
Seminggu kemudian....
Soleh pulang dari kebun cabai dalam keadaan lelah. Pria beristri itu masuk ke rumah mertua yang selama ini menampung menjadi tempat tinggalnya setelah menikah.
“Sudah pulang, Nduk? Mau minum kopi? Biar ibu buatkan,” ucap ibu mertuanya.
Bukannya menjawab pertanyaan ibu mertuanya, Soleh justru menatap dalam sang ibu mertua kemudian ia langsung memeluk dan mencium ibu mertuanya. Di mata Soleh, ibu mertuanya adalah Larasati. Wanita yang membuatnya candu setelah merasakan kenikmatan tubuh perawan milik Larasati.
Ibu mertuanya berteriak meronta dalam dekapan menantu bejatnya.
“Solehhhhh!” teriak bapak mertua saat melihat sang istri sedang digarap oleh menantunya sendiri.
Soleh berhenti lalu matanya terbelalak saat melihat apa yang sudah ia lakukan. Pakaian bagian depan milik ibu mertua terbuka dan celananya sudah turun hingga memperlihatkan alat vitalnya.
Soleh dihajar oleh bapak mertuanya sampai babak belur sementara ibu mertuanya menangis sesenggukan. Ia telah dilecehkan oleh menantu yang dianggap baik selama ini. Widya datang dengan perut besar sambil menggandeng anak pertamanya.
“Kang, apa yang terjadi? Kenapa Bapak memukul Kang Soleh?” Widya menghampiri suaminya yang hampir terkapar dipukul oleh sang ayah.
Sambil menatap bengis pada si menantu, Bapak dari Widya menunjuk-nunjuk wajah menantunya.
“Apa kamu tahu apa yang dilakukan suami bejatmu ini? Dia hampir memperkosa Ibumu, Ibumu!” Bapak memberi penekanan pada kata ‘Ibumu’ supaya putrinya sadar.
Widya tidak percaya, ia menatap ibunya dari ujung kaki sampai kepala lalu menggeleng pelan. Tidak mungkin suaminya bernafsu sama wanita tua seperti ibunya.
“Sayang, aku tidak mungkin menyukai ibu! Aku tidak sebejat itu. Apalagi aku punya kamu yang masih gesit dan muda. Kenapa aku harus tertarik pada ibumu yang sudah kuanggap seperti ibuku?”
Bugh...
“Bapakkkkk!” Widya melerai sang ayah yang akan memukul suaminya lagi.
“Kamu lebih membela pria bejat ini dari pada ibumu? Kamu tidak percaya sama Bapak?”
“Pak, bukannya aku tidak percaya tapi aku ragu jika Kang Soleh akan melakukan perbuatan seperti itu pada Ibu.”
__ADS_1
Bapak marah lalu mengajak ibu ke kamar. Sebelum beliau masuk, Bapak menoleh, menatap tajam pada putri dan menantu bejatnya.
“Keluar kalian dari rumahku!”
“Pak,-“ panggil Widya tapi tatapan tajam sang bapak membuatnya urung melanjutkan.
Brak...
Bapak menutup pintu dengan keras membuat anak Widya terkejut sampai menangis kencang.
Hari itu juga, Soleh keluar dari rumah mertuanya lalu kembali ke rumah orang tuanya yang lama. Bersamanya ia turut membawa anak dan istri yang sedang hamil.
Keluarga Widya menutup rapat aib Soleh tapi tidak bagi seseorang yang berada di sebuah gua bersama seorang pria paruh baya. Seseorang itu adalah Larasati. Wanita yang diperlakukan buruk oleh para pria termasuk Soleh di hutan bambu.
Hari itu, saat Larasati hendak ke kota. Ia bertemu sekelompok pria di desanya dan desa sebelah. Mereka menariknya ke dalam hutan bambu lalu menggilirnya beramai-ramai. Tidak berhenti di sana, setelah puas melakukan berulang kali sampai sore hari. Tubuh lemah penuh darah itu dilempar ke dalam jurang tak jauh dari hutan bambu. Mereka tertawa bahagia lalu kembali ke rumah tanpa merasa bersalah.
Larasati tidak mati, wanita itu hanya lemah karena pendarahan parah. Seorang pria sepuh memakai batu akik besar di setiap jarinya membawa tubuh lemah itu ke dalam gua tempat ia selama ini menghabiskan harinya.
“Air matamu terlalu berharga. Balas perbuatan mereka adalah cara yang benar bukan menangis karena saat kamu menangis, mereka justru sedang tertawa bahagia.”
Kata-kata itulah yang membuat Larasati berhasil bangkit dari kesedihan kemudian meminta Ki Lawu untuk mengajarinya ilmu supaya dia dapat membalaskan dendamnya.
Kegigihannya berbuah hasil, dalam tiga hari Larasati berhasil melewati berbagai ritual untuk menyempurnakan ilmunya. Tepat di hari terakhir dalam minggu tersebut, Ki Lawu menemuinya yang baru selesai semidi.
“Siapa yang kamu balas lebih dulu?” tanya Ki Lawu saat itu.
Larasati menjawab satu nama yang membuatnya harus keluar dari desa sampai harus meninggalkan sang ibu.
“Soleh!”
Malam selanjutnya, Larasati langsung melancarkan aksinya dengan mengambil satu darah dari tubuhnya lalu menitikkan di bara api kemudian mulutnya berkomat-kamit hingga terjadilah kejadian hari ini di mana Soleh melihat ibu mertuanya mirip dengan Larasati dan hasratnya langsung bergejolak hingga tanpa pikir panjang ia langsung menyerang ibu mertuanya.
Di dalam lebatnya hutan bambu, Larasati tersenyum melihat Soleh beserta keluarga kecilnya terlihat meninggalkan desa.
__ADS_1
“Itu baru permulaan, Soleh!” gumamnya lalu berbalik pergi meninggalkan hutan bambu.
Malam harinya, Desa Maneh kembali dibuat gempar karena Mudin yang terkenal pemuda baik-baik sekaligus anak berbakti diseret oleh Majid ke pos jaga saat hendak memperkosa istrinya. Majid yang berada di kebun belakang terkejut mendengar teriakan istrinya dan bergegas masuk ke dalam. Majid mengambil sebatang kayu lalu memukul Mudin yang sedang menindih paksa istrinya di atas tempat tidur.
Malam itu, Mudin dan keluarganya diusir dari kampung. Orang tua Mudin menangis sambil memohon ampun pada warga supaya tidak mengusir mereka tapi kemarahan Majid sudah membara.
“Apa kalian yakin dia tidak akan memperkosa istri atau adik perempuan kalian? Silakan kalian pikir sendiri. Aku harap kalian tidak menyesal jika suatu saat dia memperkosa keluarga kalian.”
Para warga akhirnya berseru mengusir Mudin dari kampung itu. Saat melewati rumah kepala desa, Mudin tiba-tiba berlari dan ke teras rumah itu dimana istri kepala desa berdiri bersama anak gadisnya.
Mudin berlari seakan melihat Larasati tersenyum manis lalu memanggilnya. Para warga terkejut saat Mudin langsung memeluk dan mencium anak gadis kepala desa.
Semua mata tercengang tak terkecuali kepala desa. Beliau tidak menyangka jika Mudin akan bersikap seperti itu. Orang tuanya menunduk malu. Sementara Majid tertawa keras,
“Kalian lihat? Sekarang kalian masih mau menerimanya di kampung ini?” sarkas Majid semakin membuat warga marah lalu menyeret tubuh Mudin ke jalan. Mereka menelanjangi pria itu lalu diarak sampai ke perbatasan desa.
Dari balik hutan bambu, Larasati tersenyum kecil. Mudin dan kedua orang tuanya ditinggal di pinggir jalan. Para warga berdiri menjaga pintu masuk desa supaya keluarga itu tidak masuk kembali ke sana. Di dalam desa, rumah Mudin menjadi sasaran amukan warga. Mereka membakar habis rumah itu hingga rata dengan tanah.
Mudin berjalan lesu bersama orang tuanya. Ia telah memakai pakaian lain pemberian sang ibu.
“Ada apa sama kamu, Nduk?” tanya sang ibu.
“Tidak rahu, Bu. Mudin hanya melihat wajah Laras dan Mudin menyentuhnya.” Jawaban Mudin mengejutkan sang ibu.
“Jangan anah-anah kemu, Din. Kamu sudah memilih bekerja di tempatnya tapi sekarang kamu malah membuangnya sia-sia hanya karena tergoda rayuan setan.”
“Maafkan aku, Bu!”
***
__ADS_1