Santet Perawan Tua

Santet Perawan Tua
Karni Di Hutan Bambu...


__ADS_3

Setelah puas menikmati musik gamelan, Puspa meminta semua pria pulang ke rumah masing-masing. Di dalam perjalanan, mereka tidak langsung pulang melainkan pergi ke pos jaga. Hanya Pak Jarwo yang enggan duduk bersama para pekerjanya. Mereka bermain kartu hingga larut malam ditemani kopi dari warung sebelah.


Saat sedang asyik bermain, Sukarni tiba-tiba gatal-gatal di area paha bagian atas. Pria itu mulai menggaruk membuat semua mata menatapnya heran.


“Kenapa, Kang?” tanya Jaka.


“Tidak tahu! Gatal sekali pahaku.”


“Jangan-jangan terkena ulat bulu, Kang,” sahut yang lain.


Sukarni semakin menggaruk pahanya sampai ke bagian atas membuat para pria merasa aneh.


“Kang Karni pulang saja dulu, coba ganti celana di rumah,” Saran Mudin.


Karni mulai kesal lalu tiba-tiba di membuka celananya di sana tanpa pikir panjang. Hanya ****** ***** yang tersisa. Ia melihat cenala panjangnya dan tidak menemukan ulat bulu. Tapi rasa gatal itu semakin menjadi membuat Karni tidak tahan kemudian mengambil pentungan bambu di pos jaga lalu menggaruk pahanya menggunakan pentungan.


Malam belum terlalu larut hingga banyak warga yang masih melintas di jalan itu. Mereka langsung berhenti saat melihat para warga lain sedang memperhatikan sesuatu yang serius. Rasa ingin tahu muncul dari warga yang melintas hingga suasana di sekitar pos jaga semakin ramain. Sukarni tidak sadar jika ia sedang menjadi pusat perhatian orang-orang. Dia hanya mengetahui jika saat ini paha dan selangkangannya sangat gatal. Bahkan beberapa di antaranya sudah mengeluarkan darah karena ia menggaruk dengan ujung pentungan bambu yang tajam.


“Kang, ke bidan desa saja biar di kasih obat,” teriak seorang ibu-ibu.


Sukarni tidak peduli lalu mata penduduk dibuat terbelalak karena pria itu membuka ****** ******** di depan umum. Semua mata dapat melihat alat vital Sukarni yang loyo. Mata penduduk kembali dibuat terbelalak saat melihat Sukarni mengocok alat vitalnya di depan umum lalu beberapa saat kemudian keluarlah anak-anak lintah berwarna hitam pekat. Para penduduk menjauh, mereka mundur karena merasa aneh dengan kondisi Sukarni.


“Sepertinya Kang Sukarni kena teluh,” celutuk seorang ibu-ibu membuat semua mata menatapnya termasuk Sukarni.


“Jadi saya harus apa, Mbak?” tanya Sukarni hendak menangis.


“Minta tolong sama Ki Lawu. Dia ahli pengobatan teluh dan santet.”

__ADS_1


“Ki Lawu yang tinggal di gua?” tanya sebagian penduduk.


Ki Lawu meman terkenal dapat mengobati orang yang terkena santet dan teluh. Semenjak istrinya meninggal, Ki Lawu memilih hidup di hutan seorang diri. Semenjak itulah dia tidak pernah kembali ke desa dan seolah telah mati. Hanya beberapa orang yang pernah mengunjungi tempatnya untuk berobat itupun harus bertanya dulu karena Ki Lawu tidak mengobati semua orang.


“Bagaimana caranya saya ke sana, Mbak?” tanya Sukarni sambil meringis pedih.


“Masuk saja ke hutan bambu nanti jalan lurus akan ketemu sungai. setelah menyebrang sungai, jalan lagi masuk ke hutan bambu dan tidak jauh di dapannya sudah terlihat gua.” Ibu-ibu itu menjabarkan secara rinci seolah dia sudah sering ke sana bahkan suaminya saja sampai heran. Setelah mengatakan itu, si ibu tersentak seperti orang kebingungan.


“Kamu pernah ke gua Ki Lawu, Buk?” bisik suaminya.


Si ibu mengernyit, “Ki Lawu apa, Pak?” giliran suaminya yang bingung.


Sukarni pergi sesuai petunjuk dari ibu-ibu tadi. Para pengguna jalan yang melintas dibuat terkejut dengan penampilan Sukarni yang tidak menggunakan ****** *****. Ia berjalan sambil menggaruk pahanya yang gatal dengan pemukul pentungan.


Iyem hendak tidur tiba-tiba mendengar suara ketukan pintu. “Yem, Yem, bangun!”


“Yem, Karni, Yem! Suamimu diteluh orang. Sekarang dia sedang pergi ke hutan bambu untuk mencari Ki Lawu supaya mengobatinya. Dia tidak memakai ****** *****, Yem. Pahanya sampai berdarah saat digaruk dengan pemukul pentungan terus burungnya keluar lintah kecil-kecil.”


Iyem cemas tapi tidak bisa berbuat banyak karena bayinya masih kecil dan sudah tertidur. “Ya sudah kalau begitu, saya masuk dulu. Biarkan Kang Karni mencari obatnya dulu. Saya tidak bisa meninggalkan si dedek yang masih bayi.” Para warga maklum kemudian pergi meninggalkan rumah Iyem.


Di perjalanan, mereka bertanya-tanya tentang teluh yang didapat oleh Sukarni. “Aku yakin itu teluh dari wanita ganjen itu,” seru seorang istri dari Jaka.


“Jangan asal menuduh. Kalau Karni kena teluh berarti suamimu juga kena. Karni sama Jaka juga sama-sama di rumah itu,” istri Jaka terdiam. Wanita itu mulai khawatir jika suaminya bakal terkena teluh yang sama seperti Karni.


Sesampainya di rumah, wanita itu melihat Jaka sedang sudah tertidur setelah kelelahan dari pos jaga. Pertemanan di antara mereka hanya serapuh kayu lapuk dimakan rayap. Lihatlah, betapa lelapnya Jaka tidur dan para pria lainnya sementara Sukarni berjalan sendiri ke hutan bambu sambil menahan gatal di tubuhnya.


Di dalam hutan bambu, Sukarni terus berjalan sesuai petunjuk. Di bawah sinar bulan dan sebuah senter, ia terus berjalan menyusuri hutan bambu sampai ke sungai. Seolah tanpa lelah, pria itu kembali menyusuri sungai kemudian berjalan kembali ke dalam hutan. Sukarni bernafas lega karena di depannya terlihat gua dan sedikit cahaya di dalamnya. Lantas, ia bergegas menuju ke dalam gua dan di dalam sana terlihatlah seorang wanita cantik tengah menyisir rambut.

__ADS_1


Sukarni merasa heran, ia mulai bertanya-tanya di dalam hati tentang wanita yang sedang membelakanginya.


“Permisi!” ucap Sukarni lalu wanita itu pun menoleh.


Mata Sukarni terbelalak. Gatal di pahanya seketika hilang. Langkah kakinya mundur ke belakang. Sekelabat bayangan masa lalu di mana ia menggagahi Larasati muncul dalam benaknya. Tidak sampai di situ, dia juga yang ikut melempar tubuh perawan tua ke sungai.


“Kenapa, Kang? Kok mundur?”


“Laras,-“ wanita itu tersenyum saat namanya dipanggil sedikit gagap oleh Sukarni.


“Ah, Kakang masih ingat namaku? Itu kenapa, Kang? Sampai luka dan berdarah begitu? Gatal ya?”


“Maafkan aku, Laras! Aku tidak bisa menolak perintah Juragan Jarwo.”


Larasati tertawa namun sorot matanya tajam menghunus ke depan. “Lucu sekali alasannya, Kang. Kenapa tidak jujur saja kalau Kakang suka melihat tubuh polosku. Apa Kakang mau mengulang lagi? Tapi melihat burung kesayangan Kakang kayak begitu, aku jadi ragu apa burungnya bisa digunakan saat ini.”


“Tidak, Laras. Aku khilaf. Aku minta maaf!”


“Sudah aku maafkan, Kang. Terus kenapa Kakang mundur begitu? Seperti melihat hantu saja.”


“T-tidak, Laras. Aku ke sini ingin bertemu Ki Lawu. Aku diteluh orang sampai begini. Aku ingin minta obat pada Ki Lawu.”


“Oh, Kakang ingin bertemu Ki Lawu? Kenapa tidak bilang dari tadi. Ki Lawu ada di belakang Kakang!” Karni menoleh lalu,-


Aaaa…..


***

__ADS_1


LIKE...KOMEN...SHARE....MAKASIH.


__ADS_2