untuk kembali melakukan pertempuran dengan menyerang dan mengepung benteng tempat para penghuni hutan itu mundur dan bersembunyi.
Namun pertentangan pun terjadi karena anggapan dari sebagian Jendral untuk mengistirahatkan pasukan mereka.
Terutama Wirasana yang merasa tidak akan mampu jika pasukannya (yang hanya merupakan para milisi ditambah lagi mereka telah bertempur paling lama dibandingkan dengan pasukan-pasukan lainnya) dipaksa untuk kembali bertempur dalam waktu dekat tanpa adanya istirahat. Apalagi dalam formasi pengepungan yang berkemungkinan akan menjadi sekala pertempuran dalam kurun waktu yang relatif panjang.
“Kalian tidak perlu menghawatirkan masalah itu semua,” gumam Panglima B’Gawon memecah ketegangan diantara perdebatan para Jendral-jendralnya.
“Seperti yang kita ketahui bersama, ekspasi militer kerajaan kali ini juga mendapat dukungan dan sokongan dari {Panca Dariji}, organisasi besar di bawah kerajaan adidaya: Ketsaran dari selatan.
Kita berhasil mendapatkan bantuan pendanaan untuk persenjataan dan perbekalan dari Sang Dariji Acung. Bahkan kita juga mendapatkan bantuan militer dari Sang Dariji Madya dengan dikirimkannya Sang Bhani yang pemberani ini!”
Sang Panglima B’Gawon mengutarakannya bersama senyum seringai yang lapang sembari merentangkan tangannya ke arah seorang pemuda (atau bisa dibilang remaja) berambut merah membara yang ada di belakangnya.
Remaja itu yang sedari tadi hanya terdiam, merasa terusik tatkala semua pandangan mata secara tiba-tiba tertuju padanya setelah Sang Panglima menyebutkan namanya.
“Aku tidak peduli dengan apapun yang akan kalian putuskan. Aku hanya akan maju ke medan pertempuran dan membakar hidup-hidup pohon tua bertanduk besar itu beserta semua kroco-kroconya!” celoteh remaja itu sembari mengungkapkan kegeramannya sesaat mengingat pertempuran yang ia alami sebelumnya.
“Maka dengan begini berarti sudah diputuskan!” seru Sang Panglima B’Gawon dengan nada gembira. “Kita akan mengepung dan menyerang benteng persembunyian lawan, hingga memusnahkan mereka agar tiada lagi ancaman yang dapat mengganggu rencana besar─ maksudku misi kita yang mulia!”
__ADS_1