
Pukul 10 pagi Hanif sedang menyiram tanaman di halaman depan ditemani bunga-bunga yang bermekaran. Ia tersenyum saat tahu kehadirannya mengagetkan keluarganya sendiri. Entah kenapa ia merasakan kepuasan batin, melihat ekspresi Fira sang adik terbujur kaku di tempat.
“Kamu senyum-senyum sendiri?,” ucap Jovi mengikuti dirinya. “Kenapa?,”
“Enggak, kamu enggak sarapan?,” tanyanya menjauhkan topik pembicaraan.
“Kalau aku mau makan, aku sudah menyiapkan makananku sendiri. Kamu tidak perlu repot-repot, oh ya habis ini kamu ngapain?,” tanya perempuan itu penasaran, mencari cela agar bisa memandang wajah Hanif.
Menoleh ke belakang, “habis ini harus bersihkan gudang belakang sama kolam renang,” jawab Hanif.
“Ya sudah, aku bantuin biar kamu bisa istirahat. Dah !,” ujarnya melambai kecil lalu menghilang diterpa angin.
Ia ingin menghentikan Jovi namun mustahil, tangannya tidak bisa diraih. “Kalau di bantuin aku ngapain?,” gumamnya berpikir.
Sebuah mobil memasuki halaman rumah kebesaran keluarganya. Awalnya ia binggung karena akhir-akhir ini jarang sekali ada tamu, ketika kaki jenjang itu keluar dan memperlihatkan pria dewasa dengan pakaian rapi serta menenteng tas hitam, Hanif jadi teringat sesuatu.
Kran air ia matikan, mengeringkan tangannya yang basah lalu menyambut beliau seraya mengulas senyum manis. “Pagi paman,” sapanya berjalan mendekat.
Menoleh, “pagi juga tuan muda,” menunduk. “Maaf saya ke sini begitu mendadak karena kemarin ibu tuan memanggil saya untuk datang hari ini,” jelasnya sopan.
“Ibu?,” jedanya tertengun. “Ya sudah, paman masuk dulu. Nanti biar saya yang panggilkan ibu, mungkin sedang di kamar atas,” titah Hanif mempersilahkan beliau masuk dengan tangan terbuka.
“Tuan muda sedang apa tadi, kenapa sekarang terlihat kurus?,” tanyanya sembari berjalan memasuki lorong rumah.
Hanif terkekeh, “enggak paman. Dari dulu memang begini. Tadi lagi siram tanaman,” jawabnya jujur.
“Memangnya dirumah kamu enggak ada tukang kebun? Bukankah terakhir paman ke sini ada?,” ucapnya beliau merasa ada keanehan. Dia memantau isi rumah, menyapu ke segala sudut yang sepi. Tak ada pelayan seramai dahulu. “Tuan muda sehat-sehat saja kan?,”
__ADS_1
Dengan percaya diri memuncak, ia berdiri tegap didepan beliau dan membentang luas tangannya. Ia tersenyum kecil kala beliau begitu khawatir padanya. “Paman, aku baik-baik saja. Sungguh !,” katanya mencoba meyakinkan.
“Bohong !!!,” sangkal Jovi jujur namun tidak di dengar orang yang bersangkutan.
“Paman ke sini selain bertemu dengan ibumu, paman juga ingin menemui mu. Sudah lama paman mencari mu tapi orang tua mu selalu bilang kamu sibuk kuliah,” jelasnya terdengar parau. Netranya menilik si pemuda dengan baju ala kadarnya.
Hanif menunduk, ia menautkan tangannya sendiri mencoba untuk tenang dan mengikuti alur cerita semestinya. “Maaf paman, aku terlalu sibuk. Mari paman, aku akan siapkan minuman,” cecar nya.
Jovi mencium kebohongan besar dari dalam rumah itu tapi ia tidak mencium aroma jahat dari paman Hanif. Seketika ide berlian Jovi muncul, saat Hanif berjalan mendahului pria itu jemari lentik Jovi berayun-ayun. Seni nya berhasil membuat orang penting itu kaget.
“Tuan muda,” sangkalnya berhenti.
“Iya paman, ada apa?,” tolehnya.
“Tuan muda selama ini tidak di kasih jajan? Kenapa baju tuan terdapat sobekan besar?,” tanyanya menyentuh bahan baju.
“Ini tuan?,” sambutnya menunjukkan sobek besar bagian ketiak.
“Eh?,” mendongak ke Jovi, menggeleng kepala tanda pasrahnya. “Biasa paman mungkin tadi pas nyiram terlalu semangat,” ucapnya balik. “Paman duduklah, aku ambil air dulu ke belakang,”
Diperjalanan Jovi di tegur Hanif, tingkahnya ternyata usil. Setahu lelaki itu, seorang bidadari memiliki sikap yang anggun dan berwibawa namun nyatanya didepan mata berbeda jauh. Ia di nasehati lembut meskipun telah bersalah.
Nyonya besar di rumah itu menuruni anak tangga dengan wajah masam nan kecut, ia kecewa atas sikap putri nya. Terus berucap mengucilkan kedua anak tirinya sampai di undakan tangga terakhir barulah wanita tersebut sadar kalau tamu terpenting sudah tiba.
“Astaga !!!,” selanya terkaget. “Pak Bahri sudah sampai? Maaf saya tidak menyambut kedatangan bapak,” sapanya berseru.
“Pagi nyonya besar,” balas beliau menundukkan kepalanya. “Tidak masalah nyonya,”
__ADS_1
Ibu tiri Hanif sudah duduk bersama senyum getirnya, jantungnya panik untuk mengajukan bertanya lagi. Dia takut sesuatu kenyataan dirumah itu terbongkar seperti tentang Hanif.
“Nyonya kemarin memanggil saya untuk datang? Ada apa?,” tanyanya langsung.
“Em, begini,” bisiknya mendekatkan wajah. “Saya mau bertanya, apa betul warisan mendiang suami saya jatuh ke tangan anak kandungnya?,”
Saat hendak di jawab, justru Hanif mengacaukan suasana privasi ibunya ditambah tampang nya kusut akan di curiga pak Bahri. Segelas kopi panas diletakkan di atas meja, ia tahu pembicaraan orang dewasa tidak pantas di ikut campurkan. Sebelum di usir ibunya, ia sudah pergi sendiri.
“Aset perusahaan 70 persen diberikan pada Hanif Mahardika selaku anak kandung pak Mahardika Setiawan dan sisanya jatuh ke nyonya namun nyonya mendapatkan yang lain seperti surat kepemilikan salon kecantikan atas nama mendiang bu Nisa Mahardika,” jelasnya lalu menyeruput secangkir kopi buatan Hanif yang dibantu bi Mirna.
“Kamu dengar?,” tanya Hanif pada Jovi.
“Aset perusahaan 70 persen diberikan pada Hanif Mahardika selaku anak kandung pak Mahardika Setiawan dan sisanya jatuh ke nyonya namun nyonya mendapatkan yang lain seperti surat kepemilikan salon kecantikan atas nama mendiang bu Nisa Mahardika. Itu ucapan paman mu,” imbuh nya menirukan pak Bahri selaku ahli waris keluarga nya.
“Bagaimana dengan tanah, hotel dan perusahaan mobil di Kalimantan?,” tanyanya tergesa-gesa.
“Saya menegaskan pada nyonya berkali-kali, bahwa nyonya hanya mendapatkan 30 persen dari perusahaan properti di pulau Bali dan salon kecantikan. Selama tuan muda masih ada di sisi nyonya, nyonya tidak bisa bersikeras mengambil hak nya,” tegur pak Bahri menegaskan dengan gamblang.
“Ini tidak adil !! Saya selaku istri sahnya tidak mendapatkan yang sebanding dengan anak itu,” bantah nya.
“Nyonya, istri kedua dari almarhum dan sekarang menikah lagi. Nyonya tidak bisa melahirkan anak hasil pernikahan dengan tuan besar karena sakit. Jadi nyonya tidak bisa bersikukuh memohon pada saya. Ini keputusan mutlak !,” elak beliau menahan tutur katanya sebaik mungkin.
Ibu Hanif kehabisan akal, ia memijat pelipisnya seraya meringis menahan amarah yang selalu meluap-luap apalagi tentang Hanif. Dia begitu membenci anak itu, sejak menikah tak pernah suka. Menikah hanya murni karena harta.
“Dan saya tahu nyonya di rumah ini memperlakukan tuan muda seperti apa. Saya tidak mau berdebat hal yang membuang waktu saya disini, saya harap nyonya lebih berhati-hati karena bisa saja nyonya tidak mendapatkan apa-apa,” ancamnya langsung pergi.
“Kenapa paman pergi?,”
__ADS_1
“Dia marah, sudahlah jangan di pikirkan. Beliau memihak mu,” kata Jovi.