
Nandira terlihat tak sabar menunggu anak dan cucunya sampai di rumah. Dia terus saja berjalan mondar-mandir di depan teras sambil sesekali melongok ke arah gerbang.
"Mereka lama sekali. Katanya sudah mau sampai. Kok masih belum kelihatan juga mobilnya," gumam Nandira.
Tak lama berselang orang yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba. Nandira yang melihat hal itupun segera datang mendekat. Senyum lebar tampak mengembang di bibir saking dia sudah tak sabar ingin segera memeluk cucunya yang menggemaskan itu.
"Nyonya, Justin sedang tidur. Tolong pelankan suaramu," ucap Bern yang lebih dulu keluar dari mobil. Setelah itu dia berjalan memutar dan membukakan pintu untuk Renata. "Biar aku bantu membuka seatbeltmu. Kau tetaplah memeluk Justin."
Renata mengangguk patuh. Setelah itu dia baru keluar dengan tangan Bern memayungi bagian atas kepalanya.
"Apa Justin sudah mandi?" tanya Nandira dengan suara yang sangat pelan.
"Belum, Ibu. Dia terlalu asik bermain tadi," jawab Renata.
"Nanti tinggal di lap saja badannya. Kasihan kalau harus dibangunkan. Dan juga obat yang di oleskan ke tubuhnya bisa hilang kalau dia dimandikan," sahut Bern ikut menimbrung pembicaraan Renata dengan ibunya.
"Obat?"
Kening Nandira mengerut. "Obat apa maksudnya, Bern?"
"Kita bicarakan di dalam saja ya. Sekalian aku ingin membawa Justin ke kamar. Aku takut punggungnya sakit karena tertidur dengan posisi seperti ini," ucap Renata mengajak ibu dan Bern masuk ke dalam rumah.
Nandira mengangguk. Segera dia mengikuti Renata masuk, sedangkan Bern berjalan di belakang mereka.
Sesampainya di ruang tamu Renata pamit membawa Justin ke kamar. Dia lalu meminta sang ibu agar menemani Bern di sana.
"Bern, ini sebenarnya ada apa ya? Obat apa yang tadi kau maksud? Apa Justin terluka?" tanya Nandira sudah tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
"Iya, Nyonya. Justin terluka," jawab Bern tanpa ada niat menutup-nutupi. "Saat di sekolah dia di bully oleh orangtua teman-temannya. Dia dicubit dan di dorong. Justin juga menerima perlakuan yang sangat kurang pantas dari mereka. Dia dimaki dan di sebut sebagai aib yang menjijikkan!"
"A-apa? B-bagaimana bisa hal semacam itu bisa terjadi?"
"Ini salahku!"
Tatapan Bern menyendu. Dia lalu membuang nafasnya yang terdengar berat.
"Ini salahku karena tidak ada di sisi Renata dan Justin selama ini. Andai saja aku tahu mereka ada di sini, kejadian ini pasti tidak akan terjadi. Mereka menerima bullyan yang sangat menyakitkan hati hanya karena Renata melahirkan Justin tanpa mempunyai seorang suami. Aku menyesal sekali, Nyonya. Tanpa sadar aku telah membuat Justin dan Renata menderita!" ucap Bern merasa sangat bersalah atas apa yang menimpa anak dan calon istrinya.
Rasanya dada Nandira seperti tertusuk pedang setelah mengetahui kalau anak dan cucunya telah di bully. Dia tidak menyangka kalau selama ini Justin dan Renata telah menerima perlakuan yang sangat tidak manusiawi dari orang-orang di luaran sana.
"Aku tidak tahu ada masalah seperti ini, Bern. Renata sama sekali tak menceritakan apapun padaku,"
__ADS_1
"Sifatnya memang seperti itu, Nyonya. Amora adalah gadis yang tidak pernah mau membagi kesedihannya dengan orang lain. Dia selalu memendamnya seorang diri. Aku pikir setelah memakai identitas Renata sifatnya akan sedikit berubah. Tapi ternyata tidak. Dia masih Amora yang aku kenal!"
"Lalu bagaimana dengan orang-orang itu? Aku tidak terima anak dan cucuku diperlakukan seperti ini!" tanya Nandira geram.
"Kau jangan khawatir, Nyonya. Aku dan para sepupuku telah membuat perhitungan dengan mereka. Besok pagi kalau mereka tidak datang meminta maaf pada Justin dan Renata, aku pastikan mereka tidak akan ada lagi di negara ini. Mereka sampah. Jadi sudah sepantasnya di buang ke tempat yang sangat jauh!" jawab Bern dengan suara yang begitu dingin.
Percakapan Bern dan Nandira terhenti saat mereka mendengar suara langkah kaki mendekat. Segera Bern menyunggingkan senyum melihat Renata yang datang dengan membawa Justin di gendongannya.
"Hmmm, Bern. Sepertinya mulai sekarang aku akan sedikit kesulitan menidurkan Justin. Lihat. Dia langsung bangun begitu tahu kalau kau tidak ada di sampingnya. Aku harus bagaimana?" ucap Renata mengeluhkan kelakuan putranya yang benar-benar sangat manja pada Bern. Dia sampai terheran sendiri karenanya.
"Ayah, Justin ingin tidur dengan Ayah," sahut Justin seraya menggosok matanya. Dia lalu mengulurkan tangan, memberi kode pada sang ayah kalau dia ingin di gendong.
"Aduhh anak Ayah. Manja sekali sih. Kemarilah. Biar Ayah menggendongmu sampai tidur," sahut Bern merasa sangat gembira akan sikap Justin yang begitu manja. Segera dia berdiri kemudian mengambil Justin dan gendongan Renata. "Dasar pria manja. Tidurpun harus bersama Ayah ya?"
"Iya, Ayah. Justin sudah besar. Jadi harus tidur dengan sesama pria,"
"Benarkah?"
"Iya,"
"Siapa yang mengajari Justin bicara seperti ini?" tanya Bern gemas.
Cio, Reiden, awas saja kalian. Berani sekali ya kalian berdua mendewasakan putraku sebelum waktunya. Dasar paman tidak berguna kalian!
"Ayah, malam ini Ayah tidur di rumah Nenek Nandira, kan?" tanya Justin penuh harap. Dia lalu menguap sebelum akhirnya merebahkan kepalanya di bahu sang ayah.
"Tidak, sayang. Malam ini Ayah harus kembali ke rumah Ayah dulu. Kapan-kapan baru Ayah akan menginap. Oke?" jawab Bern sembari melirik ke arah Renata.
"Ummm, tidak asik."
Renata tersenyum. Heran sekali dia dengan kata-kata yang keluar dari mulut putranya. Apakah ini adalah efek berkenalan dengan para sepupunya Bern? Entahlah. Yang jelas putranya tiba-tiba menjadi sok dewasa. Lucu.
"Justin, rindu Nenek tidak?" tanya Nandira.
"Rindu, Nek. Tapi Justin lebih rindu pada Ayah."
"Ck, Ayah terus. Mau ya di gendong Nenek. Sebentar saja. Ya?"
Justin menggeleng. Melihat hal itupun Bern jadi tak tega pada ibunya Renata. Dia lalu berbisik di samping telinga Justin, meminta agar bocah ini tidak menolak keinginan sang nenek.
"Kalau Justin patuh apakah Justin akan menjadi pria yang baik, Ayah?"
__ADS_1
"Tentu saja. Mau ya?"
"Baiklah."
Setelah di bujuk oleh Bern, Justin akhirnya bersedia di gendong oleh neneknya. Hal itu langsung di gunakan Nandira untuk membawa Justin jalan-jalan ke taman belakang. Lalu tersisalah Bern dan Renata di ruang tamu.
"Renata?"
"Ya. Ada apa?"
"Ayo kita menikah. Rasanya aku tidak kuat jika harus berpisah rumah dari kalian berdua. Kita menikah saja ya?" ucap Bern kembali membujuk Renata agar bersedia menikah dengannya.
"Bern, akukan sudah meminta waktu untuk berpikir terlebih dahulu. Bersabarlah. Aku janji tidak akan lama," sahut Renata tak terlalu kikuk saat Bern mengajaknya untuk menikah. Walau dadanya tetap saja berdebar kuat, tapi setidaknya dia sudah tidak segugup ajakan pertama.
"Besok ya?"
"Maksudnya?"
"Jawabannya. Aku benar-benar tidak bisa jika harus berjauhan dengan kalian. Aku ingin setiap waktu bisa melihatmu dan Justin. Tolonglah. Ya?"
Renata terkekeh. Sedetik setelah itu dia dibuat terkejut saat Bern tiba-tiba menariknya ke dalam pelukan. Tubuh Renata sampai menegang saking dia kaget atas perbuatan pria ini.
"Aku tahu ini mungkin terdengar gila menurutmu. Akan tetapi aku memang akan menjadi gila jika tidak bisa segera memilikimu. Ini bukan tentang n*fsu, tapi ini tentang hati dan kenyamanan. Hidupku jadi berwarna setelah bertemu kalian berdua. Jadi aku harap segerakanlah untuk menjawab agar aku tidak masuk rumah sakit jiwa," ucap Bern dengan lucunya memojokkan Renata agar tidak terlalu lama mengulur jawaban.
"Kau ini bicara apa sih, Bern."
Tersipu Renata dibuat pria ini. Dia hanya bisa tertunduk malu sambil memainkan kancing baju kemeja Bern.
"Kau paling manis saat sedang malu-malu begini,"
"Jangan membual. Nanti ada yang dengar."
"Biar saja. Aku sedang membual pada calon istriku. Apa yang salah?"
"Bern!"
"Apa sayang?"
Tuhan, kenapa pria ini pandai sekali melelahkan hatiku? Bisakah aku bertahan lama darinya?
***
__ADS_1