Satu Malam Tanpa Cinta

Satu Malam Tanpa Cinta
09 - Laki-laki Arogan


__ADS_3

Keny menyingkirkan pakaian yang berserakan di lantai dan sofa dengan cepat. Kondisi apartemen yang berantakan sungguh mencerminkan keadaan dua orang pria yang tinggal satu atap untuk sementara. Kesibukan membuat keduanya sama sekali tidak punya waktu untuk sekadar beres-beres di tempat tinggal mereka.


Keny dan Jay tinggal bersama di unit apartemen itu untuk sementara selama mereka menetap di kota ini. Sudah tiga bulan mereka tinggal di kota tersebut untuk mengurus pekerjaan. Rencananya akhir bulan ini mereka akan kembali ke kota asal mereka lantaran proyek mereka di kota ini akan segera berakhir.


Namun siapa yang bisa menduga bahwa sebelum akhir bulan, masalah malah muncul menimpa Jay. Seorang wanita datang dan mengaku telah dihamili oleh Jay.


"Mbak Jamie, silakan duduk sebelum memberi penjelasan pada kami. Bagi kami, ini sangat mengejutkan sekali," kata Keny.


Jamie pun segera menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, ekspresinya menunjukkan betapa depresi ia saat ini.


"Kalian terkejut, apalagi saya," ucap Jamie dengan nada penuh kegetiran.


Keny menautkan jemarinya, dicondongkan tubuhnya dengan kedua siku tangan bertumpu di kedua paha. Sementara Jay memasang sikap defensif, tangan terlipat di depan dada dengan satu kaki tersilang di depan.


"Coba Anda jelaskan secara detail, mengapa Anda menuduh teman saya ini menghamili Anda. Apa Anda punya bukti?" tanya Keny.


"Ya, kau jangan mengaku-mengaku! Kita bahkan tidak saling mengenal!" Jay menimpali.


Jamie mendelik gusar tatkala melihat sikap arogan Jay. Laki-laki itu masih tetap sama seperti pertama dan terakhir kali Jamie bertemu dengannya.


"Jadi begini, tepatnya bulan lalu, di sebuah kamar di Hotel H, saya terbangun di samping pria itu," Jamie memulai ceritanya.


"Padahal malam sebelum kejadian itu, saya datang ke klub malam bersama teman saya. Dan setelahnya saya tidak mengingat apa pun lagi, dan entahlah saya tidak tahu apa pun lagi setelah itu," lanjut Jamie.


Keny mengarahkan pandangannya ke arah Jay, ekspresi Jay terlihat mencemooh.


"Ini adalah hasil pemeriksaan yang kujalani di rumah sakit," Jamie menyodorkan selembar kertas yang ia ambil dari dalam tasnya.


Lengkap dengan foto hasil USG yang memperlihatkan calon janin tengah tumbuh dan berkembang dalam kandungan Jamie.


Jay dan Keny kembali saling berpandangan. 


"Hei, memangnya kau punya bukti bahwa malam itu kau memang bersamaku, bukan bersama pria lain?" tanya Jay.


Jamie langsung menunjuk ke arah sepatu yang teronggok di lantai.


"Itu buktinya! Sepatuku yang tertinggal!" jawab Jamie.


"Haha!" Jay kembali tertawa mencemooh.


"Hei, apa kau pikir aku ini bodoh?"


"Apa kau pikir hanya kau saja satu-satunya wanita di muka bumi ini yang memiliki sepatu seperti itu?" tanya Jay.

__ADS_1


Jamie benar-benar gondok melihat Jay yang kembali mencemoohnya. Sementara itu ekspresi Keny mulai menegang.


"Sudah! Kau jangan mengada-ada! Kalau kau mau menipu atau memerasku, sungguh klise sekali!" tandas Jay.


"Omong kosong kau hamil anakku!" cibir Jay.


Jamie merasa kepalanya memanas. Pria yang sudah menanam benih di rahimnya justru bersikeras mengelak dan berkilah.


"Jay," ucap Keny.


"Keny! Lain kali jangan sembarangan mengajak wanita asing yang hendak memeras dan menipu!"


"Memeras dan menipu?!" potong Jamie.


Jamie menatap sinis ke arah Jay.


"Baiklah, begini saja, bagaimana jika kita melakukan tes DNA?"


"Kita buktikan apakah benar anak yang kukandung ini adalah benihmu! Jika aku salah, kau boleh menuntut dan memenjarakanku!"


"Dan jika kau yang salah, maka bersiaplah, aku akan  membuatmu viral di sosial media! Dan ketika stasiun televisi mengundangku, bersiaplah menerima akibatnya!" ancam Jamie.


"A-apa?! Kau! Beraninya kau mengancamku!" geram Jay.


Keny menghela napas berat, ia segera menarik lengan Jay.


"Jay, ikut aku," ajak Keny.


"Lepas, Ken!" cegah Jay.


Keny tak peduli, ia pun menyeret Jay menuju ke beranda di luar apartemen.


"Jay, jujurlah padaku! Apa kau memang sudah meniduri wanita itu?" tanya Keny.


Jay menyugar rambutnya dengan gusar.


"Jay! Kau meniduri wanita itu kan?" tanya Keny.


"Aku masih bisa mengingat dengan jelas, hari itu kau meneleponku dan memintaku untuk menjemputmu! Kau mabuk parah! Lalu di kamar itu aku menemukan sepatu wanita! Aku menyimpan sepatu itu karena berpikir bahwa mungkin saja wanita itu akan datang mencari sepatunya!" 


"Dan benar saja, wanita itu datang mencari sepatunya dan mencarimu untuk menuntut pertanggung jawaban!"


"Keny, kau jangan mudah percaya seperti itu! Wanita itu jelas-jelas berusaha menipu untuk memeras kita!" tukas Jay enteng.

__ADS_1


"Jay!" potong Keny.


Jay melemparkan tatapan skeptis ke arah Keny.


"Keny! Wanita itu tidak punya bukti otentik apa pun atas tuduhannya terhadapku! Aku memang pernah meniduri seorang wanita, tapi aku yakin bukan dia!" sahut Jay.


"Jay, apa kau tahu, wanita itu bahkan sudah menyerahkan sketsa wajahmu ke pihak kepolisian hanya untuk mencarimu. Jika dia meminta bantuan kepada pihak kepolisian untuk mendapatkan rekaman cctv hotel, dan ditambah dengan hasil tes DNA, maka tamatlah riwayatmu, Jay!" beber Keny.


Jay menyeringai kecut ke arah Keny yang menunjukan ekspresi serius.


"Begitukah? Kalau begitu, aku rasa aku bisa menangani cctv hotel," sahut Jay dengan enteng.


"Lantas, bagaimana dengan hasil tes DNA? Apa kau yakin bisa menangani hasilnya?" tanya Keny.


"Hmm, yaa, aku rasa aku harus mencobanya dulu sebelum tahu hasilnya," sahut Jay.


"Jay!" potong Keny. "Tolong jangan bersikap seperti seorang pecundang! Kalau kau memang tidak merasa meniduri wanita itu, buktikan melalui tes DNA! Apakah anak yang dikandung oleh wanita itu adalah benar anakmu atau tidak!"


Jay kembali menyugar rambutnya dengan kasar.


"Cih! Aku sungguh tidak tahu, Keny! Aku sungguh tidak ingat!"  


"Hari itu aku mabuk! Pikiranku sangat kacau dan aku tidak tahu, apakah dia wanita yang kutiduri atau bukan!" keluh Jay.


"Meski kau tembak aku sekarang juga, aku benar-benar tidak ingat!" 


Keny kembali memandangi Jay yang berkali-kali mengusap wajahnya.


"Jay, aku rasa lebih baik kalian berdua bicara baik-baik! Lakukan saja tes DNA untuk memastikan!"


"Kau harus mengambil langkah preventif sebelum timbulnya resiko-resiko yang mungkin akan terjadi ke depannya!"


"Wanita itu bahkan sudah begitu yakin menantangmu untuk melakukan tes DNA!"


Jay menggigit bibir bawahnya, otaknya dipaksa untuk berpikir cepat. Padahal semalam ia baru tidur menjelang subuh setelah tiga malam begadang tanpa henti untuk mengurus pekerjaannya.


"Jay, tidak akan ada asap jika tidak ada api!" tukas Keny meyakinkan.


"Cih, sial!" Jay mengumpat kesal.


"Pikirkanlah baik-baik. Masalah ini menyangkut nama baikmu sendiri," ucap Keny sambil menepuk-nepuk bahu Jay.


Keny pun berjalan meninggalkan Jay sendiri di balkon untuk berpikir.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2