
"Hai, Renata!"
Renata yang baru akan melangkah langsung berbalik menghadap belakang saat seseorang memanggilnya. Dia kemudian tersenyum melihat Kimberly yang sedang melambaikan tangan sambil menenteng plastik hitam di tangan.
"Hai, Kim." Renata balas menyapa. "Apa yang sedang kau lakukan di sini?"
"Sebenarnya agak malu mengatakannya. Aku dan Bern tak sengaja menjadi tetangga. Dan kalau tidak salah saat kita bertemu di toko perhiasan aku sudah pernah memberitahumu soal ini. Benar tidak?"
"Ah, ya ampun. Maaf-maaf, aku lupa. Maaf ya,"
"It's okay. Aku sangat maklum kalau kau lupa. Biasalah. Sebagai calon pengantin baru sudah pasti ada banyak sekali agenda yang harus dilakukan. Wajar kalau kau tidak ingat dengan percakapan kita."
Karena bosan berada di kamar, Renata meminta izin pada Bern untuk pergi ke supermarket. Dan kebetulan supermarket itu berada di lantai paling bawah apartemen ini. Jadilah dia dengan mudah mendapatkan izin.
Sebenarnya Renata sama sekali tak mempunyai pemikiran buruk soal Kimberly. Hanya saja dia merasa sedikit aneh. Renata merasa kalau tetangga suaminya ini seperti sedang mengawasinya. Mungkin.
(Tidak-tidak. Aku tidak boleh berpikiran buruk tentang orang lain. Apalagi orang ini belum lama kukenal.)
"Oya, Ren. Ngomong-ngomong kau mau pergi ke mana?" tanya Kimberly sambil menatap dompet di tangan Renata.
"Rencananya aku mau pergi ke supermarket, Kim. Kulkas di rumahnya Bern kosong. Karena kebetulan aku sedang menginap di sini, jadi aku berniat mengisinya. Begitu," jawab Renata dengan jujur menyampaikan tujuannya.
"Waahh, berarti kita searah. Kebetulan aku juga mau pergi ke bawah. Ayo kita pergi belanja bersama saja. Mau tidak?"
"Boleh. Ayo."
Layaknya teman dekat, Kimberly menggaet lengan Renata lalu mengajaknya masuk ke dalam lift. Setelah berada di dalam, tiba-tiba saja tengkuk Renata meremang saat dia tak sengaja mencium aroma tidak sedap yang berasal dari dalam plastik yang dibawa Kimberly. Penasaran, dia pun menanyakan apa isinya.
"Maaf, Kim. Kalau boleh tahu isi plastik yang kau bawa itu apa ya? Maaf sekali, tapi baunya seperti bangkai. Apa benar?"
"Hmm, kau benar, Ren. Aku terlalu sibuk mengurus pekerjaan di kantor sampai lupa memberi ikan peliharaanku. Dan baru tadi pagi aku menyadari kalau ikannya mati. Ini aku baru mau membuang jasadnya ke tempat sampah. Terlalu bau kalau dibiarkan tetap berada di dalam rumah," jawab Kim seraya memasang ekpresi sedih. Dia merasa kehilangan sekali. Sungguh.
__ADS_1
"Ya ampun kasihan sekali ikan itu. Boleh aku melihatnya tidak?"
Jika diperhatikan dengan seksama, ekpresi di wajah Kimberly berubah menjadi sangat aneh ketika Renata berkata ingin melihat bangkai ikan yang dia bawa. Sayangnya hal tersebut luput dari perhatian Renata. Entah ada apa dengannya. Yang jelas Kimberly seperti menunjukkan sikap kalau dia keberatan menuruti keinginan wanita yang berdiri di sampingnya.
"Emm, Ren. Bukannya tidak boleh, tapi tubuh ikan ini sudah dimakan ulat. Kau bisa muntah jika melihatnya," ucap Kimberly sambil bergidik jijik.
"Benarkah?"
"Iya. Lebih baik kau tak usah melihatnya saja."
"Baiklah kalau memang begitu."
Ting
Pintu lift terbuka. Masih memendam heran, Renata melangkah keluar terlebih dahulu. Dia kemudian menoleh saat Kimberly menoel bahunya.
"Ada apa?"
"Kau pergilah dulu ke supermarket. Aku mau membuang ini," ucap Kim seraya menunjuk plastik. "Tapi kau jangan buru-buru pulang ya. Pokoknya kau harus menungguku. Oke?"
"Good. Aku pergi dulu,"
Dengan langkah yang begitu santai Kimberly pergi meninggalkan Renata yang masih berdiri di tempat. Kim memang berpamitan hendak membuang bangkai ikan di tempat sampah, tapi pada kenyataannya dia tidak pergi ke sana. Dia berjalan menuju sebuah mobil hitam yang terparkir di pinggir jalan. Memastikan kalau keadaan aman, Kim tampak melihat ke sana kemari sebelum menyerahkan plastik tersebut pada seseorang yang hanya tangannya saja yang terlihat.
(Apa yang sedang dilakukan Kimberly? Bukankah di dalam plastik itu ada bangkai ikannya ya? Kenapa dia tidak membuangnya ke tempat sampah dan malah menyerahkannya pada orang lain? Astaga, kenapa aku jadi merasa ngeri sendiri ya. Kim tidak mungkin seorang psikopat, kan?)
Begitu melihat Kim berbalik, Renata buru-buru keluar dari tempat persembunyiannya. Telapak tangannya sudah berkeringat ketika dia masuk ke dalam supermarket.
"Fyuhh, tenang Renata. Jaga sikapmu saat Kim kembali. Dia bisa curiga kalau kau menunjukkan gelagat yang aneh. Tenang," gumam Renata menguatkan dirinya sendiri. Setengah gemetar ketika dia akan memilih sayuran.
Mungkin benar apa kata orang kalau kita tidak seharusnya berhubungan dekat dengan seseorang yang baru kita kenal. Alasannya? Karena kita tidak tahu seperti apa sifat dan karakter orang tersebut. Seperti halnya dengan yang dialami Renata sekarang. Diawali dengan pertemuan tak disengaja, kini berakhir dengan dia yang ketakutan sendiri setelah menyaksikan adegan janggal yang dilakukan oleh Kimberly.
__ADS_1
Pukkk
Daun bawang di tangan Renata jatuh ke lantai saat seseorang menepuk bahunya dari belakang. Nafasnya tercekat dan jantungnya berdegub kuat sekali.
"Oh, sorry. Aku membuatmu kaget ya?" tanya Kimberly merasa bersalah ketika Renata menjatuhkan daun bawang yang dipegangnya. Segera dia berjongkok di lantai untuk memungut sayuran tersebut. "Sorry-sorry. Aku pikir kau sudah tahu kalau aku datang. Aku tak sengaja melakukannya, Ren. Sungguh!"
"I-iya tidak apa-apa," sahut Renata berusaha menormalkan detak jantungnya yang tak beraturan.
"Maaf, Ren."
"Iya. Akunya saja yang gampang kaget. Juga karena kemarin aku baru mengalami kejadian buruk, jadi aku masih sedikit menyimpan trauma," ucap Renata mencari alasan. Dia kemudian tersenyum saat Kim memberikan daun bawang kepadanya. "Terima kasih,"
"Kalau boleh tahu memangnya apa ....
"Sayang, kenapa kau lama sekali belanjanya?"
Takut terjadi sesuatu, Bern buru-buru menyusul Renata ke supermarket begitu dia selesai mandi. Dan begitu sampai di sini, Bern disuguhi pemandangan yang membuatnya merasa tak suka. Kimberly. Wanita aneh itu ternyata sedang bersama calon istrinya.
"Bern, kau sudah selesai mandinya?" tanya Renata sembari menghela nafas lega begitu melihat calon suaminya datang. Dia seperti terselamatkan dari marabahaya.
"Sudah." Bern datang mendekat. Dia segera mengalungkan tangan ke bahu Renata kemudian menatap datar ke arah Kimberly. "Apa kau sedang menjadi penguntit?"
"Hmm, aku sudah tahu kau pasti akan bicara seperti ini padaku," sahut Kim santai saat merespon tuduhan Bern. "Sayang sekali aku wanita. Kalau pria, seratus persen aku pasti menguntit Renata. Calon istrimu terlalu cantik untuk dilewatkan begitu saja."
"Jangan cari masalah. Menjauhlah dari kehidupan kami!" sergah Bern langsung menangkap sinyal bahaya yang coba ditunjukkan wanita dihadapannya. Kimberly ... wanita ini tidak sesederhana yang terlihat. Dia yakin itu.
"Astaga Bern. Kenapa kau serius sekali sih menanggapi candaanku. Aku hanya main-main saja. Sungguh," sahut Kim merasa tergelitik sekali. Ada-ada saja pria ini.
"Bercanda atau tidak bercanda, siapapun yang memiliki niatan jahat pada Renata akan langsung berhadapan denganku. Dan jika itu sampai terjadi, kupastikan orang tersebut akan menyesal karena sudah lancang mengusik milikku. Kita pergi, sayang!"
Bern akhirnya mengajak Renata berbelanja di tempat lain karena tak nyaman ada Kimberly di sana. Sedang Renata sendiri, dia pasrah saja saat dibawa pergi. Renata kemudian menimang apakah dia perlu memberitahu Bern tentang kejanggalan yang tidak dilihatnya atau tidak.
__ADS_1
(Lebih baik tidak usah saja. Takutnya aku hanya salah paham pada Kimberly. Bisa gawat jika Bern sampai curiga padanya. Semoga saja dengan tidak ikut campur urusan orang itu bisa menyelamatkan hidupku dari bahaya. Ya, begini saja.)
***