
“Dengar-dengar elo punya kakak ya?,” tanya teman sebangkunya.
Perempuan itu melirik ke arah suara, netra nya mulai menajam. “Kenapa emangnya?,”
“Iya enggak, gue cuma mau pastiin gosip yang beredar selama ospek kemarin,” sangkalnya. “Yang gue dengar, elo punya kakak tiri laki-laki katanya dia kakak kelas kita, begitu kan?,”
Fira tidak menggubris pertanyaan itu, hampir seharian disekolah isu simpang siur dengan cepat beredar. Sebenarnya, dia tidak ingin mengakui lelaki berkacamata itu kakaknya. Dia hanya ingin orang-orang berhenti bertanya tentang silsilah keluarga kecilnya.
“Kasihan banget dia punya ibu dan bapak tiri, pasti harta warisannya sudah habis di atas nama kan mereka. Gue jamin, hidupnya kelak pasti melarat,”
Hanif sedikit menoleh pada teman-teman dikelasnya. Telinganya melebar, walaupun sedang berbisik ia mendengar itu secara jelas.
“Gue dengar ade tirinya sekolah disini. Bagai langit dan bumi, ade nya seperti bidadari bro. Postur tubuhnya enggak nanggung - nanggung, mantap abis !!,” oceh mereka sambil tertawa ngakak.
Pembicaraan mereka dari hal dasar sampai ke bagian akar-akarnya, sesuatu yang tak pantas dibahas mereka bahas mengundang kaum hawa lainnya jadi geli. Secara tak langsung omongan teman kelasnya mengarah ke hal yang senonoh, Hanif jadi tak kuasa menahan kesabaran nya.
“Bisakah kalian diam? Tidak pantas anak remaja seperti kita membicarakan sesuatu yang di atas umur 18 tahun,” kata Hanif berada di dekat mereka.
Para lelaki itu berdiri dari tempat duduk seakan ingin menindas nya yang terlihat lugu, “kenapa? bukannya elo ngebantah kalau dia bukan ade lo? Kenapa jadi ngebelain orang, elo enggak sayang nyawa?,”
“Bukan begitu, kita belum cukup umur,”
Serasa langkah kaki mereka terus maju, kaki Hanif otomatis melangkah mundur, tatapannya merunduk, bukan tidak berani tetapi dia tak mau masalah itu semakin panjang. Harus ada yang mengalah.
“Gue heran, kenapa guru-guru di sekolah ini pada lindungi elo? Elo hidup mengandalkan otak sedangkan kami hidup mengandalkan uang, jaman sekarang semua bisa dibeli pakai uang,” jelasnya menyombongkan diri.
“Betul ! Sebodoh-bodohnya kami, masa depan sudah jelas. Usaha orang tua jatuh ke tangan kami sedangkan elo? Ngemis kesana kemari minta beasiswa dari sekolah? Muak gue, sama orang pintar tapi belagu kek elo !!,” salah satu menimpali.
__ADS_1
“Sekarang gini aja deh, elo pindah sekolah ditempat yang setara dengan elo. Males gue, tiap hari mata gue di nodai. Ngelihat elo di bully habis-habisan sama Danil dan Adam. Buruan pindah, beasiswa elo di cairkan aja,” jelasnya memelas. “Sudahlah, gue malas ! Intinya kita sudah tahu. Kalau Fira Ade tiri dari Hanif Mahardika,” ungkapnya mencebikkan bibirnya lalu pergi keluar kelas.
Lagi-lagi senyum Hanif mengembang lebar, entah kenapa dia merasakan kalau perkataan itu ada bagian positifnya, “terima kasih,” cecar Hanif menaikan pandangan itu dengan tegap berani.
“HAHHH !!!,” keduanya kompak kaget.
“Terima kasih, kalian begitu peduli padaku. Aku yakin, setiap manusia memiliki hati nuraninya sendiri-sendiri. Hari ini aku sudah melihat itu pada kalian, sejahat-jahatnya kalian padaku, pasti kalian memiliki sisi baiknya,” tutur Hanif.
Bagi Bombom dan Bimo senyum yang terlukis di bibir Hanif begitu aneh, terlihat menakutkan dan terkesan jengkel. Dia berdecih didepan Hanif yang tersenyum lebar, “senyum palsu !!,” cela nya meninggalkan ruang kelas.
...****************...
Adam berlarian menyusuri lorong kelas sampai dia harus memeriksa kelasnya berulang kali, memasuki ruang keramat yaitu ruang guru dimana guru BK menatapnya, ruang UKS, kantin sampai atap sekolah masih tidak ketemu. Tujuan terakhir adalah perpustakaan sekolah.
Akhirnya yang dicari telah hadir menampakkan dirinya, Adam segera mendekat lelaki yang tengah duduk sendirian sedang membaca buku. Dia menarik kursi di sisi Hanif seraya mengatur nafas nya.
“Ada apa?,”
“Elo di cari pak Marius, dia nunggu elo di ruang Lab. IPA,” jelas Adam.
“Kenapa enggak di umumkan aja di ruang penyiar biar kamu enggak capek lari-larian,” kata Hanif belum beranjak.
“Elo enggak tahu ya, sistemnya rusak. Buruan, enggak ada waktu lagi. Gue mau istirahat,” gumam Adam lemas, dia membaringkan sudut wajahnya di atas meja panjang. Tak ada kata-kata selanjutnya, Hanif merasa kasihan padanya.
“Terima kasih, kamu sudah berusaha. Aku akan ke sana,” ujar nya menutup buku kemudian pergi meninggalkan titik bayang hitam.
Baru kali itu, Adam menemukan lelaki aneh dan masih bisa berpikir baik tentang mereka. Tak ada dendam, tak ada kebencian yang ada rasa percaya kalau dirinya sedang dikelilingi orang yang peduli padanya. Tingkahnya membuat Adam geleng-geleng kepala, kalau begitu terus tak akan habisnya mereka menyiksa Hanif.
__ADS_1
“Tobat gue !!,” keluh nya.
Perjalanan Hanif hampir sampai ke ruang laboratorium IPA yang terkenal sepi bak di film horor, tulang kerangka manusia, berbagai macam contoh bagian tubuh tersedia disana, semakin menambah keseraman tempat tersebut.
“Mana pak Marius nya? kok enggak ada? Apa beliau sudah pergi karena aku kelamaan?,” ucap Hanif mencari keberadaan gurunya. Sayangnya ruangan itu kosong meskipun di pandang dari depan pintu.
BRUKKKK !!! BRAKKKK !!!
Pintu laboratorium terkunci dari luar, ia mulanya kaget hingga mencoba berteriak pada orang yang sudah iseng padanya. Hanif menggedor pintu besar tersebut namun tak membuahkan hasil.
Dari arah depan, Adam juga Dilan saling jontos karena aksinya lagi-lagi berhasil tanpa kendala. Kunci ruangan laboratorium di buangnya ke tempat sampah, lalu berlenggang pergi membiarkan Hanif berkoar hingga esok hari.
“Biarin aja sampai besok didalam gelap-gelap enggak makan !!,” celoteh Dilan.
“Siapa lagi yang iseng?,” keluh Hanif. Keributan nya sudah mereda. Suasana remangnya ruangan itu sudah sirna, tirai jendela yang tertutup rapat sudah dibuka Hanif berharap seseorang dari bawah melihatnya sedang melambai.
...****************...
Keesokan harinya, Adam dan Dilan dikenai hukuman bukan lari lapangan atau membersihkan toilet sekolah melainkan di skorsing selama sehari penuh. Dilan di marahi orang tuanya sedangkan Adam tak berani pulang ke rumah karena kedua orang tuanya lebih kejam dari orang tua Dilan dan Hanif.
Untung satpam sekolah tak sengaja membuka ruangan lab. tersebut pada sore hari, dia melihat Hanif sedang merapikan tempat tersebut bahkan kerangka manusia yang terlepas dia pasangkan kembali. Sampailah cerita si satpam ke telinga para dewan guru, sejak pagi kedua pelaku di panggil dan dipulangkan.
Dilan juga Adam semakin menaruh dendam pada Hanif, padahal dialah yang meringankan hukuman mereka yang tadinya seminggu berubah hanya sehari.
“Awas aja elo, selamanya gue siksa hidup elo !!,” ucap Adam memelankan suaranya. Hanya bibir seakan bergetar tapi tidak berbunyi.
“Ini semua karena anak itu, gue enggak pulang dan malah nginap dirumah Dilan. Ya sama aja, bentar lagi bokap gue datang ngejemput !!,” ringisnya kesal.
__ADS_1