Santet Perawan Tua

Santet Perawan Tua
Ayu Laksmi...


__ADS_3

Dua hari kemudian…


Mudin pergi ke sungai untuk memancing ikan seperti biasa. Kail pria itu akhirnya tertarik juga tanda ikan sudah menyangkut tapi sayang, saat ia menarik kailnya justru pakaian wanita yang tersangkut. Mudin bertanya-tanya tentang pakaian siapa lalu suara seorang wanita terdengar memanggil-manggil seseorang.


“Kang, tolong itu pakaian saya terbawa air.”


“Kang, tolong!” Mudin mengambil pakaian itu lalu berbalik.


Matanya membulat saat melihat siapa sosok bersuara merdu nan medayu-dayu itu. Apalagi tubunya basah di dalam air dengan dua tangan menutup bagian atasnya. Mudin meneguk salivanya susah. Dia yang masih terkena pengaruh santet dari Laras pun gelap mata lalu mendekati wanita yang tak lain adalah Larasati sendiri.


Wanita itu menunduk malu tapi tidak dengan Mudin. Pria itu melah berani menarik pinggang sang perawan tua lalu membawa Laras ke bebatuan besar yang ada di sana.


“Kang,-“ lirih penuh desah keluar dari mulut Larasati.


Mudin gelap mata, ia ingin menyerang Larasati tapi mulut indah Laras yang penuh ajian itu mampu membuat Mudin tidak berdaya. Pria itu seolah kehilangan dirinya lalu berubah dingin sambil menatap manik  mata Laras.


“Kang, Widya adalah aku! Temui dan gagahi dia!”


Setelah memberi bisikan yang mirip perintah, Mudin pergi meninggalkan kail. Pria itu gegas pergi ke rumah orang tua Soleh di mana Soleh dan Widya tinggal sekarang. Mudin tiba satu jam kemudian dengan berjalan kaki. Soleh sendiri sudah pergi bersama bapaknya.


Tok…tok…


“Permisi!” ucap Udin.


Widya keluar dari dalam kamar sambil memegang perutnya yang semakin besar. Anak pertamanya sudah pergi ke kebun dengan ibu mertua.


“Kang Mudin, kamu di sini?” tanya Widya heran.

__ADS_1


“Hem, apa aku boleh masuk?”


“Silakan!” jawab Widya tanpa curiga.


Saat gadis wanita itu berbalik, Mudin malah menyergapnya lalu menggagahi wanita hamil itu. Setelah puas, Mudin pergi meninggalkan rumah itu sementara Widya menangis seorang diri melihat punggung Mudin keluar dari rumahnya. Widya ragu apa dia harus bercerita pada Soleh tentang perilaku Mudin tapi ia juga takut jika nanti Soleh menolak dan menceraikannya. Widya tidak mau kehilangan tempat tinggal dan suaminya saat ini.


Siang harinya, Soleh pulang seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda atau keanehan yang tercipta. Widya memilih menyimpannya sendiri. Malam harinya, saat Soleh menyentuh Widya, mulut istrinya justru menyebut nama Mudin membuat Soleh murka lalu menyeret istrinya keluar kamar. Soleh juga menampar wajah istrinya berkali-kali sementara Widya mulai tersadar dan dia pun menangis.


“Aku merindukanmu lagi Kang Mudin.”


Ucapan Widya terngiang-ngiang di telinga Soleh hingga keesokan harinya pria itu langsung menemui Mudin bersama Widya dan beberapa penduduk desa. Semua orang tercengang menyaksikan kelakuan Widya begitu melihat Mudin pulang dari sungai. Wanita itu langsung berlari memeluk Mudin membuat pria itu heran lalu mendorong Widya keras sampai terjatuh ke tanah.


“Kenapa kau memelukku? Kamu itu wanita bersuami.” Hardik Mudin yang telah sadar dari pengaruh santet Larasati.


Warga mulai bingung, “Alah, katakan saja kalau kau memang suka sama istriku. Tidak perlu bersandiwara seperti ini. Sudah tidak jaman,” sela Soleh setengah mengejek.


“Kang, kita sudah berjanji akan hidup bersama dan memiliki anak berdua. Aku tidak mau lagi menjadi istri Kang Soleh. Dia tidak bisa melayaniku di kamar. Aku tidak pernah puas saat bersamanya. Senjatanya bengkok dan mudah loyo. Kang, ayolah! Kita menikah dan hidup berdua.” Rengekan Widya seolah petir yang sedang menyambar Soleh.


Di depan warga, Widya dengan lantang mengatakan kelemahannya di atasa ranjang yang secara tidak langsung telah meremehkan merendahkannya. Soleh mendekati Widya, “Apa kamu bilang? Jadi selama ini kamu tidak puas denganku? Lalu anak siapa yang ada diperutmu itu, Wid?” geram Soleh pada istrinya.


“Kang, sumpah aku tidak melakukan apa-apa pada istrimu. Aku tidak berani berbuat lancang padamu. Mungkin kita sama karena di hutan bambu itu,-“


“Sudahlah Mudin. Aku percaya padamu tapi tidak pada istriku! Dia sama seperti ular berbisa yang memiliki racun berbahaya.” Soleh memotong ucapan Widya.


Sikap tulus Mudin membaut Soleh luluh hingga akhirnya percaya pada pria itu. Malam itu juga, Soleh menceraikan Widya dan mengusir wanita itu dari rumah orang tuanya. Penduduk desa turut mengusir Widya karena dianggap hina.


“Wanita bersuami tapi malah menggoda teman suaminya. Sangat  menjijikkan!”

__ADS_1


Cibiran para wanita desa menatap sinis pada Widya. “Kang, jangan ceraikan aku! Aku tidak punya tempat tinggal lagi. Desaku sudah mengusir kita. Sekarang kamu mengusirku dari desamu. Aku harus kemana, Kang? Bagaimana dengan anak dalam kandunganku? Dia anakmu, Kang!” Raung Widya tak berhasil menggoyahkan hati Soleh yang sedang diselimuti api amarah.


Para warga menyeret Widya yang sedang hamil itu ke luar dari desa. Mereka juga berjaga supaya wanita itu tidak masuk lagi ke dalam desa. Sambil menggandeng anaknya yang sedang menangis, Widya berjalan kaki tanpa tujuan.


“Buk, kenapa Bapak mengusir kita?”


“Bapak sudah tidak sayang sama kita lagi ya, Buk?”


Widya memilih diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan dari sang anak. Kaki wanita hamil itu melangkah semakin jauh meninggalkan desa. Sementara Soleh kembali ke rumah untuk beristirahat sambil menenangkan diri. Pria itu mencoba memejamkan mati lalu wajah Larasati tiba-tiba hadir membuat Soleh kembali membuka mata.


Telinga Soleh seolah mendengar Larasati memanggil namanya. Pria itu beranjak dari tidurnya lalu pergi ke luar dari rumah. Soleh berjalan keluar dari rumah mengikuti suara Larasati. Bahkan ia tidak peduli pada orang-orang desa yang masih berlalu-lalang di jalan. Orang-orang pun mulai berpikir jika Soleh menyesal mengusir istrinya.


Langkah kaki Soleh berhenti di sebuah rumah milik Ayu Laksmi, seorang janda kembang di desa itu. Soleh mengetuk tiga kali dan wajah sang janda langsung muncul lengkap dengan senyum manisnya. Kening wanita itu berkerut menatap Soleh secara tiba-tiba, pria di depannya langsung mendorong tubuh sang janda ke dalam rumah lalu menutup pintu. Suara-suara unik dari dalam rumah membuat penduduk yang lewat tercengang karena yang mereka tahu, sang janda kembang sebentar lagi akan dipinang oleh Pak Jarwo dari Desa Maneh.


“Sebaiknya kita lapor Pak Jarwo!”


“Jangan suka ikut campur! Biar saja!”


Malam itu, penduduk desa yang usil memilih mengintip dari balik celah dinding rumah sang janda. Mereka meneteskan air liur sambil memegang senjata masing-masing melihat bagaimana beringasnya pertarungan antara si janda dan duda di atas ranjang.


Sementara di tempat yang berbeda, Pak Jarwo juga tidak kalah bergairah melihat wanita hamil yang menurutnya sangat seksi.


“Masuklah! Kamu bisa tinggal di rumah ini sepuasanya!”


***


LIKE DAN KOMEN YA....MAKASEHHH...🙃

__ADS_1


__ADS_2