
Jamie!"
Julie berteriak dari arah kaca jendela taksi yang terbuka, memberi kode pada Jamie untuk segera masuk ke dalam taksi.
Melihat Jamie yang hanya mematung di halte, membuat Julie keluar dari taksi dan menghampirinya meski harus menerobos hujan.
"Julie!" Jamie langsung menghambur memeluk Julie sambil menangis.
"Oh Tuhan! Jamie! Syukurlah aku akhirnya menemukanmu!" Julie menepuk-nepuk punggung Jamie.
"Hiks! Julie! Aku mau pulang! Aku mau pulang!" rengek Jamie.
"Okay, okay, sekarang kita naik taksi dulu ya," ajak Julie.
...*****...
Sesampainya di hotel tempat Jamie menginap, Jamie pun menceritakan secara detail apa yang baru saja dialaminya. Jamie bercerita dengan air mata yang berderai, mengingat kejadian buruk yang telah menimpanya.
"Kita harus melaporkan pria itu ke polisi, Jamie!" Julie meninju bantal dengan kesal.
Jamie mengatur napasnya, berusaha untuk berhenti menangis setelah merasa puas meluapkan semua kemarahan dan kekesalannya.
"Ya, aku juga berpikir untuk melaporkan pria itu ke polisi! Tapi pria itu justru malah menuduh bahwa aku sengaja menjebaknya!"
"Aku bahkan sama sekali tidak mengenalnya, bagaimana mungkin aku sengaja menjebaknya?! Untuk apa aku menjebaknya? Memangnya dia siapa sampai aku harus menjebaknya?!"
"Jamie!" Julie berusaha menenangkan Jamie.
"Julie, aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa! Kenapa semua ini harus terjadi padaku?!"
"Jamie! Please!" Julie memohon.
"Julie! Aku benar-benar merasa sangat kotor! Aku benar-benar sangat kotor!"
Julie kembali memeluk erat Jamie, menepuk punggung Jamie dengan lembut. Saat sedang terpuruk seperti ini yang diperlukan Jamie adalah dukungan penuh.
"Jamie! Please! Aku tahu kau pasti merasa hancur! Tapi, musibah ini jangan serta merta membuatmu hancur dalam kesedihan! Kau harus kuat, Jamie!"
"Julie, aku benar-benar sudah kehilangan keperawananku! Aku benar-benar sangat takut! Apalagi sebentar lagi aku akan menikah! Aku benar-benar takut pria yang menikahiku akan kecewa karena aku sudah tidak perawan lagi! Hiks," Jamie kembali menangis sesenggukan.
Julie melepas pelukannya, ia menangkupkan kedua tangannya ke wajah Jamie.
"Jamie, keperawanan itu bukanlah segalanya! Percayalah padaku! Keperawanan itu hanya sebatas simbol dari sebuah selaput dara!"
"Toh, seorang gadis tetap bisa kehilangan selaput daranya bukan hanya karena berhubungan fisik dengan pria! Olahraga berat, terjatuh, dan aktivitas lain bisa membuat seorang gadis kehilangan selaput dara begitu saja!"
Jamie menatap ke arah Julie.
__ADS_1
"Pria yang benar-benar mencintai dan menginginkanmu, tidak akan mempermasalahkan apakah kau perawan atau tidak!"
"Julie!"
"Toh, menurutku, kau tetaplah masih perawan! Mengapa demikian? Karena kau sama sekali tidak merasakan apa-apa!"
Julie berusaha membesarkan hati Jamie.
"Jamie, aku benar-benar sungguh minta maaf! Seandainya saja, semalam aku tidak meninggalkanmu sendirian, hal ini pasti tidak akan terjadi!" ucap Julie penuh penyesalan.
"Julie," ucap Jamie.
"Jamie, biar bagaimana pun, sebaiknya kau lapor saja ke polisi! Pria seperti itu harus ditindak!" geram Julie.
"Julie, aku juga berpikir seperti itu! Aku sungguh ingin melaporkan pria itu ke polisi! Tapi, ada beberapa hal yang harus kupertimbangkan," potong Jamie.
"Beberapa hal? Apa maksudmu, Jamie?" Julie bertanya keheranan.
Jamie menarik napas berat lalu kemudian menghembuskannya dengan amat sangat perlahan.
"Aku pikir, sebaiknya lebih baik tidak ada yang perlu tahu masalah ini, kecuali kau, aku, dan Tuhan," kata Jamie.
Julie melotot lebar, mulutnya bahkan ternganga seperti kudanil yang bersiap menerima lemparan makanan.
"Jamie! Apa kau sudah gila?! Kenapa kau malah berpikir untuk tutup mulut?!"
"Julie! Aku pikir inilah yang terbaik! Daripada aku melaporkan pria itu ke polisi, dan dia malah melapor balik! Kemudian orang tuaku, keluarga besarku sampai mengetahui hal tersebut! Hal yang begitu memilukan dan memalukan bagiku!"
"Jamie...," ucap Julie.
"Julie, kau pasti tahu bagaimana orang tuaku! Orang tuaku yang begitu kolot pasti akan menyalahkanku! Mereka jelas menganggap bahwa aku tidak bisa menjaga diriku sendiri!"
"Sudah susah payah aku melakukan negosiasi untuk mendapatkan liburan ini. Bahkan harus menukarnya dengan sebuah perjodohan!"
Julie dan Jamie kembali saling bertatapan.
"Julie, berjanjilah padaku, bahwa kau akan menjaga rahasia ini! Kumohon!"
Tubuh Jamie bergetar hebat, rasa takut Jamie bisa dirasakan dengan sangat jelas oleh Julie.
"Baiklah, Jamie, jika keputusanmu memang seperti itu. Aku sungguh menghargainya," ucap Julie.
"Terima kasih, Julie," lirih Jamie.
"Nah, Jamie, sebaiknya sekarang kau harus kembali melanjutkan liburanmu! Sungguh saat ini yang harus kau lakukan adalah menikmati kembali liburan sebelum kau kembali menghadapi realita," usul Julie.
Jamie mengangguk setuju dengan usulan Julie.
__ADS_1
"Ya, kau benar, Julie!"
...*****...
Jamie sudah berupaya menghibur dirinya dengan menikmati liburan. Ia benar-benar sepenuhnya menghilangkan efek samping dari malam kelam yang pernah dilaluinya. Mengubur kenangan buruk itu dalam-dalam agar ia tidak perlu mengingat kembali kejadian tersebut.
Jamie memulai kembali aktivitasnya. Setelah memutuskan untuk berhenti bekerja kantoran, Jamie memulai karir sebagai seorang kreator manga.
Keputusannya tentu saja ditentang oleh orang tuanya, namun Jamie tetap bertekad untuk mewujudkan cita-citanya tersebut. Mengikuti kompetisi-kompetisi membuat manga yang dipublikasikan secara daring melalui aplikasi-aplikasi manga kekinian.
Setiap hari, Jamie berkutat di depan layar monitor komputer dengan satu tangan menggambar di atas pen tablet.
"Jamilah!"
Jamie mendelik gusar mendengar suara ibunya memasuki kamar Jamie sambil berseru. Jika ibunya sampai memanggil nama lengkap Jamie, sudah pasti hal itu benar-benar sangat penting.
"Ada apa Bu?" tanya Jamie tanpa beralih dari monitor komputernya.
Bu Liah hanya bisa berdecak dengan kepala menggeleng-geleng melihat kelakuan anak perempuannya.
"Jamilah! Kamu tidak lupa hari ini hari apa kan?!"
"Hmm, hari ini hari Sabtu," jawab Jamie sekenanya.
"Jamilah! Jangan pura-pura lupa ya! Lekas bersiap-siap! Kita harus menemui calon tunanganmu!" sembur Bu Liah.
Jamie mendelik gusar sambil menghela napas berat.
Tiba juga hari di mana ia dengan rasa keterpaksaan harus menemui pria yang akan menjadi calon tunangannya. Pertunangan yang konon kabarnya merupakan nazar dari sahabat karib ibunya. Dan Jamie harus menerima nasibnya untuk ditumbalkan atas nazar itu.
"Kamu bukan ditumbalkan! Tapi dicarikan jodoh!"
Begitulah pembelaan dari Bu Liah yang merasa begitu cemas karena anak perempuannya belum juga kunjung menikah. Bahkan memikirkan pernikahan pun tidak. Hidup anak perempuannya hanya dihabiskan di depan komputer untuk menggambar dan tenggelam dalam dunia penuh imajinasi.
Jamie berusaha bangkit dari kursinya, namun tiba-tiba kepalanya terasa pusing dengan perut mual dan mata berkunang-kunang.
Lagi-lagi ia merasakan sakit mendadak yang sudah dirasakannya sejak seminggu yang lalu.
"Ugh!" Jamie menumpukan tangannya di meja kerja.
Suara ibunya yang tadinya terdengar jelas, semakin lama semakin sayup.
Bruk...!
Jamie terjatuh ke lantai.
"Jamie! Jamie!" teriak Bu Liah.
__ADS_1
"Ayah! Ayah! Jamie pingsan!"
...*****...