Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bab 33


__ADS_3

Cio berjalan santai sembari mengibas-ngibaskan kertas di tangannya. Dia baru saja mendapatkan hasil tes DNA milik Bern.


"Kalau aku bakar kertas ini kira-kira Bern kerasukan tidak ya?" ujar Cio sambil terkikik seperti orang tidak waras. Mendadak dia berkeinginan untuk mengerjai sepupunya yang dingin itu. Mumpung ada kesempatan. Begitu pikirnya.


Flashback


"Karl, aku harap kau jangan membuat masalah. Biar aku saja yang membantu Bern menyelesaikan persoalan Amora. Kau tahu sendirikan seperti apa sikapnya setelah kejadian tiga tahun lalu? Ayolah, jangan merusuh. Oke?"


"Aku tidak mungkin hanya diam saja saat mengetahui ada jalan yang bisa ku pergunakan untuk menebus semua dosa-dosaku, Cio. Kalau memang benar Renata adalah Amora, matipun aku bersedia demi bisa membuktikan kalau mereka adalah orang yang sama. Tolong jangan halangi aku!" sahut Karl kekeh dengan keputusannya yang ingin membantu menyelesaikan masalah Bern.


"Siapa juga yang ingin menghalangimu. Aku hanya ingin mencegah terjadinya perang dunia ke tiga saja. Tahu kau?" sungut Cio agak jengkel melihat kebebalan di diri sepupunya.


"Ck, jangan bercanda!"


"Aku sangat serius, Karl. Memangnya kau tidak lihat ekpresi di wajahku, hah?"


Sebenarnya Cio berniat pergi mengunjungi Bern di apartemennya. Dia ingin melihat bagaimana kondisi beruang kutub itu. Akan tetapi saat di tengah jalan mobilnya di hadang oleh anak buahnya Karl yang mana langsung membawanya paksa. Meski kesal, Cio hanya bisa pasrah mengikuti orang-orang ini. Dan di sinilah dia sekarang. Berada di musium aneh milik sepupunya yang menyebalkan.


"Aku mengirim alamat tempat tinggalnya Bern ke nomor Renata. Dia seharusnya sudah ada di apartemen Bern sekarang!"


"A-apa?"


Biji mata Cio hampir terbang keluar saat mendengar penuturan Karl. Yang benar saja. Cio sudah berusaha menahan diri dengan tidak mengusik wanita itu. Ini si Karl malah lancang mengirim alamat apartemen Bern pada Renata. Sudah gila apa bagaimana?


"Astaga, Karl. Kau sudah sinting ya. Harus berapa kali aku katakan kalau Bern tidak ingin ada yang mencampuri urusan pribadinya. Terlebih lagi adalah anggota keluarganya. Kalau dia sampai tahu, bersiaplah kau akan di benci sampai mati oleh saudara kembarmu itu!" omel Cio sembari menekan pelipis mata. Mendadak dia jadi pusing tujuh keliling.

__ADS_1


"Dia tidak mungkin tahu kalau kau bisa jaga mulut!" sahut Karl cetus.


"Brengsek! Apa kau sedang mengataiku mulut bocor?"


"Hmmm!"


Suara hmm yang keluar dari mulut Karl membuat Cio menjadi murka sekali. Dia lalu melayangkan satu pukulan ke punggung pria ini. Kesal. Cio butuh pelampiasan.


Flashback now


"Semoga saja Bern tidak tahu kalau orang yang telah memberitahu Renata tentang alamat tempat tinggalnya adalah Karl. Bisa panjang urusannya nanti kalau dia sampai mengetahuinya," gumam Cio setelah duduk di dalam mobil. Dia kemudian memakai seatbelt, bersiap untuk pergi ke apartemen beruang kutub itu. "Tuhan, aku adalah orang brengsek. Akan tetapi kali ini tolong bantu aku ya. Jika hasil di dalam kertas ini adalah negatif, bantu aku merubahnya menjadi positif. Si kecil Justin harus menjadi anak kandungnya Bern dulu agar kesalah-pahaman antara saudara kembar itu bisa terselesaikan. Oke?"


Mungkin jika ada yang mendengar cara Cio memohon bantuan Tuhan, orang tersebut pasti akan menganggapnya gila. Bagaimana tidak gila. Cio seolah sedang bicara dengan temannya sendiri. Tidak ada sopan-sopannya.


Untuk memastikan apakah Bern masih hidup atau sudah mati, Cio memutuskan untuk menelponnya saja. Dia tak mau membuang waktunya dengan percuma.


Panggilan pertama tak ada respon. Hal ini membuat perasaan Cio jadi terasa kurang nyaman. Segera dia kembali melakukan panggilan. Dan kali ini mimik wajahnya terlihat serius.


"Ada apa?"


Begitu mendengar suaranya Bern, Cio langsung menarik nafas lega. Tadi dia sempat berpikir kalau pria ini sudah kaku di apartemennya, tapi untunglah Bern masih hidup.


"Kau kemana saja sih, Bern. Kenapa tidak langsung menjawab panggilanku tadi. Tahu tidak kalau aku sudah berpikiran macam-macam tentangmu. Membuat orang cemas saja!" gerutu Cio sambil mengelus dada. Dia lega sekali karena pria ini tidak mati.


"Aku sedang menemani Justin bermain. Telpon darimu sungguh mengganggu. Makanya aku abaikan," sahut Bern dengan entengnya. "Sekarang cepat beritahu aku apa tujuanmu menelpon. Tadi seseorang tiba-tiba menyakiti Justin, aku tidak bisa meninggalkannya bermain seorang diri."

__ADS_1


Pandangan Cio langsung berubah dingin mendengar aduan Bern yang menyebut ada seseorang yang telah menyakiti bocah kecil itu. Sepertinya kali ini Cio perlu turun tangan langsung meskipun belum terbukti benar kalau Justin adalah anaknya Bern.


"Masalah orang itu kau serahkan saja padaku. Mencari masalah dengan putramu, itu sama artinya dengan mengibarkan bendera perang dengan semua paman-pamannya. Kau jangan khawatir, Bern. Orang itu biar aku yang membereskan!" ucap Cio di barengi dengan smirk tipis di bibirnya. Dia kemudian teringat dengan kertas hasil tes DNA yang baru saja dia ambil dari rumah sakit. Segera Cio memberitahukan kabar baik tersebut pada Bern. "Oya, Bern. Kita perlu bertemu sekarang juga. Hasil tes DNA-mu dengan Justin sudah keluar. Mari kita lihat apakah bocah itu adalah benar anakmu atau bukan."


Hening. Tak terdengar suara apapun dari dalam telepon begitu Cio membahas tentang hasil tes DNA. Heran, Cio segera melihat ke layar ponselnya. Panggilan masih tersambung, tapi kenapa sunyi sekali. Aneh.


"Bern, kalo. Kau masih di sana, kan?"


"Ya, aku masih di sini. Kau kirimkan saja lokasi tempat pertemuan kita. Aku akan segera menemuimu."


"Kenapa tidak ....


Klik.


"Brengsek! Berani sekali dia mematikan panggilan sebelum aku menyelesaikan perkataanku!" umpat Cio saat Bern memutuskan panggilan secara sepihak. Dia lalu melemparkan ponsel ke kursi samping, dongkol. "Tahu begini aku bakar saja kertas ini dari tadi. Dasar makhluk es kau, Bern!"


Sambil terus bersungut-sungut, Cio memikirkan di mana tempat yang cocok untuk bertemu dengan Bern. Walaupun kesal, nyatanya dia tetaplah peduli pada beruang kutub itu. Buktinya sekarang Cio sibuk memilih tempat, padahal dia bisa saja mengajak Bern bertemu di pinggir jalan.


"Seseorang melukai Justin? Berdoalah semoga Justin bukan bagian dari keluargaku. Jika hasilnya positif, maka kebenaran ini adalah kematian untuk orang bodoh itu. Berani sekali dia memprovokasi anaknya Bern. Sudah bosan hidup apa bagaimana!" omel Cio saat teringat ada orang bodoh yang lancang menyakiti anak kecil itu. Dan tiba-tiba saja wajah Karl melintas di pikiran Cio. Dia lalu menyeringai. "Ah, apa aku beritahu


Karl saja ya tentang masalah ini. Dia pasti semangat sekali membasmi sampah seperti itu. Apalagi yang diusik adalah keponakannya sendiri. Hehee, sepertinya ini akan menyenangkan!"


Segera setelah Cio berkata seperti itu dia mengambil ponsel dan menghubungi Karl. Biarlah kali ini dia sedikit berkhianat pada Bern. Terlalu asik jika dilewatkan begitu saja. Juga untuk memberi efek jera kalau kebengisan keluarganya masih tetap terjaga meskipun ada sedikit masalah di dalamnya.


"Halo, Cio. Ada apa?"

__ADS_1


"Kawan, ada tugas baru untukmu!" jawab Cio sambil memilin bibir. "Aku baru saja menghubungi Bern untuk mengabarkan kalau hasil tes DNA-nya sudah keluar. Dia lalu memberitahuku ada seseorang yang telah menyakiti Justin. Tidakkah menurutmu ini adalah sebuah penghinaan untuk keluarga kita? Bertindaklah. Kali ini kau ku izinkan untuk terlibat. Oke?"


***


__ADS_2