Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bab 41


__ADS_3

Walau sudah berusaha memejamkan mata, tetap saja Renata tak bisa tidur. Pelan-pelan dia bangun lalu menoleh ke samping, menatap lekat pada dua pria beda usia yang sedang terlelap sambil berpelukan.


Pemandangan ini sangat menghangatkan hati, tapi kenapa aku merasa tak tenang? Ada apa dengan sikapnya Bern? Kenapa tiba-tiba dia bersikap aneh seolah ingin mengekangku di apartemen ini?


"Sepertinya aku perlu merenungkan soal ini. Aku tidak mungkin terus tinggal bersamanya tanpa status yang jelas," gumam Renata lirih.


Dengan gerakan yang sangat hati-hati sekali, Renata melangkah turun dari ranjang. Setengah berjingkat-jingkat dia keluar dari kamar. Dia lalu menutup pintu dengan sepelan mungkin agar suaranya tidak mengganggu istirahat kedua pria beda usia itu.


"Apa yang harus aku lakukan?"


Kata ini yang pertama muncul setelah Renata duduk di sofa. Jam menunjukkan pukul satu dini hari, tapi dia sama sekali tak merasakan kantuk sedikitpun. Pikiran Renata di penuhi oleh rasa penasaran akan perubahan sikap di diri Bern. Pria asing yang awalnya dia kenal sebagai pria hangat dan juga baik hati, mendadak jadi berkesan sebagai pria posesif dan juga pencemburu buta. Aneh, kan?


"Mungkinkah aku telah melakukan kesalahan yang tak di sengaja sehingga membuatnya marah? Tapi apa?" ucap Renata bertanya-tanya sendiri. "Seharian ini Bern banyak menghabiskan waktunya bersama Justin. Dan aku rasa tidak ada yang salah dengan hal itu. Lalu di mana letak sebabnya?"


"Ini sudah malam. Kenapa tidak tidur?"


Hampir saja Renata memekik kaget saat Bern tiba-tiba bicara. Segera dia menatap pria yang kini sedang berdiri di depan pintu kamar.


"Apa aku membuatmu terbangun?" tanya Renata berusaha untuk tenang. Tidak apa-apa, Bern tidak akan mungkin menyakitinya.


Bern menggeleng. Dia berjalan menghampiri Renata kemudian duduk di sebelahnya.


"Maaf,"


"Ha? Maaf?"


"Maaf karena sudah membuatmu merasa takut." Bern menghela nafas panjang sebelum melanjutkan perkataannya. "Aku tahu sikapku hari ini telah membuatmu merasa tidak nyaman. Aku minta maaf."


Untuk beberapa saat ruang tamu apartemen itu menjadi hening. Baik Renata maupun Bern, mereka memilih untuk diam sejenak.


"Bern, aku tidak tahu kesalahan apa yang telah kuperbuat sehingga kau memperlakukan aku seperti ini. Jika ada masalah ceritakan saja. Aku siap menjadi pendengar dan juga sandaranmu," ucap Renata sembari mengelus bahu pria yang terlihat sangat menyedihkan. Hatinya terenyuh, walau takut.


"Bukan, ini bukan tentang masalah. Tapi ini tentang sesuatu yang hanya aku sendiri yang bisa membuktikan," sahut Bern tak berdaya.

__ADS_1


"Maksudnya bagaimana?"


"Kau tahu bukan kalau aku menganggapmu sangat mirip dengan kekasihku?"


Renata mengangguk. Dia memperhatikan Bern dengan seksama, menanti dengan sabar kelanjutan dari perkataan pria ini.


"Untuk membuktikan apakah benar kau adalah kekasihku yang hilang atau bukan, aku perlu melihat beberapa bagian tubuhmu. Ini aku tidak sedang bermaksud kurang ajar, tolong kau jangan berpikiran seperti itu. Namun hanya cara inilah yang bisa memuaskan perasaanku terhadapmu. Kau mengerti apa yang aku maksudkan, bukan?"


"M-maksudnya a-aku harus membuka baju di hadapanmu?"


Syok. Renata benar-benar sangat syok mendengar hal tersebut.


"Iya. Dan itupun jika kau berkenan melakukan. Jika tidak, aku juga tidak akan memaksa. Jadi jangan takut. Oke?"


Bern menoleh. Tangannya terulur mengelus pipi Renata. Dia kemudian tersenyum.


"Amora adalah gadis yang sangat lembut dan juga baik hati. Hatiku selalu menghangat setiap kali melihat senyumnya. Aku bahkan bisa tergila-gila hanya dengan mendengar suaranya yang begitu merdu dan juga indah. Dia sangat mempesona, bukan?" ucap Bern mengenang sosok Amora. "Saat para gadis mengejarku hanya demi status dan kekayaan yang kumiliki, Amora adalah satu-satunya gadis yang keberatan setiap aku memberinya hadiah. Dia selalu berkata kalau barang miliknya masih cukup layak untuk di pakai. Amoraku terlalu sederhana, dan kepergiannya mampu merenggut kewarasanku. Dia separuh hidupku kalau kau mau tahu."


Tes


"Aku sudah berusaha meyakinkan diri kalau kalian itu tak sama. Akan tetapi ada kalanya akal sehatku menolak untuk menerima. Alasan kenapa aku jadi seperti ini adalah karena aku merasa tak terima Justin menggunakan marga keluargamu. Dia putraku, seharusnya mengunakan marga Ma, bukan Goh. Aku tidak bisa menerima hal ini, Renata. Sungguh!"


"Bern, tenang. Jaga emosimu. Oke?"


"Aku tidak bisa menerimanya, Renata,"


"Iya aku tahu. Sudah ya kita jangan bahas masalah ini lagi. Mari tutup cerita dan tenangkan hatimu," sahut Renata dengan sabarnya. Dia lega karena setidaknya Bern mau berkata jujur tentang perubahan sikap yang terjadi. Pria ini cukup terbuka.


Mungkin bagi sebagian orang apa yang terjadi pada Bern merupakan tindakan seorang pengecut. Akan tetapi dia benar-benar tak berdaya menghadapi rasa kehilangan terhadap sosok gadis yang telah berhasil menyentuh titik tulusnya. Bern tidak sanggup dan tidak sekuat itu. Dia lemah, kalah akan rasa cinta yang dia punya.


"Bern, boleh aku menanyakan sesuatu padamu?" tanya Renata setelah memastikan kalau emosinya Bern sudah mereda.


"Silahkan saja," jawab Bern pelan.

__ADS_1


"Kenapa kau menceritakan masalah pribadimu padaku? Apa kau tidak takut suatu hari nanti aku akan membocorkannya pada orang lain?"


Bern tersenyum. Bagaimana cara dia menjelaskan tentang hal ini?


"Em, tapi kalau kau merasa kurang nyaman sebaiknya jangan di jawab ya. Aku hanya sekedar ingin tahu saja," ucap Renata merasa tak enak hati melihat Bern hanya tersenyum saja. Dia takut pria ini akan merasa tersinggung.


"Karena yang aku tahu Amora adalah pendengar terbaik di dunia ini. Di hadapannya aku bebas mengekspresikan perasaanku. Dia tak mencela saat aku merasa lemah, dia juga tak mengolok saat aku mengakui sebuah kekalahan. Dan alasan kenapa aku mempercayaimu adalah karena kau mirip dengan Amora. Aku yakin kalian pasti memiliki kebaikan yang sama," sahut Bern memberitahu Renata alasan kenapa dia berani menceritakan semua hal padanya.


"Jadi kau menganggap kalau aku adalah sosok Amora ketika sedang bercerita?"


"Ya,"


Hening. Renata sampai kehabisan kata mendengar pengakuan jujur Bern.


"Jangan kau jadikan beban pikiran. Aku sama sekali tak memiliki niat jahat padamu. Sungguh!"


"Jika aku menunjukkan bagian tubuh yang ingin kau lihat, apakah kau akan mengizinkan aku untuk pulang?" tanya Renata seraya menatap seksama ke arah Bern. Pikiran pria ini sudah tidak benar. Jika tidak segera menghindar, takutnya nanti Bern akan semakin terobsesi padanya. Renata takut.


"Renata, jangan memaksakan dirimu. Aku hanya ... hanya ....


Tiba-tiba Bern merasa gelisah saat Renata membahas tentang kepergian. Dia takut di tinggal.


"Bern, aku hanya inginkan pulang saja. Dan kau masih bebas bertemu denganku kapanpun kau mau. Aku hanya ingin mencegah agar orang lain tak salah memahami kedekatan kita. Tolong mengerti ya?"


"Tapi Renata, aku ....


"Please, hargai keputusanku. Kita ini bukan suami istri ataupun pasangan kekasih, Bern. Tolong pahami posisiku. Oke?"


"Haruskah?"


"Aku yakin kau pasti bisa."


Setelah berkata seperti itu Renata berdiri di hadapan Bern. Biarlah jika dirinya di cap sebagai wanita tak tahu malu. Di hadapan pria ini Renata dengan berani melepas piyama tidurnya. Dia membiarkan kulit tubuhnya terekspos begitu saja, berharap kalau tindakannya bisa membuat Bern sadar kalau dirinya bukanlah Amora.

__ADS_1


T-tidak mungkin. B-bagaimana bisa jadi seperti ini. Mustahil. Renata tidak mungkin ....


***


__ADS_2