Satu Malam Tanpa Cinta

Satu Malam Tanpa Cinta
06 - Siapa pria itu?


__ADS_3

Jamie hanya bisa menunduk lesu, saat ini kedua orang tuanya benar-benar meluapkan kemarahan mereka, begitu juga dengan kakak Jamie yang ikut marah.


Selama ini Jamil sangat menjaga Jamie. Sebagai kakak yang selalu melindungi adik perempuan satu-satunya, Jamil memang dituntut untuk selalu melindungi Jamie sejak masih kecil hingga mereka sudah dewasa.


"Siapa laki-laki itu, Jamie?!" desak Jamil.


Jamie hanya bisa bungkam sambil menangis, ia benar-benar masih terpukul atas kenyataan yang begitu menyakitkan. Keperawanannya telah direnggut oleh pria yang bahkan tidak diketahui namanya. Pria itu bahkan meninggalkan benih yang kini sudah tertanam di rahimnya.


"Jamilah!" bentak Jamil yang kehilangan kesabarannya.


Jamie tersentak, kemarahan dari Jamil membuatnya kembali menunduk sambil menangis sesenggukan.


Ayah dan Ibu Jamie hanya bisa diam termangu. Keduanya jelas merasa terpukul dengan kehamilan Jamie yang sangat mendadak. Kehamilan yang jelas tidak tepat terjadi lantaran Jamie bahkan belum terikat pada ikatan pernikahan.


"Jamilah, aku benar-benar kecewa padamu! Rasanya percuma saja selama ini aku, ayah, dan juga ibu menjagamu! Toh, ujung-ujungnya kau malah mengecewakan kami seperti ini!" tandas Jamil.


"Siapa laki-laki itu?! Apa kau begitu cinta padanya sampai akhirnya kau menyerahkan diri padanya?" tanya Jamil.


Jamie masih tetap diam, ia terlalu takut untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya dialami. Jamie benar-benar merasa takut dan juga malu atas apa yang telah menimpanya. Ditiduri oleh pria asing yang justru menuduh bahwa Jamie telah menjebaknya.


"Jamie, kalau sampai kudapat laki-laki itu, aku benar-benar akan membunuhnya!" ancam Jamil.


Jamie mendongak ke arah Jamil yang saat ini memancarkan sorot mata penuh kemarahan dan kemurkaan.


"Kakak! Jangan aneh-aneh begitu!" sergah Jamie.


Jamil menatap tajam ke arah Jamie.


"Oh, jadi kau lebih memilih melindungi laki-laki itu?!" tuding Jamil.


Jamie menggeleng cepat.


"Bukan begitu, Kak! Kalau Kakak melakukan pembunuhan, nanti Kakak malah masuk penjara!"


"Aku tidak peduli meski harus masuk penjara! Aku benar-benar akan membunuh laki-laki yang sudah menghamilimu!" ancam Jamil.


"Sudah! Sudah!" sergah Pak Jamal.


Pak Jamal mengusap kasar wajahnya, menghadapi dua anaknya.


"Jamilah, kalau kau memang bersikeras tidak mau mengungkap identitas laki-laki itu, baiklah! Tapi Ayah minta padamu, bawa laki-laki itu kemari!"


"Ayah!" sergah Jamil. "Mana bisa begitu!"

__ADS_1


"Jamil!" Pak Jamal melotot sambil menggelengkan kepalanya.


Beliau meminta Jamil untuk diam dan Jamil langsung membuang napas berat.


"Jamilah, kau sudah dewasa! Maka sudah sepatutnya kau bertanggung jawab penuh atas perbuatan yang kau lakukan!" tuntut Pak Jamal.


Jamie hanya bisa terdiam.


"Sekarang kembalilah ke kamarmu! Dan bersiaplah untuk memenuhi permintaan Ayahmu ini!" tandas Pak Jamal.


Jamie beranjak dari sofa tempatnya duduk, langkahnya lunglai, berjalan sambil tertunduk lesu.


Bu Liah masih terdiam dan mematung dengan air mata berlinangan.


"Ayah! Apa yang harus Ibu lakukan?" tanya Bu Liah sambil menyandarkan kepalanya di bahu Pak Jamal.


"Hiks! Jamie tiba-tiba hamil seperti ini, apa yang harus Ibu katakan pada Janis?"


"Perjodohan ini jelas tidak mungkin dilanjutkan, begitu kan?!"


Bu Liah kembali terisak-isak. Pupus sudah harapannya untuk menjadikan Janis sebagai besannya.


"Sungguh tidak mungkin meminta anak Janis menikahi Jamie yang saat ini justru mengandung anak laki-laki lain!"


"Jamil, Ibu hanya ingin pria yang terbaik untuk menikahi Jamie! Lagipula, Janis sudah pernah berjanji untuk menikahkan anaknya kepada anak Ibu! Itu sudah menjadi nazar dari Janis!"


"Ibu sungguh tidak keberatan dengan permintaan itu karena Ibu sangat mengenal Janis! Daripada Jamie harus menikah dengan laki-laki lain dan mendapatkan mertua yang jahat! Lebih baik menyerahkan Jamie kepada Janis!"


Bu Liah menjelaskan panjang lebar alasan mengapa ia menerima perjodohan untuk Jamie.


"Ibu benar-benar sudah gagal."


...*****...


"Apa yang harus aku lakukan, Julie?"


Jamie masih terisak-isak dengan ponsel yang menempel di telinga kirinya.


"Ini benar-benar gila!" ceplos Julie.


"Ya, aku rasanya benar-benar nyaris gila, Julie!" potong Jamie.


"Aku benar-benar butuh saran darimu! Apa yang harus kulakukan sekarang?"

__ADS_1


"Jamie, tapi, apa benar itu anak pria itu?" tanya Julie.


"Julie! Aku bahkan tidak pernah merasa tidur dengan laki-laki mana pun!" sergah Jamie.


"Hmm, kalau begitu, kau memang harus mencari laki-laki itu dan meminta pertanggung jawabannya!" sahut Julie.


"Oh tidak! Aku harus mencari ke mana?! Aku bahkan tidak tahu siapa nama pria itu!" sergah Jamie putus asa.


"Jamie, meski kau tidak tahu namanya, tapi kau pasti tahu bagaimana wajahnya kan?" tanya Julie.


"Maksudmu?" tanya Jamie.


"Begini saja, lebih baik kau ke kantor polisi. Polisi akan membantumu untuk mencari orang yang kau maksud! Jika tidak ada nama, gunakan saja sketsa wajah! Penjahat kelas kakap saja bisa ditemukan hanya dengan sketsa wajah!" jawab Julie.


Jamie tertegun mendengar jawaban Julie.


"Hanya itu satu-satunya cara daripada mencari di internet! Bisa-bisa bayimu keburu lahir sebelum kau menemukan ayah biologisnya!" lanjut Julie.


"Julie, aku sungguh tidak kepikiran seperti itu," kata Jamie.


"Jamie, aku hanya bisa membantu sebatas kemampuanku! Selebihnya, lakukanlah yang harus kau lakukan!"


"Satu malam yang terjadi antara kau dan pria itu, malah membuatmu hamil! Itu artinya pria itu benar-benar harus bertanggung jawab! Kalau pria itu menolak bertanggung jawab, segera viralkan di sosial media!"


"Tapi, pastikan bahwa anak itu, memanglah anak pria itu, hehe.."


Julie terkekeh.


"Julie! Harus berapa kali kukatakan! Aku bahkan tidak pernah tidur dengan pria lain!" sungut Jamie.


"Ya, ya! Aku percaya! Aku percaya! Tapi belum tentu pria itu percaya kan?!"


Jamie kembali tertegun mendengar ucapan Julie. Masih segar dalam ingatan Jamie ketika pria itu justru menuduh Jamie sudah menjebaknya. Menjebak untuk tidur dengan pria yang bahkan tidak pernah dikenal oleh Jamie.


Dan siapa yang akan menduga bahwa kini, benih pria asing itu sedang tumbuh dan berkembang dalam tubuh Jamie.


"Jamie, pesanku hanya satu. Apapun yang terjadi padamu nantinya, jangan pernah kau gugurkan kandunganmu! Meski kau dan pria itu tidak menginginkannya, namun anak itu berhak untuk hidup! Menggugurkannya sama saja berarti kau membunuhnya, merenggut haknya untuk hidup," ucap Julie.


Jamie kembali meneteskan air matanya. Rasa sesak di dadanya makin terasa menyakitkan. Sempat terbesit dalam benak Jamie untuk menggugurkan janin dalam rahimnya ini jika pria itu tidak bersedia bertanggung jawab atas perbuatannya.


Namun ucapan Julie membuat Jamie berpikir keras. Ia benar-benar harus mulai mencari. Jamie mulai membuat sketsa wajah pria itu. Pria yang sudah merenggut masa depan Jamie.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2