
Dibalik kamar besar itu, ada seorang gadis sedang melekatkan telinganya. Ia mencoba mengguping pembicaraan di luar sana, tentang harta meskipun dia tak tahu pada siapa sang ibu mengobrol.
“Ternyata selama ini, ibu itu tidak kaya, melainkan Hanif,” gumamnya. “Hartanya ternyata benar-benar banyak. Kalau saja aku bisa mengambil semua itu, aku pasti bisa beli mobil baru, rumah mewah, villa, jalan-jalan terus belanja sepuasnya kalau bisa mall nya aku beli,” ucap Fira gembira. Sangat bahagia sampai otaknya penuh dengan lembaran uang. “Tapi bagaimana cara menyingkirkan benalu itu biar dia percaya kalau Hanif tidak ada?,” kata Fira tertengun memikirkan upaya menjauhkan kakak tirinya.
Tubuh Fira bolak-balik di samping tempat tidur, ia mengigit bibirnya sambil berpikir keras hal apa yang mesti di lakukan. Mendapat ide tapi di pikir hingga akar, mengganggap itu kurang tepat dan pada akhirnya rencana tak berujung sampai menghabiskan puluhan menit.
“Aku bantu ya?,” tawar Jovi dari belakang Hanif.
“Enggak usah, kalau kamu bantuin aku. Aku ngapain? Kalau ibu lihat aku santai-santai cepat dia bakal curiga,” jawab Hanif meletakkan pot bunga di teras rumahnya.
“Ya enggak apa kan, kamu bisa istirahat,” kilahnya spontan. “Kalau begini, aku seperti tidak berguna buatmu. Dari tadi di larang ngapa-ngapain, padahal sekali tringg aja kok,” jelasnya meyakinkan Hanif.
“Kalau yang lain lihat bagaimana?,” tanyanya balik, masih sibuk sama pot-pot bunga di halaman rumah.
“Enggak ada, disini sepi. Satpam kamu aja enggak lihat kok,” ucapnya berusaha keras membujuk Hanif untuk membantu dirinya.
“Ehhh elo !!!! Buruan selesaikan itu, bersihin kamar gue, baju gue numpuk !!,” titah Fira berkacak pinggang.
Laki-laki itu menoleh, “tapi tadi sudah di cuci sama di rapikan bi Mirna,” kata Hanif.
“Gue berantakin lagi, buruan sana !!! Jangan suruh bi Mirna, gue nyuruh elo,” ucap Fira menunjuk sinis. Tatapan nya begitu intens dan terkesan melotot. “Gue tunggu, jangan malas-malasan. Kerjaan lo banyak !,” cecar gadis itu angkuh.
Sang adik pun pergi dari pandangan Hanif, sedangkan sang kakak membereskan pekerjaan nya terlebih dulu baru beranjak ke kamar Zhafira Hana, adik tiri yang di bawa oleh ayahnya ke rumah itu.
Hubungan mereka sedari kecil memang tidak akrab layaknya adik kakak biasa, sebagai kakak lebih setahun ia mengalah bahkan selalu di salahkan dan dipukuli ibunya walaupun Hanif tidak tahu-menahu permasalahan yang di alami adiknya. Asal ada bekas luka atau merengek-rengek, Hanif adalah sumber biang keladi nya.
“Aku bantu ya?,” kata Jovi.
“Baiklah, dari tadi kamu bersikeras mau ngebantu aku,” ucap Hanif tersenyum ramah. “Kerjakan sisanya tapi jangan sampai ketahuan satpam, Bu Mirna atau itu,” mengalihkan wajah dan menunjuk benda di atasnya. Benda canggih seperti kamera alias cctv.
__ADS_1
“Itu apa?,” tanya Jovi tidak tahu.
“Aku kira kamu tahu, itu cctv. Semua gerak-gerik kita terekam di sana. Meskipun kamu tidak terlihat tapi benda-benda yang kamu sentuh terekam jelas terus menimbulkan pikiran aneh buat mereka,” jawab nya menjelaskan dan berharap makhluk bernama bidadari itu paham.
“Benar-benar terekam ya?,” tanyanya balik. “Ya sudah deh kameranya aku rusakin dulu,” jari telunjuk milik Jovi mulai melayang-layang.
“Ehh jangan !!,” serunya lalu memelankan suara. “Jangan, nanti ibu marah,” tegurnya menghentikan Jovi sebelum bertindak.
Menatap polos, “lah kenapa? Kan nanti aku bisa perbaiki lagi kalau kerjaan ku sudah beres,” cicitnya binggung.
“Eh benar juga, ya sudah kamu lanjutkan. Ingat sebelum bertindak pastikan dulu disekitar kamu enggak ada cctv dan orang, oke,” Hanif membuat bulatan kecil dari jarinya sambil mengulas senyum tulus.
Begitu lucunya tingkah Jovi membuat Hanif gemas, ia memberi tanda hormat pada pemiliknya dan tak lupa senyuman khas milik bidadari yang bisa saja meluluhlantahkan hati melihatnya.
“Oke !!,” serunya.
...****************...
Pintu kamar Fira terbuka lebar, bak kapal pecah di terjang ombak. Isi kamar itu sangat-sangat berantakan, bisa di bilang lebih parah. Baju berserakan kemana-mana, seprai, selimut, gorden jendela, rak buku pokoknya semua benda menyangkut kamar milik adiknya berada tidak pada tempatnya.
Dengan sabar ia membereskan kamar Fira, baju-baju yang sengaja ia kotori di cuci Hanif hingga lelahnya mulai terasa. Jovi tak terlihat, biasanya dia mengekor kemana saja Hanif pergi kecuali ke toilet.
“Ya ampunn !!!!,” pekik ibu nya dari batas pintu. “Kamar apa kapal pecah ??,” sambungnya melipat kedua tangannya di depan dada.
“Sebentar lagi beres kok Bu,” sela Hanif di tengah kesibukannya.
“Ya dong, masa gitu aja enggak bisa di beresin, kerjakan yang betul !!,” titahnya kasar lalu pergi.
Beberapa jam kemudian, Hanif sudah menyelesaikan tugas nya secara tuntas. Kamar itu sudah kinclong, bersih juga rapi semua benda berada di tempat semestinya. Sebutir debu pun tak ada terselip meskipun di bawah kolong kasur.
__ADS_1
Ia memandang puas jerih payahnya, sang adik sudah merebahkan diri di atas kasur dan dia lanjut menjemur pakaian yang ia cuci tadi.
“Lumayan, hitung-hitung nanti enggak perlu bersih-bersih lagi kan. Kasihan bi Mirna, entar pinggang nya kambuh,” celetuk Hanif hasil pikirannya di depan jemuran.
Tidak lama, aksi jemur menjemur pun usai. Kini dia bisa bernafas lega sebentar di bawah angin sepoi-sepoi belakang rumah.
“Hanif, ini gawat !!,” ucap Jovi mengangetkan nya.
“Apa?,” gumamnya santai.
Jovi memandang wajah Hanif yang sedang duduk bersila di atas bangku taman. “Sejak kepergian mu, aku mencium bau-bau kejahatan? Apa kamu di apa-apain sama Fira?,” tanya nya penasaran.
“Apanya?,” tanya balik. “Aku baik-baik aja kok, jangan negatif terus,” oceh lelaki tersebut.
Memayunkan bibir, “enggak mungkin aku salah rasa?,” gumamnya pelan.
“Tuan besar,” sapa bi Mirna buru-buru mendekati tempat ia bertengger santai. “Tuan di panggil nyonya, seperti nya ada masalah,” tutur beliau menjabarkan.
“Tuh kan, aku enggak bohong !,” sergah Jovi sangat percaya diri.
Hanif belum sempat menjawab, beliau sudah berjalan di depannya seperti sedang berlari kecil menuju garis finish. Sesampainya ia di hadapan ibu juga saudarinya, ada guratan emosi jelas bergaris tajam di pelipis mereka masing-masing.
“Mana gelang Fira? Kamu mengambilnya kan atau kamu menghilangkan gelang itu?!,” tanya ibunda duduk di atas sofa.
“Gelang apa Bu?,” sangkal lelaki itu tidak paham.
Berdecih, “jangan pura-pura enggak tahu. Kamu kan membersihkan kamar Fira enggak mungkin kamu enggak ngambil,” jelasnya.
“Benar Bu, mungkin dia lagi butuh uang kali Bu sampai-sampai nyuri barang kesayangan Fira,” rengeknya tanpa dilihat sang ibu, dia menyeringai kejam pada Hanif sendiri.
__ADS_1