
Semua gadis ingin menikah, bukan? Bertemu dengan laki-laki impian lalu merajut pernikahan yang diimpikan adalah mimpi semua anak perempuan yang sudah mengenal kata suka pada lawan jenisnya. Tapi jika ada perempuan perawan hingga usianya menginjak empat puluh tahun belum menikah apakah itu sebuah dosa atau aib hingga semua orang menjadikannya bahan gunjingan setiap saat?
Itulah yang dirasakan oleh Larasati, perawan tua berusia empat puluh tahun yang tinggal di Desa Maneh. Lahir dan tumbuh besar di desa kelahirannya tidak menyurutkan rasa simpati dari penduduk desa terhadapnya. Tiada hari tanpa menggungjing seorang Larasati. Seperti hari ini, Larasati pergi berbelanja ke warung tak jauh dari rumahnya. Sudah menjadi makanan sehari-hari bila ia dicibir, dihina bahkan diolok secara terang-terangan.
Dengan mengeraskan daun telinga, Larasati pergi ke warung karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan. Semenjak ayahnya meninggal sepuluh tahun yang lalu, hanya dia yang menjaga ibunya karena Larasati hanya seorang diri alias tunggal.
“Eh, ada Laras! Mau beli apa?” tanya seorang ibu-ibu menatapnya seolah jijik.
“Biasa, Buk. Beli sayur, tempe dan tahu.” Laras menyerahkan selembar uang sepuluh ribu pada si ibu penjual sayur. Seperti biasa, ibu-ibu penjual tersebut pasti akan membuat lama belanjaannya supaya ibu-ibu yang lain puas menghinanya secara terang-terangan.
“Ras, Pak Berjo desa sebelah ingin menikahimu. Dia sudah mengatakan pada suamiku tapi suamiku ragu apa kamu mau menerimanya karena kamu akan dijadikan istri ke empat. Tapi kalau menurutku nih, sebaiknya kamu terima aja, Ras. Siapa tahu jodohmu itu memang Pak Berjo, juragan tanah. Lumayan kan kamu tidak perlu cepek-capek pergi ke sawah buat mencari uang.”
“Iya, Ras. Terima aja. Umurmu sudah kepala empat, apa tidak malu sama anak-anak kami yang langsung menikah setelah lulus SMA dan sekarang sudah punya anak.”
“Betul, Ras. Apa kamu tidak mau punya anak dan suami? Ya, walaupun jadi istri ke empat tak apa-apa lah. Yang penting punya suami dan uang. Kamu juga bisa ngasih uang buat ibumu yang sudah tua itu?”
“Lagian kamu juga aneh, Ras. Dulu aku dengar, suamiku pernah melamarmu sebelum kami menikah tapi kamu malah nolak. Sebenarnya kamu cari pria yang seperti apa sih, Ras? Jangan ketinggian kalau nyari pria! Umurmu sudah kepala empat, mana ada pria muda, kaya yang mau sama perawan tua, ya kan ibuk-ibuk?”
Mereka mengangguk serentak mengiyakan perkataan ibu-ibu itu. “Buk, tolong plastiknya!” Laras pun meminta plastik untuk mengisi belanjaanya. Ia sudah tidak betah berlama-lama di sana.
“Eh, kok cepat banget sih, Ras. Kamu sekali-kali gabung sama kita-kita. Umur kita kan hampir sama, yang ngebedain itu kami udah punya suami dan anak sedangkan kamu belum.”
__ADS_1
Di sela-sela ejekan itu datanglah Pak Jarwo yang baru menyandang status duda belum lama ini. “Waduh ibu-ibu pagi-pagi begini sudah ngumpul aja. Pada gak masak ya?” sapa Pak Jarwo ramah.
“Biasa, Pak. Soal masak mah gampang. Pak, ini ada Laras. Apa gak niat nyari pengganti Ibuk?” Laras hendak pergi tapi tangannya lebih dulu ditarik lembut oleh Pak Jarwo.
Pria paruh baya itu menatap Laras, “Benar kata Ibu-ibu itu. Apa kamu mau menjadi istri saya, Ras? Saya pastikan kamu bahagia jika menikah sama saya.”
“Maaf, Pak. Saya tidak berniat!” ketus Larasati lalu pergi meninggalkan warung.
“Aaaaa….”
Suara ibu-ibu tertawa puas terdengar melihat adegan di mana Larasati berada di dalam pelukan Pak Jarwo dan tangan pria itu dengan sengaja menyentuh dadanya. Larasati meronta ingin melepaskan diri, Pak Jarwo dengan bejatnya meremas dada Laras dan yang paling menyakitkan hatinya adalah ibu-ibu itu seolah senang dengan adegan bejat yang dipertontonkan Pak Jarwo.
Larasati dilecehkan tapi ibu-ibu itu malah tertawa bahagia. Sepanjang jalan pulang, air mata Laras bercucuran. Tak pernah ia merasa sehina ini dalam hidupnya. Dilecehkan di depan umum dan para wanita itu tidak membantunya sama sekali.
Fitnah keji itu seolah menutupi perbuatan bejat yang tadi ia lakukan dan para ibu-ibu dengan mudahnya mengabaikan perbuatan Pak Jarwo setelah mendapat pujaan soal tubuh. Padahal tubuh Larasati lebih bagus dari pada ibu-ibu yang sudah melahirkan beberapa orang anak dan tidak pernah berolahraga.
Di rumahnya, Larasati memasak makan siang untuk ibunya sambil menangis mengingat perlakuan buruk Pak Jarwo.
“Nduk, ada apa?” sang ibu yang sudah sepuh itu pun mendekat.
Nyai Salamah sudah hafal apa yang terjadi jika anaknya sampai bersedih seperti itu tapi ia tetap bertanya dan jawaban yang di dapat hanya gelengan kepala dari sang putri. Sebagai ibu, Nyai Salamah juga ingin melihat anaknya menikah tapi apa mau dikata jika jodoh untuk putrinya belum tiba sampai sekarang.
__ADS_1
“Sabar ya, Nduk!” Laras tersenyum paksa sambil mengangguk.
Setelah menyiapkan makan siang untuk ibunya, wanita itu bergegas ke kebun cabai milik Pak Jarwo. Walaupun perbuatan bejat Pak Jarwo, ia tetap harus mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-hari. Musim padi telah usai berganti musim cabai. Begitulah Larasati mencari nafkah dari satu kebun ke kebun yang lain hanya untuk menghidupi diri dan ibunya yang sudah sepuh.
Para adik-adik di bawah umurnya terlihat menggendong anak sambil bekerja. Ya, anak-anak gadis di desa itu menikah muda lalu setelah punya anak, mereka akan bekerja di kebun sama seperti dirinya. Cuma satu yang membedakan, Laras bekerja memikul kerangjang tapi adik-adik di bawahnya setelah memikul ke rangjang di punggung, mereka juga harus memikul anak dalam gendongan.
Larasati bersyukur karena hidupnya tidak berakhir seperti itu. Dia memiliki prinsip jika sudah menikah maka dia tidak ingin bekerja. Cukup suaminya saja yang bekerja sementara dia di rumah mengurus anak dan menyambut suaminya pulang kerja. Bagi sebagian orang yang mengetahui prinsip Larasati, mereka mencemooh wanita itu karena dinilai terlalu sombong tapi Larasati tidak peduli. Itu adalah keputusannya walaupun ia harus menanggung risiko tidak menemukan jodoh sampai sekarang.
“Mbak Laras kenapa wajahnya terlihat sedih. Ada apa, Mbak?” tanya Iyem.
Gadis muda berumur dua puluh tahun dan sudah dikarunia dua orang anak. Anak pertamanya berumur dua tahun sedang menjaga adik bayinya yang baru lahir sekitar tiga bulan di bawah pondok pengepul cabai.
“Yem, suamimu tidak melarang kamu bekerja padahal kamu baru melahirkan?”
Gadis muda itu tersenyum getir, “Mau bagaimana lagi, Mbak. Dari pada diceraikan lebih baik ngikutin maunya saja.”
Kening Larasati berkerut, “Kok cerai?”
__ADS_1
***