
“Tepuk tangan untuk alumni terbaik kita,” seru guru membawa puncak acara reunian di sekolah menengah kejuruan. “Ini dia, Hanif Mahardika, siswa prestasi dan patut di banggakan, tepuk tangan semuanya !!,” titah beliau.
Sorak-sorai puncak acara malam itu terasa sekali, tepukan tangan untuk lelaki berkacamata yang sedang menaiki mimbar dan hendak berpidato singkat. Tak henti-hentinya, para hadirin berseru berteriak namanya sampai ia tak bisa lagi berucap apapun.
“Huhhh !!! Buruan, kami bosan !,” pekik orang entah siapa.
Mendengar itu, ia jadi mengerti kalau mereka ingin segera ke acara hiburan. Langsung saja dia mengulurkan tangannya, mencium satu persatu guru yang selama ini mengajarkannya banyak hal. Rasa haru menjalar ke seluruh tubuh nya, tropi kemenangan dia genggam erat.
“Kakak elo tu,” senggol nya iseng.
“Ogah banget !!,” Fira mengelak.
“Dan untuk siswa paling populer kategori perempuan, jatuh kepada Zhafira Hana !!,” ucap guru di atas panggung. “Untuk Fira silahkan naik, bapak ada kenang-kenangan buat kamu,” suruh beliau mengundang godaan dari para siswa alumni lainnya. Kebetulan guru tersebut juga masih muda dan dilihat keduanya selalu di cocok-cocokkan oleh para teman sekolahnya.
“Selamat ya dek !!,” ungkap kakaknya.
Fira membalas dengan wajah yang berpaling, tangan terulur tulus tak dia balas. Tetapi, dia turut merasa bahagia karena adiknya benar-benar berprestasi dalam bidangnya sendiri. Kini waktunya ia pulang ke rumah sebelum acara hiburan dibuka.
“Mumpung belum malam, aku mau pulang aja. Mau kasih lihat bibi, aku pulang membawa piala,” kata Hanif kegirangan.
“Ets !! Mau kemana, kan acara belum selesai,” cegah dua orang lelaki.
“Mau pulang, aku ada urusan,” jawabnya singkat.
“Idih, orang sibuk banget sekarang ngalahin kita !,” singgungnya tersenyum lebar. “Buruan ikut kita aja duduk, elo masa enggak mau lihat ade elo di atas panggung !!,” kilahnya menarik lengan lelaki itu sampai ke tempat duduk.
“Diam aja, gue sama Dilan enggak aneh-aneh. Takut banget,” Adam terkekeh memandangi Dilan, keduanya duduk mengapit posisi Hanif yang berada ditengah. Ia tak berkutik untuk bergerak.
“Untuk malam ini, gue mau ucap terimakasih buat teman-teman, guru-guru, orang tua gue bahkan untuk kakak gue. Dia hebat banget, mendapat piala setiap tahunnya mungkin, bahkan dikamar itu pialanya sudah numpuk,” oceh Fira berada di atas panggung.
“Wow, keren banget Fira. Cocok jadi artis,” gumam sahabat nya.
__ADS_1
Hal yang langka malam itu, tidak ada badai juga hujan Fira mengungkapkan identitas kakaknya secara gamblang ke semua orang. Hanif jadi membeku ditempat, sorot matanya tak berkedip menyaksikan adiknya didepan sana.
“Aku tidak tahu, kalau dia bangga memiliki aku sebagai kakaknya?,” gumamnya tidak percaya.
“Ahh, sudahlah jangan terharu begitu. Nasib baik kami menghentikan elo pulang kalau enggak mana mungkin elo dengar hal terlangka didunia,” imbuh Dilan merangkul lehernya tetapi pandangan Hanif masih terpaku.
“Untuk acara hiburan nanti, gue mau kakak gue jadi hantunya. Kebetulan kita mengadakan acara uji nyala untuk spot-spot nya sudah di sediakan panitia, petunjuk jalan sudah ada, enggak mungkin kalian tersesat,” ucap Fira. “Gimana, mau kan kak ?!,” tanya nya mengundang seluruh orang berucap sama membujuk Hanif ikut bermain.
“Oke !!,” jawabnya tidak pakai lama. Sorak ramai bergema seakan seluruh dari mereka menunggu jawabannya.
“Yes !! Baiklah, untuk malam ini yang mau ikutan silahkan berdiri di sebelah kanan saya. Ambil nomor yang sudah di acak dan cocokkan. Untuk peran hantu selain kakak gue, kalian ke belakang ganti kostum dan persiapan,” jelasnya sejelas-jelasnya.
Saat itu, Hanif tengah bersiap diri memakai kostum perempuan berbaju putih dan berambut panjang tak lupa hiasan wajah dibuat sedemikian rupa agar mirip aslinya.
“Kacamatanya bisa dilepas enggak?,”
“Maaf, kalau dilepas saya enggak bisa ngelihat. Tolong biarkan saya pakai kacamata aja,” sergahnya memohon pada tukang rias.
“Gila bener deh akting elo patut di acungi jempol tangan plus kaki !!,” ucap sahabat Fira seraya mengajukan kedua jempol tangannya.
Dia berdecih, “mau enggak mau gue ngucapin kalimat gila itu kalau enggak mana dia mau,”
“Ya udah lah, yang penting sekarang rencana kita semua berhasil. Tinggal sisanya kita serahkan sama Dilan juga Adam,” sangkal temannya lagi.
...****************...
“Tuan muda katanya mau pulang awal, kok enggak pulang-pulang,” ungkap bi Mirna mulai merasa gelisah didalam kamar.
“Hanif, elo ke sana. Kami ke sana, bentar lagi di mulai !,” ucap Dilan memerintah. Kostum yang di kenakan lelaki tinggi itu raja vampir, sedangkan untuk Adam sendiri dia menggunakan kostum mumi yang mana sebagian tubuhnya tergulung tisu toilet.
“Em !,” jawabnya mengiyakan dan pergi ke tempat lain mencari persembunyian.
__ADS_1
Dilan dan Adam berlari menjauhi lelaki itu, sebenarnya arah yang ditunjuk Dilan adalah daerah luar kawasan hutan kota. Mereka saling bertepuk tangan tanda kemenangan sudah didepan mata. Senyum angkuh juga sinis melekat di wajah keduanya.
“Mantap, HUHHH !!!,” pekiknya bersorak.
“Udah ah, kita kembali aja !!,” perintah Adam.
Sementara itu, disisi Hanif dia berjalan tanpa arah. Hutan terasa begitu dalam ia masuki, semakin sepi dan mulai terdengar suara hewan serangga malam. Tak ada cahaya rembulan hanya ada cahaya senternya yang redup.
“Gimana? sudah kelar enggak?,” tanya Fira kedapatan melihat Dilan CS keluar dari hutan kota.
Nafasnya tak beraturan karena lari sekencang-kencangnya, “sudah, dia sudah masuk ke dalam hutan. Buruan kita pulang, suruh anak-anak pergi, kita lanjut acaranya di tempat lain aja,” jelasnya. Keringat malam yang mengucur, seakan ia tepis.
“Oke, kerja bagus. Para guru juga sudah pergi,” Fira berucap.
Beberapa menit berdiam ditempat yang aman, Hanif benar-benar merasakan sesuatu yang aneh, bukan tentang hantu tapi terang sunyi nya tempat itu.
“Mana ya, kok enggak ada yang lewat?,” gumamnya melirik kesana-kemari dari balik semak. “Apa aku terlalu jauh?,” pikir Hanif kemudian beranjak lagi dari tempatnya.
“Kalau sudah begini pasti aku yang turun,”
“Tunggu !!! Biarkan saja dulu, kita lihat sebentar lagi !!,” selanya menghentikan wanita itu.
“Kalian tega melihatnya seperti itu? Lihat baju yang dia kenakan saja seperti bangsa makhluk aneh, wajahnya hitam-hitam memakai baju perempuan dengan wig aneh. Jovita enggak tahan melihat dia dari tadi di kerjain teman-temannya,”
Melotot tajam, “kau kan tahu, sekali kau turun kau tidak akan kembali saat dia memperoleh kebahagian nya sendiri, kau tidak akan bisa naik ke sini bahkan sekedar berkunjung,” ucapnya menjelaskan.
“Aku tahu bunda, tapi sejak tadi aku merasakan dia sedang menahan kesedihan, kekacauan hidupnya bahkan air mata di ganti dengan senyuman? Melihat dari sini saja aku sudah tidak bisa berdiam terus, lagian kakak-kakak yang lain sudah di kirim ke bumi, tersisa aku yang sudah siap tapi tak kunjung diberi tugas,” keluh kesah nya.
“Jovinta, kami bukan tidak mau memberimu tugas. Kami hanya ingin menemukan orang yang tepat untukmu,” kilah bundanya.
“Bagi Jovi, dia sudah yang tepat. Tolonglah bunda, lelaki itu akan sendirian di hutan. Teman-teman sekolah bahkan keluarga nya tidak akan mencari dan berharap dia pulang, seolah mereka sedang kompak menghilangkan nyawa Hanif,” Jovinta terus mengoceh ketus.
__ADS_1