
"Ayah, Justin tidak mau masuk. Justin takut!" lirih Justin sambil beringsut ketakutan ke badan ibunya. Nafasnya langsung memburu saat dia melihat segerombolan wanita yang kemarin menyakitinya.
Cengkraman tangan Bern di stir mobil langsung menguat menyaksikan putranya trauma dan ketakutan. Kedua sisi rahangnya juga mengerat, menandakan betapa dia sangat amat murka akan apa yang terjadi.
"Sabar, Bern. Jangan langsung emosi. Sikapmu bisa membuat Justin semakin takut," ucap Renata seraya mengelus lengan Bern. Dia bicara sambil memeluk erat tubuh mungil Justin yang mulai gemetaran. "Kendalikan dirimu. Justin sedang ketakutan sekarang."
"Aku tidak tahan, sayang. Boleh aku turun untuk menghajar mereka?" tanya Bern sambil menggeretakkan gigi. Pandangan matanya begitu gelap tertuju pada sekumpulan sampah yang datang dengan kondisi wajah babak belur dan terpasang gips.
"Jangan! Ini tempat umum, Bern. Jangan mempermalukan dirimu dengan menyakiti para wanita itu. Kita bicara baik-baik dengan mereka. Oke?"
"Tapi aku ....
"Bern, please. Aku tahu kau marah, aku juga sama. Tapi di sini kita harus mengutamakan mental Justin dulu. Biarkan Miss membawa Justin masuk ke kelas baru kita menyelesaikan urusan dengan mereka. Dengan begitu Justin tidak akan merasa ketakutan. Ya?"
Bujukan Renata akhirnya berhasil membuat Bern menjadi sedikit tenang. Segera dia menoleh ke samping dan mengelus rambut Justin yang sedang menyembunyikan wajah di pelukan ibunya.
"Justin pria yang hebat, bukan?"
"Iya, Ayah. Tapi Justin takut. Justin tidak mau di cubit lagi. Sakit,"
"Mereka tidak akan berani menyakiti Justin lagi. Kan sekarang ada Ayah dan Ibu. Kalau mereka nakal, Ayah akan meminta dinosaurus untuk memakan mereka. Oke?"
Justin menoleh. Matanya yang bening tampak mengerjap beberapa kali. Bern yang melihat hal itupun merasa sakit sekali. Anak sepolos ini bagaimana bisa mereka membullynya? Kejam sekali.
"Ayah, memangnya dinosaurus bisa makan orang ya?" tanya Justin ingin tahu.
"Tentu saja bisa. Kenapa memangnya? Justin ingin dimakan juga?" seloroh Bern iseng.
"Tidak. Biar Bibi itu saja yang dimakan, Justin tidak mau!"
"Ya sudah nanti biar mereka saja yang dimakan. Sekarang Justin masuk ke kelas ya? Miss sudah menunggumu di depan gerbang. Ayo!"
Renata mencium kening Justin beberapa kali kemudian membisikkan sesuatu. Walau terlihat enggan, Justin akhirnya bersedia untuk keluar dari dalam mobil. Bern pun sigap dengan keluar lebih dulu kemudian berlari memutar untuk membukakan pintu samping. Setelah itu dia merangkul bahu Renata dan berjalan melewati sekelompok sampah yang memang sedang menunggu mereka.
"Tuan Muda Bern, kami ....
"Tutup mulut kalian atau aku akan melemparkan kalian semua ke kandang dinosaurus milik putraku!" ancam Bern dengan ekpresi yang begitu dingin. Dan tentu saja dinosaurus yang dia maksud bukan benar-benar milik putranya, melainkan Tora yang ada di rumah orangtuanya.
"Hah? Dinosaurus?"
"Urusan kita belum selesai. Tunggu setelah putraku masuk ke kelas, baru kita bereskan semuanya!"
__ADS_1
"B-baik, T-Tuan Muda."
Setelah memberi peringatan kepada wanita-wanita itu, Bern mengajak Renata untuk segera menghampiri Miss yang telah menunggu Justin. Justin sendiri terus menutup wajahnya dengan kedua tangan saking dia takut pada orang-orang yang telah menyakitinya kemarin.
"Halo Justin, selamat pagi,"
"Selamat pagi, Miss."
"Kita langsung masuk ke kelas saja ya?"
"Iya,"
Tahu akan segera berpisah dengan ayah dan ibunya, Justin menurunkan kedua tangannya dari wajah. Setelah itu dia bergantian mencium pipi kedua orangtuanya sebelum akhirnya dia dibawa masuk ke kelas oleh Miss.
"Justin tidak akan kenapa-napa lagi kan kalau kita meninggalkannya di sekolah sendirian?" tanya Renata cemas. Dia takut putranya akan di sakiti lagi seperti kemarin.
"Kau jangan khawatir. Sekolah ini tidak akan berani macam-macam pada anak kita. Kemarin setelah Ayah dan Ibu tahu kalau Justin sekolah di sini, mereka langsung menyumbangkan dana untuk menjamin keselamatannya. Jadi kau tidak perlu risau. Justin sudah sangat aman sekarang," jawab Bern sambil mengelus rambut Renata penuh sayang.
"A-apa? Ayah dan Ibumu sampai berbuat seperti ini demi Justin?"
"Iyalah. Justin adalah cucu mereka. Wajar kalau mereka peduli. Kau keberatan ya?"
"Ingat janjimu hari ini, kan?"
Glukkk
Ya ampun, kenapa Bern malah membahas soal jawaban lamaran itu sih. Aku kan sedang serius.
"Ayo jawab. Ingat tidak dengan janjimu hari ini?" desak Bern saat Renata diam menatapnya.
"I-ingat," jawab Renata terbata.
"Apa?"
"Jawaban soal lamaran semalam,"
"Lalu apa jawabannya?" tanya Bern.
"Harus sekarang ya?"
Bern mengangguk. Sekejap dia lupa sedang berada di mana dan ada siapa saja di sana.
__ADS_1
"Tidak bisakah kita bicara di toko saja? Aku malu, Bern. Ini tempat umum. Nanti saja ya?" ucap Renata mencoba membujuk Bern.
"Tidak bisa, sayang. Harus di sini dan sekarang juga karena itu adalah jawaban dari pertanyaan yang tadi kau berikan padaku," sahut Bern tak membiarkan Renata mengulur waktu.
Renata terdiam. Sepertinya memang sudah tidak ada kesempatan untuk dia mengelak dari hal ini. Sambil merapihkan poninya yang bergerak-gerak tertiup angin, Renata akhirnya memberikan jawaban yang Bern mau.
"Di awal pertemuan kita akulah yang lebih dulu mengajakmu untuk menikah. Namun setelah beberapa waktu terlewat, aku putuskan untuk tidak lagi memikirkan hal tersebut. Entah atas dasar apa kau ingin mengikatku, tapi yang jelas aku tidak bisa menolak ikatan tersebut. Tapi Bern, jujur sampai detik ini aku masih tak paham dengan perasaanku sendiri. Aku tidak mengerti apakah aku menyukaimu atau tidak,"
Jeda sejenak. Bern dengan sabar menunggu Renata menyelesaikan kata-katanya. Baginya ini adalah lampu hijau karena wanita ini sama sekali tak menunjukkan penolakan apapun. Dan tentu saja hal tersebut adalah kabar baik yang memang sedang Bern tunggu-tunggu.
"Aku menerima lamaranmu, Bern Wufien Ma. Namun, aku melakukan hal ini adalah demi Justin. Jika di suatu saat nanti kau menanyakan apakah aku memiliki rasa padamu atau tidak, tolong jangan memaksaku untuk memberikan jawaban. Karena sampai di detik ini aku masih belum paham dengan perasaanku sendiri. Kau bisa maklum, kan?" ucap Renata lega setelah menyampaikan jawabannya.
"Sayang, aku tidak perlu semua itu. Karena yang terpenting bagiku adalah bisa memilikimu dan juga Justin di hidupku. Kalau memang sulit untukmu mengatakan hal tersebut, maka biar aku saja yang mencintaimu. Kau berharga, Renata. Kau dan Justin adalah nafasku di dunia ini!" sahut Bern seraya mengelus pelan wajah cantik calon istrinya. "Kau tadi bertanya kenapa keluargaku memperlakukan Justin dengan begitu baik, bukan?"
"Iya,"
"Dan jawabannya adalah karena kau calon istriku dan Justin adalah putraku. Jawaban ini harusnya cukup membuatmu mengerti kalau kalian telah menempati ruang tersendiri di keluarga Ma. Justin Goh. Mulai saat ini marganya akan berganti mengikuti marga keluargaku. Justin Ma."
Angin sejuk tiba-tiba berhembus saat Bern menegaskan marga asli yang seharusnya disandang oleh putranya. Dan hembusan angin tersebut sampai pada seorang bocah kecil yang tengah tersenyum sambil menatap ke arah pintu. Justin tengah tersenyum pada sang leluhur, yaitu Jendral Liang Zhu. Ruh wanita kuat itu begitu lega karena darah keturunannya telah tertegaskan dan akan segera bergabung ke keluarga Ma.
"T-Tuan Muda Bern, Nona Renata. Bolehlah kami bicara?"
Percakapan Bern dan Renata terpaksa terhenti saat segerombolan wanita mendatangi mereka. Bern yang sedang berbahagia tak ingin berlama-lama bicara dengan para sampah ini.
"Bawa anak kalian pindah dari sekolah ini. Dan jika ingin tetap berada di kota ini, maka kalian harus pastikan jangan sampai putraku bersekolah di tempat yang sama dengan anak-anak kalian. Jika hal tersebut sampai terjadi, maka bersiaplah kalian untuk hidup di jalanan. Mengerti?!" gertak Bern tak terbantahkan.
"M-mengerti, Tuan Muda. Ka-kami berjanji tidak akan membiarkan putramu satu sekolah dengan anak-anak kami."
"Pergilah. Melihat wajah kalian membuat emosiku kembali naik. Pergi sejauh mungkin sebelum aku berubah pikiran kemudian menghabisi kalian semua. Pergi!"
"B-baik, Tuan Muda. Kami permisi,"
Renata hanya bisa tercengang kaget mendengar ancaman yang Bern lontarkan pada wanita-wanita itu. Dia bahkan tidak diberi kesempatan untuk sekedar bertanya mengapa mereka tega menyakiti putranya yang tidak tahu apa-apa.
"B-Bern, kenapa kau membiarkan mereka pergi begitu saja? Aku belum berkata apapun pada mereka," tanya Renata.
"Suaramu terlalu berharga untuk didengar manusia busuk seperti mereka, sayang. Jadi biar aku saja yang menyelesaikan masalah ini," jawab Bern sembari melingkarkan tangan ke pinggang Renata. Dia kemudian mencium pinggiran kepalanya sambil berbisik mesra. "Biar aku saja yang menjadi orang beruntung mendengar suaramu yang sangat merdu. Dan kau harus tahu kalau aku adalah tipe pria yang sangat luar biasa posesif. Jadi bersiaplah menerima hujan cinta dan juga badai perhatian dari pria yang akan segera menjadi suamimu ini. Oke?"
Hah????
***
__ADS_1