Sang Pemilik Bidadari

Sang Pemilik Bidadari
SPB : Surat Biru


__ADS_3

Sebelum undangan itu sampai, dia sudah memikirkannya matang-matang untuk pergi atau tidak? Dia berpikir hingga larut malam padahal sudah ada stelan baju bergantung di dalam lemari kecilnya yang ia siapkan. Sebenarnya baju itu telah lama bersembunyi bahkan nyaris tidak terpakai, hanya berupa jas hitam lama sekaligus celana panjang.


Ia pandangi gantungan baju itu lekat-lekat, ada rasa cemas untuk pergi tapi bertumpuk rasa ingin pergi? Apakah itu yang dinamakan tidak punya pendirian? Sekian lama bungkam didepan lemari yang terbuka, lelaki itu meraihnya dan membersihkan permukaan bahan baju dari partikel-partikel debu.


“Aku hanya punya ini, semoga esok sore acaranya lancar dan ku harap baik-baik saja !!,” ujarnya berharap.


Usai menyiapkan baju untuk acara esok, terdengar suara ketukan pintu kamar yang terkesan kasar sampai daun pintu itu ingin melepaskan diri.


“Heh !!! Buatin gue makanan !!,” serunya dari ambang pintu. Suara itu disusul seperti tendangan kaki ke pintu, amat brutal sekali.


Dia mendongak pada arah jam, sudah pukul 12 malam sang adik baru pulang. Kebiasaan yang tidak bisa ia ikut campurkan bahkan kedua orang tua dirumah tidak ada.


“Iya tunggu sebentar dek,” jawabnya mendekati area pintu lalu membukanya perlahan.


“Jangan !!,”


BRUSHHHH !!!!!


Ditengah malam itu, seluruh badannya basah tersiram satu ember air dingin. Sebagai seorang kakak, mungkin itu hal yang lumrah si adik ingin bermain dengannya. Zhafira Hana, panggil saja dia Fira statusnya sebagai adik perempuan bukan kandung terus jahil.


Terkekeh puas, “rasain !! Emangnya enak,” dia melempar ember itu didepannya tanpa rasa bersalah dia pergi sambil menyesap cemilan mungkin dari kulkas dapur.


Helaan nafas berat menemani malamnya yang sepi, dengan sabar tanpa emosi dia mengambil ember dan hendak ke kamar mandi.


“Maafkan saya tuan, sudah saya larang nona muda,” ungkap si bibi, pelayan dirumah mereka.


Dia tersenyum kecil, “sudahlah bi, ini enggak apa. Anggap saja dia sedang bermain-main bersama kakaknya. Selama ini Fira mungkin belum puas main di luar,” jelasnya terlatih sabar.


“Maaf tuan, saya ambilkan handuk ya?,” bujuknya mengikuti langkah kaki lelaki yang tubuhnya sudah basah kuyup.

__ADS_1


“Jangan, besok bibi harus bangun pagi-pagi. Bibi tidur aja duluan, habis ini aku langsung tidur kok,” ucapnya balik mencoba meyakinkan beliau.


Wanita paruh baya itu menunduk seraya mengerti dan berlalu pergi memasuki kamar tak jauh dari kamarnya. Selesai membereskan diri, kini ia merebahkan diri di atas kasur sederhana. Hari semakin larut, tapi angannya belum sirna, sorot mata coklat itu terus menatap langit-langit kamar. Benaknya seakan ramai oleh rencana-rencana kecil sampai besar.


“Ku harap, ayah dan ibu tidak sedih disana karena aku menjalaninya baik-baik saja. Mereka hanya memintaku terus perhatian padahal enggak minta juga aku akan selalu menuruti kemauan mereka disini,” gumamnya disusul kelopak mata itu perlahan tertutup.


“Bagaimana dia terlihat baik-baik saja? Kalau setiap hari mereka selalu menyiksanya !,” ujar seorang wanita.


“Setiap jalan kehidupan selalu ada sisi kelam, tergantung dia menyingkapi nya seperti apa? Anak itu sifatnya berbeda dari karakter biasanya, lelaki tapi melankolis mungkin emosi didalam jiwanya akan tidak stabil kalau terus ia pendam,” jawabnya balik.


“Mirip kisah ibu tiri yang kejam kan,bunda?,” ocehnya melirik pada dua wanita cantik disebelahnya.


...****************...


Tidak terasa waktu berlalu dari pagi sudah menjelang siang, aktivitas nya ia selesaikan tanpa komplain keras dari ibu juga adiknya. Ia makan di dapur ketika keluarga besarnya makan di ruang makan dengan menu lengkap tersaji di atas meja. Tak ada kata mengeluh, sebagai kodrat laki-laki pantang untuknya mengeluh. Hatinya sudah kokoh juga kebal, tak masalah makan beralas karpet yang penting perut terisi.


“Serius kamu?,” tanya sang ibu menghentikan suapannya.


Ibunya tersenyum angkuh, “baguslah. Ibu dukung kamu !,” ucapnya.


Sang kepala keluarga tengah mengunyah seraya matanya bergantian melirik pada anak kandungnya juga istrinya. “Kalian makanlah !!,” imbuhnya tegas.


Sekejap perintah itu menyindir keduanya, suasana makan siang itu berubah menjadi nyenyat.


“Tuan muda beneran mau ke acara reunian?,” tanya si bibi.


“Iya bi, bentar aja kok habis itu aku pulang cepat. Soalnya guru sekolah bilang wajib,” balasnya sedang mencuci piring bekas ia makan tadi.


“Perasaan bibi enggak enak tuan, lebih baik tuan dirumah aja. Nona muda seperti membuat rencana jahat lagi,” tutur bi Mirna padanya.

__ADS_1


Masih enggan menjawab sampai aktivitas itu selesai, “paling dia pengen main lagi bi, meskipun umur kami beda setahun tetap aja masih kekanak-kanakan,” kata lelaki itu seakan polos, murni pikiran positif tidak ada prasangka buruk.


“Tuan ih dikasih tahu tetap aja berpikir begitu, sudah tahu nona muda isengnya kebangetan,” oceh beliau mendapat senyum juga tawa manisnya.


“Ekhem, ekhem !!! Ngapain kalian? Ngosip aja kerjaan, beresin tu meja makan. Gue mau pergi, sekalian kamar gue !!,” titahnya berkacak pinggang.


Bi Mirna seakan terkejut, bagaikan terciduk di siang bolong. “Baik nona,” jawabnya menunduk.


“Dan elo, kakak tiri gue !! Setidaknya elo pergi pakai baju yang bagusan dikit deh !! Malu tahu enggak, kalau orang bicara tentang ibu atau ayah enggak ngasih duit belanja buat elo !!,” gerutunya didepan pintu dapur. “Walaupun sebenarnya nyata sih, hahaha !!,” tawanya memecah ke garingan.


“Terus ada lagi?,” celetuk kakaknya.


“Oh, ini baju buat elo ! Pakai itu ke acara nanti, jangan pakai baju yang sudah layak di buang ke tempat sampah !!,” ujarnya melempar paper bag hitam berukuran besar.


Bibi yang masih ditempat menjadi binggung, tidak biasanya nona muda nya bersikap baik apalagi membelikan baju baru untuk kakaknya. Dia menyambut tas itu serta sedikit mengintip.


“Hitung-hitung itu gue kasih karena uang jajan elo, gue ambil. Sudah ah, malas banget natap wajah kalian, buang-buang energi !,” singgung Fira kemudian pergi dengan gaya jalan bak model berlenggak-lenggok didepan juri.


“Makasih dek !!,” soraknya. Baginya itu adalah hadiah pertama semasa mereka hidup bareng dalam satu atap. Tak kuasa senyum itu tertahan dan akhirnya terpancar juga.


“Enggak biasanya nona muda baik? Pasti ada sesuatu !!,” kata bi Mirna.


“Sesuatu apa bi?,” tanyanya memastikan.


“Sesuatu yang tidak biasa, bibi rasa tuan muda jangan pergi. Mereka, terutama nona Fira pasti berulah lagi, apalagi acara itu lokasinya hampir mendekati hutan,”


“Hutan kota bi, ya sudah aku beresin meja makan dulu. Bibi makanlah, setelah ini aku bersiap-siap,” ujarnya melaksanakan tugas.


“Aku yakin, dia jelmaan anak tiri tapi versi laki-laki,”

__ADS_1


“Hush ! Jaga mulut kamu,” bantah seorang wanita. “Kita lihat saja nanti, dia pergi atau tidak tapi kalau sudah di hadiahkan baju baru dan merasa tak enak. Aku merasa dia akan pergi ke acara itu,” timpalnya lagi.


__ADS_2