Santet Perawan Tua

Santet Perawan Tua
Puspa...


__ADS_3

Melalui orang kepercayaannya, bubuk pemberian aki tua berhasil dituangkan sepenuhnya ke dalam sumur Pak Rohim tepat tengah malam. Angin berembus kecil menyapu tengkuk orang kepercayaan Pak Jarwo yang seketika merinding lalu melihat kanan-kiri dan dalam sekejap mata, pemuda itu langsung mengambil langkah seribu meninggalkan sumur milik Pak Rohim. Larasati keluar dari balik pondok menuju sumur kemudian mulutnya berkomat-kamit lalu dituapkan ke dalam sumur.


Bubuk-bubuk yang tadinya dituangkan ke dalam sumur Pak Rohim kini muncul ke permukaan kemudian keluar dan terbang menuju sumur Pak Jarwo. Larasati menyeringai kemudian kembali ke gua.


Malam itu masih  terlalu panjang untuk mereka yang belum mendapat balasan atas perbuatan keji mereka. Di pos ronda, Sukarni sedang bermain judi bersama teman-temannya. Mudin datang ikut bergabung di pos jaga.


“Kang, tadi aku lewat depan rumah sampeyan. Aku dengar anak sampeyan nangis keras. Apa gak sebaiknya sampeyan pulang dulu?” usul Mudin.


“Kau ini masih bocah mana tahu urusan rumah tangga. Nanti kalau kau sudah menikah dan punya anak, kau juga pasti sama sepertiku. Mana betah di rumah kalau anak nangis tiap malam, berisik!” ujar Karni.


“Benar, Kang. Aku juga tidak sanggup kalau dengar anak rewel. Makanya aku sering di sini dari pada di rumah. Bisa budek kupingku.”


“Kalian tahu apa yang paling ngeselin dan bikin sakit kepala? Pas kita lagi pengen, eh, tuh anak malah nangis kencang. Otomatis gagal dan kepala atas-bawah pasti cenat-cenut.”


Di saat pos ronda dipenuhi para lelaki bejat, seorang wanita tiba-tiba melintas. Wanita itu tampak panik. “Kang, tolong saya!” semua mata pria bejat menatap wanita berpakaian sopan jauh dari kata seksi yang dapat mengundang hasra mata yang menatap.


Wanita dengan rambut dikepang dua, menggunakan rok kembang sebetis dan baju kaos lengan panjang longgar itu terlihat panik dan ketakutan.


“Ada apa, Neng?” tanya Sukarni turun dari pondok.


Walaupun menggunakan pakaian longgar tapi siapa pun pria dapat mengetahui jika ukuran di balik pakaian longgar itu sukup memuaskan.


“Di rumah saya ada ular, Kang. Tolong, saya takut sekali.”


“Neng penduduk baru di sini?”

__ADS_1


“Iya, Kang.”


Seluruh penghuni pos jaga datang ke rumah wanita yang diketahui bernama Puspa tersebut. Para pria bejat itu menelan saliva saat melihat benda-benda yang menggiurkan terletak di atas ranjang Puspa. Benda yang belum sempat dipakainya karena seekor ular jatuh dari atas plafon kamar. Setelah dua jam mencari akhirnya mereka menemukan ular tersebut di bawah tempat tidur.


Sebagai ucapan terima kasih, Puspa menjamu para pria tersebut dengan kopi dan makanan yang dimasak malam itu juga. Puspa tidak pelit soal berbagi karena isi kulkasnya penuh dengan makanan. Malam itu dia membuatkan nasi goreng untuk mereka semua.


“Kang, saya ngantuk sekali tapi masih takut jika ular itu muncul. Apa Kakang-kakang keberatan kalau tinggal di sini sampai pagi? Saya sudah menyediakan makanan dan minuman di meja. Kakak semua bisa menganggap rumah ini sebagai rumah sendiri, tidak perlu sungkan!”


Mendapat tawaran menggiurkan plus ketenangan dengan perut kenyang tentu sangat mengasyikkan. Malam itu, mereka barmain kartu sampai pagi sementara Puspa terlelap di kamarnya dengan posisi pintu terkunci dari dalam. Keesokan paginya, Puspa terbangun dan menemukan para pria itu tertidur. Ia pun segera memasak makanan enak untuk para pria penolongnya. Bau harum mulai tercium ke telinga mereka.


Satu per satu mereka bangun dari tidurnya. Mereka terpana menyaksikan kecantikan dan keindahan di depan mata. Puspa dengan rambut sedikit basah dan rok plisket selutut serta kaos lengan pendek terlihat segar setelah mandi. Tubuhnya bergoyang-goyang sambil mendengarkan musik melalui radio.


“Harum sekali!” sapa Sukarni.


Pria beranak itu seolah lupa rumah dan keluarga. Mereka duduk di atas tikar lalu Puspa datang menyajikan nasi uduk plus telor dadar dan teman-temannya sebagai pelengkap. Kopi dan teh panas tersaji setelah itu.


Para pria durjana itu tersenyum senang, “Jangan sungkan minta bantuan jika Neng kesusahan. Setiap malam kami ada di pos jaga.”


“Lho, memangnya Kakang semua ini tidak dicari istri jika setiap malam di pos jaga?” mereka saling lirik.


“Neng tenang saja. Tidak semua dari kami sudah punya istri. Dan istri-istri kami pun suka tidur sendiri jadi tidak masalah jika kami tidak pulang.”


Puspa mengangguk lalu tersenyum, “Ya sudah! Silakan dinikmati dulu sarapannya.”


“Neng tidak makan sekalian dengan kami?” tanya Sukarni yang terlihat getol ingin mendekati Puspa.

__ADS_1


Wanita itu tersenyum kemudian mengambil piring lalu duduk bersama menikmati sarapan pagi bersama wanita cantik dan makanan enak.


“Wah, kalau begini saya jadi pengen dimasakin setiap pagi sama Neng,” celutuk Sukarni lagi.


Para pria lain mulai saling melirik satu sama lain. “Wah, saya senang sekali kalau Kakang-kakang sekalian mau makan di sini. Kebetulan saya suka makan ramai-ramai begini dari pada sendiri.”


Wajah para pria terlihat bersemangat, “Tapi kenapa Neng tinggal sendiri? Keluarganya kemana?”


“Saya ke sini mau berkebun. Kebetulan, saya baru membeli tanah tidak jauh dari sini tapi belum tahu mau tanam apa. Jadi saya mau lihat-lihat dulu kira-kira mau tanam apa. Nanti saya bakal sering minta tolong sama Kakang-kakang semua ya!”


Mereka antusias mengangguk serentak. Setelah makan, Puspa yang akan pergi ke kebun pun dikejutkan dengan para pria yang sudah menungguinya di depan rumah. Sepanjang perjalanan, mereka memperlakukan Puspa seperti ratu hingga menyita perhatian para penduduk desa. Di rumah masing-masing, para istri yang sedang kelalahan karena mengurus rumah, memasak, mencuci baju dan mengurus anak tiba-tiba mendapat laporan dari para warga desa.


“Tadi saya lihat Kang Karni menemani seorang wanita bersama penduduk desa lainnya. Saya penasaran ingin tahu siapa wanita itu? Apa kamu tahu, Yem?” Iyem pasti menggeleng karena sejak semalam Sukarni tidak pulang. Matanya sangat mengantuk karena semalam anaknya menangis terus dan dia belum tidur sama sekali sampai pagi ini.


Iyem memutuskan tidak peduli urusan suaminya di luar rumah. Ia capek, setelah membereskan pekerjaan rumah dan menidurkan anaknya, ia pun memilih berbaring di samping mereka. Berbeda dengan Iyem, para ibu rumah tangga yang sempat menghina Larasati dulu kini seperti orang kebakaran jenggot. Setelah mengetahui jika suami mereka tidak pulang semalam dan sekarang justru sedang bersama wanita cantik. Mereka bergegas menyusul ke kebun yang disebutkan oleh penduduk desa. Tidak jauh dari kebun Puspa, Pak Jarwo yang sedang memeriksa kebunnya mulai penasaran dengan wajah baru Puspa.


“Man, sedang apa mereka di sana?” tanya Pak Jarwo pada penjaga kebunnya.


“Ouh itu, mungkin mereka ingin mengenal pemilik kebun baru dari kabupaten sebelah, Juragan.” kening Pak Jarwo mengernyit.


“Siapa?”


“Namanya Puspa, Juragan.”


***

__ADS_1


LIKE....KOMEN....


__ADS_2