
Larasati berjalan menyusuri jalan setapak melewati perkebunan cabai. Hari menjelang sora dan sudah waktunya ia pulang. Setelah mengambil bayaran atas upahnya, ia pun pergi meninggalkan kebun cabai milik Pak Jarwo. Sepanjang jalan ia terus terngiang dengan ucapan Iyem tadi bahwa gadis muda itu menikah melalui perantara dukun kampung sebelah.
“Jangan bilang siapa-siapa ya, Mbak!” pinta Iyem waktu itu.
Laras kembali berjalan sambil sesekali menggelengkan kepala karena pusing dengan perkataan Iyem sampai tidak sadar jika seseorang sedang mengawasinya.
Bruk…
Aaa….
Larasati ditarik paksa ke sebuh pondok di kebun kacang hijau milik seorang juragan kampung sebelah. “Tutup mulutmu atau kubunuh!” Larasati mengangguk paksa kemudian laki-laki yang sejak tadi memeluknya dari belakang pun mengendorkan pelukan lalu memutar tubuhnya hingga mereka pun berhadapan.
Wanita itu terkejut, “Kang Soleh! Kenapa,-“ belum selesai Larasati berucap, Soleh langsung menyerangnya. Pria yang sudah diliputi nafsu itu hendak melecehkan Larasati tapi sayang, wanita itu terlanjur berteriak. Beberapa orang yang melintas di sana pun akhirnya berhenti dan menoleh ke arah pondok.
Plak…
“Apa kau sudah hilang akal, Laras? Dulu kau menolakku kini setelah aku menikah dengan Lasmi, kau ingin merayuku, heh? Kau benar-benar tidak tahu malu, Ras! Aku kecewa padamu. Sekarang apa yang akan dipikir oleh orang-orang saat melihatmu di sini? Mereka pasti berpikir aku merayumu padahal kamu sendirilah yang memaksa. Maaf, Ras. Aku harus menamparmu supaya kamu sadar kalau ini salah.” Orang-orang yang berdiri di luar pondok pun terkejut tak terkecuali Pak Jarwo dan beberapa pemetik cabai lainnya.
Soleh keluar dari pondok, pria itu terkejut melihat banyak orang di sana. “Laras, keluarlah! Lihat hasil perbuatanmu membuat semua orang menatapku seolah aku yang bersalah di sini. Kamu sangat keterlaluan, Ras. Bapak-bapak, ibu-ibu, aku berani bersumpah kalau aku tidak melakukan apa yang kalian pikirkan. Laras masuk ke pondok ini saat aku istirahat.”
Mata penuh benci pun tertuju pada Larasati yang baru keluar sambil memegang ujung bajunya. Dia tidak menyangka akan difitnah sekeji ini. Saat akan membuka mulut, para warga justru melemparnya dengan batu kerikil atau tanah yang ada di sana. Larasati menjerit meminta tolong tapi tidak satu pun yang peduli. Soleh tersenyum kecil setelah berhasil mengelabui penduduk desa.
Malam harinya, para warga berkumpul untuk menyelesaikan masalah Larasati di balai desa. Wanita itu berpikir jika hukuman atas fitnahnya telah selesai nyatanya, itu kembali berlanjut. Nyai Salamah berjalan pelan mengantar putrinya ke pintu.
“Nduk, Ibu ikut saja ya?” tanya Nyi Salamah.
Larasati tersenyum, wajah dan tubuhnya memar terkena lemparan batu. “Tidak perlu, Bu. Aku akan melawan mereka malam ini. Aku tidak melakukannya dan aku berani bersumpah atas nama Ibu,”tegas Larasati. Ia pun pergi ke balai desa. Berbekal lampu senter karena di beberapa sudut desa belum ada listrik, Larasati terus melangkah menuju balai desa.
Plak…
__ADS_1
Sebuah tamparan langsung diterima Larasati saat menginjakkan kaki di pintu balai desa.
“Dulu kamu menolak Kang Soleh, sekarang kamu malah merayunya. Maumu apa, Laras? Apa sekarang kamu menyesal karena tidak kunjung menikah. Apa kamu malu karena dipanggil perawan tua oleh warga sampai kamu gelap mata dan merayu Kang Soleh? Apa punyamu sudah gatal sekali sampai kau memaksa suamiku menjamahmu, Laras?”
Semua mata menatap sinis, jijik padanya. “Bukan aku yang merayu suamimu tapi suamimu lah yang menarikku ke pondok itu. Aku berani,-“
Plak…
Tamparan kedua yang sebelum Larasati menyelesaikan ucapannya. Wanita bernama Widya, teman masa mudanya dulu sebelum menikah dengan Soleh kembali menamparnya.
“Kamu memang menjijikkan Laras! Aku tidak menyangka jika kamu serendah ini. Dari kecil sampai besar, kita berteman tapi aku tidak menyangka kalau kalau kamu akan memaksa suamiku menyentuhmu. Aku tahu sekali suamiku seperti apa, Laras. Jangankan kamu, wanita lain yang lebih cantik saja tidak membuatnya tertarik. Bagaimana kamu bisa menuduh Kang Soleh sekeji itu?”
“Wid,-“
Wanita bernama Widya berlalu meninggalkan Larasati. Widya kembali duduk di tempanya. “Masuklah Laras!” wanita itu pun masuk dan sesampainya di sana ia harus menerima resiko sebagai orang yang disalahkan dalam kasus ini. Aksi pura-pura Soleh berhasil mempengaruhi penduduk desa jadi semakin membenci Larasati.
Suara-suara sumbang yang menyuruhnya pergi pun semakin ramai. Hinaan, cibiran mengalir deras seperti air terjun seolah Larasati tidak memiliki hati dan perasaan. Akhirnya, kepala desa memutuskan untuk mengusir Larasati dari sana. Malam itu, Larasati pulang ke rumah dengan wajah ceria. Nyai Salamah sampai terhera-heran menatap sang putri yang terlihat gembira.
“Ada apa, Nduk?” tanyanya setelah Larasati masuk ke dalam rumah.
“Aku bertemu teman, Bu. Besok, dia mengajakku ke kota. Dia akan memberiku pekerjaan di sana. Untuk sementara, Ibu di rumah dulu ya! Nanti kalau aku sudah punya penghasilan dan tempat tinggal, aku akan menjemput Ibu.”
Ada rasa ragu yang mengusik hati Nyai Salamah tapi urung melihat semangat putrinya yang sangat meyakinkan.
Keesokan harinya…
Larasati sudah menyiapkan makanan untuk sang ibu. Dia bersiap pergi setelah membungkus beberapa pakaian.
“Nduk, temanmu tidak kemari?”
__ADS_1
“Tidak, Bu. Dia menunggu di perempatan jalan.”
“Nduk, apa tidak sebaiknya kamu di sini saja? Ibu takut kamu pergi jauh-jauh.”
Larasati menyentuh punggung tangan sang ibu. “Bu, Laras harus keluar dari desa ini jika ingin sukses. Ibu doakan Laras ya!” wanita tua itu pun mengangguk lemah. Menjelang siang, Larasati pergi meninggalkan desa dengan berjalan kaki. Tiba di perempatan, ia harus mendaki sedikit karena jalan keluar dari desa harus melewati hutan bambu yang lebat dan menanjak.
Laras terus berjalan lalu ia berpapasan dengan beberapa pria di kampungnya. Beberapa dari mereka pernah melamarnya dulu namun ditolak halus karena Larasati tidak menyukai pria pemalas seperti mereka.
“Mau kemana Laras?” mereka berhenti. Lebih tepatnya menghadang wanita itu.
“Minggir, Kang! Aku mau lewat.”
Suara gelak tawa terdengar.
Soleh yang berada di dalam kawanan tersebut maju, “Ras, lanjut yang kemarin yuk!” Soleh berbicara menggoda.
“Kalian lihat kan? Siapa yang menggodaku? Kalian saksinya, ayo temui kepala desa dan katakan pada mereka tentang kelakuan Kang Soleh.” Larasati menarik tangan salah satu pemuda tapi pemuda itu malah diam di tempat menatap Larasati menyeringai.
Para pemuda mengelilingi Larasati sambil menyeringai, “Apa kalian tidak ingin mencobanya?” tawar Soleh membuat Larasati bergidik. Suara deru motor membuat Larasati tersenyum. Ia merasa ada yang akan menyelamatkannya tapi semakin motor itu mendekat maka semakin sirna pula senyum Larasati.
“Kalian mau makan enak?”
“Pak Jarwo mau ikut?”
“Pasti!”
***
__ADS_1