Satu Malam Tanpa Cinta

Satu Malam Tanpa Cinta
07 - Lapor Polisi


__ADS_3

Jamie mengedarkan pandangannya begitu memasuki kantor polisi yang nampak begitu ramai.


Ia berjalan menyusuri koridor bercahaya temaram dengan aroma tembakau tajam, padahal di setiap pintu kaca yang tertutup ditempeli stiker larangan merokok.


Ini pertama kalinya Jamie menginjakkan kaki di kantor polisi. Sebisa mungkin Jamie berusaha untuk tidak berurusan dengan penegak hukum. Kecuali saat ia ditilang oleh polisi lantaran tertangkap basah tidak mengenakan helm saat berbonceng tiga di zaman sekolah dulu.


Jamie harus menemui polisi yang kiranya bisa membantu untuk menemukan orang yang dicarinya. Pria yang harus bertanggung jawab atas benih yang tertanam di rahimnya.


Jamie mendorong salah satu pintu kaca berwarna gelap di ujung koridor yang begitu sepi dan senyap.


"Permisi!"


Jamie memindai ruangan berpencahayaan temaram. Ruangan kecil dengan empat buah meja kerja yang berantakan membentuk huruf u. Dua orang polisi yang memakai kemeja berwarna putih dengan celana hitam mendongak dari layar laptop mereka begitu melihat tamu yang datang.


"Ya, silakan duduk!" kata salah seorang polisi berwajah masam.


"Ada keperluan apa?" tanya yang lainnya dengan ekspresi wajah garang.


Nyali Jamie menciut, pandangan menusuk itu jelas membuatnya gemetaran.


"Cari orang hilang?" polisi berwajah masam itu menebak.


Jamie mengangguk takut-takut.


Polisi berwajah masam menyerahkan selembar formulir pada Jamie.


"Isi dan berikan kartu identitas Anda," polisi itu memerintah.


Jamie mengerutkan keningnya saat membaca formulir permohonan orang hilang yang diberikan oleh polisi. Dalam formulir itu, Jamie diminta untuk mengisi nama orang yang dicarinya


Jamie bahkan tidak tahu nama pria itu. Mereka bahkan tidak saling berkenalan.


"Sebenarnya bukannya hilang, Pak," kata Jamie.


"Maksudnya?" si wajah garang menimpali.


Jamie mengeluarkan secarik kertas sketsa wajah yang sudah dibuatnya.


"Sa-saya mencari orang ini!"


Dua polisi itu menatap sketsa wajah yang dibuat Jamie.


Alis keduanya berkerut bersamaan.


Wanita ini pasti bercanda! Batin mereka.


"Mbak, kalau mencari komik bukan di sini. Di toko buku!" polisi berwajah garang itu terkekeh.


"Saya bisanya menggambar begini," sahut Jamie.


Dua polisi itu kembali saling berpandangan.


"Ya sudah terserah! Sekarang isi formulirnya!"


...*****...


Dua orang polisi yang berjaga di ruangan memaksakan ekspresi masam mereka tatkala melihat kedatangan seorang wanita berperawakan mungil yang sudah hampir tiga minggu ini rutin mengunjungi kantor mereka.


Setiap hari wanita itu datang di jam yang sama, menunggu hingga sehari penuh di kantor polisi untuk mengetahui perkembangan pencarian seseorang.


Wanita itu datang dengan membawa sketsa wajah seorang pria. Pria yang menurut pengakuan wanita itu telah membawa koleksi sepatu yang akan dipamerkan pada acara pagelaran busana.


Setelah melalui serangkaian pemerikaan yang cukup melelahkan, pada akhirnya polisi bersedia membantu proses pencarian pria tersebut.


"Jadi bagaimana progres pencarian pria ini, Pak?" tanya Jamie.


Pak Agus dan Pak Irwan, kedua petugas yang menangani kasus pencarian orang yang diminta Jamie, lagi-lagi harus memasang ekspresi masam.

__ADS_1


"Mbak Jamie," kata Pak Agus sambil memberi kode ke Pak Irwan.


"Mencari orang itu tidak mudah, butuh proses, apalagi jika hanya bermodal sketsa wajah," ucap Pak Agus.


"Itu benar, Mbak," sambung Pak Irwan. "Tim kami sudah mengupayakan yang terbaik. Namun perlu diingat, bukan hanya Mbak Jamie saja yang mencari orang, masih banyak orang lain yang harus kami bantu."


Jamie meneguk ludahnya, perlu berapa lama ia harus menunggu? Apa sampai anak yang dikandungnya lahir?


"Pak, tapi apa bisa disegerakan? Saya tidak punya banyak waktu," pinta Jamie.


Pak Agus dan Pak Irwan kembali saling berpandangan.


"Mbak Jamie, kenapa Mbak tidak coba mencari via sosial media? Bukannya di sosial media lebih cepat viralnya ya?" usul Pak Irwan.


"Aduh Pak, kalau saya bisa cari di sosial media, saya tidak mungkin minta bantuan polisi!" keluh Jamie.


Jamie tentu tidak bisa menggunakan sosial media. Ia tidak mau teman-temannya tahu apa yang saat ini tengah menimpanya.


Tidur bersama pria asing, kemudian hamil tanpa tahu siapa ayah biologis anaknya, jelas merupakan aib bagi Jamie.


Aib itu harusnya ditutupi bukannya diumbar, itulah alasan Jamie mengapa memilih untuk tidak memanfaatkan sosial media.


"Pak, saya mohon dengan sangat, bantu saya mencari pria ini," Jamie memohon sambil menunjuk sketsa wajah pria yang digambarnya.


Jamie harus segera menemukan pria itu. Ia bahkan kembali ke kota tempatnya berlibur. Tempat di mana semua kejadian buruk yang menimpanya bermula. Sudah lebih dari tiga minggu berada di kota ini sambil mengalami tri semester pertama kehamilan jelas sungguh berat bagi Jamie. Untunglah ada Julie yang bisa membantunya setelah Julie pulang bekerja.


"Permisi, Pak."


Seorang pria menghampiri Pak Agus dan Pak Irwan.


"Saya mau tanya, untuk membuat laporan kehilangan di mana ya?" tanya pria itu dengan ramah.


"Apa yang hilang, Mas?" tanya Pak Irwan.


"Buku tabungan," jawab pria itu.


"Pak, tolong saya, Pak," Jamie kembali memohon. "Tolong temukan pria ini, nasib saya ke depannya ditentukan oleh pria ini."


Pria itu menoleh ke arah Jamie, matanya langsung tertuju pada kertas sketsa yang dipegang oleh Jamie.


"Mas, bisa ikut saya?" ajak Pak Agus.


"Baik Pak," jawab pria itu.


Pria itu segera duduk berhadapan dengan Pak Agus. Lagi-lagi matanya tertuju pada sketsa wajah yang berada di atas meja kerja Pak Agus.


"Namanya siapa, Mas?" tanya Pak Agus.


"Keny," jawab pria itu.


"Bisa pinjam kartu identitasnya?"


Pria bernama Keny itu menyerahkan kartu identitasnya.


Kok sepertinya kenal dengan sketsa wajah ini ya? Batin Keny sambil mengambil kertas sketsa dari atas meja Pak Agus.


"Maaf Pak, kalau boleh tahu, ini sketsa wajah digunakan untuk apa ya?" tanya Keny berhati-hati.


"Oh, Mbak yang di depan sana mencari orang tapi hanya bermodal sketsa wajah ini. Kenapa Mas? Mas kenal?" tanya Pak Agus.


"Kalau wajah orang biasanya kan memang banyak yang mirip-mirip begitu kan," jawab Keny.


"Ya, memang seperti itu, apalagi kalau mukanya pasaran!" sahut Pak Agus.


Namun bagi Keny, wajah dalam sketsa itu jelas bukan wajah pasaran.


"Memangnya kenapa pria ini dicari, Pak?" tanya Keny.

__ADS_1


"Mbak itu mencari pria yang sudah membawa sepatunya. Katanya sepatu itu untuk dibawa ke mana begitu," sahut Pak Agus sambil berkutat di depan komputer.


Sepatu? Batin Keny.


...*****...


Jamie masih menanti di ruang tunggu yang ada di kantor polisi. Tekadnya sudah bulat, di hari terakhirnya ini, ia harus sudah mendapatkan informasi mengenai pria itu. Ia tidak mau merepotkan Julie lebih lama lagi, terlebih selama berada di kota ini, Jamie menumpang di rumah Julie.


Jamie benar-benar tidak bisa pulang kembali ke rumah orang tuanya sebelum membawa pria yang telah meninggalkan benih di rahimnya.


Entah apa yang akan dilakukan Jamie kepada pria itu jika bisa bertemu lagi. Yang pasti Jamie harus menuntut pertanggung jawaban pria itu.


"Permisi."


Sapaan dari seseorang yang menghampiri Jamie membuat Jamie menoleh ke arah si penyapa.


Jamie langsung memindai penampilan pria itu, berkemeja flanel warna hitam dengan celana cargo warna krem. Aroma parfum pria itu membuat perut Jamie menjadi mual.


"Ugh!" Jamie menutup mulutnya dengan cepat. "Ehem, ya," jawab Jamie.


"Permisi, Mbak, saya mau bertanya mengenai sketsa wajah dari orang yang Mbak cari," kata pria itu dengan ramah.


"Oh ya, apa Anda mengenalnya?" tanya Jamie.


"Hmm, saya ada mengenal beberapa orang yang mungkin mirip dengan sketsa ini," jawab pria itu.


"Oh begitu," sahut Jamie.


"Perkenalkan, nama saya Keny," Pria itu mengulurkan tangannya.


"Saya Jamie," jawab Jamie.


"Oh, Mbak Jamie," pria itu mengulangi. "Ngomong-ngomong, kenapa Mbak mencari pria ini ya?"


"Tadi saya sempat mendengar dari pak polisi, tapi saya rasa lebih baik mendengar langsung dari Mbak Jamie," lanjut Keny.


"Oh, itu..," Jamie tertahan.


Jamie ragu untuk menjelaskan, terlebih pada orang asing. Namun karena pria itu terlihat ingin tahu, mungkin sebaiknya Jamie menjelaskan.


"Begini, waktu itu saya kehilangan sepasang sepatu yang sangat berharga, dan saya mengingat dengan jelas, bahwa saya menitipkan sepatu itu kepada pria ini. Dan saya bermaksud untuk mengambil kembali sepatu milik saya yang sangat berharga," tukas Jamie.


"Sepatu? Sepatu seperti apa?" tanya Keny.


Jamie mengambil gawai cerdasnya dan memperlihatkan foto saat ia memakai sepatu yang ia maksud.


Keny mengerutkan keningnya, sepatu itu terlihat familiar.


"Sepatu ini sangat berharga bagi saya, itu sepatu hadiah pemberian dari kakak saya yang dibeli memakai gaji pertamanya," lanjut Jamie.


"Saya tahu, pasti saya sangat berlebihan, hanya gara-gara sepatu saya harus seperti ini. Orang-orang pasti berpikir, itu hanya sepatu! Kan bisa beli lagi! Tapi, saya tidak bisa begitu. Segala sesuatu yang diberikan orang lain, memiliki makna tersendiri dan sangat berarti bagi saya," beber Jamie.


"Ehem, begitu ya," kata Keny.


Jamie mengangguk cepat.


"Apa Anda tahu sesuatu?" tanya Jamie.


"Ya, sepertinya begitu, jika saya tidak salah duga," jawab Keny.


"Pak, tolong perlihatkan pada saya! Kalaupun salah, tidak masalah, toh yang penting dicoba dulu, daripada tidak melakukan apa pun!" kata Jamie antusias.


"Baiklah, nanti saya datang ke kantor polisi lagi," usul Keny.


"Tidak, Pak! Saya ikut dengan Anda!" 


...*****...

__ADS_1


__ADS_2