Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 81


__ADS_3

Sreeetttt


"Pergi atau mati. Jawab!"


Russell yang kebetulan datang ke toko bunga milik Renata dibuat geram saat mendapati seorang laki-laki hendak berbuat kurang ajar padanya. Segera dia berjalan mendekat kemudian mencekik lehernya dari belakang.


"Siapa kau! Lepaskan tanganmu!" teriak si pria sambil berontak berusaha melepaskan cengkeraman di leher.


"Malaikat mautmu." Simpel Russell menjawab. Sikap yang dingin dan juga bicaranya yang sedikit cukup menggambarkan seperti apa watak kedua orangtuanya. "Pergilah selagi aku masih berbaik hati membiarkanmu hidup!"


"Cihhh, kau pikir kau itu siapa berani menggertakku hah! Cepat singkirkan tanganmu karena kita tidak punya urusan!"


Bebal juga b*jingan ini. Sesaat sebelum mengambil tindakan, Russell menatap Renata sejenak. Calon ipar tertuanya terlihat sangat ketakutan. Entah takut pada b*jingan ini atau takut melihat perbuatannya. Yang jelas ekpresi wajah Renata sangatlah kasihan.


"Jadi kau lebih memilih jalan lain ya ketimbang pergi dengan baik-baik?" tanya Russell masih bernegosiasi. Calon iparnya tidak tahu apa-apa tentang kegilaan anggota keluarga Ma. Takut syok jika melihatnya secara langsung. Bern bisa menghajarnya nanti.


"Hei, berhenti mengancamku. Aku datang kemari karena ingin menemui kekasihku. Kau jangan tidak tahu diri begini ya!"


"Aku bukan kekasihmu!" sahut Renata langsung menegaskan bahwa tidak ada hubungan antara dia dengan pria gila ini. Renata takut Russell akan salah paham padanya. "Kau hanya sebatas pelanggan di toko bunga ini, Tuan. Dan juga sekarang aku sudah mau menikah. Tolong kau jangan bicara yang tidak-tidak tentang kita."


"A-apa kau bilang? Menikah?"


Renata mengangguk. Dia memang sedang ketakutan, tapi kemunculan Russell membuatnya jauh lebih takut. Entah apa yang akan Bern lakukan jika calon suaminya itu sampai tahu kalau dia diganggu oleh pria nakal. Bern sangat posesif. Renata khawatir Bern akan hilang kendali.


"Renata, bagaimana bisa kau akan menikah dengan pria selain aku? Kau tahu bukan kalau selama ini aku begitu mencintaimu? Ayolah, aku tahu kau pasti sedang bercanda. Iya, kan?"


"Sama sekali tidak. Dan orang yang sedang mencengkeram lehermu adalah adik sepupu dari calon suamiku. Kalau tidak percaya, silahkan tanyakan langsung pada orangnya."


Karena penasaran, pria nyentrik tersebut berusaha keras agar bisa menoleh ke belakang. Keningnya tampak mengerut saat mendapati ada pria tampan yang ekpresi wajahnya sangat luar biasa dingin tengah menatapnya datar.


(Dia manusia atau bukan? Wajahnya kelewat datar seolah tanpa ekpresi. Renata tidak mungkinkan menikah dengan robot? Astaga.)

__ADS_1


"Pergilah. Jangan ganggu kakak iparku lagi," ucap Russell seraya mendorong pria tersebut hingga jatuh terduduk di lantai.


"Yakkkk!"


Bukannya pergi, pria itu malah dengan songongnya berdiri kemudian berkacak pinggang di hadapan Russell. Melihat hal itu Renata menjadi semakin panik. Dia kebingungan harus melakukan apa.


"Kau! Jangan kau kira aku takut padamu ya. Selagi Renata belum berada di altar pernikahan, maka aku masih punya hak untuk mengejarnya. Lagipula sepupumu itu pastilah orang baru. Jadi hubungan di antara mereka masih belum sekuat hubunganku dengan Renata. Iyakan, sayang?"


Sementara itu di jalan, Bern dibuat bingung melihat putranya yang tiba-tiba menangis histeris dan memaksa untuk pulang. Aneh. Padahal saat mobil baru bergerak Justin terlihat begitu semangat setelah dijanjikan akan dibelikan mainan oleh ibunya. Tetapi kenapa sekarang anaknya jadi seperti ini? Apa yang terjadi?


"Huaaaaaaa, Ibuu!" jerit Justin dengan air mata berurai.


"Justin, kau kenapa. Kenapa terus memanggil Ibu?" tanya Bern seraya menepikan mobil di pinggir jalan. Setelah itu dia melepas seatbelt dari tubuh Justin lalu mengangkatnya ke atas pangkuan. "Kau kenapa, sayang?"


"A-Ayah, Justin mau pulang. Kasihan Ibu. Ayo pulang," sahut Justin sesenggukan.


"Kasihan Ibu? Memangnya Ibu kenapa? Kan tadi Ibu baik-baik saja saat kita meninggalkannya di toko."


"Hiksssss pulang, Ayah. Pulang!"


Justin tak mau mendengarkan ucapan Bern. Dan hal ini membuatnya heran sekali. Sesaat setelah itu Bern tiba-tiba tersentak. Dia lupa kalau putranya ....


(Sh***! Apa jangan-jangan Justin melihat sesuatu tentang Renata ya. Makanya dia jadi histeris seperti ini. Kalau begitu aku harus segera kembali. Aku takut Renata dalam bahaya.)


Tanpa membuang waktu lagi Bern segera mendudukkan Justin lalu memakaikan seatbelt. Setelah itu dia melajukan mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dan anehnya, perbuatannya itu tak membuat Justin ketakutan seperti biasanya. Yang ada anak ini malah langsung berhenti menangis kemudian menyanyi seolah tidak terjadi apa-apa.


Karena belum terlalu jauh, tak butuh waktu lama untuk Bern sampai di toko bunga. Sesampainya di sana dia dibuat heran akan keberadaan dua buah mobil yang salah satunya adalah milik Russell, sepupunya.


"Apa yang sedang dilakukan Russell di sini? Dan kenapa juga dia datang tanpa memberitahuku lebih dulu. Dia tidak mungkin mencelakai Renata, kan?" gumam Bern heran.


"Ayah, ayo masuk. Kasihan Ibu. Nenek Zhu bilang Ibu sedang takut sekarang," ucap Justin sambil mengguncang lengan sang ayah.

__ADS_1


"A-apa? Nenek Zhu? Jadi Nenek datang menemui Justin lagi?" pekik Bern sangat amat terkejut mendengar aduan putranya. Ini ada apa. Kenapa arwah sang nenek masih saja mengganggu Justin.


"Iya. Makanya tadi Justin menangis. Ayo kita masuk dan menyelamatkan Ibu, Ayah. Ayo!!"


Berusaha mengabaikan keterkejutannya, Bern bergegas membawa Justin masuk ke dalam toko. Dan begitu pintu dibuka, Bern disambut dengan keadaan toko yang sedikit berantakan. Di lantai terlihat karyawan Renata tengah menolong Lindri yang kepalanya berdarah.


Jantung Bern berdetak kuat. Belum ada lima belas menit dia meninggalkan Renata, keadaan di toko sudah sekacau ini. Lalu bagaimana dengan keadaan calon istrinya?


"T-Tuan Bern, Nona Renata ada di dalam. Cepat tolong dia," ucap Lindri sambil meringis menahan sakit di kepalanya. Dia pusing, makanya tak bisa bangun untuk menolong sang bos.


"Apa yang terjadi?" tanya Bern. Dia berusaha meyakinkan diri kalau Renata baik-baik saja. Apalagi Russell ada di sini. Sepupunya pasti tidak akan membiarkannya celaka.


"Seorang pria datang mengacau kemari, Tuan. Dan pria ini sudah cukup lama mengejar-ngejar Nona Renata. Tapi untunglah di dalam ada seorang pelanggan yang tengah menolong Nona. Namun sampai sekarang masalahnya masih belum selesai. Cepat tolong mereka, Tuan. Pria itu seperti orang sakit jiwa. Kami takut dia nekad!"


"Tolong bawa Justin pergi sebentar. Dia tidak boleh melihat apa yang terjadi di sini."


"Baiklah."


Justin dengan patuh mengikuti kakak penjaga toko yang mengajaknya bermain di luar. Sedangkan Bern, sudahlah, jangan ditanya lagi seperti apa ekpresinya sekarang. Dia melangkah perlahan menuju ruangan di mana masih terdengar suara Renata yang tengah berdebat dengan seseorang.


"B-Bern? K-kau datang?"


Syok, Renata sampai terbata-bata saat bicara. Yang dia takutkan terjadi juga. Bern tiba-tiba sudah berdiri di belakang Russell dengan memancarkan aura yang sangat mengerikan. Seketika bulu kuduk di badan Renata berdiri semua. Dia ... takut.


"Ada apa ini, Russ?" tanya Bern dingin.


"Hanya seonggok sampah yang sok ingin berbuat kurang ajar pada calon istrimu," jawab Russell. "Niatnya aku ingin membeli bunga untuk Flowrence. Tetapi sesampainya di sini aku malah disuguhi pemandangan yang sangat tidak enak. Tolong kau bereskan!"


Si pria nyentrik terlihat panik saat pria yang dipanggil Bern berjalan ke arahnya. Bola matanya tampak bergerak kesana kemari, mencoba mencari celah untuk melarikan diri.


Tappp

__ADS_1


"Mau pergi ke mana?"


***


__ADS_2