
Saat membuka kelopak matanya, raut wajah penuh kecemasan terukir jelas dari kedua orang tua Jamie. Jamie sudah berada di tempat tidur, kedua orang tuanya berjaga di sisi Jamie.
"Jamie, kamu kenapa sampai pingsan begini?" tanya Pak Jamal, ayah Jamie.
"Ayah," ucap Jamie masih dalam kondisi lemah.
"Kamu pasti kelelahan menggambar di depan komputer," keluh Pak Jamal.
"Jamie, minum dulu teh hangatnya," Bu Liah menyodorkan segelas teh hangat untuk Jamie.
Jamie menyeruput teh hangat, rasa mual membuatnya merasa sulit untuk menelan.
"Apa kamu sudah merasa lebih enak?" tanya Bu Liah.
Jamie menggeleng pelan. Pak Jamal dan Bu Liah saling berpandangan.
"Bagaimana ini ya, sebentar lagi kita harus menemui keluarga Janis," keluh Bu Liah sambil berkali-kali melirik ke arah jam dinding.
"Apa sebaiknya dibatalkan saja pertemuannya?" usul Pak Jamal.
Melihat ekspresi Bu Liah yang berubah masam membuat Jamie merasa bersalah pada ibunya. Ibunya sudah begitu bersemangat sejak jauh-jauh hari, menantikan hari ini.
"Ibu, Ayah, tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Hanya pusing sedikit, pasti gara-gara aku kurang tidur," kata Jamie.
Jamie beranjak turun dari tempat tidurnya.
"Aku akan bersiap-siap Bu," kata Jamie.
"Ya sudah, Ibu dan ayah tunggu di luar," sahut Bu Liah.
Jamie bergegas berganti pakaian begitu Pak Jamal dan Bu Liah beranjak pergi.
"Ugh! Mual," keluh Jamie sambil menutup mulutnya.
Cepat-cepat ia menjejalkan minyak angin aroma terapi ke lubang hidung.
Rasa mual dan pusing disertai mata berkunang-kunang yang dialami Jamie makin meningkat setiap detiknya.
...*****...
Jamie duduk di samping sang ibu begitu tiba di restoran tempat ia akan menemui keluarga dari calon tunangannya.
Bu Liah sudah begitu sibuk menghubungi sahabat karibnya yang saat ini kabarnya sudah berada dalam perjalanan menuju ke tempat pertemuan.
"Jamie, kamu kenapa? Kok dari tadi diam saja?" tanya Pak Jamal.
__ADS_1
Jamie tidak segera menjawab, saat ini rasa pusing dan mual yang dialaminya makin menjadi. Namun ia segera menarik senyumnya agar ayahnya tidak perlu terlalu cemas.
Pak Jamal termasuk ayah yang begitu over protektif terhadap anak-anaknya, terutama Jamie, anak perempuan satu-satunya.
"Duh, kasihan sekali, Janis dan suaminya masih menunggu kedatangan putra mereka," Bu Liah menyampaikan berita yang diterimanya.
"Ayah, tidak masalah kan menunggu sedikit lebih lama?" tanya Bu Liah pada suaminya.
"Yah, memangnya kita bisa apa selain menunggu, Bu," sahut Pak Jamal.
Sudah satu jam lamanya Jamie dan keluarga menunggu kedatangan calon tunangan. Dalam keadaan menunggu tersebut, Jamie berusaha keras untuk melawan rasa mual yang kian lama makin menyiksanya. Ia berusaha memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja, daripada membuat kedua orang tuanya kembali cemas. Lagipula Jamie juga begitu penasaran dengan sosok pria yang akan menjadi tunangannya.
Bu Liah pun juga tidak tahu wajah pria yang akan menjadi calon menantunya. Janis, sahabatnya, mengatakan bahwa anak laki-lakinya tidak suka dipotret.
...*****...
Secara perlahan-lahan, Jamie mulai menggerakkan kepalanya. Hidungnya mengendus aroma karbol khas rumah sakit. Dan benar saja, begitu membuka mata, saat ini Jamie sudah berada di atas tempat tidur dengan tirai penutup berwarna hijau mengelilinginya.
Seorang perawat menyibak tirai penutup, bersamaan dengan kedatangan seorang dokter dan kedua orang tua Jamie yang nampak begitu cemas.
"Jadi, anak kami kenapa, Dokter?" tanya Bu Liah.
"Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa anak Anda baik-baik saja," jawab dokter paruh baya itu sambil membetulkan letak kacamata bulatnya.
"Baik-baik saja tapi kenapa pingsan-pingsan begitu?" keluh Pak Jamal.
Mendengar jawaban dari dokter lantas membuat Pak Jamal, Bu Liah, dan Jamie seketika membeku.
"A-apa?! Hamil?!" Bu Liah tersadar lebih dulu.
Ekspresi wanita paruh baya itu menegang, diikuti suaminya yang langsung mengarahkan pandangan mereka secara serentak pada Jamie. Otak Jamie masih membeku, ia bahkan tidak mampu berpikir lantaran terlalu terkejut.
"I-itu tidak mungkin, Dokter! Tidak mungkin anak saya hamil, anak saya bahkan belum meni...," ucapan Pak Jamal seketika terhenti.
Plak...
Satu tamparan keras dari Bu Liah langsung mendarat di pipi Jamie. Kemarahan langsung terlihat jelas di mata yang kini diliputi amarah.
"I-Ibu!" Jamie memegangi pipinya, air matanya mulai merebak.
"Siapa laki-laki itu?!" Bu Liah menahan kemurkaannya.
Bibir Jamie bergetar, ia benar-benar ketakutan melihat ibunya sangat marah. Kemarahan meluap-luap hingga wajah wanita paruh baya itu memerah.
"Siapa laki-laki itu?! Siapa laki-laki yang berani menyentuhmu, Jamilah?!" raung Bu Liah penuh kemurkaan.
__ADS_1
Pak Jamal langsung memeluk dan menepuk-nepuk lembut punggung wanita paruh baya itu dengan penuh kasih.
Pak Jamal harus melakukannya guna menghindari keributan yang kiranya akan terjadi di ruang UGD tersebut.
"Ibu...," Pak Jamal memohon. "Nanti kita bicarakan baik-baik," ajak Pak Jamal.
"Baik-baik bagaimana, Pak?! Anak kita benar-benar keterlaluan! Bisa-bisanya dia hamil seperti ini!" Bu Liah masih tak bisa menahan kemarahannya.
"Bu, kita keluar dulu," ajak Pak Jamal.
"Dokter, apa saya memang benar-benar hamil?" tanya Jamie dengan suara bergetar dan air matanya yang berlinangan.
"Hasil pemeriksaan menunjukkan demikian," jawab dokter itu singkat.
"Ti-tidak mungkin saya bisa hamil, Dokter," kata Jamie.
"Tidak mungkin bagaimana? Anda merasa berbuat apa tidak?" tanya dokter itu.
"Kalau tidak berbuat, ya, tidak mungkin hamil kan?" Dokter itu tersenyum ramah.
Ucapan tersebut makin membuat air mata Jamie berlinangan deras.
Ia bahkan sama sekali tidak merasa pernah berbuat hal yang kiranya bisa membuatnya hamil. Namun jika harus mengingat kejadian saat ia terbangun tanpa sehelai benang bersama seorang pria asing di sebuah kamar hotel, hal itu jelas menjadi satu-satunya penyebab kehamilan Jamie.
Jamie benar-benar merasa terpukul dengan kenyataan bahwa saat ini ia tengah mengandung anak dari pria yang bahkan tidak dikenal. Pria asing yang pada malam itu telah merenggut kesuciannya lantaran berada di bawah pengaruh alkohol.
"Hiks.. Julie," lirih Jamie.
...*****...
Suasana rumah Jamie benar-benar mencekam begitu kakak laki-laki Jamie, Jamil, baru saja tiba di rumah.
"Ada apa ini? Kok semuanya diam begini?" tanya Jamil.
"Jamilah! Pokoknya Ibu tidak mau tahu! Bawa laki-laki itu kemari untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya!" tandas Bu Liah.
"Ibu, laki-laki apa yang Ibu maksud?" tanya Jamil tidak mengerti.
Jamie menunduk makin dalam.
"Bertanggung jawab apa, Bu?" tanya Jamil keheranan.
"Jamil, adikmu ini benar-benar keterlaluan dan tidak bisa menjaga dirinya dengan baik sampai akhirnya hamil seperti ini!" jawab Bu Liah.
"A-apa?! Hamil?!"
__ADS_1
...*****...