Santet Perawan Tua

Santet Perawan Tua
Siksaan Sukarni...


__ADS_3

Malam itu menjadi malam penuh penyiksaan bagi Sukarni. Di dalam hutan bambu, Larasati menyiksa Sukarni sampai puas. Pria yang sudah kesakitan itu hanya mampu memelas penuh harap dan memohon ampun atas perbuatannya pada Larasati. 


Hanya tawa yang terdengar dari mulut Larasati si perawan tua. Sudah lama ia nantikan saat ini. Tubuh Sukarni penuh luka sayatan dari tombak bambu runcing penuh yang sudah diberi racun. Wanita itu berubah kejam setelah apa yang mereka lakukan padanya.


Sukarni kembali menjerit saat pahanya ditusuk bambu runcing oleh Larasati. Tidak hanya paha, Larasati juga menusuk betis, perut bagian kanan kemudian bahu dan yang terakhir adalah lengan. Sukarni sudah seperti mayat hidup lalu dengan santainya Larasati berujar,-


“Pulanglah! Katakan pada mereka siapa yang melakukan ini padamu!” Larasati pergi meninggalkan Sukarni yang tersungkur di atas rumput dalam kondisi lemah.


Keesokan harinya, kepala desa bersama penduduk mencari Sukarni ke dalam hutan bambu atas permintaan Iyem. Baru lima ratus meter memasuki hutan, langkah mereka terhenti saat melihat tubuh Sukarni tergelatak di atas rumput. Pria itu kelelahan dan kehabisan banyak darah karena lubang-lubang di tubuhnya.


Kepala desa memerintahkan beberapa orang untuk mengangkat Sukarni tapi mereka enggan mengingat lintah yang keluar dari alat kelamin pria itu. Bapak kepala desa pun akhirnya menyuruh warga untuk menebang batang bambu lalu membuat tandu untuk Sukarni. Bapak kepala desa juga meminta sarung milik Mudin untuk menutupi tubuh polos Sukarni karena bajunya telah compang-camping.


“Siapa yang melakukan ini, Kang?” tanya Mudin saat menutupi tubuh Sukarni yang terbaring lemah di atas tandu bambu.


“L-laras.”


Gleg…


Mudim membeku. Ia tidak menduga akan mendengar nama itu dari mulut Sukarni. Setelah menyebut nama Laras, Sukarni pergi menghadap tuhan. Iyem terlihat sedih tapi tidak sampai menangis meraung-raung. Itu karena selama menjadi istri Sukarni, dia tidak diperlakukan secara layak. Iyem hanya jadi tempat pemuas hasrat lalu pembantu di rumah dan bekerja untuk menutupi kebutuhan rumah tangga. Namun Iyem tetap sabar karena ini adalah kesalahannya yang menikah dengan Sukarni hasil dari memelet pria itu.

__ADS_1


Iyem, janda anak satu merelakan kepergian Sukarni. Ada atau tanpa Sukarni, hidupnya akan terus berjalan. Saat menerima kunjungan para warga desa yang ingin melayat, terlihat sosok asing tapi membuat para ibu-ibu menatap sinis ke arah wanita yang sedang memasuki rumah Iyem. Wanita itu memakai pakaian serba hitam lalu mendekati Iyem yang sedang memangku bayinya.


“Saya ikut berduka cita ya! Ini ada sedikit dari saya buat anakmu. Jangan ditolak karena apa pun yang terjadi, anak ini butuh makanan dan susu. Kamu sebagai ibu harus kuat menghadapi kenyataan dan memakai logika. Jangan terbawa perasaan apalagi saat mendengar omongan para tentangga. Hanya kamu yang tahu apa yang kamu butuhkan bukan mereka. Setelah mempengaruhimu apa mereka memberi anakmu makan? Tidak! Mereka hanya tahu menghasut tapi tidak tahu apa yang dibutuhkan oleh saat ini. Soal suamimu ke rumahku itu karena dia sendiri yang mau tanpa aku paksa. Kalau aku menyajikan makanan untuk para warga termasuk suamimu itu sebagai imbalan karena telah menolongku. Apa yang suamimu dapatkan sekarang karena pembalasan atas perbuatannya beberapa bulan lalu tanpa sepengetahuanmu. Bahkan ibu-ibu yang lain juga tidak tahu sebejat apa suaminya di luar rumah. Jadi, aku harap kamu berpikir logis bahwa anakmu butuh makan dan berhenti mendengar omongan orang-orang yang katanya peduli tapi ngasih sebutir telur untuk anakmu saja tidak pernah.”


Para wanita di sana melirik sinis wanita bernama Puspa itu. Setelah menyerahkan satu amplop yang menurut Iyem cukup tebal, Puspa langsung pergi meninggalkan rumah duka. Di luar rumah, Pak Jarwo dan seluruh laki-laki yang pernah makan di rumah Puspa langsung menggerubungi wanita itu seolah Puspa adalah ratu mereka.


Sementara di dalam, para istri justru sedang tersulut emosi melihat suami mereka begitu memuliakan Puspa. 


“Wanita itu angkuh sekali memangnya dia kasih berapa, Yem?” tanya istri Jaka.


“Iya, Yem. Coba kamu lihat dia ngasih berapa sampai berani bicara sombong seperti itu!”


“Ayo, Yem! Buka aja! Kalau dia ngasih sedikit, besok biar kami yang balas.”


“Tidak tahu. Tapi kayaknya lebih deh,” sahut yang lain.


“Alhamdulillah, rejeki anak yatim!” ucap Iyem lalu memasukkan amplop itu ke dalam saku roknya.


Ia tidak menyangka jika wanita yang digosipkan oleh para warga kampungnya ternyata sebaik ini. Iyem bertekad akan menjalani hidup dengan baik setelah ini. Bahkan ia mulai memikirkan membuka usaha setelah masa dukanya berakhir.

__ADS_1


Malam harinya…


Setelah melakukan doa bersama di rumah Iyem, para warga kembali ke rumah masing-masing. Saat Iyem sibuk membagikan kue kotak untuk para warga, seorang ibu-ibu berhasil mengambil amplop yang diberikan oleh Puspa untuk Iyem. Ibu-ibu itu adalah istri dari Jaka yaitu Mirna. Wanita itu mengambil kue kotak dari tangan Puspa lalu kembali ke rumah sambil tersenyum lebar.


Ia sudah kesusahan karena suaminya sibuk mengurus rumah Puspa sampai tidak bekerja. Alhasil, Mirna pun tergoda melihat jumlah uang di dalam amplop tersebut. Mirna langsung masuk ke kamar mandi sesampainya di rumah. Wanita itu sengaja tidak masuk ke kamar untuk menghindari kecurigaan Jaka jika ia mengunci pintu.


Mirna sangat bahagia lalu sesampainya di dalam kamar mandi. Ia bergega mengeluarkan amplop putih itu di dalam roknya. Mata wanita itu melebar dengan mulut menganga saat melihat isi dari amplop tersebut adalah daun. Ia sampai menumpahkan isi amplop yang ternyata semuanya berisi daun. Mirna kesal bukan main.


“Kurang ajar si Puspa! Pasti dia sengaja menukar amplop ini karena tahu akan dicuri.” Gumam Mirna lalu,-


Aaaa….


Sebuah ular jatuh dari atas plafom kamar mandi. Ular kobra hitam itu langsung mematuk betis Mirna kemudian keluar dari kamar mandi. Tubuh Mirna tersungkur di lantai tapi apa yang terjadi? Mirna justru ditemukan oleh Jaka tak sadarkan diri di dalam kamar mandi.


Jaka juga heran melihat banyaknya daun di dalam kamar mandi serta amplop. “Amplop apa ini, Ma?” Mirna pingsan tidak bisa menjawab pertanyaan Jaka. Pria itu bergegas membawa Mirna ke tabib kampung tidak jauh dari rumahnya.


Sementara di rumahnya, Puspa tertawa terbaha-bahak saat melihat apa yang Mirna lakukan. “Dasar pencuri!” rutuknya lalu menyimpan kembali air dalam baskom.


Malam semakin larut, Mudin duduk sendiri di kamarnya. Ia terus terpikir tentang nama Larasati yang disebutkan oleh Sukarni sebelum meninggal. Mudin jadi tambah berpikir kalau begini.

__ADS_1


“Aku harus minta maaf pada Mbak Laras!”


***


__ADS_2