
Pukul delapan malam Renata akhirnya terbangun. Setelah pulang dari rumah sakit, dia seperti orang yang terkena sihir tidur. Renata sudah tak ingat apa-apalagi setelah Bern memintanya untuk minum obat.
"Sudah bangun?"
Bern yang baru saja selesai mandi tampak memperhatikan Renata dari depan pintu. Dia sengaja tak langsung mendekat, takut mengganggu.
"Jam berapa sekarang?" tanya Renata. Suaranya terdengar serak dan juga berat.
"Jam delapan malam," jawab Bern. "Berbaringlah dulu. Jangan langsung bangun. Nanti kepalamu pusing."
"Aku sudah tidak kenapa-napa kok. Hanya sedikit lemas saja."
Mata elang Bern terus memperhatikan pergerakan calon istrinya yang kini tengah menyenderkan tubuh ke kepala ranjang. Setelah memastikan rambutnya tak lagi basah, dia segera menghampiri Renata sembari memasukkan handuk ke keranjang pakaian kotor. Sesampainya di sana tangan Bern langsung terulur menyentuh kening Renata, memastikan kalau wanita ini benar sudah baik-baik saja.
"Bern?"
"Ya. Kenapa? Kau membutuhkan sesuatu?"
"Justin di mana?"
"Aku tidak tahu,"
"Hah? K-kau tidak tahu keberadaan putra kita?" Terbelalak Renata dibuat oleh jawaban calon suaminya. Benaknya seketika gelisah. Pemikiran aneh juga mulai muncul memenuhi rongga pikirannya.
"Jangan marah dulu. Aku menjawab tidak tahu karena aku memang tidak tahu siapa yang membawa Justin pergi. Entah itu Ayah dan Ibumu, atau malah Karl dan para sepupuku. Bisa jadi juga sekarang Justin sedang bermain dengan Flow karena tadi aku melarangnya agar tidak datang kemari. Aku tidak mau apartemen ini menjadi bising yang mana akan membuatmu merasa terganggu," ucap Bern sambil meng*lum senyum. Lucu juga mengerjai wanita ini. Renata langsung panik begitu dia menjawab tidak mengetahui keberadaan Justin. Hehe.
"Ck, kau ini. Bisa tidak jangan membuat orang menjadi kaget. Aku kan jadi khawatir," protes Renata sambil mengerucutkan bibir. Benar-benar ya.
"Iya maaf. Lain kali aku tidak akan melakukannya lagi," sahut Bern masih dengan menahan tawa. Dia lalu mengusap bibir Renata yang masih mengerucut. "Justin adalah kesayangan semua orang. Mustahil ada yang mengabaikannya ketika anak kita sedang menganggur. Kau seperti tidak tahu saja betapa menggemaskannya anak kita."
"Justin memang sangat menggemaskan." Renata tersenyum. Dia lalu mengerutkan kening saat sebuah bayangan aneh melintas di dalam kepalanya.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Bern panik. Segera dia menangkup kedua pipi Renata lalu menatapnya dengan seksama. "Beritahu aku mana yang sakit. Cepat!"
"Emmm, aku ... tidak ada yang sakit. Hanya saja ....
__ADS_1
"Hanya saja apa?"
"Bern, sejak aku bertemu denganmu, aku sering sekali mendapat bayangan-bayangan aneh tentang suatu kejadian. Dan herannya tidak ada satupun dari bayangan itu yang bisa dilihat dengan jelas. Semuanya semu. Kenapa ya?" ucap Renata memberitahu Bern tentang hal-hal aneh yang dialaminya.
Deg deg deg
Jantung Bern berdegub kuat sekali begitu mendengar ucapan Renata. Ada apa ini? Mungkinkah Renata akan segera mendapatkan kembali semua ingatannya?
(Apa yang harus aku lakukan jika seandainya benar Renata kembali ke jati dirinya sebagai Amora? Haruskah aku merasa bahagia? Tapi kenapa rasanya berat. Dulu Amora pernah berkata kalau dia ingin terlahir sebagai manusia yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan keluarga Shin. Dan jika ingatannya kembali, bukankah Renata akan mengingat siapa Tuan Kendra dan ketiga saudarinya? Aku harus bagaimana menyikapinya?)
"Bern! Bern!!"
Tubuh Bern berjengit kaget saat Renata mengguncang lengannya cukup kuat. Dia lalu mengerjapkan mata, bingung ketika wanita ini terus menggerakkan tangan di depan wajah.
"Bern, kau kenapa. Kau baik-baik saja, kan?" tanya Renata cemas.
"Oh, aku baik-baik saja." Bern menghela nafas panjang. Dia menangkap tangan Renata kemudian menciumnya beberapa kali. Hal ini Bern lakukan untuk membantu menormalkan detak jantungnya yang tidak beraturan.
"Kalau baik-baik saja kenapa tadi melamun?"
"Sebentar lagi kita sudah akan menikah. Bukankah dengan bersikap saling jujur itu akan membuat hubungan kita semakin menguat?" ucap Renata dengan lembut. "Bern, katakan saja apa yang kau pendam di dalam hati. Jika sekiranya menyakitkan, cukup sampaikan garis besarnya saja. Kita sudah sama-sama dewasa. Bersikaplah dengan bijak. Oke?"
"Kau yakin ingin mengetahuinya?"
"Terlalu yakin sih tidak, tapi aku berharap kau mau membagi suka dukamu denganku."
"Jika itu berhubungan dengan bayangan aneh yang sering muncul di pikiranmu ... apa yang akan kau lakukan?"
Hening. Jujur, Renata bingung. Namun, dia berusaha menyikapi masalah ini dengan pemikiran yang dewasa. Sambil mengusap rahang sebelah kanan milik Bern, Renata mengangguk meyakinkan Bern kalau dia tidak keberatan untuk mendengarnya.
"Kau yakin?"
"Apa itu terlalu menyakitkan?"
"Menurutku iya." Bern menghela nafas. "Sayang, jika aku mengatakan kalau kau dan Amora adalah orang yang sama, apa tanggapanmu?"
__ADS_1
"Yang pertama aku pasti aku akan merasa kurang nyaman dengan hal tersebut. Akan tetapi di lain sisi aku yakin kau pasti punya alasan kuat mengapa kembali membahas masalah ini. Tidak dipungkiri semenjak kau datang dan berulang-ulang menyebutkan nama Amora, acap kali aku mendapatkan mimpi dan juga bayangan aneh. Entah itu berhubungan dengan Amora atau tidak, tapi aku meyakini ada sesuatu yang belum selesai di hidupku. Termasuk juga dengan Karl. Aku merasa pernah terjadi sesuatu di antara kami berdua!" jawab Renata tak lagi menyembunyikan perasaan aneh yang dia rasakan. Biarlah. Jika memang benar dia ada hubungannya dengan Amora, maka Renata sudah siap menerima segala konsekuensi yang ada. Menyakitkan atau tidak, faktanya mereka memang seperti terikat dalam suatu alur kehidupan.
"Mau kuceritakan sedikit tentang Amora?"
"Silahkan saja kalau kau merasa itu perlu. Aku akan mendengarkannya."
Sebelum lanjut berbicara, Bern berbaring di pangkuan Renata. Dia lalu mengarahkan tangan wanita ini agar membelai rambutnya. Mencoba bernostalgia dengan kemesraannya bersama Amora tiga tahun silam.
"Amora berasal dari satu keluarga yang cukup terpandang. Namun sayang, fakta tersebut tak membuat hidupnya bahagia. Di tangan ayah dan ketiga saudarinya, Amora diperlakukan layaknya orang asing. Mereka juga tak memberikan kebebasan seperti yang biasa dirasakan oleh para putri konglomerat. Amora dijadikan pelayan. Bahkan dia dijual oleh ayahnya demi mempertahankan perusahaan keluarga yang terlilit hutang besar. Hidup Amora sangat kasihan, sayang!"
Hening. Ada semacam perasaan perih muncul di hati Renata ketika mendengar kisah hidup Amora. Sangat miris. Dan sialnya itu membuat Renata seperti tertarik masuk ke dalam kepedihan gadis malang tersebut.
"Sebelum kejadian naas tersebut terjadi, Amora pernah bilang padaku jika Tuhan menakdirkannya untuk hidup kembali, dia berharap tidak akan terlahir sebagai bagian keluarganya saat itu. Amora ingin melupakan semua derita yang telah membayanginya selama dua puluh tahun lebih. Dia ingin bahagia," ucap Bern seraya tersenyum kecut. "Dan sekarang dia mendapatkannya. Tuhan benar-benar mengabulkan apa yang Amora inginkan!"
"Maksudnya?"
"Tidak ada maksud apa-apa, sayang. Aku hanya ingin bilang kalau Amora telah bahagia dengan keadaan yang sekarang. Dia abadi bersama dengan cinta kami yang suci."
Tes
Sebutir cairan bening jatuh mengenai kelopak mata Bern. Renata menangis. Sulit dijelaskan. Tiba-tiba saja dia merasa terharu sekaligus sakit setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh calon suaminya.
"Bern?"
"Ya?"
"Aku tidak ingin lagi mendengar kisah hidup Amora. Bisakah?"
"Mengapa?"
"Ada rasa sakit yang menghujam jantung. Aku tidak nyaman,"
Segera Bern bangun kemudian memeluk Renata dengan erat. Dalam hati dia mengucap syukur karena akhirnya Renata tak lagi tertarik untuk mencari tahu tentang jati dirinya yang asli.
(Maafkan aku, sayang. Bukan niatku menutupi kebenaran tentang siapa kau di hidup ini. Aku hanya sekedar membantu mewujudkan inginmu yang ingin terlahir sebagai orang lain, bukan sebagai Amora Shin. Sekali lagi aku minta maaf,)
__ADS_1
***