Sang Pemilik Bidadari

Sang Pemilik Bidadari
SPB : Kenangan Hitam


__ADS_3

Bel masuk berbunyi, seluruh para siswa bergegas masuk ke dalam kelas masing-masing. Para guru pun telah menyiapkan diri untuk mengajar ajaran baru, memasuki semester gajil dan menerima siswa didik baru.


“Inget, elo ketemu gue harus pura-pura enggak lihat !! Jangan nodai image gue,” pesannya sebelum berangkat sekolah.


“Eh mata empat !! Bawain tas gue, berat ni !!,” titahnya menjatuhkan tas ransel di kaki Hanif.


“Tapi tangan ku sudah penuh,” jawabnya.


“Enggak mau tahu, bawain kalau enggak elo gendong gue sampai masuk ke kelas? Mau?,” ucapnya mengancam. Sudah setahun berlalu, Adam juga Dilan terus mengusik cerita remajanya yang indah.


“Ya sudah,” balas Hanif pasrah.


“Jadi cowok lemah banget sih? Disuruh makan kotora* elo mau?!,” Dilan terkekeh memandangi Adam.


Dia membopong tas tersebut, memang berat entah isinya apa Hanif tidak tahu. “Aku tidak lemah, mungkin kalian yang lemah karena membutuhkan pertolongan ku,” ucapnya terlihat santai namun menyinggung kobaran api besar bak tersiram minyak tanah lagi.


Kedua teman kelasnya itu menoleh ke belakang, dimana tubuh Hanif penuh dengan tas berat belum lagi beberapa buku yang ia bawa. Cepat juga Dilan emosi dibuatnya, segera dia tarik kerah baju putih itu secara kasar.


“Jangan mancing gue pagi-pagi ya !!,” tunjuknya.


“Ehhh, kenapa elo kebakaran jenggot sih? Udah, guru-guru entar pada lihat. Kelar hidup lo,” Adam berusaha melerai aksi sahabat nya itu sedangkan Hanif terlihat santai.


“Kesel gue !! Dia seolah hebat,” balas Dilan emosional. “Gue enggak mau tahu, bawa tas gue selama sebulan,” titahnya merapikan bajunya yang keluar dan beranjak pergi terlebih dulu.


Hanif hanya tersenyum kecil, membuat orang yang melihat penyiksaan itu jadi binggung. Mungkin mereka berpikir kalau lelaki itu tak mudah di taklukkan, dia tidak pakai emosi, dia tetap sabar menghadapi kengerian kisahnya sejak kecil.


“Ternyata disekolah ini, aku masih dibutuhkan selain para guru?,” gumamnya pelan.

__ADS_1


“Dasar orang aneh, di siksa malah senang. Kalau gue sudah gue panggil bokap nyokap gue ngelaporin mereka. Biar kapok !!,” kata siswi lain sedang berbisik-bisik tak jauh dari TKP.


“Itu elo, kalau dia kan elo tahu sendiri. Bokap nyokap nya tiri semua yang kandung sudah enggak ada,” jawabnya. “Tahu sendiri kan, elo garis bawahin aja kata tiri itu bagaimana? Jahat, kejam dan semuanya deh ! Seperti tontonan emak gue dirumah,”


“Ikan terbang kan?,” sangkalnya. “Bener tu, emak gue juga demen acara gituan. Padahal jalan ceritanya sama aja, heran gue !,” sambungnya. Dan akhirnya, kedua perempuan hobi gosip itu kena karmanya ( hahaha bercanda ).


“Simpan tas gue, cari buku tugas. Sekalian elo salin tugas-tugas elo dibuku kita berdua. Buruan sebelum guru masuk !!,” perintahnya sambil selonjoran di bangku kelas.


“Hah? tugas? tapi aku belum kerjakan,” jawabnya terkaget.


Segera dia menaruh tas Dilan juga Adam ke atas meja masing-masing dan bergegas duduk di bangku depan membuka buku tugas. Waktu yang dia habiskan dirumah sungguh tak sempat mengerjakan PR karena membantu bibinya merapikan rumah, masak dan masih banyak lagi.


Tidak terasa guru sudah sampai dalam perjalanan dan berdiri di depan kelas menagih tugas-tugas rumah mereka. Dilan dan Adam pura-pura bersembunyi di bangku paling belakang, menundukkan kepala mereka agar tak terlihat.


“Hanif, coba kamu kerjakan nomor satu. Lanjut Adam, Dilan, Mira dan Kana. Bawa buku tugas kalian ke depan sekalian ibu cek,” pintanya duduk di kursi guru.


“Enggak nyangka gue ke tipu sama wajahnya yang polos. Harus di kasih pelajaran !!!,” gerutunya meninggalkan hukuman yang masih dalam hitungan 8 putaran.


“Tungguin WOII !!,” ucap Adam nafasnya terengah-engah.


Jam istirahat sekolah sedang berlangsung, dari belakang Dilan sudah menahan didihan panas hatinya. Dia berjalan seolah terburu-buru bagaikan dikejar hewan buas. Tatapan nyalang dia torehkan pada sosok lelaki berkacamata didepannya, urat tangan mulai menampakkan diri saat kedua tangannya dia kepal kuat.


“Awas aja elo, karena elo sudah bohongin gue !!,” ucapnya pelan.


Sesampainya Dilan ke toilet pria dan melihat target sudah masuk dengan aman tidak menyadari dirinya. Sekali lagi lelaki tinggi itu memperlihatkan daerah sekitar apakah sudah aman, selang beberapa detik dia mengambil segayung air lalu memanjati dinding pembatas dan menyiram nya dari atas, tepat sasaran, Hanif jadi basah kuyup.


Batin Dilan puas terkekeh kejam, dengan kecepatan penuh dia berlari keluar toilet menuju lapangan tempat Adam masih menjalankan hukuman berjumlah 15 putaran lapangan basket.

__ADS_1


“Siapa kamu ?!!,” pekik Hanif berkoar.


Tidak ada siapapun disana hanya dia seorang diri, seragam Hanif jadi basah kuyup tak ada waktu untuk pulang mengambil seragam cadangan. Dia pun mencari cara lain, dengan menggunakan baju olahraga yang dia siapkan didalam loker kelas.


“Idih kenapa elo? Toilet runtuh, hahaha,” Dilan tertawa disusul sahabat karibnya Adam. Mereka diam-diam sudah masuk kelas sebelum si target muncul.


Tak ada sahutan dari Hanif, dia mendekati loker dan meraih stelan baju olahraga. Dia bungkam karena sedang berpikir, salah apa dia hari ini sampai ada orang tega menyakitinya.


“Minta uang dong, gue lupa minta jajan sama bokap gue. Bokap elo kan kaya melintir ya meskipun sudah enggak ada setidaknya harta warisan tetap ditangan elo,” ujarnya.


“Bukannya ayah mu juga banyak uang?,” sela lelaki itu. Rambutnya basah, hanya ssbagian wajah yang kering.


“Bokap gue sibuk, duit elo ada enggak? Laper ni, yaelah masa enggak punya !!,” sambungnya sewot.


“Buruan, sebelum jam istirahat habis. Elo enggak kasihan kami sudah lari-larian di lapangan enggak minum apalagi makan,” sahut Adam menimpali perkataan temannya.


Hanif merogoh saku celananya, seingat dia ada uang 50 ribu pemberian bi Mirna untuk jajannya ke depan karena uang jajan Hanif tidak pernah ada dan orang tua tirinya berdalil untuk kebutuhan sekolah sang adik. Mau tak mau sebagai kakak, dia pun mengalah.


“Ini uang ku, pakailah. Seperti nya kalian lebih membutuhkan dari pada aku,” imbuhnya memberikan selembar uang berwarna biru lalu berjalan mencari toilet pria.


“Mantap, lumayan buat nambah-nambah,” kata Dilan mengibaskan uang itu ke jidat temannya.


“Elo jatuh miskin, sampai minta-minta ke dia yang jelas-jelas sebelas dua belas sama anak pengganguran !,” kilah Adam binggung.


Melotot tajam setajam pedang samurai, “otak elo tu di pakai !! Duit gue banyak, tenang aja elo takut banget gue miskin ! Gue cuma ngasih pelajaran aja ke dia,” kata Dilan terkesan jengkel. “Sudahlah, kita makan. Bayar sendiri-sendiri ! Duit elo juga banyak, mana gue mau temanan sama orang yang enggak sama kek gue,” ucapnya ketus.


“Mulai deh sombongnya, iya iya !!,” ungkap Adam pasrah.

__ADS_1


__ADS_2