Sandya Aksata

Sandya Aksata
Bab 2.5


__ADS_3

...Bab 2: Mengukuhkan Kedudukan...


...Bagian 5...


...~ ◊ ~


...


Malam masih nampak menyelimuti seisi hutan, bintang-gemintang pun tetap memancarkan binar berkerlipan, di antara remangnya pendar kelabu sang rembulan, bersama cahaya semarak dari kunang-kunang yang terbang saling beriringan.


Kini Pramana bersama langkah kaki berakarnya berjalan melintasi daun-daun berguguran di antara hamparan rerumputan yang disirami sorot dari temaramnya cahaya obor yang digenggam seorang pemuda yang tengah ikut serta mendampingi disampingnya.


Keduanya melangkahkan perlahan kaki-kaki mereka menuju sebuah [Pohon Sequoia Raksasa] yang nampak gemerlap terang di antara gulitanya selimut sang malam.


Sebuah pohon luar biasa besar yang nampak begitu rindang dengan jutaan lembar dedaunan yang nampak demikian menakjubkan. Ribuan kunang-kunang hinggap dan mengelilingi batang serta daun-daunnya, menambah kesan keelokan dari gemerlap terang nan dikara.


Pramana dan sang pemuda menghentikan langkah kaki mereka ketika tiba tepat di sebuah celah besar di antara batang pohon raksasa di hadapan mereka. Di dalam bayang celah itu nampak terang dengan cahaya bergoyang-goyang dari sebuah perapian.


Pramana pun mengangkat tangan kanannya lantas mengetuk pelan sisi ambang celah batang pohon di depannya, kemudian berseru untuk memanggil sang penghuni yang ada di dalam pohon raksasa.


“Salam, wahai Hyang Jenggala sang Hutan! Diriku adalah Pramana sang Putra Bentala, ingin menghadap dan berbicara dengan Anda!”


Beberapa saat setelah Pramana menyerukan hal itu, munculah seorang gadis kecil yang dibalut pakaian hijau dengan jubah dan rok putih kecil dari dalam celah pohon raksasa itu.


Gadis itu keluar sembari menggosok sebelah sisi matanya dengan ditemani hawa mengantuk bersamanya. Ia pun mendongak ke atas, mencoba untuk menatap mata makhluk yang telah memanggil dan membangunkan dirinya hingga ia pun harus beranjak dan terjaga dari lelapan petangnya.


“Ada apa, Pramana? Apakah kau telah melupakan bahwa adanya «Fitrah Alam» yang disebut ‘waktu malam’ dimana itu menjadi saatnya bagi semua orang untuk tidur dan beristirahat?”

__ADS_1


Gadis itu memberikan sambut sapanya kepada Pramana dengan nada menggerutu kesal karena telah membangunkan ia dari tidur lelapnya.


“Mohon maaf telah mengganggu istirahat Anda, Hyang Jenggala. Namun hutan kini tengah berada dalam keadaan darurat, dan Tuan Akbar ingin bertemu serta bertatap muka dengan Anda,” sapa Pramana menundukkan kepalanya sembari melangkahkan kakinya mundur untuk memperlihatkan sang pemuda yang ada di sampingnya.


“Akbar?” tanya si gadis kecil sembari memiringkan kepalanya tak mengerti dengan apa yang tengah dimaksudkan oleh Pramana. Namun ia nampak terkejut setelah melihat seorang pemuda yang tengah membawa obor ditangannya selepas Pramana menarik mundur langkah kakinya.


“At-Atma Kebesaran ini─ Hyang Utama? Tidak, itu tidak mungkin... Jangan-jangan...”


“Seperti yang Anda pikirkan, Hyang Jenggala. Dialah Akbar, sang pemuda yang telah diwasiatkan oleh para Hyang Utama.”


Gadis itu seketika mencoba menenangkan diri dan memperbaiki postur mengantuknya lantas menyambut hangat kedatangan Akbar, sang pemuda yang tengah berdiri dengan wibawa di hadapannya.


“Maafkan sikap kurang ajar saya, wahai Akbar sang pemimpin yang telah kami nanti-nantikan kedatangannya.


Saya Wanadri si Hyang Jenggala sang Hutan, menyambut dan menghaturkan suwun atas kedatangan Anda yang telah memenuhi panggilan dari para leluhur kami.”


“Salam, wahai Wanadri. Aku datang kemari untuk memohon santunan atas dirimu untuk membantuku dalam memberikan dukungan bagi para makhluk dan penduduk di hutan ini dalam menghadapi peperangan besar yang akan datang,” sahut pemuda itu dengan lembut sembari sedikit menundukkan kepalanya.


“A-Anda tidak perlu memohon seperti itu, wahai pemuda! Anda adalah pemimpin yang telah dijanjikan untuk semua makhluk di dunia ini. Anda hanya perlu memberikan perintah untuk apapun yang diperlukan guna menjaga dan memperbaiki seluruh Ihwal yang ada di semesta ini.”


Gadis kecil itu nampak bingung dengan sikap apa yang harus ia tunjukkan kepada si pemuda yang ada di hadapannya.


“Jadi bisakah engkau mengabulkan permohonan─ Ah, maksudku perintahku ini?” tanya si pemuda kembali mengangkat kepalanya lantas kembali menatap tajam-tajam iris mata si gadis kecil.


“Dengan segenap kebahagiaan hati jika saya dapat mengabulkan perintah yang Anda sampaikan dengan penuh kelembutan dan kemuliaan,” jawab gadis kecil itu memalingkan matanya dari tatapan menusuk sang pemuda lantas menundukkan kepalanya untuk menunjukkan rona bersalah. “Na-Namun saya dengan berkecil hati harus memohon maaf kepada Anda, karena mungkin saya tidak akan bisa memberikan bantuan sepenuhnya atas perintah yang Anda berikan terhadap saya.”


“Bisakah engkau memberikan alasan mengapa dirimu harus berkecil hati dengan mengungkapkan hal demikian?” tanya si pemuda yang kini menunjukkan nada dingin yang melagakkan. “Apakah engkau akan terus membiarkan hutan yang seharusnya engkau beri «Derma» ini dengan menelantarkannya hingga hancur dan musnah dalam gejolak peperangan?”

__ADS_1


Sang pemuda terus menusuk si gadis kecil dengan tatapan tajam dan seruan dingin yang ia utarakan sembari memancarkan tekanan dari «Atma Kebesaran» yang bahkan Pramana (yang tidak ikut serta dalam percakapan ini) pun tak dapat menolak supresi yang ia berikan.


“Sa-Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya akan hal itu. Namun dengan kelurusan hati ini, saya benar-benar tidak bisa mempersembahkan sebagian besar «Atma» serta «Derma» saya untuk membantu makhluk-makhluk penguni hutan ini dalam menghadapi peperangan besar yang akan mereka hadapi.”


Sekali lagi, gadis itu menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menunjukkan sikap permohonan maaf yang nampak begitu tulus dan penuh kejujuran.


“Hm... Sepertinya engkau telah menyampaikan apa yang sebenar-benarnya,” sahut si pemuda mengendurkan tatapan dan menghangatkan kalimat yang dilontarkannya. “Lantas bisakah engkau mengungkapkan alasan apa dibalik jawabanmu itu, wahai Wanadri sang Hyang Jenggala?”


“Saya mengakui bahwa selama ini saya telah enggan untuk memberikan «Derma» yang telah menjadi tanggung jawab saya atas hutan di tanah ini. Itu semua saya dasarkan kepada kekhawatiran saya akan teror tanda tanya dari Si Biang Malapetaka yang mungkin dengan kemunculannya kembali akan berakibat buruk untuk saya dan segenap «Ihwal Alam» yang ada di bawah naungan «Derma» diriku ini. Termasuk kedamaian dari para makhluk yang menghuni hutan ini.


Di sisi lain, saya telah menggunakan sisa-sisa dari «Atma» yang saya miliki untuk menahan gejolak atas kemelut para Makhluk Malapetaka yang ada di kawasan ini. Saya pun telah menjelaskan hal ini kepada Pramana dan para adik-adiknya, sehingga kami telah membentuk perjanjian agar mereka tetap mengelola «Ihwal Alam» di seluruh kawasan ini secara mandiri selama saya menahan kemelut para Makhluk Malapetaka yang mengancam kedamaian di hutan ini.


Karena itulah saya tidak akan bisa sepenuhnya membantu peperangan kali ini. Karena jika saya mengendurkan penjagaan saya atas penahanan para Makhluk Malapetaka ini, seluruh hutan akan dirundung prahara bahkan sebelum peperangan itu diakhiri.”


Mendengar penjelasan itu, si pemuda memandang Pramana yang ada di sampingnya dan lantas dijawab dengan anggukan yang memberitahukan bahwa apa yang telah diungkapkan oleh si gadis kecil adalah sebuah kebenaran.


“Engkau tak perlu gundah ataupun khawatir lagi akan semua hal itu! Dibawah panji kegemilangan dan nama besarku: Akbar sang Juru Selamat seluruh semesta ini, semua entitas dan makhluk yang ada di bawah naungan perlindunganku akan aku jamin kebahagiaan dan kemakmurannya!


Jadi terimalah saja perintah dariku dan bantu aku untuk mewujudkan semua impian, harapan, dan angan-angan itu!”


Seru sang pemuda itu dengan segenap iktikad dan keluhurannya sembari mempersembahkan untaian tangannya kepada si gadis kecil sebagai tanda pinta jalinan persekutuan dan kerja sama.


Melihat uluran tangan dan mendengar seruan agung nan menawan itu, si gadis kecil pun kembali menegakkan kepalanya bersama binar cahaya harapan dan kepercayaan di kedua bola matanya.


“Saya Wanadri sang Hyang Jenggala, merasa sangat terhormat dan bersuka hati untuk menerima perintah serta untaian tangan Anda yang akan mengembalikan dan membawa panji kegemilangan dan kejayaan di seluruh semesta yang abadi ini.”


Gadis kecil itu menjawab pinta dari sang pemuda dengan menerima dan menggenggam tadahan tangan itu yang penuh dengan beban harapan akan kejayaan masa depan.

__ADS_1


__ADS_2