
Larasati sedang berada di hutan bambu untuk mencari tanaman obat-obatan. Dia tidak sengaja mendengar percakapan dua pemuda Desa Maneh yang sedang melintas.
“Hasil cabai Juragan Jarwo sangat melimpah kali ini. Tapi dia tidak mau menambah upah kita sedikit lagi. Ibuku sedang sakit dan Juragan malah meminjamkan uangnya tapi pakai bunga. Kenapa ya, orang kaya makin kaya makin pelit?”
“Mungkin karena juragan belum mempercayai kita. Kamu tahu sendiri umur kita masih lima belas tahun. Bagi Juragan, kita ini masih di anggap bocah.”
“Kemana ya aku harus meminjam uang buat Ibuku berobat?”
“Pergi saja ke rumah Pak Salam. Dia kan juragan juga walaupun tidak menanam cabai.”
“Pak Salam itu akan orang kaya tak kasat mata. Anak-anaknya di kota semua dan sudah sukses makanya dia tidak pernah ke kebun. Uang buat makan selalu dikirim oleh anak-anaknya.”
“Apa dia mau meminjamkan uang padaku?”
“Coba saja!”
Larasati menatap kepergian dua pemuda itu kemudian menyeringai licik. Malam harinya, wanita itu kembali berkomat kami di atas bukit kemudian ia mengambil segenggam tanah. Setelah ditiup, tanah tersebut dilempar ke arah kebun cabai Pak Jarwo.
Keesokan harinya, Pak Jarwo yang sedang menyantap nasi uduk dan kopi hitam di warung langganannya terlonjak kaget oleh panggilan dari Maman, pemuda yang bertugas menjaga kebun. Nafas pemuda itu naik-turun dan tanpa permisi langsung menyambar gelas air putih yang terletak di atas meja sang juragan.
Kening Pak Jarwo menatap heran pada anak buahnya, “J-juragan, kebun,-“ Maman belum lancar berbicara. Nafasnya seolah sesak karena kelelahan berlari.
“Ada apa? Bicara yang jelas!” bentak Pak Jarwo.
__ADS_1
“Kebun cabai, Ju-juraga!”
“Maman!” panggil Pak Jarwo kesal.
“Ayo, Juragan lihat sendiri!” Pak Jarwo mengambil sepeda motor kemudian melaju menuju kebun cabai miliknya. Maman kembali berlari di belakang mengikuti Pak Jarwo yang sudah menjauh. Mata Pria tua itu terbelalak saat melihat kebun miliknya hancur diserang hama. Cabai merah tiba-tiba menghitam dan banyak yang busuk. Batang cabai layu dalam sekejab mata. Pak Jarwo terduduk di tanah. Ia sudah membayangkan akan membeli mobil baru kali ini setelah memanen cabai tapi pagi ini dia justru dibuat tidak berkutik. Kebun cabainya gagal panen.
Pria itu teringat sesuatu, ia berjalan menyusuri jalan menuju kebun milik Pak Rohim. Kebun Pak Rohim tidak terlalu besar dibanding miliknya. Alangkah terkejutnya Pak Jarwo saat melihat kebun Pak Rohim baik-baik saja. Pria itu tidak terima, ia langsung mendatangi Pak Rohim yang sedang mengawasi pekerjanya yang sedang memanen.
“Apa yang kau lakukan pada kebunku, Rohim?” sentak Pak Jarwo emosi.
Pak Rohim mendekat, “Maaf, maksud Pak Jarwo apa?”
“Alah, pakai sandiwara segala. Aku tahu kamu pasti iri kan melihat hasil kebunku yang melimpah sampai kau merusak kebunku dengan menyebar hama?” tuduh Pak Jarwo.
Pak Jarwo kalah. Dia melihat sendiri cabai Pak Rohim banyak yang masih hijau tapi sudah dipetik. Pria itu balik badan. Ia kembali ke kebunnya sambil berpikir dari mana asal hama? Kenapa bisa menyerang cabainya?
Pak Jarwo duduk seorang diri di pondok sambil menatap hamparan kebun cabai miliknya. Tak sadar, pria itu sampai menitikkan air mata menyadari jika dirinya mengalami gagal panen. Seumur hidup menjalani pekerjaan ini baru sekarang ia mengalami gagal panen dan jumlahnya tidak tanggung-tanggung. Dia rugi besar.
“Kenapa masalah selalu mendatangiku, Gusti? Apa yang telah aku perbuat? Apa karena,-“ gumam Pak Jarwo berhenti saat ia menyadari jika kesialan hidupnya dimulai semenjak melakukan perbuatan buruk pada Larasati.
“Apa arwah perawan tua itu bergentayangan di dekatku?” Pak Jarwo bergidik ngeri lalu pergi meninggalkan kebun.
Keesokan harinya, pria itu memberi pengumuman bagi pekerjanya. “Karena kebun gagal panen maka saya tidak akan membayar kalian sedikit pun. Harap maklum karena tanpa hasil kebun maka saya hanyalah orang miskin.”
__ADS_1
Mereka yang bekerja dan berharap upah dari Pak Jarwo harus menelan kekecewaan karena pengumuman tersebut. Bahkan dua bocah remaja yang sempat melintasi hutan bambu kemarin. Lantas, keduanya pun pergi menuju rumah Pak Salam untuk meminta pinjaman. Awalnya mereka menunduk ragu tapi setelah melihat Pak Salam yang ramah dan baik, mereka jadi yakin jika Pak Salam memang orang yang baik. Pria sepuh itu meminjamkan uang tanpa bunga tapi beliau meminta bocah tersebut untuk membantunya merawat ayam dan burung-burungnya di rumah. Dua bocah itu langsung bersedia apalagi mereka diberi makan dan uang jajan.
Di rumahnya, Pak Jarwo mengamuk kembali. Apalagi setelah mengetahui jika Pak Rohim si pemilik kebun cabai di sampingnya mendapat keuntungan besar karena harga cabai yang meroket tinggi. Penghasilan Pak Rohim saat ini hampir menyaingi dirinya bahkan dua hari setelah itu, Pak Jarwo mendengar jika Pak Rohim telah membeli mobil baru.
Orang-orang yang dulu bekerja di kebun miliknya memilih pergi ke kebun Pak Rohim. Walaupun pria itu sudah menolak karena tidak etis merebut karyawan orang lain tapi apa mau dikata. Pak Jarwo hanya bisa menunggu kondisi tanah kembali membaik dan jadwal tanam yang sudah terjadwal. Pria yang tengah duduk di teras rumahnya itu terkejut saat melihat Pak Rohim mengendarai mobil baru. Pak Rohim menekan klakson sekali lalu mengangguk pada Pak Jarwo kemudian kembali melaju dengan mobil barunya.
Pak Jarwo tersulut emosi lalu keluar dari rumah menuju salah satu tempat yang ada dipelosok desa sebalah. Tujuan Pak Jarwo kali ini adalah merusak tanah kebun Pak Rohim sehingga tidak ada yang bisa ditanam lagi dikebun itu.
“Hidup si Rohim hanya mengandalkan hasil kebunnya. Kalau kebunnya tanah kebunnya rusak maka mobil baru pasti akan dijual lagi karena tidak ada biaya. Aku akan membiarkan si Rohim berbahagia dulu dengan mobil barunya. Setelah ini, aku pastikan si Rohim bakal jatuh miskin!” gumam Pak Jarwo mengendarai motor menuju pelosok desa sebelah.
Sesampainya di rumah tua yang sudah tidak layak itu, Pak Jarwo turun lalu masuk ke dalam tanpa permisi.
“Apa kau sedang iri hati, Jarwo?” suara tua itu terdengar mengejek.
“Iya, Ki. Tolong aku!”
“Ini!” pria sepuh yang dipanggil
“Masukkan ke dalam sumur! Semua tanaman yang terkena air sumur bercambur bubuk ini akan layu dan mati.”
***
__ADS_1
LIKE....KOMEN....