
Hutan Kota biasanya digunakan untuk para penduduk setempat berwisata atau tempat rekreasi mereka kala bosan pada ruang lingkup penuh polusi. Hijaunya dedaunan serta rumput, oksigennya begitu segar saat memasuki rongga hidung semakin menyehatkan paru-paru.
Tak heran, tempatnya memang lumayan jauh dari pusat kota. Sebuah hutan yang di lindungi pemerintah setempat mampu di sulap menjadi pusat rekreasi alam yang cukup menakjubkan.
Namun, hutan tetaplah hutan. Ada bagian yang sudah di jamah dan ditelusuri oleh pihak terkait jika ada yang berbahaya maka dibuatkan lah garis pembatas antar hutan ke hutan lainnya. Tak ada ujung bukan berarti aman dari marabahaya, kini Hanif menikmati sisa waktu malamnya di hutan belantara.
Rasa takut tidaklah ada hanya ada rasa lapar, haus dan mengantuk. Tidak ada air didekatnya, ia terus memberanikan diri berjalan ke depan mencari genangan air hujan kalau bisa dia menemukan sungai agar dahaganya sirna.
“Ternyata aku berjalan tidak melihat arah dan akhirnya tersesat juga,” keluh lelaki itu. Ia membuang rambut palsu panjangnya dan membuka baju yang berlapis-lapis.
Selanjutnya, langkah tak akan berhenti, penerang malamnya terus menemani. Hanif tidak tahu langkah yang ia ambil benar atau salah semua terasa seperti sama. Usai berusaha semampu nya, Hanif menghempaskan diri di permukaan tanah.
“Ya sudah, aku nginap disini saja,” imbuhnya menyerah. “Setidaknya kalau ada korek api, aku bisa membuat api biar nyamuk-nyamuk pergi,” gumam Hanif sendirian. Tangannya masih bekerja memilah ranting kayu kering.
TEKKK !!!!
Dia mendengar jelas ada benda kecil jatuh didekatnya, segera sorot lampu senter mencari asal suara tersebut. Bolak-balik mencari sesosok pembuat suara tapi hasilnya tak ada. Ia pun menghela nafas, “permisi, mohon ijin saya disini numpang nginap karena tersesat,” pekik nya.
Batang pohon,daunnya hingga semak-semak belukar dia senter tanpa merasa ketakutan. Kemudian ia menurunkan cahaya itu, tepat di ujung sepatunya ia menemukan sebuah korek api yang datangnya entah dari mana.
Hanif mengambil benda tersebut, sedikit binggung. Sebuah korek mendapat pelototan tajam darinya, “sejak kapan?,” tanyanya penasaran. “Ya sudahlah, mungkin aku sedang beruntung,” selanya.
__ADS_1
Percikan korek berhasil membuat kobaran api cukup besar, akhirnya dia bisa menghangatkan diri. Wajahnya sudah sedikit bersih dari riasan tebal. Saatnya dia merebahkan kepala di atas batang pohon tumbang, malam itu langit terasa luas ia pandang. Bintang-bintang lebih banyak dari biasanya bahkan bulan terlihat dekat dari tempatnya. Hanif tersenyum syukur bisa menyaksikan keindahan alam secara langsung, lama sudah ia tak melihat benda-benda langit di atas.
“Dari kejadian ini ambil positifnya aja, aku sekarang bisa melihat langit membentang luas?,” tegurnya tersenyum sendiri.
Lama ia memandangi hitamnya langit, seperti sedang memanjatkan doa pada Maha Kuasa, seperti meminta sesuatu yang tidak bisa ia kejar seorang diri tanpa bantuan orang lain. Sanubarinya terus berucap kecil, ada banyak harapan besar didalamnya namun sayang belum bisa di raih.
Disela lamunan, suara perut mengganggu nya. Dia belum makan sejak tadi, lapar tapi tak ada makanan bahkan buah saja tidak ada bergantung di pohonnya.
“Kenapa hutan ini enggak ada pisang? setidaknya ada buah-buahan sudah cukup mengganjal perutku,” lirih Hanif melihat perut kempesnya sendiri. “Aku terlalu lelah berjalan, enggak ada air disini?,” timpalnya berkomentar.
TEKKKK !!!!
Suara yang sama berbunyi lagi, ketika di cari tak ada wujudnya. Hanif sempat kaget dan merasa ada orang yang mengikuti nya. Celingak-celinguk mencari keberadaan orang tersebut tetap hasilnya sama seperti sebelumnya.
Kembali ke posisi semula, dia duduk beralaskan dedaunan lebar. Betapa terkejutnya dia, ada pisang kuning dengan bentuk yang gendut terlihat menggoda dan anehnya ada gelas ikut bertengger berisikan air?
“Gelas?,” gumamnya menatap curiga. Ia berpikir pasti ada orang lain selain dirinya di tempat itu. “Masa sih?,” tambah Hanif kurang percaya sama firasat sendiri. Dia lantas membuyarkan pikiran anehnya dan segera mencicipi pisang tersebut.
Gigitan pertama sampai terakhir sungguh rasa pisang benaran dan air yang di teguk terasa seperti air mineral biasanya. Hanya saja menempatkan gelas yang mendadak tak bisa di pikir menggunakan logika nya.
Hanif sudah merasa kekenyangan, sekarang ia bisa beristirahat dengan perut terisi di temani merahnya api mengusir kegelapan sekaligus nyamuk-nyamuk nakal. Bola matanya yang coklat kini terpejam perlahan-lahan setelah kacamata terlepas, tak lama ia memasuki alam mimpinya.
__ADS_1
...****************...
“AGHHHH !!!,”
Mimpi buruk mengusiknya, Hanif telah terbangun di pertengahan malam. Ia lihat jam tangan yang melekat di lengan telah menunjukkan pukul 12 malam tepat. Api unggun yang dibuatnya masih berkobar menghangatkan suasana malamnya.
“Hem,” ia menghela nafas terkesan kasar. “Semoga bibi tidak menunggu ku dirumah, entah besok aku bisa pulang atau enggak,” imbuhnya kurang yakin.
Semilir angin mulai menusuk kulit Hanif dan menembus hampir membuatnya menggigil kedinginan. Sewaktu sekolah dulu, ada dua cara sedikit mengurangi suhu dingin mengusap kedua tangan atau telapak tangan didekat di api selanjutnya memeluk diri sendiri.
“Lumayan dingin, jas ku masih di ruang hias. Hanya baju kaos begini saja sudah tembus,” ujar Hanif seraya mendekat kan diri ke api, ranting-ranting nya ia tambahkan. Semakin banyak, mungkin api tidak akan padam dengan cepat.
Dentingan ponsel mendadak memecahkan keheningan hutan, tangannya masuk kedalam saku celana. “Halo bi?,”
“Syukurlah sudah bisa tersambung, Tuan muda enggak pulang? Tuan muda baik-baik saja kan?,” tanyanya panik. “Nona Fira juga belum pulang tapi tadi sempat pulang sebentar terus kembali, tuan dimana?,”
“Di hutan, bibi tenang aja besok aku akan pulang. Jangan khawatir dan tidurlah, aku baik-baik saja ,” jawab Hanif santai tak ada beban.
“Hutan? Kok di hutan? Tuan muda baik-baik aja kan? Besok Tuan harus pulang, ingatkan besok hari apa?,”
Hanif mengangguk tersenyum, “tiap tahun bibi selalu mengingat aku bagaimana bisa aku lupa,bi. Ya sudah, bibi tidurlah aku mau tidur dulu. Selamat malam bi,” Hanif mematikan telepon nya. Ponsel biasa tak secanggih milik adiknya mampu menangkap sinyal ditengah hutan memang keajaiban aneh.
__ADS_1
Dan hal paling aneh terjadi lagi, tanpa kesadaran penuh tubuh lelaki itu sudah di baluti jaket tebal lebih tebal dari selimut di kamarnya. Ditambah, selimut bermotif daun menutupi punggungnya yang entah kapan dan siapa yang melakukan itu.
“A-apa ini? Se-sejak kapan?,” gumam nya terbata-bata. Serpihan ingatan beberapa yang lalu terkumpul, “dari ucapan meminta air dan pisang, berdoa agar bibi dirumah tidak khawatir mendadak bisa menelepon beliau padahal sedari tadi ponsel itu tidak ada sinyal. Hal baru terjadi lagi saat ucapan dingin malah diberikan selimut dan jaket? ” batinnya berucap.