
Para wanita berbondong-bondong mendatangi kebun milik Puspa. Mereka bergitu marah saat melihat para suami memperlakukan Puspa seperti ratu. Sukarni bertugas memayungi Puspa, Mudin bertugas mengipas wanita itu dan masih banyak tugas lainnya yang dilakukan oleh para pria di Desa Maneh. Para wanita yang sudah tersulut emosi itupun berteriak memanggil nama suami masing-masing sambil berkacak pinggang.
Puspa bergeming dari duduknya. Wanita itu malah semakin mempermanis duduknya lalu sebelah tangan menopang dagu. Entah sengaja atau tidak, gadis itu memanggil Jaka untuk menyuapinya minum. Istri Jaka langsung tersulut emosi. Wanita itu semakin mempercepat langkahnya dan begitu tiba di pondok. Ia berteriak kencang memanggil Jaka tapi suaminya malah tidak peduli.
“Kang, kamu kok di sini? Ayo pulang!” panggil istri Jaka tapi suaminya malah menatap tajam ke arahnya membuat istri Jaka mundur beberapa langkah.
“Sudah selesai teriak-teriak? Kalau sudah, pulang sana! Mengganggu saja!” Puspa tersenyum mengejek membuat para istri tidak tinggal diam.
Mereka mendekati Puspa beramai-ramai hendak menjambak wanita itu tapi sayang, para suami sudah menghalangi mereka hingga tidak bisa menyentuh Puspa.
“Siapa kamu? Kenapa kamu memperlakukan suami kita seperti budak?” tanya istri Udin.
Puspa tertawa kecil, “Siapa yang memperlakukan suami kalian seperti budak? Aku tidak menyuruh tapi mereka sendiri yang melakukannya dengan senang hati.”
“Kamu kasih apa suami kami? Jangan-jangan kamu main dukun ya?”
“Heh, jaga bicaramu! Kamu menuduh Neng Puspa main dukun padahal kamu sendiri yang main dukun biar aku mau nikah sama kamu.”
Gleg…
Puspa tersenyum semakin lebar, “Jangan memutar balikkan fakta, Ibu-ibu. Situ yang main dukun kok malah nyalahin saya!”
“Pulang sana! hus…hus…hus….” Usir Puspa seperti mengusir ayam.
__ADS_1
Para wanita balik badan lalu pulang sambil menggerutu kesal. Mereka bertanya-tanya tentang Puspa pada penduduk desa. Setelah itu, para ibu-ibu itu pun menyambangi rumah Puspa dan melihat bentuk rumahnya sangat biasa tidak terlihat kaya. Mereka pun jadi bertanya-tanya.
Sementara di kebun, Pak Jarwo datang bersama penjaga kebunnya. Pria itu berjalan tegak nan congkak ingin menunjukkan siapa di sana. Tapi para pekerja kebunnya malah mengabaikan kedatangannya di ke bun Puspa.
“Jadi begini sifat asli kalian? Sudah ada bos baru, bos lama dilupakan?” tanya Pak Jarwo menatap satu persatu para pekerjanya.
Puspa tersenyum manis pada Pak Jarwo, “Maaf, Kang. Mereka saya pinjam sebentar untuk menunjukkan letak kebun secara pasti karena baru kali ini saya kemari.” Suara mendayu-dayu milik Puspa terdengar indah di telinga Pak Jarwo.
Pria itu pun mendekat, mereka bersalaman cukup lama karena Pak Jarwo seperti enggan melepaskan tangan lembut itu.
Setelah berkenalan, Pak Jarwo memilih duduk di samping Puspa. Dia bercerita banyak hal dari mulai kebun hingga ranah pribadi Puspa. Tentu saja wanita itu menjawab semua pertanyaan dengan lancar nan penuh godaan.
“Maaf, Kakang. Sudah siang, saya pulang dulu.” Puspa bangun dari duduknya lalu berjalan diikuti para pria.
“Bolehkan saya mampir ke rumah Dik Puspa?” wanita itu menoleh sambil tersenyum, “Silakan, Kakang! Saya tunggu!”
Puspa masak banyak lalu menghidangkan ke atas tikar. Para pria duduk berkeliling termasuk Pak Jarwo. Mereka makan dengan lahap lalu setelah makan, para pria diminta mencuci piring oleh Puspa. Tanpa bantahan, para pria itu mengerjakan semua pekerjaan rumah layaknya perempuan sementara Puspa duduk di teras sambil dikipas oleh Mudin.
Para warga yang melihat jadi bertanya-tanya lalu melapor ke rumah masing-masing. Para istri kembali tersulut emosi saat mendengar laporan para warga tentang suami mereka. Hanya Iyem yang memilih tidur lagi bersama anak-anaknya dari pada berusasah payah mencari Sukarni.
Mata mereka terbelalak melihat pemandangan ajaib di rumah Puspa. Bahkan Pak Jarwo sampai duduk di lantai sambil memijit kaki Puspa. Para ibu-ibu mendekati pagar rumah Puspa.
“Kang, ngapain kamu urus rumah orang? Di rumah sendiri aja kamu tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Kenapa kamu dengan suka rela mengerjakan ini semua?”
__ADS_1
“Iya, Kang. Harusnya kamu begini di rumah bukan di sini. Ngapain kamu capek-capek di rumah wanita lain sedangkan di rumah sendiri kamu tidak pernah membantuku. Yang jadi istrimu dia atau aku?” tanya wanita lain pada suaminya yang tengah menyapu halaman rumah.
Byur…
Jaka yang sedang menyiram tanaman tiba-tiba menyirap para ibu-ibu yang berdiri di luar pagar. Mereka berlarian menghindari siraman dari Jaka sambil merutuki pria itu. Puspa tertawa terbahak-bahak sambil tepuk tangan.
“Kalau kalian seperti ini mana betah mereka di rumah! Hus…hus…pergi sana!” ucap Puspa membuat para wanita mengutuk wanita itu. Puspa tidak peduli, dia semakin kencang tertawa.
Selesai membersihkan rumah, Puspa menyuruh semua pria pulang. Tanpa bantahan, para pria itu pulang ke rumah masing-masing termasuk Pak Jarwo. Sesampainya di rumah, para pria itu kembali membuat para istri mereka kesal karena diganggu oleh anak-anak saat mereka tidur.
“Kamu di rumah wanita itu tidak mengeluh capek tapi main sama anak sendiri kamu mengeluh capek.” Protes istri Jaka.
Sementara di rumah Iyem, Sukarni juga tidur di kamar sementara Iyem sedang di dapur dengan anak. Iyem memilih diam. Ia tidak mau menuntut jawaban atas apa yang didengarnya hari ini dari para warga.
Malam menjelang…
Seperti biasa, Iyem menyiapkan makan malam sederhana di atas meja. Sukarni keluar kamar setelah mandi tanpa bicara. Ia makan dengan lahap tanpa banyak bicara. Anaknya juga tidak rewel karena jam segini anak itu sudah tertidur akibat kekenyangan. Setelah makan, Sukarni duduk di teras sambil merokok. Tiba-tiba, telinganya mendengar suara gamelan jawa yang sangat merdu lantas ia berdiri keluar dari rumah. Pria itu tidak menoleh sedikit pun ke belakang di mana Iyem berdiri menatap kepergian suaminya.
Pria-pria itu kembali mengunjungi rumah Puspa dan seperti biasa, mereka kembali disuguhi berbagai makanan enak nan menggunggah selera. Mereka makan dengan lahap sambil mendengar permainan gamelan yang dimainkan oleh Puspa.
Dari atas bukit, Larasati tersenyum puas mendengar suara gamelan tersebut. Wanita itu kembali ke dalam gua lalu mengambil sebuah patung jerami yang sudah ditulis namanya tersebut. Mulut Larasati berkomat-kamit memegang patung itu kemudian dia meniupkan nafasnya ke perut si patung.
“Sekarang giliranmu, Sukarni!”
__ADS_1
Fuuuihhh….
***