
“Aghhh !!!,” teriaknya Hanif meringis kesakitan, tubuh itu terus menggelinding mengikuti alur permukaan tanah. Andaikan ada sebatang pohon berdiri kokoh di tengah itu, mungkin tubuhnya terhempas dan berhenti.
“Hanif !!!,” kilahnya kaget.
Perempuan tersebut mengulurkan tangannya seraya mengejar ia lebih cepat hingga berhasil menghentikan putaran tubuh manusia malang tersebut. Menggunakan kekuatannya, Hanif sudah melayang dan di bawa ke tempat lebih aman.
“Luka nya?,” dia bergumam iba, melirik seluruh bagian wajah, tangan bahkan kaki Hanif mengalami luka sobekan. “Apa aku mengagetkan dia, sampai jatuh segala?,” sambungnya.
Selanjutnya, wanita cantik itu duduk membiarkan kepala Hanif bersandar di bagian paha nya yang tertutup bahan baju berwarna putih. Ia menatap lekat perawakan nya, membelai lembut rambut pendek Hanif.
“Tenanglah, aku ada di sini untuk menjaga mu. Aku datang bersama kebahagiaan yang selama ini kau harapkan,” tuturnya seperti berbisik. Lambat-laun luka milik Hanif pun pulih dan keduanya sama-sama terlelap dalam keletihan malam.
Tepat subuh dini hari, Hanif terlebih dahulu membuka tabir mimpinya. Ia terperanjat kaget ketika menyaksikan seorang wanita ada di dekatnya. Saat di tanya dia hanya tersenyum dan pergi menghilang tanpa kejelasan. Sebab itulah, kantuknya sirna. Komposisi kepalanya mencoba merenung dan memikirkan segala kaitan kejadian sebelumnya juga wanita ajaib tadi.
Matahari telah menjajaki langit tinggi, gelapnya malam berganti cerahnya pagi. Angkernya hutan berubah menjadi event lomba para burung berterbangan dan berkicau riang. Warna hijau segar dari daun terlihat pekat menandakan suburnya hutan tersebut.
Melekat pada pohon, meregangkan seluruh ketegangan tadi malam. Ia melamun di sudut itu, lagi-lagi ada pikiran mengganggu nya berharap bi Mirna tidak terlalu khawatir.
“Pagi !,” sapanya dari depan sambil melambai kecil. “Apa tidurmu nyenyak? Apa masih ada luka yang belum ku sembuhkan?,”
“Siapa kamu, mau mu apa?,”
“Aku bukan siapa-siapa dan enggak mau apa-apa. Sudah enggak kaget melihat ku?,” desis wanita itu.
“Jelaskan, aku enggak paham. Semalam aku jatuh ke jurang tapi kenapa enggak ada luka? Mana kacamata ku?,” tanya Hanif cepat.
“Itu namanya tanggungjawab, karena aku kamu jatuh maka aku menyembuhkan luka mu,”
“Bagaimana caranya kamu menyembuhkan ku, kamu bukan dokter kan?,”
Wanita berbaju putih itupun menghela nafas panjang, bibirnya tersenyum. “Kalau aku ceritakan, apa kamu percaya? Sudahlah. Kita tidak ada waktu, lebih baik kita pulang. Kasihan bi Mirna cemas dirumah,” jelasnya mendekat.
Hanif memundurkan langkahnya ke belakang, ia tak mau mendekati wanita itu. “Ba—gaimana bisa kamu tahu bibi ku? Siapa kamu sebenarnya,” mengulangi.
__ADS_1
“Hanif, kamu tidak mengenali ku. Aku yang mengenalimu, ayolah kita pulang. Tidak ada waktu disini, saudaramu akan pulang dan tertawa puas. Dia beranggapan kamu sudah mati di hutan,” bujuknya tapi ukuran tangannya ia tepis.
“Jelaskan dulu, ku mohon ! Siapa kamu dan apa kamu?,” cetusnya.
“Baik ! Aku ke sini atas kemauan ku, aku datang untuk melindungi mu. Asal-usul ku jauh, lebih jauh dari bintang. Secara ilmiah kamu hanya paham satu kata, aku bidadari mu yang dikirim menolong kamu saat terpuruk,” ujarnya menjelaskan.
Benggong dan tercengang, “jangan bercanda. Kamu sudah dewasa, enggak ada hal seperti itu di dunia ini. Siapa namamu?,”
“Bi—dadari,” jawabnya memonyongkan bibirnya mengikuti alur tiap ejaan.
“Itu nama kamu?,”
Ia mengangguk berulang kali sambil mengembangkan senyumannya yang khas, Hanif jadi pangling pada sosok wanita cantik didepannya bak seorang malaikat, baju putih bersih, wajah cantik nan mulus, rambutnya tergerai panjang dengan pita merah menguncir setengah rambutnya, bola matanya biru.
“Sudah berapa lama kamu tersesat di hutan? Tapi aku masih tidak percaya, tentang kamu menghilang dan menyembuhkan luka ku. Bukankah manusia tidak semudah itu. Bahkan pesulap saja tidak bisa melakukannya?,” ia berkomentar.
“Kamu belum ngerti juga ya?,” ucapnya.
Rumah besar berada di kompleks perumahan elite telah terbuka lebar gerbangnya, sebuah mobil mewah memasuki halaman. Seorang supir bersama pelayannya yang lain sudah sigap membuka pintu tersebut dan mempersilahkan keduanya keluar.
“Dimana Fira?,” tanyanya pada pelayan itu.
Menundukkan kepala, “sepertinya nona muda belum pulang sejak tadi malam nyonya,”
“Hanif?,” tambahnya lagi menajamkan mata.
“Tuan muda juga belum kembali,”
Mendengar itu, ia menyeringai sinis memangkas jarak memasuki rumah mewahnya lalu mengandeng sang suami tercinta berjalan beriringan.
“Ku rasa Fira berhasil menyingkirkan anak itu,” cicitnya. “Semoga saja dia benar-benar hilang dan lenyap dari bumi ini,” gumamnya dalam gandengan sang suami.
Lelaki berjas itu melepas lengan istrinya yang sejak tadi melingkar, tanpa berkata apa-apa ia sudah duduk di kursi makan. Begitulah sikapnya, dingin jarang sekali berucap entah pada istri atau anaknya sendiri. Sekali satu kata keluar membuat keluarga nya itu merinding hebat.
__ADS_1
“Apaan sih?,” memelankan suaranya kemudian menyusul duduk. Sarapan pagi itu masih lengkap seperti biasanya, “bi, telepon Fira suruh pulang. Anak itu di bebasin malah lupa kandang !,” titahnya.
“Baik nyonya,” jawab Bu Mirna segera kembali ke dapur.
“Mas, aku sudah mengajukan cuti untuk kita. Kamu minta untuk sekretaris mu mengerjakan kerjaan beberapa hari ke depan, kamu enggak lupa kan sama anak mu sendiri dia minta apa?,” sindir wanita itu.
“Aku sudah membereskan pekerjaan ku,” tutur kepala keluarga tersebut.
“Baguslah, lusa kita akan berangkat mengantarkan Fira ke Australia untuk kuliah sekalian refreshing, ” ujarnya menjelaskan.
PAAKKKKKKKK !!!!!
Kedua orang penting itu kaget mendengar suara pecahan piring dari arah dapur. Sang nyonya besar mengumpat pada pelayan tertua nya itu. “Kebiasaan orang tua mecahin piring tiap hari. Dia kira piring dirumah ini hadiah sabun?,” omelnya.
“Ya Allah, tuan muda,” lirihnya memeluk Hanif yang tak sengaja ia jumpai di dapur. Bi Mirna menepuk punggung pemuda itu seraya bersyukur. “Bibi takut tuan muda kenapa-kenapa,” tambahnya.
“Bi, aku baik-baik aja. Seperti nya ibu ke sini, sana bi, biar aku saja membereskannya. Nanti ibu marah,” suruhnya mendorong tubuh wanita itu menjauh.
“Tapi tuan?,” sergahnya menitikan air mata.
“Cepat bi !!!,” serunya meminta beliau pergi. Hanif dengan hati terbuka siap menanggung kemarahan ibu tirinya. Ia membersihkan tiap pecahan yang berserakan.
“Sudah biar aku saja,” sela wanita bermata biru tersebut.
Hanif mendongak, “tapi aku sudah terlanjur bilang sama bibi-,”
“Itu kelamaan. Sudah, kamu ke kamar terus mandi. Ada yang ingin ku tunjukkan padamu. Masalah piring serahkan padaku. Oke?,” imbuhnya memainkan sebelah mata ke arah Hanif.
“Terima kasih, maaf merepotkan mu. Bidadari,” sahutnya dan cepat bergegas sebelum wanita bertanduk melihat ia.
Setelah jauh, bi Mirna dan Hanif bersembunyi dari amukan nyonya besar dirumah itu. Tak lama pecahan piring kembali menyatu secepat kilat. Bidadari cantik itupun tertawa kecil.
“Bisa enggak—,” pekik ibu tiri Hanif. Saat dia menyapu pandangan ke segala penjuru dapur tak ada bi Mirna di sana sebuah piring jatuh pun tidak dia temukan malah lantai itu bersih mengkilap. “Bukannya tadi ada suara piring? Kok enggak ada,”
__ADS_1