
Jamie masih menunggu dua orang pria yang saat ini terlihat sedang berdebat di balkon. Saat ini ia benar-benar merasa tak tenang. Ia juga belum tahu apa yang harus dilakukannya setelah menemukan penabur benih di rahimnya. Yang pasti saat ini, ia harus menuntut pertanggung jawaban pria itu. Membawa pria itu kepada keluarganya lalu mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi.
Hanya saja sepertinya benar-benar akan sulit bagi Jamie untuk menghadapi pria arogan bernama Jay itu.
Pria itu bahkan begitu bersikeras menyangkal bahwa ia sudah meniduri Jamie. Seketika Jamie menjadi ragu, apakah anak yang berada di rahimnya adalah anak pria itu?
Bagaimana jika hasil tes DNA menyatakan bahwa anak yang dikandung Jamie bukanlah anak Jay?
Bagaimana jika ternyata bukan Jay yang meniduri Jamie?
Bagaimana jika ada pria lain yang ternyata meniduri Jamie namun menggunakan Jay sebagai kambing hitam?
Tiba-tiba Jamie jadi overthinking sendiri, terlebih Jamie sudah menantang Jay untuk melakukan tes DNA.
Keny menghampiri Jamie, wajah pria itu masih melukiskan ekspresi kekagetan yang belum kunjung memudar. Keny kembali duduk di posisinya semula.
"Mbak Jamie," kata Keny ramah.
"Ya Pak Keny," balas Jamie.
"Mbak, tolong jangan panggil saya Pak, saya sebenarnya belum setua itu," Keny menarik senyumnya.
"Oh begitu, tapi tolong juga jangan panggil saya Mbak, cukup Jamie saja," ucap Jamie.
Keny mengangguk pelan, ia masih memandangi Jamie.
"Mbak.. eh, Jamie, sebenarnya, bagaimana kau dan Jay bisa sampai bertemu?" tanya Keny.
Jamie menghela napas berat, kemudian menatap lekat mata Keny. Sepasang bola mata pria itu berwarna kecokelatan yang terlihat teduh saat dipandang.
"Keny, saya bahkan tidak tahu bagaimana say bisa berada di dalam kamar yang sama dengan Jay," jawab Jamie.
Jamie menunduk, menatap lurus buku-buku jarinya yang mendingin.
"Yang pasti, saat saya membuka mata, Jay sudah berada di samping saya. Saya tentu tidak bisa melupakan pagi yang benar-benar membingungkan itu!" lanjut Jamie.
Pandangan Keny mengikuti ke langkah Jay yang terlihat menyelinap masuk, kemudian pria itu memasuki kamarnya.
Keny tahu, kedua orang ini jelas sedang terjebak dalam situasi yang sungguh rumit dan membingungkan.
"Jamie, sebentar ya," Keny berpamitan.
Keny ikut memasuki kamar Jay.
Jay sudah terlihat sibuk di depan tiga buah laptop yang saling terhubung. Dengan cepat Jay melakukan pekerjaan yang biasa ia lakukan. Jay memiliki keahlian meretas sistem keamanan internet atau yang lebih dikenal dengan istilah hacker. Bagi Jay begitu mudah untuk menyusup masuk ke sistem komputerisasi yang terkoneksi dengan internet.
Kini layar laptop Jay sudah terhubung ke server milik Hotel H. Jay memeriksa rekaman cctv milik hotel tersebut. Jay menebak-nebak, kapan tepatnya ia menjalankan rencana gilanya saat itu. Ia memeriksa gawai cerdasnya yang masih menyimpan percakapan terakhir antara ia dan Jemima ketika membuat janji temu.
__ADS_1
"Apa yang kau cari, Jay?" tanya Keny.
"Aku mencari rekaman cctv kejadian hari itu untuk memastikan," jawab Jay.
Jay mengarahkan kursor saat melihat rekaman dirinya yang memasuki hotel dan kemudian bertemu dengan dua orang suruhannya.
"Siapa mereka, Jay?" tanya Keny.
Jay tidak menjawab, ia sungguh merasa malu untuk mengaku pada Keny bahwa dua orang itu adalah orang suruhan Jay untuk menculik Jemima, target yang sebenarnya diinginkan Jay.
"Keny, bisakah kau tunggu di luar saja?" tanya Jay.
"Maaf Jay, aku harus ikut memastikan apa pun itu yang hendak kau pastikan," tolak Keny.
"Ck," Jay berdecak kesal.
Sungguh ia merasa malu dengan Keny, walaupun ia dan Keny sudah saling mengenal sejak kecil, dan mereka selalu bersama sejak itu. Jay terlalu malu untuk mengungkapkan rencana gilanya pada Keny.
Jika Keny sampai tahu bahwa Jay ternyata mempunyai rencana untuk menculik Jemima agar wanita itu menjadi miliknya, Keny pasti akan benar-benar memandang rendah Jay.
Jay mempercepat rekaman cctv itu, hingga memunculkan saat seorang wanita keluar dari kamar. Hati Jay melengos, karena wanita yang keluar dari kamar yang ia sewa memang bukan Jemima. Tapi wanita yang saat ini sedang menunggu di luar kamarnya.
"Wah, wanita itu benar-benar bertelanjang kaki," ceplos Keny.
Dugh.. Kening Jay membentur meja kerjanya.
Kepala Jay seketika terangkat. Ia melotot lebar dengan bola mata nyaris keluar.
"Tidak! Itu pasti hanya kebetulan! Anak yang sedang dikandung wanita itu pasti bukan anakku!" keluh Jay.
"Jay, daripada tebak-tebakan begitu, lebih baik langsung saja tes DNA," usul Keny.
"Oh! Tidak! Aku benar-benar bisa gila!" keluh Jay lagi.
...*****...
Keny segera keluar dari kamar Jay, disusul Jay yang benar-benar ogah-ogahan.
"Huekk.. huek.."
Jay bergidik ngeri mendengar suara orang sedang muntah di kamar mandi. Alisnya berkerut saat saling melemparkan pandangannya pada Keny.
"Ugh! Aku jadi ikut mual dan mau muntah!" keluh Jay.
"Yah, harap maklum Jay, namanya juga ibu hamil," tukas Keny.
"Huh! Kenapa juga dia sampai hamil begitu?!" dengus Jay.
__ADS_1
Keny memicingkan matanya.
"Bukankah kau yang menjadi penyebab dia hamil?" tanya Keny.
"Haha! Keny, tanpa adanya bukti otentik bahwa anak yang dikandung wanita itu adalah anakku, maka semua ucapannya hanyalah omong kosong!" sahut Jay setengah menggerutu.
...*****...
Jamie berada di sebuah rumah sakit dengan perasaan tegang tak karuan usai menjalani rangkaian tes DNA.
Jay masih dengan sikap arogannya menghampiri Jamie yang duduk termenung di ruang tunggu.
Jay duduk di sisi Jamie. Jamie memasang sikap defensif karena pria itu menyunggingkan senyum penuh intimidasi.
"Lihat saja, aku benar-benar akan menuntutmu jika ternyata anak yang kau kandung bukanlah benihku," ucap Jay dengan nada ancaman.
Jamie menoleh ke arah Jay, lalu melemparkan tatapan sinis ke arah Jay.
"Apa kau bukan tipe pria yang bertanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan?"
Jay memicingkan matanya saat balas memandang Jamie.
"Apa kau bilang?" tanya Jay.
"Ya, aku mempertanyakan padamu, apakah kau ini adalah tipe pria yang bertanggung jawab atas apa yang sudah kau lakukan?"
"Hei! Tolong jaga ucapanmu!" geram Jay.
"Memangnya apa aku mempertanyakan hal yang salah?" tanya Jamie.
Tegangnya suasana yang tercipta di antara Jamie dan Jay membuat Keny yang melihat keduanya hanya bisa menghela napas berat.
"Ehem, Jay, lebih baik sekarang kita pulang," ajak Keny.
"Ya, aku rasa memang lebih baik seperti itu," sahut Jay.
"Tunggu! Kalian akan pergi tanpaku?" tanya Jamie.
"Tentu saja," sahut Jay.
"Lantas bagaimana kalau ternyata kalian bersekongkol dan kabur begitu saja?" tanya Jamie.
"Apa maksudmu?" tanya Jay keheranan.
"Aku susah payah menemukanmu dan sekarang kau mau pergi lagi begitu saja?! Maaf, aku rasa aku tidak bisa membiarkan itu! Tidak ada jaminan bahwa kau tidak akan kabur kan?!"
...*****...
__ADS_1