
Kedua orang tua tiri Hanif masih belum mengetahui kepulangan nya malam itu terkecuali bi Mirna sendiri. Ia sengaja bersembunyi sampai Fira benar-benar sudah balik dari acaranya.
Sebelum tidur, ia kembali melihat wajahnya dari pantulan cermin. Kali ini untuk pertama kalinya sebuah kacamata sudah tak berguna lagi, saat mencoba kacamata cadangannya. Percaya tidak percaya itu sebuah keajaiban berubah menjadi nyata.
“Apa kamu mau makan?,” tegur nya masuk ke dalam bilik kamarnya. “Mau makan apa, nanti aku buatkan,” tanyanya melirik dari pantulan cermin bulat.
Menoleh ke belakang, menatapnya sebentar lalu berpikir. “Kamu beneran seorang bidadari?,” mengulang pertanyaan sebab masih belum percaya.
“Ya sudah, aku harus apa biar kamu percaya? Haruskah aku membawamu menggunakan karpet untuk terbang? atau baling-baling bambu? atau balon?,” kilahnya menyebutkan apa yang ia pikirkan. “Atau kereta labu?,”
“Enggak semua juga kamu lakukan. Apa ibu ku sudah pergi dari ruang makan?,” tanya Hanif penasaran.
“Sudah, mungkin sudah dikamar,”
“Katanya ada yang kamu tunjukkan padaku? Apa?,” sergah lelaki itu saat kembali mengingat ucapan bidadari cantik tersebut beberapa menit yang lalu.
“Sebenarnya kamu tidak perlu memanggil ku bidadari. Cukup Jovi aja, kalau bidadari aku belum sepenuhnya bidadari. Ini tugas pertama ku turun ke bumi,” jelasnya mendudukkan diri di pinggir kasur. “Aku ingat, kamu pernah jatuh kan dari kasur ini karena lapuk?,” kata Jovi menyoroti pandangan Hanif.
Cekikikan kecil menghanyutkan suasana sepinya kamar, ia mengenang kisah lama dimana saat itu sempat jatuh dari kasurnya. Bukannya kesakitan malah tersenyum dan tertawa padahal bi Mirna sudah khawatir, “kamu tahu dari mana? beginilah kamarku. Lagian kalau seperti ini, aku enggak perlu repot-repot membersihkan nya,” kata Hanif.
“Kamu enggak dibolehkan bekerja, mereka juga memaksamu kerja jadi pelayan di rumah ini tanpa uang. Apa kamu tidak ada keinginan untuk melawan?,” tanya Jovi mengorek informasi.
“Bagaimana pun, mereka tetap orang tua ku dan Fira adikku. Aku bersyukur masih diberi kamar senyaman ini dan enggak sampai di usir. Jadi ya sudah,” cecarnya seperti pasrah akan keadaan didepan mata.
Hanif masih menjabarkan kelapangan hati nya, Jovi terasa tak tega mendengar kebesaran hatinya. Perempuan itu tahu, sangat tahu disaat hatinya merasa sepi, sedih dan rapuh Hanif mengantikan nya dengan senyuman lebar. Guratan kecewa tergambar jelas di pelupuk matanya, tapi terlihat tertahankan karena perasaan menghormati itu sendiri.
__ADS_1
“Hanif, aku adalah sayap pelindungmu. Apapun keadaannya, bicaralah. Aku bisa menyembuhkan luka di tubuhmu, tapi aku juga bisa mengurangi kesedihan batin mu, menjadi pendengar mu,” Jovi berucap tulus. Sudah bisa ditebak, perempuan itu tidak sedang berbohong. Dia mengucapkan janji secara tidak langsung. Mereka berkontak mata dengan jarak lumayan jauh, coklatnya mata Hanif dan birunya bola mata Jovi seperti sedang mengikat sebuah perjanjian.
“Mata mu indah,” memelankan suara. “Baiklah, terima kasih sudah berada di sini. Sebenarnya kamu tidak perlu repot-repot ke sini, aku bisa mengatasi mereka dan bisa mandiri,” jelasnya jujur.
Mimik wajah Jovi jadi kusut, ucapan itu masuk ke dalam hatinya serta merasa kecewa. Rengekan mulai bergema ke sudut kamarnya, “aghhhhh !!! hiks hiks !! Aku ti-tidak di butuhkan... hiks. Para bunda pun tidak membutuhkan ku.. hikss !!! Na—sib ku menjadi bidadari su-sungguh malang !!!,” keluhnya menangis tersedu-sedu.
Guntur mendadak menggelegar di atas bumi, suara geledek menyambar bahkan sampai ke atap rumah mewah keluarga Hanif. Ia jadi panik berusaha membujuk Jovi untuk berhenti menangis, karena suara wanita itu terus di ikuti derasnya hujan, petir besar terasa bumi ingin runtuh.
“Jovi, tenanglah !,” kata nya membujuk dan memohon maaf dengan tulus.
“Hiks. hiks. hiks. Aghhhh !!!,” tutur bidadari baru itu sesenggukan.
Hanif merasa serba salah, ia berusaha menenangkan Jovi. Ucapan maaf bertubi-tubi dari bibirnya, kendati demikian wanita itu belum berhenti merengek walaupun suaranya sudah lebih reda dari sebelumnya.
Menyeka buliran air mata hingga ke ujung matanya, “mereka tidak akan bisa melihatku kecuali kamu. Hiks,” kata nya, ia memperhatikan Hanif seperti mengemis padanya. “Sungguh? Kamu sungguh membutuhkan ku?,” memastikan ulang.
Bencana dari luar rumah sudah menghilang, hujan, petir telah sirna. Ia mengangguk kan kepalanya terus sampai Jovi puas, bahkan tidak malu untuk bersujud di kaki bidadari yang menolong nyawanya.
...****************...
“Kamu dari mana aja?!,” tegur ibu besar dari ruang makan sedang menyantap selembar roti bersama selainya.
Fira yang berjalan mengendap-endap akhirnya ketahuan juga. Dia binggung memilah kata yang tepat untuk menjelaskan acara tambahannya bersama para sahabat, menggaruk rambut sendiri sambil cengengesan.
“Eh, ibu. Pagi bu, ayah mana? Aku tadi habis dari rumah teman,” dustanya berkata, mengelabui sang ibu dengan pembicaraan santai serta meraih roti. “Oh ya bu, Hanif belum balik kan?,” mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Ibunda Zhafira tidak menggubris ucapan anaknya, ia sibuk menyiapkan sarapan di piring sang suami yang kebetulan sudah datang dan duduk dengan tenang.
“Bu, Hanif enggak pulang kan?,” selanya menarik kursi untuk di duduki bersebelahan dengan ibunya sendiri.
Nampak tenang, sang ayah menilik tajam ke arah putri kandungnya hasil pernikahan dari istri pertama nya.
“Kalau ibu enggak jawab berarti dia benar-benar belum pulang kan ?! Huh !!! Akhirnya Zhafira Hana berhasil juga !!,” serunya berdiri dari tempat, menatap langit-langit luas rumahnya berwana keemasan. “Besok jadikan ke Australia Bu?,” tanyanya penuh semangat.
“Hm,” gumam beliau singkat.
“Ini makanan kesukaan mu, dek,” imbuh Hanif diam-diam meletakkan semangkuk cumi asam manis di hadapan Fira yang nampak bahagia.
“Makasih,” balasnya.
Pandangan tajam menghunus ke arah lelaki itu, sang ibu tiri sampai lupa kalau selai di atas rotinya sudah bercampur aduk rasanya. Sedangkan kepala keluarga paling dingin hanya diam seraya mengunyah.
“Adek?,” sela gadis itu binggung seperti suaranya tak asing di pendengaran nya. Ia langsung mencari sosok itu dan langsung melongok. “Se-sejak kapan elo?,”
Hanif tersenyum kecil menyambut keluarga kecilnya di ruang makan sedang sarapan. “Sedari malam aku di rumah kok. Makanlah, itu kesukaanmu,” ucapnya pamit beranjak dari jangkauan mereka.
Kepergian Hanif di susul ayah Fira bergegas ke kantor ada urusan mendadak meskipun dia sudah mengajukan cuti. Tanpa pamit, ia berlalu begitu saja saat istri dan anaknya fokus pada kehadiran Hanif.
Tubuh gadis itu terhempas ke kursi, ia merasa tak percaya padahal rencana itu jelas-jelas sudah berhasil. “Tidak mungkin !!,”
“Ibu benci produk gagal !!,” sela beliau meninggal kan ruang makan.
__ADS_1