Sandya Aksata

Sandya Aksata
Bab 1: Dunia yang Baru


__ADS_3

...Bagian 1...


...~ ◊ ~


...


“Jadi begitulah alasan bagaimana engkau bisa berada di dunia ini, Anak muda.”


Suara yang terdengar begitu dalam lagi bijaksana dari sesosok makhluk besar yang menampakkan keagungan dirinya. Ia berdiri tegap diantara pepohonan hutan yang rindang nan menjulang, dihadapan diriku yang tengah memasang raut wajah yang aku sendiri pun tak dapat mengartikan. Aku hanya mampu terdiam, berusaha mencerna kisah yang baru saja aku dengarkan.


Satu kisah besar tentang terbentuknya sebuah dunia yang sama sekali tak aku kenal sebelumnya. Yang mana membuat diriku berpindah dari [Dunia Asal] menuju dunia yang saat ini aku pijak tanahnya, dunia dengan suasana yang begitu berbeda.


Hutan-hutan rindang dengan pepohonan tinggi menjulang. Udara bersih yang begitu menyegarkan. Sungai-sungai jernih mengalir membawa suara bergemericikan. Benar-benar berbeda dari dunia sebelumnya yang kini telah kutinggalkan.


Sebelumnya, di dunia tempat aku berasal, dunia dimana tiap jengkalnya selalu terasa memekakkan, penuh dengan hingar-bingar nan membisingkan, segenap alam yang telah tercemar, laksana dunia yang benar-benar pantas untuk dihancurkan.


Barangkali aku hanya melebih-lebihkan. Mungkin ini hanyalah sebuah keluhan. Teriak batin yang menginginkan perubahan. Mengubah dunia busuk yang penuh dengan kebobrokan. Dimana hukum kebahagiaan hanya pantas untuk orang yang punya kekuasaan.


Anggaplah ini hanya sebuah warta curhatan semata. Tak mungkin makhluk kecil sepertiku akan dapat mengubah dunia. Sebaliknya, hanya satu yang kubisa, yaitu mengikuti segala arus dan tuntutan dari tercelanya semesta. Setidaknya telah cukup apa yang kupelajari dari kehidupan yang kurasa begitu hina.


Hingga suatu ketika, jiwa raga ini yang hampa berhasil mangkat dari dunia yang sama sekali tak kusuka. Namun tanpa disangka-sangka, entah bagaimana diriku malah pergi ke dunia lain yang begitu berbeda.


Aku tiba disebuah hutan belantara, dengan pepohonan tinggi menjulang ke angkasa. Fajar menyingsing melewati celah dedaunan nan mega, menampakkan untaian cahaya yang menghangatkan seisi rimba.


Ketenangan yang kurasa seketika sirna tatkala kulihat sepasang mata terbuka dari satu pohon kering yang nampak sudah tua. Diikuti suara deratan kayu yang bergerak memecah hampa.

__ADS_1


“Akhirnya penantian lamaku tidaklah sia-sia. Sang pemuda dari dunia tak dikenal telah tiba ... Wahai {Tiga Hyang Utama}, permulaan dari wasiat kalian bertiga telah dimulai sepenuhnya.”


Suara bergetar terdengar memecah kesunyian hutan. Sosok besar berdiri tegap di hadapan, buatku terkejut bukan kepalang. Pohon besar yang tadinya hanya terdiam, kini berdiri dengan tenang bersama kilatan dari sepasang matanya yang terpancarkan.


Aku hanya bisa diam mematung, seakan jiwaku sudah ada diujung. Karena menatap makhluk dihadapanku yang nampak begitu agung.


“Tenanglah, wahai pemuda. Aku hanya sekedar ingin menyambut dan menyapa,” ujar makhluk itu dengan suaranya tenang nan membahana.


“Ma-Makhluk apa kau?” tanyaku dengan nada penuh keterkejutan.


“Itukah yang akan kau tanyakan pertama kali? Tidakkah kau ingin mengetahui bagaimana kau bisa ada di sini?” jawab makhluk itu dengan kembali melempar pertanyaan.


Benar juga. Sedari awal, semuanya memang bukanlah sebuah kewajaran.


Aku sudah mati. Setidaknya itulah yang aku ingat di duniaku sebelumnya. Tapi, bagaimana bisa aku tiba-tiba ada di sini? Dimana ini? Atau lebih tepatnya, dunia apa ini? Inikah dunia setelah kematian?


“Mungkin lebih baik aku ceritakan terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi kepadamu─ Ah, tidak ... Akan lebih baik jika kuceritakan saja ‘awal mula dari segalanya’ agar kau mengerti arti dari kedatanganmu ke dunia ini,” tutur makhluk itu sembari perlahan terduduk dihadapanku yang masih terdiam dalam kebingungan. Entah apa yang akan ia ceritakan, tapi setidaknya makhluk itu tidak menunjukkan suatu ancaman.


Dan begitulah si makhluk dihadapanku menceritakan sebuah kisah besar tentang dunia yang kini tengah kupijaki. Sang bumi pertiwi, tanah yang abadi. Yang lahir dari ˁZaman Introduksiˀ, awal dari semua yang ada di dunia ini.


Setelah mendengar kisah besar itu, aku hanya bisa terdiam, mencoba mencerna semuanya. Mulai dari munculnya para Entitas Agung yang bertugas memutar siklus kehidupan, terciptanya {Tiga Alam Dunia}, lahirnya para makhluk fana, dan dimulainya ˁZaman Kemakmuranˀ, hingga secara tiba-tiba terjadi ˁPeristiwa Malapetakaˀ yang memaksa {Tiga Hyang Utama} mengorbankan «Atma» mereka untuk menekan segala bencana dan memanggil seorang pemuda dari dunia tak dikenal untuk menggantikan posisi mereka setelah tiada.


“Tunggu dulu! Bagaimana aku bisa dengan mudahnya memahami itu semua? Seakan aku benar-benar pernah menyaksikan sendiri semua peristiwanya,” gumamku yang merasa tidak asing dengan kisah yang baru saja kudengar.


“Itu karena kau terlahir ke dunia ini atas «Atma» dari {Tiga Hyang Utama}. Tidak mengherankan jika kau memiliki secercah ingatan dari ketiganya. Hmm ... Mungkin saja kau juga akan mewarisi kekuatan dan kuasa alam seperti mereka,” ujar makhluk di depanku dengan tenangnya.

__ADS_1


“Jadi, kaukah si Pramana yang akan membimbingku untuk menggapai apa yang dijanjikan atas kedatanganku di dunia ini?”


Aku bertanya pada makhluk ‘aneh’ di depanku. Jika benar ia adalah Pramana yang ada dalam cerita, maka itu bisa menjelaskan bagaimana pohon yang tadinya terdiam dihadapanku tiba-tiba dapat bergerak dan berbicara. Karena sejatinya, Pramana adalah makhluk yang lahir dari tunas pohon yang diberi akal dan kesadaran oleh Sang Bentala.


“Benar. Aku adalah Pramana sang putra Bentala. Selama seribu tahun aku terdiam disini menunggu kedatangan sang pemuda yang diwasiatkan. Akulah yang diberikan tugas oleh {Tiga Hyang Utama} yang akan membimbing dan menuntun dirimu untuk menjadi pemimpin dan penopang dari segenap «Ihwal Dunia», serta memusnahkan Hyang Gila yang tersisa beserta Si Biang Malapetaka dibaliknya.”


Dunia lain. Dunia yang sama sekali tak pernah kubayangkan sebelumnya. Dan aku secara tiba-tiba terpanggil ke dunia ini untuk menjadi seorang Pemimpin yang Dijanjikan. Entah ini mimpi ataupun hanya angan-angan, untuk pergi dan menghilang dari dunia asalku yang memuakkan.


“Ada apa, wahai pemuda? Mengapa kau menunjukkan wajah pahit seperti itu? Apakah kau ingin menolak tugas yang akan kau emban di dunia ini?” tanya Pramana yang mungkin menyadari raut kecutku kala mengingat dunia busuk itu. “Tapi bagaimanapun kau menolaknya, kau tetap tidak akan bisa kembali ke dunia asalmu.”


“Ah, tidak. Sebaliknya, aku malah bersyukur bisa datang ke dunia ini. Dan masalah menjadi Sang Pemimpin yang Dijanjikan, kurasa itu tidak buruk juga.”


Benar, dunia ini nampak jauh lebih baik daripada dunia asalku. Meskipun aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti, namun setidaknya di dunia ini aku memiliki kuasa untuk mengubah segalanya sesuai dengan apa yang aku damba. Begitulah setidaknya dengan tugas yang akan kuemban nantinya.


“Bagus, Anak muda!” ucap Pramana. “Sebelum itu, sebutkanlah siapa namamu!”


“Akbar! Namaku adalah Akbar, seorang pria yang mendambakan perubahan dunia!” jawabku dengan lantang, menyambut takdir yang akan sang dunia berikan dengan penuh keteguhan dan keyakinan.


Mendengar itu, Pramana terbangun dari duduknya, berdiri tegap dengan menampakkan kebijaksanaannya.


“Wahai Akbar, sang Pemuda yang Diwasiatkan! Terimalah hormat dan kesetiaan dari kami yang mendambakan kembalinya kemakmuran dan kebahagiaan!”


Tegas Pramana diikutii suara deratan-deratan dari pepohonan hutan yang bergerak perlahan, menampakkan makhluk-makhluk serupa dengannya yang berdiri dengan bijaksana.


Mereka semua perlahan berlutut, lantas serentak menyuarakan:

__ADS_1


“Izinkan kami, {Bangsa Shajara} para anak Bentala, menggaungkan hormat dan kesetiaan atas engkau, wahai Sang Pemimpin yang Dijanjikan!”


__ADS_2