
...Bab 2: Mengukuhkan Kedudukan...
...Bagian 3:
...
...~ ◊ ~
...
Dalam selimutnya sang malam yang menyertai kesunyian hutan, diantara pepohonan rindang yang membentang dibawah hamparan bintang-gemintang, diiringi nyanyian para serangga yang dengan riangnya beterbangan membawa titik-titik cahaya yang berkilauan.
Gemeresak suara daun-daun berguguran tatkala terinjak oleh sepasang kaki besar nan berakar dari sesosok agung yang berjalan tenang sembari bermandikan remangnya cahaya rembulan.
Di atas kepalanya terduduklah seorang pemuda yang nampak terdiam bersama matanya yang tengah terpejam menikmati suasana tenang dalam keheningan hutan.
“Hahh... Dunia ini memang benar-benar begitu nyaman dan menenangkan.”
__ADS_1
Pemuda itu bergumam dengan lirih seakan tak ingin membangunkan ketenangan dari sunyinya sang malam. Pohon yang ditumpanginya pun hanya mampu terdiam, tak ingin mengganggu ketenangan dari renungan sang pemuda yang terduduk di atas kepala besarnya sembari tetap melangkahkan kaki-kaki berakarnya, agar mereka segera sampai ke tempat tujuan.
Namun sebenarnya mereka tidak sendirian. Di antara mereka terdapat beberapa Shajara dan Manusia yang mengikuti langkah kaki si pohon tua, sedangkan yang lainnya telah melangkah lebih jauh di depan mereka untuk memastikan kondisi dan keamanan.
“Lapor, Maha Sepuh! Benteng [Balai Hutan Barat] sudah dekat. Dan nampaknya para penduduk telah berhasil dievakuasi ke dalamnya.”
Itu laporan dari seorang Hayawan yang telah kembali dari tugasnya mengawasi kondisi dan keamanan bagian depan. Nampaknya ia telah kembali dari benteng [Balai Hutan Barat] untuk memastikan keadaan di dalam sana apakah rencana pengevakuasian semua warga telah dilakukan.
“Bagus. Itu berarti Pratama telah melakukan tugasnya,” sahut Pramana setelah mendengar laporan yang ia terima. “Kalau begitu kita harus bergegas ke sana.”
Pramana mempercepat langkah kakinya menuju pintu gerbang yang nampak tinggi menjulang di tengah benteng [Balai Hutan] yang menjadi tujuan kakinya melangkah.
Di balik pintu gerbang yang terbuka memancarkan cahaya kemerahan dari api temaram yang menari-nari di atas banyaknya obor-obor yang berbaris di sepanjang jalan.
Tidak seperti beberapa waktu yang lalu, kini di balik pintu gerbang nan besar itu, menampakkan ribuan gerombolan makhluk-makhluk yang berdiri terdiam dengan kilatan mata-mata mereka yang memantulkan cahaya obor yang menghangatkan.
Setelah pintu gerbang itu sepenuhnya terbuka, Pramana yang didampingi oleh beberapa prajurit kepercayaannya, melangkah maju dengan menampakkan keagungan dirinya.
__ADS_1
Tidak. Langkah nan agungnya bukan hanya untuk menampakkan kewibawaannya saja. Namun juga untuk memperlihatkan kepada ribuan gerombolan makhluk-makhluk yang berbaris rapi dihadapannya akan kehadiran sesosok yang lebih agung dari mereka semua yang kini tengah terduduk dengan penuh kewibawaan di atas kepalanya.
Itulah Akbar sang Pemimpin yang Dijanjikan. Seorang pemuda yang telah ditunggu-tunggu kedatangannya oleh semua orang. Bahkan dari semenjak zamannya para nenek moyang.
Semua orang hanya mampu tertegun dan terdiam. Bukan karena ketakutan, bukan karena keterkejutan.
Namun murni karena rasa hormat akan kesetiaan dan kekaguman yang mereka tujukan kepada sesosok agung yang ada di hadapan.
Dialah satu-satunya yang pantas di berikan «Sumpah Kehormatan dan Kesetiaan». Dialah satu-satunya dongeng dan legenda yang tak akan pernah dilupakan. Dan dialah satu-satunya pemimpin sejati yang telah lama dinanti-nantikan.
Pemuda itu perlahan memancarkan aura «Atma Kebesaran» yang sama seperti para {Hyang Utama} sang pengatur alam keabadian. Memancarkan aura penuh keagungan nan kegemilangan. Menunjukkan bahwa dirinyalah sang pemimpin yang tak terbantahkan.
Semua makhluk yang tadinya terdiam akan kekaguman, kini mulai menunduk dan berlutut bersamaan, tanda menawarkan murninya rasa hormat dan kesetiaan.
Seorang Manusia yang nampak berada di paling depan barisan, dengan rasa hormatnya yang paling dalam, mulai mengucapkan kata-kata yang begitu ingin ia utarakan.
“Salam, wahai Sang Pemimpin yang Dijanjikan. Saya mewakilkan pimpinan hutan ini yang tengah ada di medan perang, ingin menyatakan sumpah hormat dan kesetiaan kami, seluruh penduduk [Daerah Hutan Barat] kepada Anda yang paling mulia.”
__ADS_1
“Izinkan kami menggaungkan hormat dan kesetiaan atas engkau, wahai Sang Pemimpin yang Dijanjikan!”
Semua makhluk yang ada di sana menyambutnya dengan seruan kebersamaan atas hormat dan kesetiaan hingga seakan menggetarkan kesunyian dalam kegelapan malam.