
"Kau yakin tidak mau menginap lagi?" tanya Bern seraya memasang ekpresi wajah memelas. Dia dan Renata tengah berada di dalam lift setelah mengantarkan keluarga mereka ke bawah.
"Iya. Kita masih belum resmi menjadi suami istri, Bern. Aku tidak enak jika ada orang yang melihat kita tinggal di dalam satu atap. Mereka pasti akan mencemooh orangtua kita," jawab Renata.
"Bukan karena aku bertetangga dengan Kimberly?"
"Tentu saja bukan. Astaga, kau ini. Memang apa urusannya kalau Kimberly menjadi tetanggamu di apartemen ini. Kan dia orang yang baik."
"Baik?"
Pintu lift terbuka. Tak membiarkan Renata keluar, Bern menekan angka menuju lantai yang paling atas. Mumpung Justin sedang tidur, jadi dia punya waktu luang untuk bermesraan bersama calon istrinya ini.
"Hei, kenapa kita naik ke lantai atas? Nanti kalau Justin bangun kemudian menangis bagaimana. Kembali sajalah, Bern. Ya?" ucap Renata agak bingung melihat tindakan Bern yang tiba-tiba menekan tombol menuju rooftop. Dia tak tenang meninggalkan putranya sendirian.
"Sayang, jangan panik. Kau sedang bersama calon suamimu sekarang. Santai," sahut Bern sembari menarik pinggang Renata agar merapat ke tubuhnya. Bern sama sekali tak mempedulikan keberadaan kamera CCTV yang ada di dalam lift. Masa bodo. Dia sedang tidak ingin diganggu.
"Bern, apa yang kau lakukan. Perbuatan kita bisa dilihat oleh satpam yang menunggu ruang keamanan. Tolong lepaskan rengkuhanmu dari pinggangku!"
"Tidak mau."
"Bern, ayolah. Ya?"
"Tidak mau, sayang. Kalau mereka punya otak, harusnya mereka tidak akan menonton sesuatu yang tidak seharusnya mereka tonton. Itu kurang ajar namanya."
"Tapi dari kitalah mereka bisa seperti itu."
"Biar saja."
"Bern?"
"Apa sayang?"
__ADS_1
Blusshhh
Rona merah langsung menghiasi pipi Renata saat Bern memanggilnya sayang dengan suara yang begitu halus. Renata salah tingkah. Malu, juga senang. Walaupun bukan pertama kali Bern memanggilnya dengan sebutan tersebut, tetap saja jantung Renata tak berhenti berdebar. Dia seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta. Sungguh menggelitik hati.
"Kalau sedang diam begini kau terlihat semakin manis. Ingat ya. Wanita manis ini hanya boleh menjadi milikku seorang. Dan jika ada orang lain yang nekad ingin memiliki, segera beritahu aku. Di detik itu juga aku akan langsung menebas kepalanya," bisik Bern kemudian meniup pelan daun telinga calon istrinya. Tindakan ini dulu selalu berhasil membuat Amora mend*sah kuat saat mereka sedang bercinta. Ah, jadi rindu kenangan itu. Hmmm.
"Posesif sekali," cibir Renata sambil menahan geli di bagian telinga. Aneh. Darimana Bern tahu kalau bagian telinga merupakan titik paling sensitif di tubuhnya?
"Posesif pada calon istri sendiri tidak salah, kan?"
"Ya, kau benar. Bern Wufien Ma terlahir untuk tidak pernah menanggung kesalahan."
Terbawa suasana, Bern mencium bibir Renata. Setelah itu dia melirik ke arah kamera, memberi sinyal kepada para penjaga agar tidak berbuat lancang dengan menonton kemesraan mereka.
Ting
Sampailah Bern dan Renata di lantai paling atas apartemen. Sebelum melangkah keluar, lagi-lagi Bern mencium bibir calon istrinya. Candu, itu sudah pasti. Tiga tahun lebih dia tertahan dalam siksa kerinduan. Dan sebentar lagi orang yang dia rindukan akan segera menjadi miliknya seutuhnya.
"Tidak ada." Bern tersenyum. Tangannya bergerak merapihkan rambut calon istrinya yang tergerai bebas. "Ayo keluar."
"Kalau tidak ada yang ingin dilakukan sebaiknya kita kembali saja ke kamar. Aku takut Justin menangis karena tidak menemukan keberadaan kita di sana."
"Jangan khawatir. Ada ini,"
Bern mengeluarkan benda pipih berwarna putih dari saku celana. "Alat ini terhubung dengan kamera tersembunyi yang aku pasang di kamar Justin. Jadi selama apapun kita pergi, kita tetap bisa menantau kondisi Justin dari sini."
Renata speechless begitu mengetahui kalau Bern sebegini perhatiannya terhadap Justin. Entah kapan pria ini membeli alat tersebut, yang jelas Renata merasa kalau Bern begitu peduli pada putra mereka. Sebagai orangtua tunggal, jelas Renata merasa lega karena akan mendapat pasangan yang tidak menganaktirikan putra bawaannya.
"Justin putraku juga. Sudah sewajarnya untuk aku menyiapkan semua yang terbaik untuknya," ucap Bern sembari mengajak Renata keluar dari dalam lift. Tak lupa dia menggandeng tangannya.
"Terima kasih banyak ya, Bern. Terima kasih karena kau sudah mau menerima Justin meski dia bukan putra kandungmu," sahut Renata seraya menatap ke arah langit yang terlihat begitu cerah. Ah, betapa indahnya.
__ADS_1
(Justin putra kandungku, sayang. Dia bukan berasal dari benih pria lain. Aku! Aku ayah biologisnya.)
Sayangnya Bern hanya bisa melakukan pemberontakan di dalam hati saja saat Renata menyebut kalau Justin bukan putra kandungnya. Kadang ingin rasanya Bern membongkar semuanya, mengingatkan Renata kalau tiga tahun lalu mereka adalah sepasang kekasih yang begitu dimabuk cinta. Dan dari hubungan tersebut mereka tak sengaja menghadirkan satu kehidupan seorang malaikat kecil yang begitu menggemaskan. Yaitu Justin.
"Hari ini Justin mendapat bintang satu di kelasnya. Miss bilang putra kita tidak fokus dan terlihat seperti orang kurang tidur. Sepertinya kita harus lebih banyak memberikan waktu untuk memperhatikan Justin, sayang," ucap Bern setelah dia dan Renata duduk di tepian gedung. Tenang saja, posisi mereka aman. Bern tidak segila itu mengajak calon istrinya berada dalam bahaya.
"Iya tadi Bibi Elea juga mengatakan hal itu. Akhir-akhir ini Justin memang jauh lebih aktif dari sebelumnya. Dia menjadi semakin bersemangat setelah bertemu denganmu," sahut Renata sembari menghela nafas panjang. Dia kemudian menoleh, menatap Bern yang tengah menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. "Justin hanyalah anak kecil yang butuh figur seorang ayah. Kau keberatan tidak jika seandainya nanti Justin tidak menjadi murid yang pintar di sekolahnya?"
"Maksudnya?"
"Aku ingin dia menikmati waktunya sebagai anak-anak. Bermain, makan makanan yang enak, tidur yang cukup, juga tertawa bersama orang-orang yang menyayanginya. Aku tidak mau Justin terbebani oleh tugas-tugas sekolah dan juga aturan yang membuatnya tidak bahagia. Aku ingin dia bebas sampai tiba waktunya untuk Justin mencari jati dirinya sendiri."
Hembusan angin membuat rambut Renata tak henti bergerak-gerak. Hal itu membuat Bern menjadi terpana. Terpana pada kecantikannya, juga terpana pada cara berpikirnya yang tidak menuntut putra mereka untuk menjadi sosok yang pintar. Renata-nya tidak egois. Wanita ini tahu betul kalau seorang anak dilahirkan bukan untuk menuruti hawa n*fsu orangtua, melainkan untuk hidup bahagia.
"Kenapa diam? Apa kau merasa kurang setuju dengan pendapatku tadi?" tanya Renata.
"Sayang, sekalipun aku tak pernah berharap Justin tumbuh sebagai anak yang bisa memenuhi keinginan dan ego orangtuanya. Bagiku dengan melihat kalian tersenyum setiap hari itu sudah lebih dari cukup. Aku tidak peduli di sekolah Justin mendapat bintang satu atau seratus sekalipun. Asalkan kalian ada bersamaku, aku sudah bahagia," jawab Bern.
"Jadi?"
"Biarkan Justin melakukan apa yang dia mau. Kalau kelelahan, kita tinggal memintanya untuk istirahat. Aku sama sepertimu. Tidak mau memberikan banyak kekangan untuknya!"
Greeepp
Entah mendapat keberanian darimana, Renata tiba-tiba memeluk Bern dengan begitu erat. Pria ini ... bagaimana cara menjelaskannya? Di saat para ayah berlomba-lomba ingin menjadikan putra mereka sebagai yang paling unggul, Bern malah dengan santainya setuju untuk tidak memberikan tekanan apapun pada putra mereka. Keputusan ini jelas membuat Renata teramat sangat bahagia. Sungguh.
"Ren, kau dan Justin adalah jantung hidupku. Sekalipun kau cacat dan Justin tumbuh menjadi anak yang tidak tahu apa-apa, aku akan tetap menyayangi dan mencintai kalian sepenuh hati. Tolong selalu percayai hal ini ya?"
"Pasti, Bern. Itu pasti. Terima kasih banyak telah bersedia menjadi ayah yang berbeda untuk Justin. Aku bangga memiliki calon suami berhati bijak sepertimu."
Suasana rooftop menjadi sangat sejuk saat Bern dan Renata saling melempar canda. Hubungan mereka sangat sederhana, tak muluk-muluk hanya membahas soal harta dan kasta. Membuat hubungan mereka jadi terlihat sangat harmonis.
__ADS_1
***