Sandya Aksata

Sandya Aksata
Bab 2.4


__ADS_3

...Bab 2: Mengukuhkan Kedudukan...


...Bagian 4...


...~ ◊ ~


...


Aku harus bagaimana?


Kurasa aku (Akbar) sudah pernah mengalami hal yang serupa seperti ini sebelumnya. Tapi bagaimana aku mengatasi ini sebelumnya?


Ah, sial. Aku terlalu menikmati suasana kesunyian hutan yang begitu menenangkan dan mengabaikan apa yang sedang terjadi di hadapanku sekarang. Sebelumnya aku bahkan sudah merasa mengantuk karena ayunan lembut saat duduk di atas kepala Pramana saat ia sedang berjalan.


Semua orang yang ada dihadapanku berlutut dan menunduk dengan nampak penuh rasa hormat. Bahkan sepertinya ada yang sampai terisak dan meneteskan air mata.


Mengapa makhluk-makhluk di sini sepertinya sangat mengagungkan Sang Pemimpin yang Dijanjikan?


Bukankah aku saat ini hanya terlihat seperti seorang remaja konyol yang mengantuk saat sedang menunggangi odong-odong?


Yah... Penghormatan itu sangat wajar mereka tunjukkan kepadaku yang adalah bagaikan seorang pahlawan dalam dongeng dan legenda yang terus diceritakan selama ribuan tahun tanpa sekalipun dilupakan.


Terutama oleh para {Bangsa Hayawan} dan {Bangsa Manusia} yang hanya tahu kisah perjanjian akan kedatangan diriku yang merupakan Sang Pemimpin yang Ditakdirkan dari alkisah turun-temurun dari nenek moyang mereka. Dan saat dongeng dan legenda itu menjadi kenyataan, tidak akan aneh jika reaksi dan tanggapan mereka begitu berlebihan.


Setidaknya itulah yang dikatakan Pramana selama perjalanan kami menuju kemari.


Ditambah lagi, aku saat ini tengah duduk di atas kepala seseorang yang paling dihormati dan dituakan di seantero hutan ini. Seakan sang penguasa hutan ini pun bersedia menjadi tunggangan ‘odong-odong’ pribadiku.


Namun semua rasa hormat ini mungkin hanya ditujukan oleh penduduk di kawasan ini. Karena bagaimanapun juga hutan ini adalah tempat yang terisolasi dari dunia luar. Maka tidak aneh jika alkisah, dongeng, dan legenda tentang zaman-zaman di masa lampau masih terjaga sebagai tradisi turun-temurun tanpa adanya alkulturasi ataupun asimilasi dengan budaya lain.

__ADS_1


Apalagi di kawasan ini masih banyak para Shajara yang berumur panjang yang menjadi saksi hidup nyata dari semua legenda-legenda itu. Bahkan kata ‘Sejarah’ yang menjadi istilah untuk kisah-kisah di masa lampau pun diambil dari nama bangsa mereka. Itulah juga sebabnya mengapa {Bangsa Shajara} disebut juga ‘bangsa penggenggam sejarah’.


Sepertinya semua kisah-kisah itu dapat dimanfaatkan untuk menjadi doktrin dan propaganda yang tepat untuk menanamkan rasa hormat dan kesetiaan mereka kepada diriku untuk menjadi pemimpin yang absolut.


“Aku terima Sumpah hormat dan kesetiaan kalian.”


Aku berusaha mengatakannya dengan seagung mungkin. Kurasa setidaknya kegugupanku tak akan terlihat di dalam kegelapan ini. Aku bersyukur bisa datang kemari tepat saat malam hari.


“Berdirilah dan angkat kepala kalian! Tunjukkanlah kepada dunia bahwa orang-orang yang ada di bawah perlindunganku adalah orang-orang yang senantiasa bergembira dan tak akan pernah kembali menundukkan kepalanya.”


Mendengar itu, semua orang serentak berdiri dengan tegap dan mendongakkan kepala mereka bersama raut wajah penuh rasa keyakinan dan harapan. Dan juga banyak yang mengusap air mata syukur mereka, dan menggantikannya dengan kilauan mata ketegaran penuh impian.


“Wahai Pratama, laporkan apa saja yang telah engkau dan regu pasukanmu dapatkan!”


“Baik!” sahut Pratama menanggapi panggilan Pramana dari samping barisan gerombolan orang. Ia pun lantas maju untuk menghadapku dan Pramana bersama sepasukan prajurit yang dipimpinnya.


“Kami melaporkan bahwa hampir semua penduduk baik dari pedesaan maupun kesukuan telah kami evakuasi kemari. Dan kami juga telah membentuk milisi pertahanan di benteng ini untuk menggantikan semua prajurit keamanan hutan di daerah ini, karena mereka semua telah pergi ke perbatasan dipimpin oleh Pradana secara langsung,” jelas Pratama melaporkan.


“Itu benar, Maha Sepuh. Tepat seperti yang dikhawatirkan dalam kemungkinan terburuk,” jawab seorang Hayawan yang menjadi Komandan Regu Penyelidik yang diutus Pratama. “Nampaknya musuh yang menyerang kali ini bukan hanya pasukan dari satu kota saja. Jika dilihat dari jumlah banyaknya, sepertinya serangan kali ini dilancarkan oleh pasukan dari seluruh kota-kota anggota {Federasi Keadipatian Bupala}.”


Jika memang jumlah musuh sebanyak itu, maka keputusan yang tepat untuk mengirim semua pasukan dari prajurit keamanan hutan di daerah ini untuk membantu pertahanan di perbatasan. Juga tidak akan aneh jika Pradana sang Perkasa pun harus turun tangan untuk memimpin langsung pertempuran melawan musuh sebesar itu.


Dari kisah yang diceritakan Pramana selama perjalanan kami sebelumnya, pimpinan sekaligus pengelola utama [Daerah Hutan Barat] ini merupakan seorang Tetua Shajara yang memiliki kecakapan militer paling baik diantara keempat Tetua Shajara yang menjadi pengelola utama daerah hutan lainnya.


Ia adalah Pradana sang Perkasa, salah satu Shajara yang ditunjuk oleh {Tiga Hyang Utama} untuk menjadi kapten pasukan yang memimpin para makhluk fana selama ˁPerang Besarˀ melawan para {Hyang Gila} semasa ˁZaman Malapetakaˀ.


Karena pengalaman dan kecakapan militernya itulah ia diberi amanah oleh Pramana untuk mengelola [Daerah Hutan Barat] ini yang merupakan satu-satunya daerah yang berbatasan langsung dengan wilayah negara lain yang sekaligus paling rawan terjadinya konflik, serangan, maupun pertempuran.


Dan jika Pradana sang Perkasa itu harus turun tangan sendiri menuju medan perang, bahkan dengan membawa semua pasukan prajurit keamanan hutan, dapat di pastikan bahwa pertempuran kali ini memang benar-benar sebuah perkara yang tidak dapat begitu saja diabaikan.

__ADS_1


“Lantas bagaimana keadaan medan perang saat ini? Apakah musuh sudah menembus pertahanan pertama kita di [Padang Fertil]?” tanya Pramana lanjut mendiskusikan perkara pelik ini.


Sudah sepekan lebih semenjak kepergian Pradana dan pasukannya menuju perbatasan. Jika pertempuran masih berlangsung hingga saat ini, mungkin saja anggapan bahwa pasukan musuh telah berhasil menembus pertahanan di [Padang Fertil] memang perlu untuk di waspadai.


Andaikata itu memang benar-benar terjadi, maka satu-satunya pertahanan yang tersisa di perbatasan barat hanyalah [Benteng Suku Ursidae].


Apabila hanya tinggal satu benteng pertahanan yang tersisa, maka dengan begitu musuh akan menguasai faktor utama sekaligus yang terpenting dalam strategi peperangan; yaitu penguasaan basis dan landasan dalam pertempuran. Dan itu akan berakibat pada pengepungan.


“Mohon maaf, Maha Sepuh. Namun hingga saat ini, kami belum benar-benar mengetahui kondisi seperti apa yang tengah terjadi di medan pertempuran,” jawab Komandan Regu Penyelidik. “Seperti yang diperintahkan oleh Tuan Akbar, kami harus menghindari pertempuran sebanyak mungkin. Karena itulah kami tidak bisa melakukan penyelidikan hingga ke [Benteng Suku Ursidae] di perbatasan.”


“Lalu bagaimana dengan para penduduk sipil yang tinggal di kesukuan itu? Apakah mereka semua sudah dievakuasi?” sahutku menyertai diskusi ini.


Aku sedikit khawatir jika keputusanku yang memerintahkan mereka untuk menghindari pertempuran adalah sebuah keputusan yang tepat.


Aku sadar jika menghindari kehilangan satu nyawa mungkin akan menyebabkan hilangnya nyawa yang lainnya.


Namun aku tidak bisa mengambil risiko besar ketika aku belum benar-benar bisa memahami situasi dan kondisi macam apa yang tengah terjadi di luar sana.


“Sebelum pertempuran berlangsung, nampaknya semua penduduk sipil dari Suku Ursidae sudah dievakuasi ke pedesaan dan kesukuan lain. Karena itulah mereka berhasil kami amankan menuju benteng ini bersama para penduduk yang lainnya,” jawab seorang Manusia yang merupakan Komandan Regu Evakuasi.


“Itu bagus!” tegasku sembari bangkit dari dudukku di atas kepala agung Pramana, lantas melanjutkan kalimatku dengan seruan kebesaran yang membawa serta semangat kejayaan:


“Jika semua penduduk sipil telah berhasil diamankan, maka sudah tidak ada alasan lagi bagi kalian untuk terus berdiam diri di sini, wahai para prajuritku yang pemberani!─


Esok hari, tatkala fajar menyiratkan semaraknya kirana sang mentari, beranjaklah dari sini dan hadapi takdir kalian yang telah usai menanti! Bela jiwa para handai yang lelah habis menanti dan pertahankan setiap jengkal tanah air nan kurnia ini!”


Mendengar seruan kebesaranku, ribuan makhluk yang tengah berdiri dihadapanku kini meneggakkan sekujur tulang-belulang maupun otot-otot kayu di tubuh mereka seakan mengisyaratkan kepatuhan diri atas apa yang akan aku utarakan:


“Atas kebesaran namaku, Akbar sang Pembawa Panji Kegemilangan. Kuberi restu pangestu untuk kalian, para prajuritku, untuk berangkat ke medan laga guna membela darah dari bangsa, rekan, serta keluarga yang kini terancam keselamatan dan kebebasannya!”

__ADS_1


Kesunyian dalam selimutnya kegelapan malam yang bermandikan binar rembulan serta kilauan bintang-gemintang, kini tergantikan oleh keributan dari seruan ribuan makhluk yang merindukan kembalinya kejayaan dibawah panji kegemilangan dari sang pemimpin besar.


__ADS_2