Sandya Aksata

Sandya Aksata
Bab Prolog: Kisah Zaman Introduksi


__ADS_3

...~ ◊ ~...


Bumi pertiwi, tanah yang abadi.


Lahir dari Introduksi, awal dari semua yang ada di dunia ini.


Lembaran tanah membentang, lapang penuh kekosongan.


Kering kerontang, tanpa adanya kehidupan.


Suatu ketika, lahirlah Sang Tirta dan Sang Bara. Dengan luapan airnya, Sang Tirta membanjiri seisi dunia dan membasahi segala yang dilaluinya. Dengan apinya, Sang Bara kembali mengeringkan genangan yang menyelimuti dunia. Dari sana, lahirlah Sang Gegana dari uap yang hadir akibat friksi di antara keduanya, bantalan awan yang melingsirkan rebasan hujan yang menyuburkan.


Sampai hari ini, ketiganya dikenal sebagai {Tiga Hyang Utama} sebagai simbol siklus dunia. Hyang Tirta sebagai representasi Pereka Cipta, sang permulaan dan pembentukan. Hyang Bara menggambarkan Pelebur, sang pengakhiran dan kehancuran. Serta Hyang Gegana sebagai Pemelihara, sang penyeimbang dan penjaga.


Melalui siklus dunia yang tercipta, lahirlah para kuasa lain yang menyokong tugas {Tiga Hyang Utama} untuk memberikan «Derma» atas daur kehidupan di atas dunia. Merekalah yang disebut para {Hyang Yuwana}, sang Ibnu Utama.


Perputaran siklus dunia terus terlaksana. Perlahan langit, daratan, dan lautan pun tercipta. Untaian cemerlang yang membentang di sepanjang cakrawala, ialah Sang Bumantara. Lembaran Daratan subur yang terhampar dari berbagai ujung semesta, ialah Sang Bentala. Rangkaian luas Lautan yang menyelimuti kegelapan dari dalamnya dunia, ialah Sang Samudra. Ketiganyalah yang disebut sebagai {Tiga Alam Dunia}.


Di atas daratan subur yang membentang, mentari berpendar dengan terang, udara segar mengambang membawa kesejukan, dan sungai-sungai pun mengalir tenang. Dalam masa keseimbangan dunia, Sang Bentala menumbuhkan sang makhluk pertama, sebuah tunas kecil yang diberi nama Pramana.


Untuk menyambut lahirnya sang makhluk pertama, para Hyang kendati bergembira, lantas si tunas kecil pun dirawatnya bersama-sama. Sang Tirta memberikan «Hara» sebagai makanannya, Sang Bara memberikan cahaya untuk pertumbuhanya, dan Sang Gegana memberikan kesuburan untuknya.


Bersama dengan itu, padang rumput dan hutan pun mulai tumbuh menyertai berkembangnya Pramana yang perlahan menjadi makhluk yang semestinya. Sang Bentala sertamerta memberikan akal dan kesadaran kepada dirinya.


Pramana, makhluk yang dulunya hanya sebuah tunas kecil nan hidup dengan menggantungkan diri pada Sang Bentala yang menopang akar-akar kecilnya, kini ia mulai mampu berpikir, bergerak, dan melakukan apa yang diinginkannya.


Namun kegembiraan akan kebebasan yang dirasakan Pramana tak bertahan lama. Ia mulai merasa kesepian dan merana, lantaran tiada satupun teman untuk bercengkrama. Karena tak ingin melihat si makhluk pertama menderita, Sang Bentala pun memberikan kesadaran kepada sebagian pepohonan lain untuk menghapuskan rasa sepi si kecil Pramana.


Pohon-pohon yang melepaskan akar-akarnya dari tanah Sang Bentala dan memulai kemandirian dalam siklus kehidupan, merekalah yang disebut {Bangsa Shajara}, si anak-anak Bentala.

__ADS_1


Setelah sekian masa berselang, kehidupan di [Alam Bentala] pun perlahan terus berkembang, hingga muncul makhluk-makhluk baru yang mengisi siklus kehidupan. Yang pertama adalah binatang, makhluk tak berakal yang muncul dari makhluk sebelumnya yang terus mengalami perubahan dan perkembangan, hingga tumbuh menjadi berbagai jenis macam.


Sang Bentala yang mendambakan kebahagiaan pun kembali memberikan akal dan kecerdasan untuk sebagian binatang agar menambah keceriaan diatas tanah keabadian. Merekalah yang kini disebut sebagai {Bangsa Hayawan}, si bangsa Dabat Adiluhung.


Sementara kehidupan di atas Bentala terus berkembang, di sisi kegelapan lautan, Sang Samudra melahirkan makhluk-makhluk berakal yang mampu menyerap kekuatan kegelapan dari [Alam Samudra] hingga mampu mengendalikan. Merekalah yang disebut {Bangsa Jania}, bangsa pengguna sihir «Ketaksaan».


{Bangsa Jania} yang jenuh akan dingin dan gelapnya samudra, mengharapkan datangnya cahaya. Mereka pun akhirnya bersama-sama maherat dari kedalaman samudra untuk menggapai kilauan cahaya yang mereka damba-damba. Dan dengan sihir «Ketaksaan», mereka membangun daratan agar terus dapat menikmati hangatnya binar sang kirana.


Sementara itu, Sang Bumantara menciptakan makhluk yang dianggapnya paling ‘sempurna’, makhluk yang memiliki akal keinginan paling unggul dan raga paling indah memesona. Itulah {Bangsa Manusia}, yang keindahannya bahkan membuat para {Hyang Yuwana} meniru bentuk tubuh mereka. Namun karena ‘kesempurnaan’ itu jugalah yang membuat mereka harus keluar dari [Alam Bumantara] dan rebah dalam welas Sang Bentala.


Dengan ˁMaheratnya Bangsa Janiaˀ ke permukaan Samudra dan membangun sendiri daratan mereka, serta ˁRebahnya Bangsa Manusiaˀ dari Bumantara, membuat [Alam Bentala] menjadi satu-satunya alam yang dihuni oleh makhluk fana. Sang Bentala pun berharap dengan berkumpulnya makhluk-makhluk fana yang tinggal di atas alamnya akan menciptakan kebahagiaan dan keceriaan yang diidamkannya.


Lama waktu berselang, kehidupan di atas [Alam Bentala] kian berkembang. Dengan «Derma» para Hyang, selama ribuan tahun dunia ada dalam tatanan kebahagiaan dan kemakmuran.


{Bangsa Shajara} sebagai bangsa tertua, menjadi pembimbing bagi para bangsa lainnya dengan segala kebijaksanaan mereka.


{Bangsa Jania} dengan berkah sihir dari «Ketaksaan», membangun peradaban dan kemajuan ilmu pengetahuan.


Sedangkan {Bangsa Manusia} dengan segudang keinginan, mendirikan kerajaan-kerajaan besar nan mengagumkan.


Itulah masa-masa dimana kebahagiaan dan senyuman senantiasa terlukis di wajah setiap orang, tawa dan keceriaan menghias di tiap keseharian, kegembiraan diungkapkan lewat tarian-tarian penuh kesenangan, serta kemakmuran dan keselamatan menaungi segenap tanah keabadian.


Namun kekekalan akan ˁZaman Kemakmuranˀ hanyalah laksana sebuah angan-angan. Lantaran sebagian dari {Hyang Yuwana} mendadak berkecamuk bagai dikuasai kegilaan, lantas meninggalkan luapan kegemparan.


Hyang Agni dan Hyang Surya berpendar dengan panasnya yang membara, membakar Bumantara, menghanguskan Bentala, bahkan mengeringkan Samudra.


Hyang Bayu, Hyang Baruna, dan Hyang Indra beriringan memporak-porandakan dunia dengan untaian badai dan bencana. Topan berhembus dengan kencang, terjangan banjir bandang, hingga guntur menggelegar saling bersahutan.


Hyang Hawar, Hyang Mairat, dan Hyang Yuda membawa limpahan malapetaka bagi kehidupan para makhluk fana. Wabah penyakit merajalela, kematian buat jiwa binasa, hingga perang yang begitu banyak merenggut nyawa.

__ADS_1


Dari ˁZaman Malapetakaˀ yang menggentarkan, lahirlah para {Makhluk Malapetaka} dari bencana berkepanjangan. Siluman si makhluk mengerikan, Setan si makhluk menyesatkan, Rawaja si naga pembawa bencana, hingga Danawa si makhluk raksasa.


Segenap rentetan bencana melanda seantero dunia, tanpa ada satupun yang mengerti apa penyebabnya. Bahkan {Tiga Hyang Utama} tak mengerti apa yang membuat para {Hyang Yuwana} menggila, hingga meluluhlantakkan dunia dan makhluk fana yang harusnya mereka berikan «Derma».


Tak menahu apa penyebabnya, tak mengerti apa pemicunya. Guna mencegah dunia semakin porak-poranda, {Tiga Hyang Utama} mengorbankan «Atma» mereka demi mencegah kehancuran dunia.


Hyang Tirta menyapu segala derita, memadamkan api malapetaka, dan kembali mengisi lubang samudra yang menganga.


Hyang Bara meleburkan semua bencana, memusnahkan para {Hyang Yuwana} yang telah gila, dan mengembalikan ketenangan dunia seperti sedia kala.


Sedang Hyang Gegana berhasil melindungi segenap jiwa fana dalam naungannya, guna menghindarkan kemusnahan atas siklus kehidupan di atas semesta.


Akan tetapi, tiadalah keberhasilan tanpa adanya pengorbanan. Lantaran «Atma» dari {Tiga Hyang Utama} telah mencapai batasnya tatkala melindungi untaian cemerlang Sang Bumantara, hamparan dari Sang Bentala, hingga luasnya Sang Samudra.


Sebagian besar {Hyang Gila} telah binasa, namun masih ada yang tersisa dari mereka. Sayangnya sisa «Atma» {Tiga Hyang Utama} tak akan sanggup untuk menghentikan mereka, terutama Si Biang Malapetaka yang tak diketahui entah siapa.


Karenanya, {Tiga Hyang Utama} memutuskan untuk meleburkan «Atma» mereka bersama-sama guna menekan malapetaka yang tersisa dan menjaga keutuhan dunia, serta memanggil seseorang yang akan menggantikan kedudukan ketiganya: seorang pemuda dari dunia nan jauh di sana.


Di kala akhir hayatnya, {Tiga Hyang Utama} menitipkan wasiat kepada Pramana si makhluk pertama:


Wahai Pramana sang Putra Bentala ...


Ketika saatnya tiba, akan ada seorang pemuda dari dunia tak dikenal yang akan menggantikan tugas Tiga Hyang Utama.


Dengan segala kebijaksanaan dan kemuliaan pakanira,


Bimbing dan tuntunlah ia untuk menggapai apa yang dijanjikan akan kedatangan dirinya:


Memimpin dan menjadi penopang segenap Ihwal Dunia, serta memusnahkan Hyang Gila yang tersisa beserta biang dibaliknya.

__ADS_1


__ADS_2