Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bab 38


__ADS_3

Ruth hanya bisa pasrah saat Cio kembali datang ke rumahnya. Namun kali ini pria tersebut tidak datang sendirian, tapi bersama seseorang yang menjadi akar dari kekacauan yang terjadi di keluarganya.


"Ayolah, Ruth. Santai. Aku dan Karl datang kemari bukan untuk menggilirmu. Kami hanya ingin tahu saja di mana Tuan Kendra berada. Sudah," ucap Cio dengan santainya melontarkan kata-kata vulgar pada wanita di hadapannya. Dia gemas melihat respon Ruth saat berhadapan dengan Karl.


"Matipun aku tidak akan membiarkan kalian bertemu dengan Ayahku!" sahut Ruth dengan lantang. Dia lalu menatap sengit ke arah Karl. Menunjukkan betapa dia sangat membenci pria ini. "Enyah kau dari hadapanku, b*jingan. Aku tidak rela kakimu yang penuh darah itu menginjak lantai rumahku."


"Apa aku terlihat seperti seseorang yang butuh izin untuk menginjak lantai di rumah orang?" sahut Karl dingin. Awalnya dia acuh, tapi mendengar hinaan yang Ruth lontarkan seketika darah di tubuhnya mendidih. Dia ingin melenyapkan wanita ini sekarang juga.


"Tidak. Tapi kau terlihat seperti seorang iblis yang datang untuk mengacaukan kebahagiaan di hidup orang lain!"


"Oh, begitu ya?"


Karl menarik nafas panjang. Dia maju selangkah, mencoba memangkas jarak dengan putri sulung Tuan Kendra.


"Menjadikan Amora sebagai pelayan di rumahnya sendiri. Menyiksanya bagaikan anjing peliharaan, tidak membiarkannya menempuh pendidikan dengan layak. Juga melukai fisik beserta mentalnya. Di sebut apa semua itu, hm? Tolong jelaskan. Jika alasanmu masuk akal, aku bersumpah tidak akan pernah datang ke rumah ini lagi!" ucap Karl menyebutkan satu-persatu keburukan yang pernah Amora terima di rumah ini.


Ruth tergugu. Dia tak bisa berkutik lagi saat semua dosa yang telah dia dan keluarganya lakukan pada Amora di ungkit dengan begitu gamblang oleh Karl. Ruth mati kutu.


"Kenapa diam? Tidak punya celah untuk membenarkan diri?" ejek Karl. "Asal kau tahu saja, Nona. Jika aku mau, bukanlah hal yang sulit untuk bisa menemukan keberadaan Ayahmu. Namun karena aku sangat menghargai adikmu yang malang itu, aku memilih untuk bicara baik-baik denganmu. Tapi apa tanggapanmu? Kau malah menghinaku seolah kalian adalah makhluk yang paling benar. Kau tidak mungkin tidak tahu apa itu yang namanya sadar diri. Iya, kan?"


"Untuk apa kalian ingin bertemu dengan Ayah?" tanya Ruth mencoba melunak. Dia tahu benar bukanlah hal yang baik jika pria sinting ini sampai terprovokasi.


Tak mau membuat amarah Karl kian terpancing, Cio segera menarik Ruth dan mengajaknya pindah ke ruangan yang lain. Di sana dia langsung merapatkan tubuh wanita ini ke tembok lalu mengurungnya dengan kedua tangan. Anggaplah Cio sedang mencari kesempatan dalam kesempitan. Hehehe.


"Jangan kurang ajar kau!" hardik Ruth tak nyaman atas apa yang pria ini lakukan.


"Kalau kau tidak mau aku bersikap kurang ajar lebih baik menurut saja. Patuh, maka seluruh tubuhmu akan aman. Oke?" sahut Cio seraya terkekeh mesum.


"Brengsek!"


"Ouh, itu memang julukanku, Nona Ruth. Mau mencobanya?"


Terbahak-bahak Cio tertawa saat wajah Ruth memerah karena perkataannya. Lucu juga bisa menggoda putri sulung di keluarga Shin. Hmmm.


"Nona Ruth, dengar. Karl bukanlah seseorang yang bisa seenaknya kau maki. Mungkin kalau aku masih bisa menerima, tapi dia? Heh, lebih baik kau berdoalah supaya Karl tidak mendendam. Sekarang kau beritahukan saja di mana Ayahmu berada sebelum pria mengerikan itu naik darah. Dia sedikit kurang ramah jika diminta menunggu sesuatu. Tahu?"

__ADS_1


"Ayah tidak dalam kondisi bisa di ajak bicara. Tolong mengertilah!" sahut Ruth resah saat didesak agar memberitahukan keberadaan sang ayah. "Sejak Amora meninggal, tak pernah sekalipun Ayah mau bicara. Entah itu aku atau kedua adikku, mulutnya tetap terkatup rapat hingga sekarang. Jadi sia-sia saja kalau kalian kekeh memaksa ingin bertemu dengannya."


"Itu menurut kalian. Jika Karl yang datang, aku rasa Ayahmu akan menunjukkan reaksi yang berbeda. Coba saja jika tidak percaya!"


Setelah berkata seperti itu Cio kembali membawa Ruth ke hadapan Karl. Dia lalu menatap penuh maksud pada sepupunya yang tengah memainkan ponsel sambil meliriknya.


"Ayahku ada ....


"Di ruang bawah tanah," sahut Karl memotong perkataan Ruth.


"B-bagaimana bisa kau mengetahui hal ini? K-kau menguntit ya?"


"Bukankah sudah ku bilang bukan hal yang sulit untuk aku bisa menemukan keberadaan Ayahmu? Cepat jalan. Atau aku akan mengobrak-abrik seluruh isi di rumah ini."


Terdengar kekehan dari mulut Cio saat sepupunya dengan mudah menemukan keberadaan Tuan Kendra yang ternyata ada di rumah ini. Sambil bersiul seperti bajingan, dia dan Karl mengikuti langkah Ruth yang terkesan terpaksa. Jelas terpaksalah. La wong Karl sudah lebih dulu menemukan keberadaan ayahnya sebelum sempat dia selesai bicara. Cio yakin sekali hatinya Ruth pasti sangatlah dongkol. Haha.


"Ayah tidak dalam kondisi mental yang baik. Aku harap kalian bisa sabar dan tenang saat mengajaknya bicara," ucap Ruth sesaat sebelum membuka pintu menuju ruang bawah tanah. Meski berat, terpaksa dia harus tetap membawa kedua pria ini pergi mengunjungi sang ayah. Ruth takut dengan ancaman Karl.


"Tergantung bagaimana Ayahmu menjawab pertanyaan kami, Nona. Kalau dia bertele-tele, aku tidak menjamin sepupuku bisa sabar," sahut Cio dengan santainya mempermainkan Ruth.


"Tolonglah,"


"Kenapa kalian menempatkannya di ruangan seperti ini?" tanya Karl sambil berjalan masuk ke dalam.


"Ayah yang menginginkannya. Sejak Amora dimakamkan, tak sekalipun Ayah pernah keluar dari ruangan ini. Ayah bilang dia sedang menghukum diri atas ketidakbecusannya dalam membesarkan anak," jawab Ruth. Tangannya bergerak menekan tombol lampu. Hingga ruangan yang tadinya begitu gelap kini berubah terang. "Ayah biasanya ada di sana."


Cukup mencengangkan. Seorang Kendra Shin yang terkenal glamor dan kaya raya, kini tinggal di dalam ruangan yang sangat sempit dan juga engap. Ya meskipun ruangan ini di penuhi dengan fasilitas yang keren, tetap saja tak bisa merubah kesan sebagai ruangan tersisih di bawah rumah utama. Kasihan.


"Ayah?"


Hening. Tak ada sahutan. Ruth bergegas masuk ke dalam ruangan yang menjadi kamar sang ayah. Di sana, di atas ranjang usang duduk seorang pria tua yang sedang melamun. Ruth menarik nafas panjang, berusaha kuat agar tak menangis.


"Itu Ayah. D-dan seperti inilah keadaannya sejak Amora kami meninggal."


"Kasihan sekali."

__ADS_1


Cio berjalan mendekat. Dia lalu mengusap pelan bahu Tuan Kendra.


"Lama tak jumpa, Tuan. Apa kabar?"


Masih tak ada sahutan. Tatapan Kendra kosong, seolah tak ada lagi kehidupan di sana, tapi nafas masih ada.


"Apa Amora mempunyai saudara kembar?" tanya Karl to the point. Dia malas bertele-tele.


Aneh. Begitu Karl menyinggung tentang Amora, tubuh Kendra tiba-tiba bereaksi. Dia langsung menoleh, menatap seksama ke arah Karl.


"Apa Amora mempunyai saudara kembar?" Kembali Karl mengulang pertanyaan.


"Kembar?" Beo Kendra dengan bibir bergetar. "Amora kembar?"


"Dia punya?"


"Amora kembar. Iya, Amora kembar."


Biji mata Cio dan Ruth sama-sama membulat lebar mendengar pengakuan tersebut. Jika Ruth terkejut karena baru mengetahui kalau adik bungsunya mempunyai saudara kembar, maka Cio terkejut karena ternyata Renata satu darah dengan Amora.


"Ayo pulang!" ajak Karl sambil berbalik pergi.


"Y-yakkk, kenapa pulang?" seru Cio kaget mendengar ajakan sepupunya.


"Cukup kita tahu kalau Amora mempunyai saudara kembar. Selebihnya tidak perlu."


"Tapi kenapa?"


"Hanya Bern yang bisa membuktikannya."


"Karl, apa maksudnya ini? Kalian ....


"Jangan banyak bertanya tentang urusan orang lain. Nanti kau mati."


Gertakan Karl sukses membungkam mulut Ruth. Sedangkan Kendra, dia sudah kembali terjebak dalam rasa sesalnya. Paham akan maksud Karl, Cio pun segera mengikutinya keluar. Masalah sudah beres. Hanya tinggal menunggu waktu pembuktian saja. Hehe.

__ADS_1


Karl memang sangat gesit dalam bergerak. Semuanya langsung terjawab dalam sekali tindak. Hmmm, semoga saja Renata adalah Amora. Siapa tahu mereka tertukar saat kecelakaan itu terjadi. Iya, kan?


***


__ADS_2