
Pak Jarwo murka, pria pemilik kebun cabai itu mendatangi Soleh yang saat itu sedang bekerja di kebun. Bersama beberapa pria dari desa yang menjadi saksi pertempuran panas antara Soleh dan Ayu Laksmi si calon istri baru Pak Jarwo. Tanpa banyak kata, para pria itu langsung menghajar Soleh tanpa ampun hingga wajahnya babak belur dan bagian perut serta dadanya mengalami memar dan perih.
“Apa salah saya, Juragan?” tanya Soleh di sisa kekuatannya.
Pak Jarwo berdecih, “Kamu masih belum tahu salahmu apa? Semalam, rumah siapa yang kau datangi, hah?”
Soleh berusaha mengingat tapi dia tidak ingat apa-apa. “Saya tidak kemana-mana, Pak. Setelah mengusir Widya, saya langsung pulang kemudian tidur.”
Tentu Soleh tidak tahu apa yang sudah terjadi semalam karena pria itu sedang berada dalam pengaruh santet kiriman dari Larasati. Malam itu, di dalam gua. Larasati memanggil-manggil nama Soleh di telinga sebuah patung jerami yang ia buat khusus.
Di depan dupa dan kemenyan yang sedang terbakar, Larasati membisikkan rayuan maut ke telinga Soleh sampai akhirnya pertempuran panas itu pun terjadi.
“Saya berani bersumpah, Juragan. Saya tidak melakukan apa yang Juragan tuduhkan.”
Soleh mengelak tapi para penduduk desa yang melihat dan mendengar dengan jelas apa yang terjadi semalam sangat yakin jika pria itu adalah Soleh. Pak Jarwo mungkin ragu tapi semua penduduk laki-laki yang saat itu melewati rumah dan yang mengintip kegiatan mereka ikut bersaksi hingga tidak ada lagi kecurigaan di hati Pak Jarwo.
“Sadar! Kamu mau menipu saya dengan berpura-pura bodoh? Hajar dia sampai mengaku!” titah Pak Jarwo para anak buahnya.
Soleh hampir mata saat anak buah Pak Jarwo memukul, menedang bahkan menginjak alat kelaminnya pria itu. Lalu Pak Jarwo pun meminta anak buahnya untuk membuang tubuh Soleh ke sungai seperti yang dulu dilakukan pada Larasati. Hari itu juga, Soleh dibuang ke sungai tanpa ada yang tahu. Namun, pria itu tidak mati. Soleh masih bernyawa lalu Larasati dan Ki Lawu menarik tubuhnya yang tersangkut di batu besar.
Ki Lawu membawa tubuh Soleh ke dalam gua khusus lalu dimasukkan ke dalam lubang berisi ular peliharaanya selama ini.
__ADS_1
Soleh tidak doibati melainkan diberi penyiksaan sebagai balasan terakhir dari Larasati sebelum ajal menjemputnya. Para warga dibuat bertanya-tanya tentang hilangnya Soleh dari pagi sampai keesokan harinya wujud Soleh tidak kunjung terlihat. Orang tua Soleh mulai bertanya-tanya kemana putra mereka pergi tapi tidak ada penduduk desa yang tahu.
Pak Jarwo tidak berhenti di situ, dia membawa Ayu Laksmi ke rumahnya yang lain lalu menggarap wanita itu sebagai balasan atas pengkhianatan yang dilakukan bersama Soleh. Walaupun si janda kembang sudah bersimpuh tapi Pak Jarwo tidak berhenti. Dia sudah membayar mahal dengan mencukupi semua kebutuhan si janda tapi pengkhianatan yang dilakukan membuat Pak Jarwo murka. Setelah puas menikmati tubuh si janda kembang, Pak Jarwo menjual wanita itu kepada seorang pria di kota yang berprofesi sebagai penyedia wanita malam di sebuah tempat hiburan. Itu juga yang akan Pak Jarwo lakukan pada Widya, pria itu sedang menunggu Widya melahirkan lalu menjual wanita dan anak-anak dari Soleh ke kota sebagai balasan untuk Soleh.
Seminggu kemudian, penduduk desa dibuat terkejut saat melihat soleh penuh luka si sekujur tubuhnya sedang berjalan menuju desanya. Pria itu berjalan lemah dan yang membuat penduduk desa takut sekaligus jijik adalah alat kelamin Soleh terpangang karena pakaiannya yang compang-camping. Entah sadar atau tidak, sepanjang jalan Soleh sudah memerkan alat kelaminnya pada warga. Alat kelaminnya sudah membusuk dan berbau membuat penduduk desa menutup hidung serentak.
Seminggu sebelum Soleh dibebaskan…
Pria itu menjerit, berteriak bahkan menangis memohon ampun pada Larasati yang berdiri di atas gundukan tanah sementara Soleh berada di dalam lubang besar berisi ular. Setiap saat pria itu menjerit kesakitan karena gigitan ular tak berbisa di dalam sana. Larasati berdiri tegak menatap Soleh tajam. Wanita itu tersenyum sinis kala Soleh memohon ampun. Soleh adalah demdam kesumat Larasati karena pria itu yang lebih dulu menjebaknya.
“Bagaimana Kang? Suka?”
“Ras, maafkan aku! Lepaskan aku, Ras! Aku janji akan berbuat baik dan membersihkan namamu setelah ini.”
“Aku bisa membalas perbuatan mereka, Ras!”
“Aku bisa sendiri!”
“Ras, apa kau tidak pernah menyayangiku sedikit pun?” kali ini bibir Larasati bergetar kecil.
“Kamu sendiri bagaimana, Kang? Pernahkah kau mencintaiku?”
__ADS_1
Soleh mengangguk cepat tapi sayangnya tidak berhasil menggoyahkan hati Larasati. Setelah puas melihat tubuh Soleh penuh luka, Ki Lawu pun membebaskan Soleh yang hampir mati. Berbekal bisikan penuh ajian, tubuh Soleh mampu berjalan menyusuri hutan bambu lalu kembali ke desa dan membuat gempar penduduk.
Soleh mencapai pintu rumah lalu ambruk tepat saat orang tuanya membuka pintu. Mereka menjerit histeris melihat sang putra kembali.
“Bu, Pak, Maafkan Soleh! Soleh bersalah pada Larasati. Soleh telah memperkosanya!”
Di depan para penduduk, Soleh menutup mata setelah mengakui kesalahannya di masa lalu pada Larasati. Keesokan harinya, Jasad Soleh hendak dimandikan tapi bau busuk dari tubuhnya tidak menghilang padahal sudah banyak sabun yang dipakai bahkan air untuk memandikan Soleh sudah habis dari biasanya mereka memandikan jenasah. Bahkan setelah mengisi ke tiga kalinya, tubuh Soleh tetap bau.
Kepala desa meminta untuk sikafankan saja setelah itu dibawa ke kubur. Kejadian tidak terduga kembali terjadi. Saat jasad Soleh dimasukkan ke liang lahat dan para penggali kubur naik. Jasad Soleh langsung dikerubungi oleh berbagai binatang seperti kelabang, lintah, ular dan banyak lagi yang lain.
Penggali kubur mengabaikan binatang-binatang itu lalu mereka segera menimbun jasad Soleh dengan tanah sampai hingga diakhiri dengan doa. Sementara di tempat yang berbeda, Widya juga sedang berjuang melahirkan bayi milik Soleh. Seorang bidan desa membantu proses persalinan wanita itu. Pak Jarwo menunggu di luar dengan orang dari kota yang akan membawa bayi anak-anak Widya ke kota.
Suara bayi membuat anak pertama Widya tersenyum bahagia. Dia sudah lama menantikan ingin melihat wajah sang adik. Tapi harapannya sia-sia karena ia hanya diberi waktu sebentar kemudian ibu dan bayinya langsung dibawa dengan mobil meninggalkan dirinya sendiri.
Pak Jarwo mengubah rencananya, dia menginginkan anak pertama Widya untuk membantunya kelak. Dia akan mengasuh anak itu dengan caranya.
“Ibu dan adikmu harus dirawat. Apa kamu tidak kasihan melihat ibumu yang lemah itu? Adikmu juga butuh tempat tinggal yang nyaman. Kamu di sini dulu sampai Ibumu sehat, ya?” bujuk rayu Pak Jarwo berhasil.
“Aku ingin ketemu Bapak!”
***
__ADS_1
LIKE...KOMEN....