Sandya Aksata

Sandya Aksata
Bab 2: Mengukuhkan Kedudukan


__ADS_3

...----------{ BAB 2 }----------...


...Mengukuhkan Kedudukan...


...Bagian 1:...


...~ ◊ ~...


Di antara pepohonan besar serta tinggi menjulang, di atas rerumputan nan menari-nari diterpa sejuknya angin yang berlalu-lalang. Tanah subur dengan rona kehijauan yang nampak begitu menyegarkan, perlahan ternoda oleh pekatnya rona merah yang menggenang. Titik-titik embun yang bening cemerlang, terganti oleh bercak-bercak darah yang berceceran.


Ramai terdengar langkah kaki yang dengan resahnya berlarian membawa rasa kecemasan, meninggalkan jejak-jejak penuh sesak yang saling bertindihan. Teriakan bersahut-sahutan membawa kegaduhan di seluruh hutan, bersama jeritan pedih yang membawa hawa kengerian.


Remang cahaya kemerahan yang berkobar perlahan mulai memakan sebagian besar kayu-kayu kering dari pepohonan dan pemukiman, memusnahkan hamparan hijau rerumputan, akhirnya terganti dengan tanah kering yang terbakar. Asap hitam membumbung tinggi nan nampak begitu memekakkan, membawa serta aroma-aroma bulu dan daging yang terpanggang.


Suara denting dan sabetan logam yang tadinya terdengar begitu mengancam, dibarengi jerit, pekik, dan teriakan, kini perlahan mulai tergantikan oleh hening dan kesunyian.


Saat ini hanya ada deburan dari sepasang langkah kaki yang terdengar, bersama suara nafas yang begitu tersengal-sengal dari mulut seseorang. Ia berusaha menggunakan kekuatan dari seluruh otot-otot di tubuhnya untuk berlari sekuat tenaga, demi menjauhi semua kengerian dan kekejaman di belakangnya.


Bulu-bulu kecoklatan yang menyelimuti seluruh tubuhnya kini sebagian nampak telah hangus terbakar, meninggalkan lukisan menyakitkan di kulitnya yang melepuh kemerahan. Rebasan merah perlahan keluar dari dagingnya yang mengalami pendarahan, meninggalkan jejak bercak di sepanjang jalan yang dilaluinya dengan noda merah yang berceceran.


Ia berlari sekuat yang ia bisa, meninggalkan semua kemarahan yang membakar hatinya. Karena kini ia telah kehilangan tempat tinggal dan tanah kelahirannya. Aroma sedap dari daging panggang teman-teman dan orang tuanya sama sekali tak memicu rasa laparnya ataupun membuat ia melupakan tujuannya; yaitu untuk terus hidup dan memenuhi harapan dari semua orang yang telah berkorban demi dirinya.


Langkah kakinya yang mulai sempoyongan, harus dipaksa kembali berlari kencang walau ia telah dipenuhi rasa kelelahan. Karena kini suara gesekan logam dari persendian baju besi yang dikenakan oleh orang-orang yang mengejarnya telah terdengar begitu dekat dan membisingkan.


“Setidaknya aku sudah berusaha, walau pengorbanan dari semuanya hanya akan sia-sia. Namun jika ini adalah akhirnya─”


...~ ◊ ~...


Keras, kasar, dan sedikit berguncang.


Itulah yang aku (Akbar) rasakan saat terduduk diam di atas kepala Pramana yang tengah berjalan menuruni tanah dan bebatuan gunung dengan kaki-kaki berakarnya. Aku berusaha keras untuk mencengkram batang-batang ‘mahkota’ kayu di atas kepala Pramana untuk tetap mempertahankan posisi tubuhku agar tidak terjatuh akibat guncangan yang memusingkan ini.


Tujuan kami adalah menuruni puncak [Gunung Prima] (tempat ‘sesi belajar’ku sebelumnya) untuk kembali ke hutan tempatku pertama terpanggil ke dunia ini. Hutan itu disebut dengan [Hutan Sulung], hamparan hutan hijau yang luas dengan tanah subur dan pepohonan yang tinggi nan besar yang mengitari kaki gunung.


Selain [Hutan Sulung] dan [Gunung Prima], tanah ini juga termasuk [Padang Fertil], padang rumput hijau yang mengelilingi batas luar hutan. Dan seluruh tanah subur yang luas ini disebut dengan Kawasan [Semenanjung Tanah Pertama], dataran semenanjung luas yang ada di ujung paling timur benua. Kawasan ini disebut demikian karena di tanah inilah, Pramana si makhluk fana pertama dilahirkan dalam bentuk tunas.


Dan karena itulah, saat ini [Hutan Sulung] menjadi tempat tinggal bagi sebagian besar {Bangsa Shajara} sejak berakhirnya ˁZaman Malapetakaˀ. Dengan kata lain, mereka memutuskan untuk tinggal di sini karena anggapan bahwa bagi mereka tanah ini merupakan tanah yang bersejarah dan diberkati oleh «Derma» dari «Ihwal Alam».


Selain itu, dengan banyaknya para Shajara yang ada di sini membuat tanah di wilayah ini menjadi tanah yang paling subur di seluruh benua.


Setelah beberapa lama kami (tepatnya Pramana) berjalan menuruni gunung yang tinggi ini, akhirnya kami sampai di dalam [Hutan Sulung]. Di sini kami disambut oleh beberapa ‘pepohonan’ yang bergerak berdiri memberi hormat kepada kami.


Ya. Mereka bukan hanya memberi hormat kepadaku (yang telah mereka beri «Sumpah Hormat dan Setia»), melainkan juga kepada Pramana yang merupakan makhluk yang paling bijaksana dan dituakan disini, yang mereka panggil ‘Sang Maha Sepuh’.


Setelah menerima salam dan hormat dari mereka, Pramana dengan lembut menurunkanku dari kepalanya, lantas ‘meletakkanku’ di atas sebongkah batu besar. Tentu saja dengan aba-aba “Permisi...” sebelumnya.


“Apakah kalian sudah melaksanakan tugas yang aku sampaikan?”


Pramana memulai pembicaraan. Itu adalah permintaan laporan untuk hasil dari tugas yang diberikan oleh Pramana kepada rekan-rekan (atau bisa disebut ‘adik-adiknya’) sebelum kami pergi ke puncak gunung sebelumnya.


Tugas itu adalah untuk menyampaikan kepada seantero penjuru hutan dan seluruh penghuni di dalamnya bahwa: “Akbar, Sang Pemimpin yang Dijanjikan telah memenuhi panggilan dari {Tiga Hyang Utama} untuk memenuhi tugasnya, sebagaimana yang telah diwasiatkan.”


Jujur saja ini sedikit memalukan. Ini seperti namaku disebarkan ke seluruh penjuru negeri sebagai seorang anak yang telah lama hilang, dan kini telah berhasil ditemukan.


“Kami telah melakukannya,” jawab Pratama, salah seorang adik Pramana yang nampak paling besar dan tua di antara para Shajara yang lainnya. “Kami telah menyampaikan pesan itu ke seluruh penjuru hutan dan telah mendapatkan konfirmasi.”


Hutan ini sangatlah luas. Mungkin sekitar 1/10 dari total luas seluruh daratan di benua ini. Namun bagaimana cara para Shajara itu bisa menyampaikan pesan itu ke seluruh penjuru hutan hanya dalam beberapa waktu saja?


Jawabanya adalah dengan kemampuan mereka sebagai {Bangsa Shajara}. Pramana sebelumnya menjelaskan bahwa bangsa mereka memiliki kemampuan untuk mengubah «Derma» dan «Hara» yang ada di dalam tubuh berkambium mereka untuk diolah menjadi «Atma» yang berisi informasi dari pesan yang ingin disampaikan.


«Atma» berisi pesan itu akan disalurkan dan disebarkan ke seluruh tanah di hutan. «Atma» itulah yang akhirnya diserap oleh Shajara lain. Dan dengan menyerap «Atma» itu, seorang Shajara akan mendapatkan informasi yang ingin disampaikan oleh Shajara yang lain walau berada di tempat yang berjauhan.


Kemampuan pengiriman pesan ini seperti sistem jaringan radio bawah tanah. Itu cukup praktis dan berguna. Namun itu hanya dapat dilakukan untuk menyebarkan informasi secara luas dalam radius tertentu dan dapat diterima oleh semua makhluk atau entitas yang memiliki kemampuan menyerap «Atma» dari tanah. Kemampuan ini tidaklah cocok untuk mengirim informasi rahasia.


Pramana pernah hampir kehilangan semua «Derma» dan «Hara»nya yang tersisa dalam tubuhnya demi memulihkan kesuburan tanah di [Alam Bentala] ini. Karena itulah saat ini ia tak memiliki cukup «Atma» yang tersisa untuk melakukan berbagai kemampuannya sebagai seorang Shajara. Oleh karena itu, kini ia hanya bisa memerintahkan para adiknya untuk melakukan berbagai pekerjaan yang berhubungan dengan penggunaan «Atma».


Walaupun kini ia tak lagi memiliki cukup «Atma» untuk melakukan berbagai kemampuannya sebagai seorang Shajara, namun setidaknya pohon tua ini masih berguna selama memiliki semua pengetahuan dan kebijaksanaan yang tidak aku miliki.


“Semua Shajara dari [Daerah Hutan Utara], [Daerah Hutan Timur], dan [Daerah Hutan Selatan] telah mengkonfirmasi bahwa mereka beserta penduduk yang lain bersedia datang menghadap untuk menyampaikan «Sumpah Hormat dan Setia» kepada Tuan Akbar,” lanjut Pratama menyampaikan laporannya.


Agak aneh rasanya dipanggil ‘Tuan’ oleh seorang makhluk yang telah hidup ribuan tahun lebih lama. Tapi setidaknya itu hal baik untuk menunjukkan rasa hormat mereka kepada diriku. Bagaimanapun juga itu adalah sumpah hormat yang telah mereka utarakan kepadaku.


Dan itu juga berhubungan dengan tugas yang mereka terima dari Pramana. Selain hanya menyampaikan pesan tentang kedatangan diriku, mereka juga memiliki tugas untuk mendapatkan konfirmasi tentang tanggapan para penduduk hutan ini apakah mereka menerima atau menolak kedatangan dari Sang Pemimpin yang Dijanjikan.


“Kapan mereka akan tiba?” tanya Pramana menanggapi laporan dari Pratama.


“Paling lambat tujuh hari dari hari ini.”


Menurut Pramana, tidak banyak penduduk yang tinggal di hutan ini. Sebagian besar dari mereka adalah para Shajara. Mungkin ada beberapa ribu dari mereka di hutan ini. Selain itu juga ada beberapa desa Manusia dan suku Hayawan dengan populasi tak lebih dari 500 orang di tiap desa ataupun sukunya.


Dari semua penduduk itu, di dalam hutan ini dibagi dalam 5 daerah; yaitu [Daerah Hutan Utara], [Daerah Hutan Timur], [Daerah Hutan Selatan], [Daerah Hutan Barat], serta area [Gunung Prima] yang menjadi [Daerah Gunung Pusat]. Dari tiap-tiap daerah dipimpin oleh seorang Tetua Shajara yang bertugas untuk mengelola «Ihwal Alam» di daerah mereka masing-masing.


Hal itu dilakukan karena saat ini para Hyang tidak lagi mau untuk mencampuri urusan para makhluk fana. Karena itulah mereka harus mampu mengelola «Ihwal Alam» di tiap daerah mereka masing-masing agar siklus hidup di tanah ini tetap berjalan sebagaimana mestinya.


Penyampaian «Sumpah Hormat dan Setia» akan dilakukan di puncak [Gunung Prima]. Menurut laporan Pratama, butuh waktu satu pekan untuk para penduduk dari tiap daerah menempuh perjalanan kemari.


Itu wajar saja. Mungkin karena jumlah mereka yang banyak atau juga karena salah satu kelemahan dari {Bangsa Shajara} adalah mereka memiliki kecepatan tubuh yang sangat lambat. Benar-benar seperti pohon. Tubuh mereka kaku dan juga selalu bergemeretak saat mereka bergerak.


Namun kekuatan dan pertahanan mereka sangatlah unggul. Kulit mereka sangat kaku dan keras. Mereka juga tidak berdarah ataupun merasa sakit saat terluka. Benar-benar keuntungan dan kelebihan besar bagi makhluk yang memiliki dinding sel.


“Tujuh hari, ya... Baiklah. Persiapkan semua hal untuk kedatangan mereka semua dalam waktu kurang dari sepekan ini!” tegas Pramana setelah mendapat jawaban dari Pratama dan kembali disahut dengan: “Siap! Laksanakan!”


“Lalu bagaimana dengan [Daerah Hutan Barat]?” tanya Pramana dengan nada mengintimidasi.

__ADS_1


Jika mereka menolak kedatangan dari Sang Pemimpin yang Dijanjikan ataupun tidak merespon pesan yang telah disampaikan, mereka akan dianggap berhianat dan semua daerah lain yang telah menerima dan telah bersumpah akan mendatangi mereka untuk meminta pertanggungjawaban.


Itu hal yang wajar jika Pramana mengeluarkan aura permusuhannya. Jikapun mereka menolak, setidaknya mereka harus menyampaikan alasan penolakan mereka. Karena dengan menolak sesuatu yang telah dijanjikan ataupun tidak memberi tanggapan dan alasan adalah sesuatu hal yang sangat memalukan bagi {Bangsa Shajara} yang telah diberikan berkah kebijaksanaan.


“Kami tidak tahu.” Itulah jawaban dari Pratama dengan auranya yang nampak muram. “Kami telah berusaha menyampaikan pesan ke arah [Daerah Hutan Barat] beberapa kali. Namun sama sekali tidak ada respon ataupun jawaban.”


Para adik-adik Pramana terdiam. Namun Pramana bergumam memecah ketegangan.


“Pradana adalah yang bertugas mengelola «Ihwal Alam» di daerah itu. Kurasa tidak mungkin dia akan menolak ataupun mengabaikan pesan dan tidak memberikan tanggapan.”


“Kecuali terjadi sesuatu di daerah itu yang membuat dia atau Shajara lain yang ada di sana tidak bisa menerima ataupun memberikan tanggapan mereka,” sahutku pada gumaman Pramana.


“Diriku juga berpikir demikian,” kata Pramana menanggapi. “Di [Daerah Hutan Barat] terdapat beberapa kesukuan Hayawan yang berdiri di tepi perbatasan. Namun, padang rumput di sana tidak terlalu luas jika digunakan sebagai pertahanan. Dan juga [Daerah Hutan Barat] adalah satu-satunya daerah yang berbatasan langsung dengan wilayah regional negara lain.”


“Mungkin itu ada kaitannya dengan ketegangan yang memanas selama beberapa bulan terakhir antara penduduk dari kesukuan Hayawan di perbatasan dengan salah satu kota dari {Federasi Keadipatian Bupala},” kata Pratama menambahi.


Tepat seperti yang Pratama katakan. Dari informasi yang aku dapatkan dari ‘sesi belajar’ku sebelumnya, Pramana menjelaskan bahawa sisi barat kawasan ini berbatasan langsung dengan wilayah [Kerajaan Bupala].


Penguasa kerajaan itu adalah salah satu dari tujuh Manusia pilihan yang mewarisi «Derma Perlindungan» dari {Hyang Tujuh Warna} bersaudara, yaitu Hyang Alburt sang Jingga.


Dengan kata lain, Raja dari [Kerajaan Bupala] adalah salah satu dari {Tujuh Raja Angkara}, para Raja Manusia yang telah menjadi nista. Dan Raja Bupala adalah Raja yang memiliki sifat Kemalasan.


Namun karena sifat malasnya itulah yang membuat para Raja Bupala menjadi abai terhadap tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin dan penguasa atas jutaan nyawa Manusia.


Oleh karena itu [Kerajaan Bupala] sempat menjadi negara yang dipenuhi dengan kekacauan akibat rendahnya otoritas dari keluarga kerajaan. Dan semua kekacauan itu berujung pada terjadinya pemberontakan dan kudeta besar-besaran yang membunuh semua keluarga kerajaan, selain satu orang yang mewarisi «Derma» dari «Atma Warna Jingga».


Setelah pemberontakan, 6 kota besar di [Kerajaan Bupala] (kecuali ibu kota kerajaan) memutuskan untuk membentuk daerah otonomi sempurna, dengan seorang Adipati sebagai penguasanya. Dan dari keenam kota itu membentuk koalisi bernama {Federasi Keadipatian Bupala}.


Untuk menggantikan posisi Raja yang pemalas dalam urusan kenegaraan, dibuatlah sistem pemerintahan Monarki Parlementer dengan memilih seseorang yang diajukan oleh setiap Adipati untuk ditunjuk sebagai Patih yang bertugas sebagai kepala pemerintahan atas Kerajaan dan Federasi.


Sebaliknya, kini Raja hanyalah sebagai simbol kuasa kerajaan. Karena bagaimanapun juga hanya Rajalah yang mewarisi «Derma Perlindungan» dari «Atma Warna Jingga», kekuatan penopang sekaligus pelindung kerajaan mereka.


Menjaga berkah «Derma Perlindungan» dari para Raja adalah suatu hal yang sangat penting bagi {Bangsa Manusia}. Karena jika «Derma» yang menjadi perlindungan atas mereka musnah, maka dapat dipastikan kerajaan mereka akan runtuh saat itu juga.


Namun permasalahan kini ada pada hilangnya kontak dari para penduduk [Daerah Hutan Barat] yang tidak memberi respon atas pesan yang disampaikan oleh Pratama dan rekan-rekannya.


Dari percakapan ini menunjukkan bahwa suku Hayawan di perbatasan tengah mengalami konflik dengan salah satu kota dari {Federasi Keadipatian Bupala}. Mungkin konflik ini menjadi lebih parah hingga mengakibatkan terputusnya kontak dengan daerah tersebut.


“Apa yang harus kita lakukan?” tanya seorang adik Pramana memecah keheningan.


“Itu benar. Kita tidak dapat hanya berdiam saja.”


“Apakah ada serangan dari kota-kota manusia?”


“Mungkinkah mereka berhianat?”


“Tetua Pradana yang memimpin disana. Tidaklah mungkin akan ada penghianatan dibawah pengawasannya.”


Para adik-adik Pramana mulai bicara saling bersahutan. Mungkin muncul kecemasan diantara mereka. Dari reaksi mereka, sepertinya masalah, konflik, bahkan perang akan sangat mudah terpicu di dunia. Mungkin apa yang tersisa dari ˁZaman Malapetakaˀ masih sangat menghantui mereka.


“Tenanglah, kalian semua! Keresahan berlebihan adalah hal memalukan bagi makhluk seperti kita yang diberkahi kebijaksanaan!” tegas Pramana menenangkan mereka seketika. “Kita ada di hadapan Sang Pemimpin yang Dijanjikan. Tak sepantasnya kalian menunjukkan sikap yang menyedihkan. Jadi tak ada lagi yang perlu dicemaskan, karena Sang Juru Selamat kita ada dihadapan.”


“Itu benar sekali! Kita tidak perlu cemas akan hal-hal kecil seperti ini!” kata Pratama menambahi dengan sinar di matanya yang memancarkan binar harapan. “Tuan Akbar, sang pemimpin pilihan, orang yang ditakdirkan untuk menopang seluruh dunia, pasti akan dengan mudah mengatasi semua masalah yang akan terjadi, bahkan dalam kemungkinan terburuk sekalipun!”


Eh? Aku? Bukankah kalian sendiri bisa mengatasi permasalahan ini? Bukankah kalian makhluk yang bijaksana? Jadi gunakan saja berkah kalian itu untuk mengatasi masalah ini!


Yah... Tentu saja tidak mungkin aku mengatakannya.


Namun jujur saja, aku juga tak tahu harus berbuat apa.


Aku sama sekali tak mengerti apa yang harus dilakukan. Aku sama sekali tak mengenal penduduk di [Daerah Hutan Barat] atau siapapun dari {Federasi Keadipatian Bupala} itu. Dan yang terpenting, aku sama sekali tak mengerti permasalahan apa yang terjadi diantara keduanya.


Kalaupun aku mengetahuinya, tidak ada jaminan jika aku juga bisa mengatasi masalahnya. Dan lagi, masih belum ada bukti permasalahan apa yang terjadi di [Daerah Hutan Barat] sana.


Di dunia asalku, aku hanyalah seorang yang hanya mampu dengan terpaksa menerima dan menuruti semua perintah. Aku hanya bisa menggerutu dan menginginkan kekuasaan untuk mengubah keadaan dan berbalik menjadi seorang yang berkuasa dan memimpin.


Namun sepertinya, kenyataan saat menjadi seorang pemimpin dan mengatasi semua masalah untuk memenuhi ekspektasi semua orang adalah suatu hal yang berat. Apalagi jika dipandang dengan binar-binar harapan dari mata para ‘pepohonan’ tua dihadapanku.


Dan juga, bagaimana kalian bisa dengan mudahnya memercayaiku? Aku hanyalah seorang remaja yang tak punya apa-apa. Tidakkah kalian sedikit saja curiga kepadaku?


Apakah ini bukti kegembiraan dan harapan besar mereka setelah penantian ribuan tahun mereka terbayarkan?


Ah... Itu dia. Aku hanya perlu menjawab dan memenuhi harapan dan ekspektasi mereka.


Walaupun aku gagal, setidaknya itu akan memberi tahu mereka bahwa aku tidaklah sehebat yang mereka harapkan. Dan dengan begitu, aku akan mendapatkan lebih banyak pengetahuan dan ‘sesi belajar’ lagi untuk dipersiapkan menjadi pemimpin ideal bagi mereka dimasa depan.


Karena bagaimanapun, pengetahuan dan informasi adalah suatu hal yang sangat berharga. Dan aku mulai merasa tertarik dengan semua kisah, sejarah, dan kehidupan di dunia ini yang bergerak menurut siklus kehidupan dan «Ihwal Alam».


Itu semua sangat berbeda dari dunia asalku. Dimana keserakahan manusia bahkan dapat melawan dan menghancurkan siklus kehidupan itu sendiri. Benar-benar makhluk yang menjijikkan.


“Ehem...!” Aku berdehem terlalu keras hingga para Shajara yang menatap diriku dengan binar harapan kembali bersikap tenang dan menampakkan kewibawaan.


“Mengesampingkan adanya pembelotan yang memiliki kemungkinan paling kecil, kita harus mulai memperhitungkan kondisi terburuk; yaitu serangan dari kota Manusia.”


Kataku melanjutkan. Para Shajara dihadapanku pun nampak dengan tenang mendengarkan dengan seksama apa yang aku utarakan. Namun sedikit muncul aura permusuhan dari mereka setelah aku menyinggung masalah penyerangan.


“Dari yang aku ketahui, Kawasan [Semenanjung Tanah Pertama] ini memiliki keadaan geografis yang unik bagai benteng tiga lapis. Dengan lapisan terluar adalah [Padang Fertil] sebagai benteng pertahanan pertama, diikuti [Hutan Sulung] dan [Gunung Prima] sebagai benteng yang lebih dalam.


Karena itu, akan sangat sulit bagi musuh untuk menembus pertahanan hingga sampai ke kedalaman hutan, meskipun lokasi mereka telah ada di perbatasan dan padang ruput disana tidak terlalu luas seperti yang dikatakan Pramana sebelumnya.


Setidaknya itu masih membutuhkan sedikit banyak waktu untuk musuh melakukan serangan penuh.


Untuk itu, aku meminta agar kalian mengirimkan Regu Penyelidik dan Regu Evakuasi ke daerah perbatasan di barat. Dan pastikan mereka berangkat dengan jumlah yang cukup banyak dan siap bertempur kapan saja.”

__ADS_1


“Baik, Tuan Akbar! Aku akan mengutus prajurit keamanan dari [Daerah Gunung Pusat] yang ada di bawah komandoku untuk berangkat ke perbatasan barat sesegera mungkin!” jawab Pratama dengan tegas menyanggupi instruksi pertamaku.


“Bagus! Namun, jika musuh telah menembus perbatasan, setidaknya selamatkan dan evakuasi semua penduduk dan suku Hayawan yang ada di sana sebanyak mungkin.


Dan jika musuh telah menduduki pedesaan atau kesukuan di perbatasan, jangan terlalu gegabah untuk merebutnya kembali. Jika perlu, hindari pertempuran sebanyak mungkin dan perioritaskan keselamatan penduduk hutan terlebih dahulu.”


“Baik, Tuan!” sahut Pratama dan rekan-rekan lainya.


“Kalau begitu, pergilah dan pimpin para pasukanmu yang pemberani! Nama dan «Derma»ku akan senantiasa menyertai langkah kalian!”


Aku mengatakannya dengan nada penuh keagungan. Begitulah setidaknya yang aku rasakan.


Aku benar-benar ingin mengatakan kata-kata yang keren seperti itu. Aku akan sangat berterimakasih kepada {Tiga Hyang Utama} yang telah memanggilku ke dunia ini. Tak kusangka aku akan bisa memenuhi salah satu keinginanku selama ini.


Yah, karena bagaimanapun juga selama ini aku hanya diperintah dengan kasar dan penuh hinaan bagai budak tanpa adanya kehormatan.


Namun sekarang akulah yang memberi perintah dengan penuh kemuliaan. Sepertinya harapanku untuk menjadi ‘orang yang ada di atas’ benar-benar telah terwujud saat ini. Sekali lagi, terimakasih {Tiga Hyang Utama}! Aku tidak akan mengecewakan kalian yang telah memilih diriku untuk datang ke dunia menakjubkan ini!


Setelah Pratama dan rekan-rekannya pergi, kini hanya ada aku dan Pramana yang tertinggal disini.


“Apa yang akan Anda lakukan selanjutnya?” tanya Pramana sembari melihat punggung adik-adiknya yang tengah berjalan menjauh.


“Kita masih belum mengetahui sebesar apa kekuatan musuh, dan belum tentu sudah terjadi penyerangan terbuka. Meskipun konflik di perbatasan hanya dengan salah satu kota dari {Federasi Keadipatian Bupala}, namun tak menutup kemungkinan penyerangan akan dilakukan oleh kota-kota yang lainnya juga.


Karena bagaimanapun mereka adalah satu koalisi dalam satu federasi yang sama. Namun setidaknya kita harus memperhitungkan kemungkinan terburuk.


Bukankah kau juga mengerti semua keadaan ini? Kau pasti juga akan memberi instruksi yang sama seperti yang aku berikan, bukan?”


“Itu benar. Menilai kemungkinan terburuk adalah pilihan yang bijaksana,” jawab Pramana dengan binar harapan yang kembali di kedua mata bercahayanya. “Namun pilihan untuk menghindari pertempuran adalah keputusan yang mungkin tidak terpikirkan oleh diriku.”


“Oh... Begitukah?”


Apakah aku telah memberikan instruksi yang salah? Lalu kenapa tidak kau saja yang memberi perintah?! Bukankah kaulah yang paling bijaksana?!


“Evakuasi dan penyelamatan penduduk merupakan perioritas utama. Diriku juga sangat setuju dengan keputusan itu,” jawab Pramana. “Namun pilihan untuk meninggalkan pedesaan dan kesukuan yang dapat menjadi basis benteng pertahanan serta tidak melakukan perlawanan adalah sesuatu yang tidak dapat diriku pikirkan. Jika Anda berkenan, bisakah Anda memberikan alasan mengapa Anda memilih keputusan itu?”


Tentu saja dengan korban yang seminimal mungkin (baik dari penduduk yang dievakuasi maupun dari regu penyelamat yang dikirim), akan menjaga jumlah populasi makhluk yang akan tunduk di bawah kepemimpinanku.


Dan aku tidak terlalu perduli dengan wilayah, sebab jumlah nyawalah yang lebih berharga. Karena wilayah dapat direbut kembali suatu saat, setidaknya setelah semua penduduk dari semua daerah sudah menyatakan «Sumpah Hormat dan Setia» mereka kepadaku.


Tapi tentu saja aku tidak bisa memberi jawaban seperti itu kepada Pramana. Itu akan membuatnya menganggap bahwa aku adalah seseorang yang gila penghormatan, dan itu akan dapat melemahkan kesetiaan.


“Itu karena kita tidak tahu sebesar apa kekuatan musuh dan sejauh mana mereka sudah menembus pertahanan. Jika kita memaksakan diri untuk melakukan perlawanan di saat musuh telah memiliki keunggulan pasukan, itu akan menjadi sebuah kerugian.


Karena bagaimanapun juga aku datang kedunia ini untuk menyelamatkan. Dan jika nyawa yang harusnya dapat kuselamatkan namun malah kukirim untuk melayang, maka tidak ada gunanya {Tiga Hyang Utama} memilihku untuk melaksanakan tugas yang tidak dapat aku emban.”


“Oh... Itu benar. Maafkan diriku ini yang telah meragukan keputusan Anda, wahai Sang Pemimpin yang Dijanjikan.”


Bagus. Setidaknya alasan itu dapat dengan mudah diterima.


Pramana meminta maaf dengan membungkukkan badan dan menundukkan kepalanya. Namun bagaimanapun caranya ia merendahkan diri, tubuh pohonnya masih tetap jauh lebih tinggi dari pada aku.


“Lalu, untuk apa yang akan aku lakukan setelah ini adalah... Hmm... Sebelum memutuskannya, aku ingin mengetahui bagaimana kondisi geografis dan makhluk apa saja yang ada di [Daerah Hutan Barat]. Bisakah kau menjelaskan hal itu kepadaku?”


Memahami dan menguasai medan adalah salah satu dari tiga faktor utama dalam strategi berperang. Untuk itulah sebelum memutuskan langkah apa yang akan diambil, aku harus sebisa mungkin memahami topografi medan perang maupun medan pertahanan. Setidaknya itu diperlukan saat pertempuran benar-benar tidak bisa terhindarkan.


Faktor selanjutnya adalah memahami kekuatan tempur diri sendiri maupun musuh. Mengesampingkan kekuatan musuh yang masih belum diketahui, setidaknya kami bisa memaksimalkan kekuatan pertahanan ataupun rencana penyerangan dengan memanfaatkan semua sumber daya yang kami miliki dengan efisien.


“Secara geografis, [Daerah Hutan Barat] adalah bioma taiga yang hamparan hutannya tersusun atas berbagai macam vegetasi seperti konifer, pinus, cemara, dan sejenisnya,” jelas Pramana kembali memulai sesi belajarnya.


“Di daerah itu terdapat beberapa pedesaan Manusia dan kesukuan Hayawan. Namun pemukiman terbesar yang ada di sana adalah Suku Ursidae. Mereka tinggal di tepi hutan bagian barat dengan membangun sebuah benteng besar yang menghadap langsung ke hamparan [Padang Fertil].


Selain itu, (seperti daerah-daerah yang lain) di [Daerah Hutan Barat] juga dibangun sebuah [Balai Hutan] besar yang menjadi pusat pengelolaan kepentingan hutan di seluruh daerah.


Menurut tingkat keamanannya, [Balai Hutan] itulah tempat yang paling tepat untuk digunakan sebagai pusat evakuasi penduduk. Karena [Balai Hutan] itu berada di kedalaman hutan yang sangat cocok sebagai labirin pertahanan.”


“Itu bagus. Kita bisa merasa aman jika memiliki tempat yang tepat untuk semua orang berkumpul. Dan juga [Benteng Suku Ursidae] itu akan sangat membantu untuk menahan dan memperlambat serangan lawan.”


Kurasa pilihan yang tepat untuk mengevakuasi semua penduduk yang ada di [Daerah Hutan Barat] untuk berkumpul di satu titik. Dengan berkumpulnya semua orang di tempat yang sama, itu akan mempermudah pengendalian masa dan terhindar dari terputusnya rantai komando.


“Namun kita masih belum tahu sekuat apa kekuatan musuh. Menurutmu, dari konflik yang kau ketahui sebelumnya, kira-kira akan sebesar apa penyerangan yang akan musuh lancarkan?”


Aku tidak terlalu memahami konflik antara suku Hayawan yang ada di perbatasan dengan salah satu kota dari {Federasi Keadipatian Bupala} itu. Namun melihat reaksi kecemasan Pramana dan yang lainnya dalam menanggapi permasalahan ini, sepertinya itu adalah sebuah konflik yang akan berujung pada pertempuran yang perlu diwaspadai.


“Menurut laporan yang diberikan Pradana, salah satu dari Tetua Shajara yang aku beri tugas untuk mengelola [Daerah Hutan Barat], kota Manusia sudah beberapa kali melakukan serangan ke perbatasan. Namun semua serangan-serangan itu masih belum mampu menembus pertahanan kami di [Padang Fertil].


Namun dengan memperhitungkan hilangnya kontak dari [Daerah Hutan Barat], sepertinya saat ini tengah terjadi suatu hal yang lebih buruk dari serangan-serangan sebelumnya.


Dan jika memperhitungkan kemungkinan terburuk, mungkin penyerangan kali ini dilakukan oleh seluruh pasukan dari {Federasi Keadipatian Bupala}.


Apakah kerajaan Manusia memang sudah senista itu hingga ingin merebut dan menodai tanah yang damai ini?!”


Pramana memberikan penjelasannya yang diakhiri dengan geraman yang mengerikan. Seakan hutan pun ikut bergetar mengiringi auranya yeng menunjukkan kemarahan.


“Jika kau telah memperhitungkan kemungkinan seburuk itu, kurasa permasalahan kali ini memang tidak dapat diabaikan begitu saja,” kataku menyetujui. Itu membuat kegeraman Pramana sedikit mereda. “Untuk itu, kurasa aku akan ikut berangkat ke sana untuk melihat sendiri seperti apa keadaannya. Dan mungkin akan ada hal yang bisa aku bantu di sana.”


Dalam sebuah konflik tentu akan memberikan akibat. Baik akibat yang fungsional ataupun disfungsional.


Dengan adanya konflik ini akan dapat mempersatukan berbagai kelompok pedesaan dan kesukuan serta para Shajara di daerah yang terdampak sebagai alat perlawanan terhadap musuh bersama, inilah akibat yang fungsionalis.


Dalam hal ini aku dapat berperan sebagai seseorang yang mempersatukan mereka semua dan memberikan bantuan, solusi, dan jalan keluar. Itu akan memberikan citra baik begiku sebagai Sang Pemimpin yang Dijanjikan.


Kurasa Pramana pun mengerti akan hal ini. Itulah mengapa ia sepertinya tidak keberatan atas keputusanku untuk pergi ke daerah konflik sekalipun.

__ADS_1


Mungkin ia juga percaya dengan kekuatan «Atma» dari {Tiga Hyang Utama} yang ada di dalam diriku. Walaupun aku sendiri masih tak tahu entah kekuatan macam apa yang bersemayam di dalam tubuhku ini.


“Baiklah. Diriku dan beberapa pengawal akan menemani Anda menuju kesana. Kami berterimakasih atas semua bantuan yang akan Anda berikan untuk menjawab harapan dari para makhluk yang mendambakan kembalinya kemakmuran dan kebahagiaan.”


__ADS_2