
Tok.. Tok..
Suara ketukan di pintu kamar mandi membuat Jamie terlonjak kaget.
"Ehem, apa kita bisa bicara?"
Jamie cepat-cepat memakai kembali pakaiannya. Beberapa saat kemudian ia pun keluar dari kamarĀ mandi.
Pria asing dengan wajah kusut, sekusut penampilannya itu sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Kita harus bicara baik-baik dengan pikiran terbuka," ucap pria itu pada Jamie.
Jamie memandangi ekspresi serius pria itu. Aroma alkohol masih tercium jelas dari tubuh si pria. Bola matanya nampak kemerahan, persis seperti mata ikan busuk.
"Ba-baiklah, tapi, apa kau bisa mundur sedikit?" tanya Jamie.
Pria itu melangkah mundur, Jamie melesat cepat menjauhi pria itu. Begitu dirasa posisi mereka cukup aman, Jamie pun berhenti di posisinya.
Mereka saling menatap, dengan tatapan saling mengunci.
"Aku rasa semalam sudah terjadi kesalahpahaman di antara kita berdua."
Nada bicara pria itu masih terdengar arogan.
"Kesalahpahaman?" tanya Jamie.
"Ya, aku rasa memang lebih tepat disebut sebagai kesalahpahaman. Aku dan kau tidak saling mengenal, dan aku salah mengenalimu karena aku berada di bawah pengaruh alkohol," jawab pria itu.
"A-apa, salah mengenali?" Jamie mendelik gusar.
"Ya, kenyataannya memang seperti itu. Saat aku memasuki kamar ini, kondisi ruangan benar-benar gelap sehingga, yah, selanjutnya yang harus terjadi telah terjadi," pria itu kembali menjawab dengan enteng.
"Hmm, begitu ya. Tapi menurutku, apa yang kau lakukan terhadapku jelas merupakan tindak kriminal! Kau sudah melakukan tindak asusila terhadapku!" Jamie meledak, meluapkan emosinya.
"Apa?! Tindak asusila?!" Pria itu terperangah.
Ekspresi pria itu mengeras mendapat tudingan dari Jamie.
"Hei, jangan-jangan kau dan komplotanmu yang sengaja menjebakku!"
Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada.
"Apa?! Aku menjebakmu?!" Jamie memutar bola matanya.
"Astaga! Harus berapa kali kukatakan padamu bahwa aku bahkan sama sekali tidak mengenalmu! Untuk apa aku yang menjebakmu?! Dalam hal ini, pihak yang benar-benar sangat dirugikan adalah aku!"
"Kau sudah melakukan hal yang paling merugikanku!" Jamie menunjuk ke arah pria asing yang begitu arogan itu.
"Tolong jangan memutar balikkan fakta! Katakan padaku, siapa yang mengirimmu? Haruskah aku membayar sepuluh kali lipat agar kau mengaku?" tanya pria itu.
"Oh astaga! Apa kau benar-benar masih mabuk?"
__ADS_1
Jamie menatap skeptis ke arah pria itu. Pria asing yang nampaknya tetap bersikeras menuduh Jamie menjebaknya.
"Aku sudah tidak mabuk meski saat ini masih merasa sedikit pusing," jawab pria itu dengan entengnya.
Jamie menghela napas berat. Ia benar-benar tidak tahu, makhluk apa yang saat ini sedang dihadapinya.
"Begini saja, daripada kita saling menuduh seperti ini, bagaimana jika kita menganggap tidak ada hal yang pernah terjadi di antara kita? Toh kita tidak saling mengenal dan kita tidak memiliki hubungan apa pun," kata pria itu masih dengan nada enteng.
"Apa?!" Jamie kembali terperangah.
"Ya! Anggap saja seperti memilih perintah cancel! Kau membatalkan semua dan menganggap tidak pernah terjadi apa-apa!" ujar pria itu lagi.
"Astaga! Yang benar saja! Setelah apa yang telah kau lakukan padaku, lalu kau meminta untuk meniadakan semua itu!"
"Sepertinya aku benar-benar harus melaporkanmu ke polisi! Aku benar-benar tidak bisa menerima semua ini!" tandas Jamie.
"Haha! Rupanya dugaanku memang benar! Kau memang menjebakku!" pria itu tertawa.
Jamie lagi-lagi melengos, sepertinya ia memang sudah berhadapan dengan orang gila.
"Akan kupastikan bahwa kau dan komplotanmu akan mendapat hukuman seberat-beratnya! Kau telah sengaja menjebakku dengan membuatku menidurimu, benar begitu kan?!"
"Oh Tuhan! Kenapa kau jadi makin mengada-ada seperti itu?!" geram Jamie.
Air mata rasanya kembali memenuhi pelupuk mata Jamie.
"Kau tidak perlu bersandiwara seperti itu! Simpan saja air matamu! Aku tidak akan terpengaruh meski kau menangis darah!" pria itu terkekeh.
Jamie cepat-cepat mengusap air matanya.
"Ya, kau benar! Toh aku tidak pernah bermaksud untuk menemuimu!" sahut pria itu lagi.
Jamie benar-benar merasa darahnya mendidih dengan sikap arogan pria itu.
Jamie segera bergegas pergi keluar dari kamar, meninggalkan pria gila yang benar-benar tidak tahu diri.
"Oh Tuhan! Mimpi apa aku semalam! Kenapa nasibku sial sekali!" batin Jamie.
...*****...
Jamie berjalan tertatih-tatih menuju ke halte bus terdekat. Ia berjalan di bawah mendung kelabu yang gelap tanpa beralaskan sepatu. Jamie begitu terburu-buru pergi meninggalkan pria yang benar-benar tidak bisa membuat Jamie berkata-kata.
Jamie berhenti di halte bus terdekat, ia bingung harus melakukan apa. Tanpa uang, tanpa ponsel, ia tidak tahu bagaimana harus menghubungi Julie.
"Permisi, apa saya boleh pinjam ponsel Anda?" tanya Jamie pada orang-orang yang menunggu di halte.
Orang-orang menatap skeptis ke arah Jamie yang benar-benar terlihat seperti orang gila yang hendak mengganggu.
Semua orang menolak dengan halus, ada yang terburu-buru memasuki bus yang berhenti menunggu penumpang.
Begitu pintu bus tertutup, Jamie hanya bisa menghela napas berat melihat bus bergerak pergi meninggalkan halte.
__ADS_1
"Apa aku benar-benar harus terlunta-lunta seperti ini?" keluh Jamie.
Jamie menatap nanar ke arah langit, butir-butir halus air hujan mulai turun.
"Tunggu!"
Seruan dari seseorang membuat Jamie menoleh ke arah pria yang berlarian menerobos gerimis. Rupanya pria itu mengejar bus yang sudah bergerak menjauh dari halte.
"Ck!" pria itu berdecak kesal sambil melirik ke arah gawai cerdasnya.
"Anu, permisi," kata Jamie.
Pria itu menoleh ke arah Jamie.
"Maaf, Kak, apa saya boleh meminjam ponsel Anda?" tanya Jamie.
Pria itu mengamati penampilan Jamie dari ujung rambut hingga ke ujung kaki yang tak beralaskan apa pun lalu kembali ke wajah Jamie.
"Saya kehilangan tas, dan saya harus menghubungi teman saya untuk meminta bantuan," Jamie menjelaskan.
Pria itu masih tetap memandangi Jamie.
"Anda tenang saja, saya tidak mungkin lari membawa ponsel Anda meski sekarang tidak hujan seperti ini," lanjut Jamie.
"Saya hanya perlu membuka akun sosial media saya, saya mohon, Kak," Jamie memelas.
Tanpa banyak berkata, pria itu menyerahkan gawai cerdasnya pada Jamie.
"Terima kasih Kak," Jamie menyambut dengan girang.
"Kak, apa Anda punya aplikasi sosial media?" tanya Jamie.
"Tidak," jawab pria itu singkat.
"Apa boleh saya mengunduh sosial media?" tanya Jamie.
"Saya rasa tidak masalah," jawab pria itu lagi.
"Terima kasih, Kak! Saya pasti akan membalas kebaikan Kakak," ujar Jamie senang.
Jamie segera membuka akun sosial medianya dan segera menuliskan pesan langsung untuk Julie. Hanya ini satu-satunya cara bagi Jamie untuk menghubungi Julie pasca kehilangan tas dan seluruh isinya.
Gawai cerdas milik pria itu berdering, Jamie begitu kaget dan langsung menyerahkannya kembali, meski sebenarnya ia enggan mengembalikan gawai cerdas itu sebelum mendapat jawaban dari Julie.
"Terima kasih Kak," kata Jamie pada pria itu.
Pria itu mengangguk kecil saat menerima kembali gawai cerdasnya.
"Halo, Jay, ada apa?" pria itu menjawab teleponnya.
Jamie kembali melengos melihat pria itu pergi begitu bus selanjutnya tiba di halte. Pria itu pun segera menaiki bus sambil tetap berbincang di telepon.
__ADS_1
"Yah, bagaimana nasib pesanku pada Julie? Semoga Julie segera membacanya."
...*****...