
Sebuah klub malam yang berada di pusat kota wisata nampak penuh sesak. Pengunjung berjejalan memasuki lorong berpencahayaan temaram diiringi dentuman musik yang membuat tubuh otomatis bergerak.
Seorang wanita nampak berusaha menyelamatkan diri dari lorong yang penuh sesak pengunjung, berlomba dengan suara musik yang menghentak-hentak gendang telinganya. Wanita itu menutup sebelah telinga, ekspresinya menunjukkan ketidaksukaan pada musik yang dirasa akan membuat indra pendengarannya rusak.
Seorang wanita di meja bartender langsung melambaikan tangan begitu melihat temannya bersusah payah untuk keluar dari gumpalan manusia yang masih terjebak di lorong.
"Jamie! Jamie! Di sini!" teriak wanita yang duduk di depan meja bartender.
Wanita bernama Jamie itu pun segera menyeruak kerumunan orang-orang di lorong, ia bersusah payah untuk melangkah menuju meja bartender.
Begitu Jamie tiba di meja bartender, ia pun segera mencekik leher wanita itu dengan sikunya.
"Keterlaluan kau, Julie! Kau benar-benar cari mati ya?!"
"Haha! Ampun, Jamie! Ampun!" Julie merengek dalam kuncian Jamie.
Sudah menjadi hal yang biasa bagi Jamie untuk menyikut leher Julie setiap kali Jamie merasa kesal pada Julie.
Jamie dan Julie sudah bersahabat sejak mereka masih berusia lima tahun, yang mana saat itu, Julie merupakan tetangga yang tinggal di sebelah rumah Jamie.
Kedua sahabat karib itu berpisah saat Julie pindah rumah karena harus mengikuti kedua orang tuanya. Tepatnya ketika mereka lulus dari Sekolah Menengah Atas.
Sudah lebih dari sepuluh tahun mereka tak berjumpa. Terakhir mereka berjumpa saat Julie menikah sepuluh tahun lalu.
"Kau ini, seperti tidak ada tempat lain saja untuk bertemu! Kenapa harus pergi ke klub malam sih?!" Jamie bersungut kesal.
"Haha, Jamie! Kau pikir sekarang berapa usiamu? Kita sudah bukan anak tujuh belas tahun yang levelnya cuma nongkrong di kafe-kafe pinggir jalan saja sudah bangga!" seloroh Julie.
Jamie mendelik gusar ke arah Julie yang kini sudah tumbuh menjadi wanita terlampau modern bergaya hidup hedonis. Tinggal di kota besar benar-benar sudah mengubah gaya hidup Julie.
"Jauh-jauh aku datang ke sini, tapi kau malah mengajak ke klub malam," Jamie masih bersungut.
"Haha, Jamie, please jangan kolot dan kaku begitu! Kita hidup hanya satu kali, maka nikmatilah semuanya!" Julie tertawa.
"Mumpung kau belum menikah! Kita harus merayakan pesta bujang untukmu!" lanjut Julie.
"Pesta bujang apanya! Haha," Jamie tertawa mencemooh.
"Ayo, kau mau pesan apa? Biar aku yang traktir!" kata Julie antusias.
Jamie melemparkan tatapan skeptis pada Julie.
"Julie, kau pikir aku ini bisa minum alkohol?" cibir Jamie.
__ADS_1
"Haha, ayolah, minum alkohol sedikit tidak akan membuatmu mati! Lagipula ini kan pesta bujang untukmu, Jamie! Kau akan segera melepas masa lajang!"
"Tidak, Julie! Aku tidak mau sampai mabuk dan mengacaukan acara liburanku! Ini liburan yang sangat penting bagiku! Liburan tanpa keluarga, tanpa tur bersama teman-teman kantor! Liburan solo yang selama ini kuidam-idamkan!" tolak Jamie.
"Haha! Orang tuamu masih begitu kolot dan kaku ya. Entah kapan mereka akan berubah," Julie tertawa lagi.
"Entahlah, semoga setelah aku menikah dengan pria pilihan orang tuaku, maka aku bisa lepas dari kekolotan mereka," Jamie mengedikkan bahunya.
"Haha!" Julie tertawa lagi.
"Jadi, seperti apa pria yang akan dijodohkan denganmu?" tanya Julie ingin tahu.
"Ladies, apa kalian siap memesan?" tanya bartender yang sudah mengamati mereka sedari tadi.
"Aku pesan yang best seller," jawab Julie mantap.
"Aku cola saja, ada kan?" tanya Jamie.
"Tentu saja," jawab bartender itu.
"Jamie, cepat ceritakan padaku, ini benar-benar menarik sekali! Kau akan dijodohkan dengan pria yang bahkan tak kau tahu nama dan sosoknya! Itu benar-benar gila untuk ukuran zaman sekarang!" Julie kembali meneruskan topik pembicaraan mereka.
"Ya, orang tuaku tidak mau menjelaskan lebih detail karena mereka begitu yakin bahwa aku tidak punya pilihan selain menerima perjodohan itu! Di usia sudah 32 tahun, menjadi bahan gunjingan semua orang karena sudah berumur banyak tapi belum juga menikah! Tekanan mental dari keluarga besar jelas membuatku rasanya makin tidak ingin menikah!" keluh Jamie panjang lebar.
"Aku tidak siap untuk menikah! Masih banyak impian yang harus kuraih! Aku bahkan rela meninggalkan pekerjaan demi impianku, Julie!" lanjut Jamie.
"Julie..." Jamie segera merangkul Julie.
"Permisi."
Jamie bergeser saat seorang wanita mengambil tempat duduk di sampingnya.
Jamie menyesap cola, sementara Julie meneguk minumannya dengan santai. Mereka kembali berbincang-bincang.
Banyak hal yang mereka ceritakan setelah sekian lama tidak bertemu dan hanya berkomunikasi sesekali melalui telepon ataupun pesan singkat.
"Jamie, apa kau tahu alasan kenapa aku mengajakmu ke klub malam ini? Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan pria incaranku di tempat ini, dan sepertinya pria itu sering kemari," ucap Julie.
"Cih, sudah kuduga!" Jamie berdecih.
Julie terkikik sambil memindai ke seluruh ruangan berpencahayaan temaram dengan musik yang menghentak-hentak.
"Oh, itu dia!" Julie bersorak heboh.
__ADS_1
Jamie ikut melihat ke arah pria yang ditunjuk Julie.
"Jamie, aku mau menghampiri pria itu sebentar, oke?"
"Hei! Hei, Julie! Teganya kau meninggalkanku!" cegah Jamie.
Julie hanya melambai, meninggalkan Jamie yang akhirnya harus duduk termenung di depan meja bartender. Bartender itu masih sibuk melayani para pengunjung.
"Jem! Jemi!"
Jamie menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Namun ia tidak menemukan siapa-siapa.
Jamie masih menunggu Julie kembali, sesekali Jamie menunduk untuk melihat pemberitahuan terbaru pada gawai cerdasnya.
Jamie mengambil minumannya, meneguk kembali cola dari gelas sedikit demi sedikit.
Menit-menit berlalu dan tiba-tiba Jamie merasa kepalanya pusing. Ia menunduk, kesadarannya mulai melemah.
"Jemi, ayo kita pergi."
Suara itu terdengar jelas di telinga Jamie sebelum semuanya menjadi gelap dan Jamie tidak bisa mendengar apa pun lagi.
...*****...
Dua orang pria membopong tubuh wanita yang nampak tak berdaya memasuki sebuah kamar hotel berpencahayaan minim. Merebahkan tubuh tak berdaya itu ke tempat tidur luas.
Sesosok pria terlihat ragu ketika membuka pintu kamar hotel yang gelap.
Jantungnya bergemuruh seirama dengan langkah kakinya yang berat.
Di dalam kamar berpencahayaan minim, ia bisa melihat sosok wanita di atas tempat tidur. Lemah dan tak berdaya.
Pria itu membuka botol minuman keras yang dibawanya.
Satu tegukan membuat pria itu maju mendekat.
Inikah satu-satunya cara yang harus diambilnya agar bisa memiliki wanita itu?
Jika ini satu-satunya cara yang tersisa, maka ia harus melakukannya.
Meski nuraninya sempat berontak, namun setiap tegukan alkohol yang membasahi kerongkongannya membuat nurani pada akhirnya menuruti naluri.
Tegukan selanjutnya ia membuka setiap helai pakaian yang menempel di tubuhnya berikut dengan pakaian yang menempel di tubuh wanita itu.
__ADS_1
Naluri buas untuk memangsa buruan benar-benar sudah menguasai dirinya sepenuhnya.
...*****...