Sang Pemilik Bidadari

Sang Pemilik Bidadari
SPB : Sayap Putih bag. 2


__ADS_3

Ia menelisik tajam batang pohon yang kokoh dan besar didepannya. Sesuatu berbentuk putih kecil sedang bergerak-gerak luwes entah apa, matanya tak salah meskipun dibantu dua mata lagi alias kacamata.


“Siapa kamu?,” cecar lelaki itu.


Tak ada sahutan, rasa penasaran pun memuncak rasanya segera ingin meletus. Sekali bertanya tak ada jawaban apalagi kedua, ketiga bahkan seterusnya, seakan tak berpaling ia mencari tahu dengan langkah yang irit mendekati sesuatu putih disana.


“Siapa kamu? Kenapa kamu berdiam aja? Sejak tadi kamu disitu kan? Halo, kamu dengarkan?,” tegurnya.


Hanif pantang mundur, ia terus mendekati pohon tersebut bak di film dengan adegan menegangkan lelaki berkacamata tersebut tidak goyah. Sepatunya saja tidak menimbulkan suara bising, agar orang disana tak menyadarinya.


Selang beberapa menit, ia berhasil memandangi dibalik pohon tersebut. Matanya terbelalak besar saat tahu tempat tersebut kosong melompong. Hanya daun dan ranting serta baju putih persis di kenakan Hanif.


“Jadi yang tadi bergerak, ini?!,” cicitnya merasa dongkol.


Suara pergerakan dedaunan terdengar jelas, Hanif terlihat waspada pada sekitarnya. Ia takut ada hewan buas sedang mengincar nyawanya. Betul saja, rerumputan di sekitarnya terus bergoyang, saat di sorot menggunakan lampu senter tak terlihat apa-apa.


Naluri Hanif belum berhenti menguasai dirinya, akhir kata lelaki berkacamata itu meninggalkan tempat peristirahatan nya dan mengikuti rerumputan yang bergoyang di depan sana. Semakin jauh dan terus berlari, entah itu hewan atau manusia tidak kelihatan di matanya.


Ia dibawa kedalaman hutan yang gelap, sunyi dan terlihat angker. Hewan malam saling menyapa kala itu, ia tak takut dengan suara burung hantu atau anjing menggonggong cuma takut semakin jauh dari pintu keluar.


“Ini terasa semakin jauh ke hutan !,” gumamnya mendongak. "Aghhh !!,” lirihnya yang hampir terjatuh ke bawah jurang. Semakin fokus mencari tahu benda bergerak itu semakin buyar pula pantauannya. Tanpa sadar pijakan kakinya di sisi kanan terdapat jurang yang tidak di ketahui kedalamnya. "Hampir aja !!,” kilahnya bersyukur.


“Hai, maaf mengagetkan mu !!,” seru wanita berbaju putih tak jauh dari pandangan nya. Ia mengerjap kaget tanpa berhati-hati kaki kanannya membawa tubuh sendiri menggelinding mengikuti permukaan jurang. Ia terhempas semakin jauh, bibirnya membisu dan pingsan.


...****************...

__ADS_1


BRAKKKK !!!


Gelas di tangan bi Mirna mendadak jatuh, daging yang menggumpal merah bagian dada terasa sesak. Ada perasaan tak enak ketika ingat sosok tuan mudanya. Beruntung malam itu tidak ada siapapun dirumah, Fira tidak kunjung pulang dan kedua orang tuanya menginap di luar kota karena kerjaan.


Bi Mirna meringis mengusap dadanya, sejujurnya beliau belum tenang kalau belum melihat Hanif secara langsung. “Semoga tuan muda baik-baik saja,” ucapnya seakan berdoa. Wanita paruh baya itupun bergegas membersihkan pecahan gelas di lantai. “Ya Allah, andai tuan dan nyonya besar masih ada mungkin hidup tuan muda tidak akan sesusah ini. Andai saja mereka mau menandatangani surat persetujuan beasiswa ke luar negeri, pasti tuan muda sudah berangkat dan hidup nyaman disana,” gerutunya sambil membersihkan lantai ubin tersebut.


Satu-satunya saksi masa kecil Hanif Mahardika adalah bi Mirna sendiri. Sejak kecil dia lah yang terus menemani keluarga kecil itu sampai ibu kandung Hanif pergi dan di susul ayahnya menikah dengan perempuan cantik dari kalangan publik figur kemudian beliau meninggal akibat serangan jantung, lalu kini istri keduanya menikah lagi dengan duda beranak satu.


Disisi lain, Fira dan kawan-kawan melanjutkan pesta gila-gilaan di sebuah bar malam. Mereka larut sampai tak ingin pulang ke rumah masing-masing. Merasa sudah dewasa, Fira tak segan meneguk minuman hara* lebih dari takaran nya.


Perempuan-perempuan yang sebentar lagi memasuki tahap pendewasaan itu menggunakan baju super mini, padahal banyak lelaki dikeliling mereka. Dilan serta Adam turut memeriahkan kegilaan tersebut.


“Fir, elo cantik banget malam ini !!,” seru Dilan.


“Eh, bawa sana mumpung dia lagi mabok,” hasut Adam melirik sahabat itu.


“Gila lo !! Takut gue, ntar sadar gue di gantung ,” bantahnya. “Itu anak kalau marah main cakar, gue juga enggak setega itu kali,”


“Apa !!,” sela Fira setengah sadar. Bergantian menatap laki-laki didepannya. Yang satu berciri-ciri tinggi dan satunya berciri-ciri manis.


Mereka serempak melirik ke arah wanita cantik itu, “ini Dilan suka sama elo dari dulu. Elo terima enggak?,” sergah Adam mengambil alih ucapan Dilan.


“Hah? Apa ??? GUE ENGGAK DENGAR, KALIAN NGOMONG APA?,” pekiknya sekuat-kuatnya hingga daun telinga Dilan hampir meledak.


“Cantik-cantik bolot juga !!,” ketus Adam mendapat sikutan dari sahabatnya.

__ADS_1


“APA, SIAPA YANG SUKA SAMA GUE?!,” tanya nya sambil berteriak. Musik dalam ruangan itupun semakin terasa bergema sampai bicara saja harus berteriak. Dilan yang berucap sama sekali tak didengar Fira, “APAAN SIH LO? GUE BUDEG !!!,”


“Aghhh sudahlah, percuma gue nyatain cinta gue disini. Setres gue !!!,” keluh Dilan menjauh dari kumpulan mereka.


“EHH DENGAR YA, GUE TU SUDAH SUKA SAMA ORANG LAIN !!,” elak Fira sempoyongan. Langkah kaki Dilan membeku ditempat, raut wajahnya seakan tak suka. “GUE NYA SUKA SAMA DIA,” teman-teman Fira kaget bukan kepalang kala mengandeng Adam dengan erat.


“Eh? gue, sejak kapan?,” ucap Adam mengundang guratan dari Dilan.


...****************...


Perlahan-lahan kelopak mata nya terbuka, menepis rasa ngantuk yang sempat menjalar. Tak lama, pandangan nya sudah melebar memperhatikan kedua mata begitu depan menatapnya. Ia lantas bangun dari tidurnya dan duduk melirik perempuan tersebut.


“Siapa kamu?,”


Dia tersenyum, “tidak ada waktu menjelaskannya, aku tidur sebentar,” jawabnya balik dan tertidur pulas.


“Kok tidur?,” sangkalnya. Ia terpejam juga menghilang tersisa setitik cahaya kilau pergi terbang entah kemana. Hanif mengusap kedua mata nya kasar, “enggak ini belum di alam lain. Ini masih di bumi,” jelasnya memastikan. “Tunggu-tunggu, kacamataku kemana?,”


Tanpa kacamata ia tidak bisa melihat dengan jelas namun kali ini kacamata tersebut tidak bergantung ditempat semestinya tetapi Hanif merasakan penglihatan nya baik-baik saja. Tidak buram malah sangat jelas, semua objek di dekatnya terlihat.


Ia mengecek seluruh anggota tubuhnya sedikitpun tidak ada luka hanya ada beberapa bagian baju yang koyak. Seingatnya, dia menginjak jurang dan masuk ke sana. Bagaikan mukjizat, Hanif bersujud syukur nyawa nya masih aman masih bisa menghirup oksigen, masih bisa melihat bi Mirna.


Sehelai bulu putih layaknya milik angsa berada di pangkuan lelaki itu. Tak dapat dipahami, apa kaitannya dengan perempuan tadi, bulu dan penglihatan nya serta nyawanya.


“Siapa dia sebenarnya?,” gumam Hanif.

__ADS_1


__ADS_2