
Orang-orang di sekolah dibuat takjub akan kedatangan pasangan suami istri yang berasal dari keluarga paling kaya di kota mereka. Gabrielle dan Elea Ma. Entah apa yang sedang kedua orang ini lakukan. Yang jelas semua orang merasa sangat berkesan bisa bertatap muka langsung dengan mereka.
"Emm permisi, Nyonya Elea. Bolehkah saya menanyakan sesuatu?"
"Oh silahkan, Nyonya. Kau mau bertanya tentang apa?"
Mungkin karena tak kuat menahan rasa penasaran, salah seorang wali murid memberanikan diri mendekati Elea. Untung yang mendekat berjenis kelamin wanita. Kalau pria, dijamin akan langsung disembur oleh Gabrielle.
"Maaf jika lancang. Kalau boleh tahu apa yang sedang Anda dan Tuan Gabrielle lakukan di sini?"
"Kami sedang menunggu cucu kami pulang," jawab Elea tak menutupi.
"Cucu? Memangnya putra putri Anda sudah ada yang menikah ya? Setahu saya tidak ada kabar yang menyebutkan kalau pewaris keluarga Ma menggelar pernikahan. Kok bisa Anda memiliki cucu?"
Elea segera mencegah Gabrielle yang ingin memarahi si wali murid tersebut. Setelah itu dia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tapi tidak dengan detailnya. Rahasia.
"Begini, Nyonya. Memang betul kalau ketiga anakku belum ada yang menikah. Dan anak yang kami sebut sebagai cucu adalah putranya Renata. Namanya Justin Goh. Tiga tahun lalu putra sulungku pindah ke luar negeri. Karena suatu ketidaksengajaan, Renata dan putraku menjalin hubungan. Namun naasnya ketika Renata kembali ke negara ini dia mengalami kecelakaan besar yang membuatnya hilang ingatan. Pada saat itu Renata tengah mengandung cucuku. Bulan lalu Tuhan kembali mempertemukan mereka. Dan rencananya dalam waktu dekat Bern akan meresmikan hubungannya dengan Renata. Begitu ceritanya!" ucap Elea dengan lancarnya mengarang cerita. Orang-orang harus tahu kalau Justin adalah cucu dalam di keluarga Ma. Jadi dengan menghadirkan cerita seperti ini orang-orang tidak akan berani mengusik cucunya.
"Hah? Jadi Nona Renata adalah calon menantu di keluarga Ma?"
"Benar sekali. Dan harusnya itu sudah terjadi sejak tiga tahun lalu. Tapi apa mau dikata, Tuhan berkehendak lain. Renata kehilangan ingatan dan baru sekarang mereka dipertemukan kembali."
"Wahhhhh, jadi selama ini anak-anak kami berada di sekolah yang sama dengan penerus keluarga kalian? Hebat. Kabar ini sangat tidak disangka-sangka!"
Para wali murid langsung heboh begitu mendengar kebenaran tentang Justin dan Renata. Wanita yang selama ini mereka cap sebagai wanita nakal ternyata adalah calon mantu dari keluarga paling berpengaruh di kota mereka. Siapa yang akan menduga akan ada kisah seperti ini. Luar biasa sekali.
"Kakek! Nenek!"
Suara teriakan Justin langsung membuat Gabrielle dan Elea tersenyum lebar. Segera mereka menghampiri bocah kecil yang tengah melambaikan tangan sambil bergelayut di kaki sang guru.
"Halo cucu Nenek yang paling tampan. Sudah selesai belajarnya?" tanya Elea sembari berjongkok di hadapan Justin. Kedua tangannya terulur ke depan, berharap kalau Justin akan segera masuk ke pelukannya.
__ADS_1
Greeepp
Justin tiba-tiba tertawa renyah begitu memeluk neneknya. Hal itu membuat Gabrielle dan Elea merasa heran. Namun keheranan tersebut tidak berlangsung lama karena Justin langsung menceritakan apa yang membuatnya terlihat begitu senang.
"Kakek dan Nenek tahu tidak. Di kelas tadi Justin mendapat bintang satu. Miss bilang itu hadiah karena Justin bersikap baik dan tidak nakal,"
"Benarkah?"
Gabrielle melirik sinis ke arah gurunya Justin. Jelas, dia tak terima cucunya hanya diberi bintang satu. Harusnya lima. Baru sah.
"Iya. Justin hebatkan, Nek?"
"Tentu saja cucu Nenek adalah yang paling hebat. Sudah bilang terima kasih belum pada Miss?" tanya Elea berusaha memaklumi akan apa yang terjadi. Pasti ada alasan kuat kenapa Justin hanya mendapat bintang satu.
"Sudah, Nek," jawab Justin. Dia lalu mengurai pelukan. "Nek, Justin ingin bertemu Ayah dan Ibu. Ayo pulang."
"Baiklah. Kalau begitu Justin pamit dulu pada Miss. Baru setelahnya kita akan pergi menemui Ayah dan Ibu. Oke?"
"Oke, Nenek."
"Kenapa cucuku hanya mendapat bintang satu?" tanya Gabrielle langsung melayangkan protes.
"Tuan Gabrielle, maaf sekali. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Anda, saya harus tetap berlaku adil pada semua siswa yang ada di kelas. Alasan kenapa saya memberikan bintang satu untuk Justin adalah karena hari ini Justin tidak fokus. Justin terkesan malas dan seperti orang kurang tidur. Di dalam kelas Justin juga terus mengatakan sesuatu yang aneh!" jawab guru Justin dengan sabar menjelaskan. "Kalau boleh saya tahu apa saja kegiatan Justin akhir-akhir ini. Apa Anda dan keluarga membawanya pergi melakukan sesuatu yang melelahkan? Maaf jika pertanyaan ini terdengar tidak sopan. Saya mengkhawatirkan kesehatan Justin, Tuan."
Gabrielle terdiam begitu mendengar penjelasan gurunya Justin. Cucunya tak fokus dan kelelahan? Apa jangan-jangan ini disebabkan oleh interaksi antara Justin dengan orang yang dipanggil Nenek Zhu?
(Ibu, apa yang membuat ruhmu masih belum pergi dari dunia ini? Kasihan Justin. Dia masih kecil. Tubuhnya belum terlalu kuat menerima kehadiranmu. Tolong mengertilah)
"Tuan Gabrielle, Anda baik-baik saja, kan?"
"Hah??"
__ADS_1
Lamunan Gabrielle buyar. Sedetik setelah itu dia berdehem, mencoba menormalkan kembali pikirannya yang sempat melayang entah kemana.
"Ekhmm! Selain itu apalagi yang terjadi pada cucuku?"
"Tidak ada, Tuan. Justin berprilaku seperti itu mungkin karena sedang kelelahan saja. Dan kalau boleh memberi masukan, sebaiknya hari ini Justin istirahat saja di rumah. Kasihan. Takutnya Justin sakit jika terlalu banyak melakukan kegiatan di luar rumah."
"Terima kasih untuk masukannya. Nanti kami akan mengatur ulang jam istirahatnya Justin," sahut Gabrielle tak menolak masukan saran dari gurunya Justin. "Setelah ini minta pihak sekolah mengirimkan nomor rekening milikmu. Anggap ini sebagai hadiah karena kau sudah berlaku adil pada cucuku."
Setelah berkata demikian Gabrielle bergegas menyusul Justin dan Elea yang sedang menunggu di dalam mobil. Begitu masuk, dia disuguhi pemandangan lucu di mana Justin tengah duduk di pangkuan Flow sambil mencubit kedua pipinya yang tirus.
"Bibi cantik sekali. Bibi suka menanam bunga dan bernyanyi. Suara Bibi juga sangat indah," ucap Justin tak henti memuji kelebihan sang bibi.
"Hei, anak manis. Sejak kapan Bibi suka menanam bunga dan bernyanyi. Siapa yang memberitahumu?" tanya Flow terheran-heran mendengar celotehan Justin. Entah apalagi kali ini. Setelah Oliver, Justin kembali mengeluarkan omongan yang sangat aneh. Suara indah dan suka menanam bunga? Bahkan berjalan saja Flow tidak bisa. Ada-ada saja.
"Ibu peri."
Justin mengerucutkan bibir. "Ibu perinya cantik sekali. Rambutnya panjang dan dia memegang biji bunga."
"Hah??"
(Mungkinkah ini yang menjadi penyebab Justin kurang istirahat dan tidak fokus saat di kelas? Haihh, kenapa banyak sekali hal-hal yang tak terlihat datang mengganggunya. Setelah Nenek Zhu sekarang muncul ibu peri. Astaga)
"Justin, di mana Justin bertemu dengan ibu peri?" tanya Gabrielle ingin tahu.
"Saat Justin sedang tidur, Kek. Ibu peri membawa Justin jalan-jalan ke bulan. Di sana juga ada paman hitam yang terlihat sedih. Kasihan sekali," jawab Justin bercerita seraya memasang ekpresi yang berubah-ubah. Kadang terlihat gembira, kadang juga terlihat sedih. Aneh pokoknya.
"Ayah, Ibu. Sebenarnya Justin sedang membicarakan apa sih?" bisik Flow semakin dibuat bingung oleh cerita keponakannya. Ibu peri, paman hitam, apa artinya semua itu?
"Namanya juga anak-anak, Flow. Mungkin Justin sedang terhanyut dalam cerita dongeng yang dibacakan oleh gurunya. Cerita di dalam dongeng itu lalu tak sengaja terbawa ke alam mimpi. Saat masih kecil dulu kau juga sering seperti ini kok. Ibu sih sudah tidak heran," jawab Elea menutupi kebenaran dari cerita Justin. Dia menebak kalau ibu peri yang Justin maksud berhubungan dengan kisah cinta yang belum usai antara leluhur Flowrence dan Oliver.
"Oh, hanya mimpi ternyata."
__ADS_1
Sambil mendengarkan cerita Justin, Gabrielle meminta sopir untuk mengantarkan mereka ke apartemen Bern. Dalam benaknya muncul berbagai pertanyaan. Mungkinkah putrinya ada harapan untuk kembali pulih seperti semula? Semoga saja.
***